
***
"Kau tidak apa-apa?" seru Leon, kedua matanya fokus ke depan, memperhatikan keadaan di depan agar tak menabrak kerumunan orang, sembari satu tangannya meraba-raba tubuh Lily yang berada di samping.
Tadi, Lily hampir saja terkena timah panas dari luar kendaraan. Beruntung ia dapat mengelak serangan.
"Leonnnnn! Aku tidak apa-apa?! Singkirkan tangan mu itu!" teriak Lily sebab kekasihnya tengah menyentuh aset penting. Kedua mata Lily mendelik.
Leon melirik sekilas, kemudian menaruh tangan di setir kemudi. "Astaga, maafkan aku, Honey. Pantasan kenyal!" Ia terkekeh pelan.
"Leonnn, kau mencari kesempatan di dalam kesempitan!!" seru Lily mendengus kesal.
Pria bermanik warna coklat itu malah tertawa terbahak-bahak mendengar penuturan kekasihnya.
"Aku benar-benar, tak sengaja!" protes Leon, membuat Lily membuang nafas secara kasar.
.
.
.
"Lex, Breslin, Rey kalian di mana?" Leon menekan bluetooth wireless di telinga. Ia ingin mengetahui posisi anak buahnya. Sebab mereka berpencar satu sama lain, saat melarikan diri.
"Kami lewat jalan tikus, King!" seru mereka serempak dari ujung sana.
"Good, kita hadang Pablo di blok Q. Pastikan bunuh serdadunya dahulu dan Swedish, paham?!"
"Siap, King!!!" jawab ketiganya cepat.
"Rey cari polisi yang sekiranya bersih, bukan pengikut Pablo. Kita akan berkerjasama dengan mereka. Setelah kau menemukan polisi itu, suruh Montero membawa seluruh barang haram Pablo, ke kantor polisi!" perintah Leon cepat, ia kembali menekan benda kecil itu, tanpa mendengarkan balasan dari Rey.
Kemudian Leon menoleh ke arah Lily, yang tampak melamun.
"Honey, aku mengkhawatirkan Darla dan Lunna. Di mana kah mereka?" ucapnya tiba-tiba. Raut wajah Lily terlihat cemas. Ia berharap kedua bocah itu baik-baik saja.
Leon tak membalas perkataan sang kekasih, sebenarnya pikirannya pun ikut berkecamuk, menerka-nerka di mana keberadaan Darla dan Lunna.
"Tenanglah, mereka anak yang pintar!" Lelaki itu berusaha meyakinkan kekasihnya.
Lily tertunduk lesu.
**
Menempuh perjalanan, kurang lebih dua puluh menit.
Leon dan Lily hendak memasuki pelataran gedung yang menjadi titik tumpu, tempat pelarian Pablo.
"Breslin, Lexi! Jika kalian melihat mobil Pablo, tabrak saja!" Titah Leon tanpa aba-aba. Sebab dia sudah hilang kesabaran. Pablo memang harus di musnahkan secepat mungkin.
"Sesuai perintah mu, King!!" jawab Lexi sembari menelisik keadaan di sekitar yang tampak renggang.
***
Cit...
Suara ban melengking.
Mobil Leon menghadang kendaraan Pablo di depan, begitu pula dengan Montero yang berada di belakang Pablo. Kini, pria tua itu di apit oleh kendaraan Leon dan Montero.
"Dapat kau!" Di dalam mobil, Leon menyeringai licik, melihat Pablo terhalang oleh dirinya. Ia berhasil menemukan musuh bebuyutannya.
"Sial! Kau, Leonnnnn!!" umpat Pablo sembari memukul setir. "Rodrigo, hubungi semua Swedish ke sini! Sekarang!!!" perintahnya cepat.
__ADS_1
Rodrigo menuruti perkataan atasannya dan segera memerintahkan Swedish ke Blok Q.
"Lexxxx! Sekarang!!!!" Leon memberikan perintah kepada Lexi yang sedang bersiap menancapkan gas di ujung sana.
Dari arah samping mobil, Pablo dapat melihat kilatan cahaya lampu yang sangat terang. Ia hendak memundurkan mobil namun ia kalah gesit.
BRAKKKKKKK.
Kendaraan mewah berwarna hitam itu terguling-guling ke sisi kanan, hingga menyentuh kaca toko pakaian yang akhirnya hancur dan retak.
Tubuh Pablo dan Rodrigo terguncang mengikuti pergerakkan mobil, mereka terbatuk-batuk sembari menahan rasa sakit di sekujur tubuh.
Dor.. Dorr.... Dorr
Suara tembakan menggema di luar.
"Lindungi, Mister!!" seloroh salah satu Swedish sembari menembakkan peluru pada ketiga kendaraan musuhnya.
Leon dan Montero tentu saja membalas balik.
Mereka saling menembak satu sama lain.
Tanpa jeda.
Suasana malam, semakin mencekam tak kala keributan di sudut jalan. Menemani rembulan di atas sana.
Mengundang aparat keamanan datang, dan helikopter pun kembali merekam aksi pertikaian melalui kamera khusus. Sorotan cahaya lampu secara bergantian mengarah ke kubu Montero dan Swedish. Penyiar berita melaporkan dari atas helikopter.
Tampaknya dua kubu yang tak seimbang itu tak kelelahan sama sekali, malah semakin bersemangat.
Senjata laras panjang, pendek, canggih hingga pisau, bahkan samurai, mereka gunakan untuk membabat habis.
"Honey, berhati-hatilah!!"
"Okey, Honey!" serunya sambil melayangkan pukulan di rahang dan perut wanita di hadapannya.
Tiba-tiba dari arah selatan, Montero bertambah banyak mereka baru saja tiba, setelah mengantarkan narkoba dari kantor polisi.
Kini perkelahian seimbang.
Sebagian aparat keamanan yang kotor tak berani mendekat. Sebab Montero dan Swedish benar-benar membabi buta.
Situasi semakin memanas.
**
Di balik pilar toko pakaian, tampak si Kembar dan dua pria dewasa tengah mengintip pertarungan itu. Iya, sedari tadi kelima orang itu diam-diam mengikuti Leon tanpa ketahuan.
"Hei, kita harus membantu Mommy!" cetus Samuel siap dengan pedang mainannya. Saat melihat Lily hampir saja di sayat oleh sebuah samurai.
"Jangan kita di sini saja, kalian ngak lihat itu bahaya?!" Marimar memperingati sembari menggerakan tubuh dengan gemulai.
Si kembar mendengus kesal, sebab apa yang di katakan Marimar memang benar adanya.
Mau maju salah.
Mau mundur jua salah.
"Damn!" umpat Maximus tiba-tiba, saat cipratan darah seseorang mengenai stelan jasnya.
Mendengar ucapan Maximus, keempat orang itu mengalihkan pandangan sekilas ke sumber suara, kemudian kembali menatap lurus ke depan. Delapan pasang mata itu lebih tertarik memperhatikan pertarungan dua kubu mafia.
"Aku ingin membantu Mommy dan Daddy!" desis Samuel.
__ADS_1
"Mom, Dad berhati-hatilah!" Kendrick memperingati dalam hati.
"Ishh, aku mau melempar wanita jelek itu ke kolam, berani sekali dia menyentuh tubuh Mommy!" Nickolas kesal, saat melihat perkelahian antara Lily dan seorang wanita bergaya nyentrik.
"Ampun deh, perut akika kenapa tiba-tiba mules sihhhh, aduhh pengen eek!" Marimar menahan sesuatu yang bergejolak di dalam perutnya.
"Max!" panggil Marimar tanpa menatap lawan bicara. Namun tak ada sahutan.
"Maxxx!!!" Marimar memanggil kembali dengan intonasi yang agak nyaring, lagi, lagi tanpa melirik ke samping.
"Max!" Ia menggerakkan kepala ke kiri.
Kosong.
Tak ada orang.
Maximus hilang.
Marimar mengerutkan dahi. Kedua netranya sibuk mencari keberadaan Maximus.
"Loh, kak itu bukannya Maximus? Wow, Max keren!" seloroh Samuel melihat Maximus ikut bertarung di sebrang sana dengan gesit dan lincah.
Mendengar penuturan Samuel, pria gemulai itu mengalihkan pandangan ke depan.
"Sokkkk keren, eyke juga bisa kok, lihat aja!" Marimar tak mau kalah, ia berlari gemulai ke depan dengan menenteng tas pink kesayangannya, sembari menoleh sekilas pada si Kembar. "Kalian jangan ke mana-mana, di situ saja!"
"Haaaaa?!" Si kembar melongo sekaligus terkejut.
"Kak, memangnya Marimar bisa berkelahi?" Nickolas takut, babby sitternya bisa saja terluka. Mengingat kumpulan manusia di depan sangat lah anarkis dan bertindak sesuka hati tanpa mengenal siapa lawan mereka. Terlebih lagi, Marimar pria bertubuh lentur.
Kendrick mengedikkan bahu, menandakan dia tak tahu apakah lelaki itu bisa bertarung atau tidak. Saat ini, ia melihat Marimar masih bermain aman di ujung sana dengan bersembunyi di balik mobil polisi, seperti swiper di dalam film Dora the Explore.
Bocah itu menepuk kening sembari membuang nafas kasar, melihat gelagat Marimar.
"Oh my God, apa yang dia lakukan?" Kedua mata Samuel mendelik.
"Biarkan saja, lebih baik kita ikut bertarung yuk!" ajak Nickolas hendak mengayunkan kaki kanan.
"Jangannn!" Kendrick menahan tubuh Nickolas dengan menarik pakaian adiknya dari belakang.
"Tapi, kak!"
Kendrick menggelengkan kepala dengan cepat.
**
Dor... Dor.. Dorrr...
Suara deruan helikopter berwarna hitam terdengar di atas pencakar langit, sembari membawa sesuatu yang cukup besar.
Tiba-tiba.
"Heiiii, senjata ku melayang!!"
"Ada apa inii? Pedang ku!!"
Montero dan Swedish mengerutkan dahi.
.
.
.
__ADS_1
.