Pelangi Untuk Lily

Pelangi Untuk Lily
Chapter 39. Taring Keluar


__ADS_3

Rate 18++++


Jangan ditiru!!!!!


*********


.


.


.


Ceklek


Pintupun terbuka, Lily menatap datar pada sosok wanita dihadapannya, yang beberapa hari ini susah untuk dihubungi. Lily menghela napas dengan pelan, dia melihat Gissel menundukkan kepala.


"Maaf Nyonya." Gissel tak berani menatap Lily.


Lily tak menyahut, entah apa yang ada didalam pikirannya.


"Sekarang kita antar si Kembar ke sekolah dulu."


"Baik Nyonya." Gissel menganggukkan kepala.


Lily melirik sekilas ke arah si Kembar, mereka segera meninggalkan apartment. Dia mengemudikan dengan pelan mobil kesayangannya itu. Tak butuh waktu lama mereka sudah tiba di sekolah si Kembar.


Lily menyuruh Gissel untuk menunggunya sebentar di dalam mobil, dia pun menuruti. Lily segera mengantarkan si Kembar ke dalam kelas. Kemudian dia berpamitan pada wali kelas yang beberapa hari ini, dia temui untuk meminta bantuan menemani si Kembar jika dia terlambat menjemput.


Lily berjalan cepat menuju mobil mininya yang terparkir di area sekolah. Lily membuka pintu belakang, dia melihat Gissel sedang menyandarkan kepala ke kursi mobil.


"Duduk didepan!" perintah Lily.


Gissel mengerutkan dahi, dia tak bertanya ataupun membantah, dia menuruti apa yang dikatakan oleh Lily. Dengan cepat dia pindah duduk ke kursi depan.


Sepanjang perjalanan, Lily tak bersuara. Hawa di dalam mobil sangatlah berbeda. Gissel dapat merasakan aura yang tak pernah dia lihat sebelumnya dari Lily. Gissel melirik sekilas ke samping. Dia melihat Lily sedang fokus menyetir mobil.


"Ada yang harus kita bicarakan." ucap Lily memecah keheningan.


"Baik, Nyonya."


Sesampainya ke tempat tujuan, Lily segera mengajak Gissel untuk masuk ke dalam apartmentnya.


Ceklek.


"Masuklah!" ajak Lily dengan raut wajah tak bisa terbaca, sembari mempersilahkan Gissel untuk duduk di sofa.


Gissel menuruti perintah Lily, dia segera duduk di sofa.


Lily menutup rapat pintu apartment dan menekan satu tombol berada di balik tembok, yang tak tahu berfungsi sebagai apa. Gissel mengerutkan dahi saat melihat gelagat Lily.


Kemudian Lily memutar tubuhnya menghadap ke arah Gissel. Seketika mata mereka bertemu, Lily menatap datar lawan bicaranya itu. Secepat kilat Lily memutuskan pandangan.

__ADS_1


"Kau mau minum apa?"


Gissel menggelengkan kepala dengan cepat.


"Baiklah, tunggu sebentar." ucap Lily sambil berlalu pergi meninggalkan Gissel seorang diri di ruang tamu.


Tampak Lily berjalan menuju kamar. Dia mengambil satu map yang berwarna coklat yang berada di atas meja kerjanya. Kemudian Lily mengambil ponsel yang berada di dalam tas dan mengetikkan sesuatu di layar ponsel. Lalu dia menaruh kembali benda pipih itu ke tempat semula.


Lily segera berlalu pergi meninggalkan kamar sembari menenteng tas. Lily berjalan cepat ke ruang tamu, dia duduk di sofa empuk dengan begitu anggun berhadapan dengan Gissel, tidak lupa juga satu kakinya di silangkan ke samping. Kedua matanya menatap Gissel, yang tak bergeming dari posisi semula.


"Hmm." Lily berdeham pelan.


"Bisa kau jelaskan kemana saja kau berapa hari ini?" tanya Lily sambil menaikan sebelah alis matanya.


"Maaf, Nyonya. Aku sungguh minta maaf, orangtuaku sedang sakit. Aku merawat mereka di rumah, aku tak sempat memberitahu Nyonya," jelasnya masih dengan posisi kepala menunduk.


Lily tak menyahut perkataan wanita yang dihadapannya. Dia melihat dengan seksama penampilan Gissel. Wanita berwajah oval itu memiliki rambut pendek model bob yang menghiasi wajahnya. Dia juga memiliki postur badan lumayan bagus, kulit bersih, jari jemari kuku panjang, yang dihiasi warna merah menyala dan wangi parfum yang digunakan bisa terbilang cukup mahal.


"Sudah cukup kau menjelaskannya, Ardella!" Lily mengucap kata terakhir dengan penuh penekanan, sambil bangkit berdiri.


Gissel tak bereaksi, ia masih menundukkan kepala.


"Wow, tak kusangka ternyata Arnold mengirimkan salah satu jalangnya padaku!" ucap Lily dengan seringai licik.


Mendengar perkataan Lily, Gissel atau bisa di sebut Ardella mengangkat kepalanya dan langsung menatap ke arah Lily.


Ardella mulai tersulut emosi, "Rupanya kau sudah tahu Nyonya Lily, tapi aku bukan ****** Arnold!" Ardella bangkit berdiri.


"Berapa harga tubuhmu sehingga kau mau menjadi peliharaan Arnold!" ucap Lily tersenyum sinis.


"Kau!" Ardella marah saat Lily mengatakan dirinya peliharaan Arnold. Dia memang ditugaskan kekasih gelapnya itu, untuk memantau mantan istrinya yang katanya ingin menghancurkan perusahaan Arnold. Tentu saja dia tidak terima, dia rela menjadi pengasuh untuk anak Lily, walaupun dia tak menyukai anak-anak.


"Kenapa kau marah?" Lily tertawa sejenak kemudian dalam beberapa detik raut wajahnya berubah dingin, sorot matanya begitu tajam menghunus ke dalam mata Ardella.


"Katakan pada Arnold, jangan mengganguku!" Lily menyilangkan tangan didada.


"Hari ini juga jangan pernah menampakkan wajahmu dihadapanku. Aku tak sudi seorang j***ng mengotori apartmentku!" ucapnya lagi penuh penekanan.


"Tidak akan! kau harus segera ku lenyapkan!" gertak Ardella dengan napas memburu.


Lily tersenyum meremehkan, "Kalau bisa!"


"Akan kubunuh kau!" teriak Ardella.


Secepat kilat Ardella mendekat ke arah Lily, dia melayangkan pukulan, namun dengan lincah Lily dapat menangkis serangan Ardella.


"Wow, lawan yang seimbang!" sahut Lily tenang.


Lily membalas balik pukulan dengan satu kali hentakan mengarah pada dada Ardella sehingga membuat dia terjatuh ke lantai.


Bugh.

__ADS_1


"Awh!" D***h segar mengalir dari mulut Ardella, napasnya memburu. Dia terkejut dengan serangan Lily. Dia tak menyangka Lily membalas pukulannya. Apa Arnold tak memberitahu kepadanya jika mantan istrinya bisa berkelahi, menurut penjelasan Arnold, Lily hanyalah wanita lemah!


Namun Ardella tak menyerah begitu saja, dia melompat ke arah Lily dan ingin memukul bagian dada wanita dihadapannya.


Mata elang Lily secepat kilat menangkis pergerakan Ardella dan memutar tangan lawannya. Dia menyerang balik wanita berambut pendek itu, dengan memukul bagian punggung dengan sangat kuat.


D***h mengalir kembali di mulut wanita berambut model bob itu, dia terbatuk-batuk. Ardella berusaha mengeluarkan gumpalan d**ah yang berada didalam mulutnya, ia meludah ke sembarang tempat.


"Cuih!" Ardella meludah sambil menatap tajam ke arah Lily. Dengan gerakan lincah, dia mengambil vas bunga yang berada di atas meja. Dia melemparkan vas tersebut ke arah lawannya, namun lemparan melesat pada kaca bening yang terletak di tengah ruang tamu, yang terhubung dengan kolam renang di luar.


Dentingan suara kaca yang retak, terdengar begitu nyaring dan memekikkan telinga. Namun tak membuat dua orang wanita yang sedang berkelahi menyudahi permainan tersebut.


Lily terkekeh pelan, saat melihat Ardella salah target.


"Bodoh!" Seringai licik terbit di wajah cantik Lily.


"Kurang ajar kau j***ng!" teriak Ardella sambil berlari cepat ke arah Lily, dia berusaha menjambak rambut Lily.


Namun wanita bermanik warna biru tersebut menangkis kasar pergerakan tangannya. Lily memutar tubuhnya ke belakang Ardella. Dia melingkarkan satu tangan pada leher lawannya. Alhasil leher Ardella pun tercekik dari belakang. Lily mencengkram dengan begitu kuat.


Napas Ardella tercekat, dengan sisa tenaganya dia mendorong tubuh lawannya itu.


Lily yang tak siap dengan gerakan lawannya. Dia pun ikut memundurkan langkah kaki tanpa melepaskan tautan tangannya.


Mereka pun tercebur ke dalam kolam berenang bersama-sama. Lily tetap tak merubah posisi tangannya.


Terlihat Ardella sudah kehabisan napas, dia terbatuk-batuk. Tangannya juga tak tinggal diam, meminta Lily untuk melepaskan cekatan pada lehernya itu.


Brakkkkk.


Terdengar suara pintu didobrak dengan begitu keras.


"Nyonya!" Teriak seorang pria yang sudah tua, dia baru saja membuka paksa pintu apartment.


Mendengar panggilan itu, Lily segera memukul tengkuk Ardella, hingga membuatnya pingsan seketika.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2