
Marimar memutar bola matanya.
Sama-sama menilai penampilan.
Tinggi badan sama.
179 cm.
Warna kulit dan postur badan juga sama.
Sawo matang, eksotis, dan lumayan kekar.
Yang membedakan penampilan dan wajah mereka yang ketara.
Wajah Indonesia vs Kroasia.
"Cihh!" Marimar berdecih.
Kemudian mereka menatap tajam satu sama lain.
"Kau, kubu mana ha?" tanya pria itu penasaran. Sebab sangat asing dengan wajah pria di hadapannya. Tidak mungkin Gangsta Paradise.
Wajah Asia.
"Eyke, Swedish!" sahut Marimar cepat. Ia lupa-lupa ingat dengan nama kelompok mafia Leon. Pria kemayu itu hanya mengingat sepenggal laporan wartawan di saluran televisi tentang perkelahian Swedish dan..
Entahlah dia lupa.
Pria itu terkekeh mengejek. "Wah, ternyata kau Swedish. Aku tidak menyangka mereka merekrut seorang banci!!!" desisnya menyeringai.
Marimar tersulut emosi, ia mengepalkan kedua tangan. Satu tangannya yang tengah mengenggam tas. Meremas kuat hingga merusak bagian luar tali tas tersebut.
Matanya berkilat menyala, rahangnya mengeras.
"Kauuuuu!!!!"
Kemudian Marimar melayangkan tas pinkynya tepat di atas kepala pria itu dengan cepat dan kuat.
Bughh..
Bughhh..
Bughhh..
"Awhh, bedebah kau!" Pria itu mendorong tubuh Marimar, menangkis serangan tasnya yang bebannya berat.
Entah apa isinya.
Marimar pun memundurkan langkah kaki dengan tergopoh-gopoh. Sorot matanya masih menghunus tajam dan dingin.
"Cihhh!" Pria itu menyeka pelipisnya yang berdarah. Ia berjalan cepat menghampiri Marimar dan menarik kerah bajunya kemudian melayangkan pukulan tepat di rahangnya.
Marimar terkejut dengan serangan mendadak. Ia tak tinggal diam.
Pria kemayu itu melempar asal tasnya, dan membalas balik lawan di hadapannya.
Alhasil perkelahian pun terjadi.
Rey yang berjarak beberapa meter dari mereka, mengerutkan dahi.
Mengapa Montero menyerang pria yang dia kenal sebagai babby sitter si Kembar, anak kekasih pemimpinnya.
Ia pun berjalan cepat, menghampiri keduanya.
"Hei, apa kalian lakukannnn?!" Rey memisahkan keduanya dengan mendorong dada mereka.
Nafas keduanya memburu.
Hidung, pipi, dan mata.
Lebam dan berdarah.
"Kenapa kau malah melerai ku, Rey?! Dia Swedish?" Pria itu heran dengan sikap Rey yang menghadangnya untuk membantai musuh.
"Ckkk ckk dia itu Monterooooo!!"
"Haa?" Pria itu melonggo. "Tap-"
"Jadi akika Monteroooo?" selanya. Dahi Marimar berkerut.
"Iya. Jangan bilang kau lupa siapa nama kelompok atasan mu, bodohhhhh?!"
Rey sepertinya baru saja menyadari dengan kebodohan pria kemayu itu.
Marimar terkekeh. Kemudian menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
__ADS_1
Rey menggelengkan kepala.
Membuang nafas.
"Ckk, jadi dia Monteroo? Sejak kapan King merekrut pria gemulai ini?!" Ia menyangkal penuturan temannya. Mengapa ia tidak di beritahu, sesalnya.
Dan mengapa harus pria bertubuh lentur, pula.
"Eh, you juga banciii! Yawwww!" Marimar tak terima, emangnya salah jika seorang pria kemayu seperti dia masuk ke dalam lingkaran Montero.
"Kauu!" Rahang pria itu mengeras.
"Diam lah kau! Dia babby sitternya kekasih King! Kau ingin di bunuh King?!" Gertak Rey serius.
Seketika pria itu terdiam.
Dia ingat dengan informasi terbaru dari teman-temannya bahwa King akan sangat marah jika mengusik kekasih dan anak-anaknya.
Marimar mencibir melihat tingkah pria itu.
Ia terkikik.
"Mar, kenapa kau di sini?" tanya Rey heran.
Marimar menelan saliva dengan kasar.
"Aduh, gimana ini. Jujur ngak ya,nanti ketahuan Lily. Tapi kalau ngak jujur, pasti Lily malah makin meradang!" batinnya bernegosiasi.
"Mar!" Sentak Rey menepuk pundak Marimar.
"Begini, lohhh.. Itu... Hmmm...."
"Apa? Kau kenapa?" Rey memicingkan mata.
"Tadi kami kabur dari hotel, uda ketemu Lily sih. Dia suruh eyke jaga si Kembar di sana...."
Marimar menunjuk ke tempat toko pakaian tadi.
"Lalu?" Rey tak sabaran.
"Jadi tadi si kembar triplet, masih sama eyke. Tapi pas eyke kencing, Samuel hilang," ucap Marimar pelan.
"Whatss?! Hilang?" Rey terlonjak kaget. Mengapa ada masalah lagi. Darla dan Lunna sudah ketemu tapi sekarang satu bocah lagi hilang, pikirnya.
Ia menghela nafas, seketika kepalanya terasa berat.
.
.
.
.
Di lain tempat.
"Kak, kita ke sana yuk!" ajak Nickolas melangkahkan kaki.
Kendrick mengangguk.
Saudara kembar itu memutuskan untuk mencari Samuel.
Lagi, dan lagi. Mereka mengindahkan perkataan Mommynya.
Kendrick dan Nickolas tak perduli jika Lily murka.
Lebih baik Mommynya naik pitam dan memarahi mereka.
Saat ini, mereka sangat mencemaskan Samuel yang entah berada di mana.
Bagaimana jika adiknya sampai terluka.
Tidakkk..
Jangan sampai..
Keduanya tak mau hanya berpangku tangan pada Marimar. Mereka akan berusaha mencari jua. Walaupun tak tahu harus mulai dari mana.
Dua bocah laki-laki itu berjalan dari toko, ke toko yang lainnya.
"Kakk, itu bukannya Darla dan Lunna??" Nickolas memicingkan mata, menajamkan indera penglihatannya.
Kendrick melakukan hal yang serupa.
"Darlaaaaa, Lunnnnnaaaa!!!" panggil Kendrick dan Nickolas sambil mengayunkan kaki gesit, ke tempat tujuan.
__ADS_1
Darla dan Lunna mengalihkan pandangan saat mendengar suara yang mereka kenal.
"Darlaaaa!" Kendrick segera memeluk tubuh munggil sepupunya. Ia mengelus kepala bocah itu.
"Kak ken ada di sini?" Darla membalas pelukkan.
"Ya kami mencari mu!" Kendrick melepaskan dekapannya.
"Benalkah?" tanya Darla dan Lunna serempak.
Kendrick dan Nickolas mengangguk.
Kedua mata Darla tampak berkaca-kaca. Ia jadi teringat kedua orangtuanya, apakah mereka juga mencari dirinya di atas sana.
"Jangan menangis!" Nickolas mendekat dan menangkup pipi bulat Darla, yang sudah menganak sungai. Ia menyeka pelan buliran air matanya.
Seakan dapat membaca isi pikiran sepupunya.
"Gukk..gukk..gukkkk!" Hiro menyalak ketika melihat dan mendengar Darla menangis tersedu-sedu.
Kendrick dan Nickolas mengalihkan pandangan ke arah Hiro.
Keduanya mengernyitkan dahi.
"Lunna bisa jelaskan kalian dari mana? Dan mengapa ada anjing ini di sini?" Kendrick meminta penjelasan atas semua pertanyaan yang berkecamuk di dalam benaknya.
Lunna menghela nafas.
Ia menceritakan secara gamblang dan apa adanya.
Di mulai penculikan mereka.
Aksi kabur dari gedung.
Pertemuan dengan Gangsta Paradise yang memperlakukan keduanya bak ratu di markas mereka.
Dan Hiro anjing setia dan lucu, dari ketua Gangsta Paradise, menemani mereka sepanjang waktu.
"Syukurlah, kalian tidak apa-apa," cetus Kendrick sambil memeluk sejenak Lunna. Setelah mendengar penjelasan Lunna.
"Sekarang kita harus mencari Samuel!" Ia menghela nafas.
"Memangnya kak Sam, ke mana?" tanya Lunna heran dan penasaran.
"Kami juga tidak tahu, dia tadi bersama kami. Tapi dia tiba-tiba menghilang!" sahut Kendrick cepat.
"Ya sudah sekarang, ayo kita cari Samuel!" ajak Nickolas sambil mengelus punggung Darla. Tampak Darla sudah mulai tenang. Namun kedua matanya terlihat sendu dan mulai mengantuk.
Keempat bocah itu berjalan beriringan di atas trotoar, mencari Samuel.
Aman dari kerumunan manusia.
Tak ketinggalan Hiro mengikuti dari samping.
Ia bersikap waspada pada orang di sekitarnya, seperti sudah terlatih.
Kepalanya bergerak ke segala arah.
Mengamati keadaan.
.
.
.
.
Sementara itu.
"Damnnnn! Rodrigo cepatlah! Leon semakin mendekat." Pablo bersembunyi di sela-sela bangunan toko. Sedari tadi ia berlari dari Leon yang tak berhenti mengejarnya.
Dia amat heran, mengapa pria itu tak letih sama sekali.
Tiba-tiba matanya memicing melihat seorang bocah yang dia kenal tengah sendirian membelakanginya.
Ia menyeringai licik.
"Rodrigoooo! Tangkap anak itu, kita jadikan pion!" sahutnya tiba-tiba.
Rodrigo baru saja tiba, nafasnya tersengal-sengal. Ia mengatur ritme pernafasannya.
.
.
__ADS_1
.