
~Menualah bersama ku hingga maut memisahkan~
***
Hari pernikahan
Leon Andersean dan Lily Marques.
...----------------...
Tampak kediaman Marques sedang ramai dengan kerumunan manusia. Sebagian keluarga inti dan sanak saudara meriuhkan acara, yang akan di laksanakan beberapa jam kemudian.
Mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing. Ada yang bergosip ria. Ada yang sibuk mengambil foto, berniat mengabdikan setiap moment yang akan terangkai di benak mereka. Ada pula yang menyantap hidangan, yang telah disediakan oleh tuan rumah. Begitulah tingkah dari sebagian tamu yang hadir.
Terpampang dekorasi nan apik di sudut-sudut ruangan. Jangan lupakan taman belakang mansion yang sudah dihiasi dengan bunga dan ornamen simple, namun elegan, yang akan menjadi titik tumpu keberlangsungan acara. Kedua mempelai pengantin memilih konsep outdoor untuk pernikahan mereka.
Terlihat si Kembar dan Lunna berlarian ke sana kemari di taman belakang. Mereka sedang bermain petak umpet.
Bugh.
"Aduh, dedek kecil hati-hati jalannya ya!" seru Marimar, saat Lunna tak sengaja menabraknya. Dia berjongkok dan mencubit gemes pipi bulat Lunna.
"Hehehe, maaf abang. Lunna tidak sengaja." Bocah perempuan tersebut, menunjukkan wajah puppy eyes.
"Eitsss panggil eyke, Miss, bukan abang!" protes Marimar cepat, dengan menggerakkan jari telunjuk ke kanan dan ke kiri.
"Miss?" Lunna mengerutkan dahi, dia menatap aneh pada pria gemulai di hadapannya.
"Yes baby. Miss Marimar." Lelaki lentur itu menggerakkan tubuh seperti ulat bulu.
Lunna terkekeh pelan dengan menutup mulut mungilnya.
"Ada apa ini?" tanya seseorang dari belakang tubuh Marimar.
Lantas, lelaki setengah wanita itu bangkit berdiri dan memutar cepat tubuh kekarnya ala iklan shampoo, sambil mengibaskan rambut palsu. Hari ini, Marimar berpenampilan berbeda. Tentu saja, ia tak ingin melewatkan moment bersejarah teman wanitanya itu, dengan tampil lebih enerjik dan nyentrik.
Marimar mengenakan blazer wanita berwarna pink, dan celana kain berwarna putih. Heels runcing setinggi 15 cm senada dengan warna pakaiannya. Rambut palsu panjang berwarna blonde menghiasi kepalanya.
"Tidak ada apa-apa, Leon," ucap Marimar sambil memutar malas kedua bola matanya, saat melihat siapa yang menghampiri dirinya.
Leon menatap dingin dan tajam. "Kau di cari Mommy, bagaimana kau ini katanya WO. Cepat kesana!" Pria bernetra warna coklat itu, menatap jengah.
Iya, benar sekali, Marco alias Miss Marimar meminta Lily dan Anastasya untuk menjadikannya sebagai perencana pernikahan kedua mempelai. Kedua wanita sejati berbeda generasi tersebut, terpaksa menerima permintaan Marimar.
"Benarkah?" Marimar bertanya balik, ada apakah gerangan mengapa dia di panggil, pikirnya.
Leon mengganguk sedikit.
Pria berambut palsu tersebut berlalu pergi, meninggalkan Leon dan Lunna.
Leon menatap anak perempuannya, yang sedang sibuk melihat dekorasi di taman. Kedua mata anak berpipi bulat itu, tampak berbinar. Dia mengelus perlahan rambut panjang Lunna, yang tergerai di pundaknya.
Merasa ada sentuhan di kepala, Lunna menengadahkan wajahnya ke atas.
"Daddy!" seru Lunna dengan mengulum senyum.
"Lunna suka?" tanya Leon sembari mensejajarkan tubuh kekarnya.
"Cuka Daddy, bental lagi Lunna punya Mommy," tutur Lunna cepat.
Leon terkekeh pelan.
"Daddy!" panggilnya tiba-tiba.
"Iya," sahut Leon sambil mengusap pipi bulat Lunna yang menggemaskan.
"Lunna pengen punya dedek kembal ya!" pintanya sambil melompat-lompat.
Leon membalas perkataan putrinya dengan menganggukan kepala perlahan.
__ADS_1
"Yessssss!" teriak anak perempuan bertubuh tembam tersebut dengan riang.
***
Di ruangan lain.
Tampak Lily sedang sibuk merias wajahnya, dia tidak menggunakan MUA atau make up artist. Wanita berparas rupawan itu, berusaha menghias dirinya sendiri. Dengan kemampuan yang dia miliki.
Dahulu, saat dia masih berada di bangku kuliah. Lily berkerja part time sebagai MUA di kampus. Dia menikmati perkerjaan tersebut.
Namun pekerjaan yang ia tekuni, selama kurang lebih satu tahun itu harus terhenti. Sebab mantan suami Lily, kala itu melarang dirinya untuk melakukan pekerjaan yang menurutnya hanya menghabiskan tenaga saja. Mau tidak mau wanita bermanik warna biru laut itu, mematuhi perkataan Arnold dahulu.
Ceklek.
"Oh My God! You cantik banget Lily! Eyke pangling!" seru Marimar menyelenong masuk. Dia sangat terpesona dengan wajah Lily dengan riasan yang terlihat natural. Bagi Marimar, Lily adalah wanita tercantik yang pernah ia temui.
Lily hanya menggelengkan kepala dengan pelan, melihat tingkah Marimar. Tangan kanannya asik memoles pipi kanan dan kiri, yang terlihat tidak tirus ataupun tidak gempal. Struktur wajah wanita tersebut, sangatlah pas dan sesuai proporsi.
"Bagus tidak?" tanya Lily sambil meletakan blush on di meja rias.
"Perfect!" seru Marimar seraya tersenyum.
"Mommy you di mana?" tanyanya tiba-tiba. Ia baru saja menyadari tujuannya datang ke kamar Lily.
"Mom..."
"Mommy!" panggil si Kembar serempak, mereka memotong pembicaraan Lily dan Marimar, sambil berjalan mendekati ibunya.
Lantas, kedua orang dewasa tersebut menolehkan mata ke sumber suara.
"Iya sayang," ucap Lily pelan.
"Wow, Mommy kayak bidadari!" cetus Nickolas, ia enggan mengedipkan kelopak matanya. Melihat makhluk yang terlihat indah baginya.
"Sudah pandai menggombal ya, anak Mommy," Lily berkata sambil mengelus pipi kanan anak tengahnya.
"Mommy, memang seperti bidadari!" protes Kendrick dan Samuel kompak.
"Mom, Darla dan Onty Belle kenapa belum datang?" tanya Kendrick, ia baru saja teringat dengan tujuan datang kemari.
"Tadi Onty Belle bilang agak telat, karena Uncle Ben masih menyelesaikan pekerjaannya sayang," jelas Lily singkat.
"Tapi Mom, ini kan sudah jam 3." Nickolas melirik jam tangan mungilnya.
"Mungkin sebentar lagi sayang."
Lily berusaha memberikan pengertian, mungkin saja pesawat yang di tumpangi delay atau apa. Dia merasa aneh dengan pasangan inisial B itu, mereka tak menggunakan pesawat pribadi keluarganya. Belle membuat alibi mau merasakan pesawat komersil sesekali.
Tiga puluh menit kemudian.
Wanita bernetra biru laut itu, mencoba menelpon adiknya. Namun tak jua di angkat, Lily berjalan maju dan mundur di dalam kamar.
Belle kau di mana? Gumam Lily dalam hati.
Terdengar suara getaran pesan masuk di ponselnya. Dengan cepat Lily mengusap layar pipih itu.
Maafkan aku kak, sepertinya aku tidak bisa datang tepat waktu. Mungkin akan sampai pukul 7 malam, kami ada delay sedikit.
[Belle]
Sepertinya pesan tersebut di kirim dari beberapa jam yang lalu.
Lily membuang napas dengan berat.
Baiklah, aku menunggumu. Berhati-hatilah.
Balas Lily cepat, walaupun pesan singkat itu, tidak akan sampai cepat di ponsel Belle, sebab jaringan di atas pencakar langit pasti menganggu proses mengirim pesan tersebut. Dia menaruh ponsel ke tempat semula.
Tok.tok..
__ADS_1
"Masuk!"
Anastasya berjalan cepat menghampiri Lily. "Bagaimana Belle sudah di mana nak?" tanyanya, sebab putri bungsunya belum juga tiba.
"Delay, Mom. Mungkin malam dia datang. Apakah acaranya ini bisa di undur lagi Mom. Kita menunggu Belle dan Ben tiba," pinta Lily sambil menatap dalam. Dia ingin semua anggota keluarga, menghadiri moment kebahagiannya.
Anastasya menghela napas sejenak. Karena kerabat dan sanak saudara akan kebingungan dengan jadwal pernikahan anaknya yang di undur. Namun dia berusaha memahami permintaan putri sulungnya.
"Baiklah, Mommy akan berumbuk dengan keluarga yang lain ya, sayang," ucap Anastasya sembari mengelus punggung Lily. "Kau sangat cantik, nak." Pujinya sambil menatap lekat.
***
Tepat pukul 7 malam, mau tidak mau Lily harus melangsungkan pernikahannya. Walaupun Belle dan Benjamin belum pula tiba. Tiga puluh menit yang lalu, adiknya mengabari jika mobil yang ia tumpangi kempes ban. Lily pun terpaksa memulai acara tanpa kehadiran adiknya. Dia tak mau mengecewakan tamu undangan yang telah hadir.
Tampak Lily berdiri sendiri di tengah taman yang berhiaskan cahaya lampu. Dia mengulum senyum dan menatap lurus ke depan. Di sisi kanan dan kiri tamu undangan berdiri saat melihat pengantin wanita berparas rupawan ingin melangkah menuju altar.
Wanita bernetra warna biru laut itu, menelisik keberadaan Jonathan, yang akan menjadi pendamping untuk berjalan ke depan. Namun tak ada sosok ayahnya sedari tadi.
"Nyonya," panggil Fabio, sambil menghampiri Lily.
"Iya, Daddy di mana?" tanya Lily mulai cemas, ia mencari jawaban dari tangan kanan ayahnya.
"Tuan sedang pergi sebentar menjemput, Nyonya Belle. Aku yang akan menjadi penganti Tuan Jo," jelas Fabio singkat.
Lily tak menjawab, dia tampak sedang berpikir. Sepersekian detik, dia menganggukkan sedikit kepala. Dia segera menautkan tangan pada lengan bawah Fabio.
Fabio tersenyum simpul. "Tenanglah, Nyonya. Tidak akan lama sebentar lagi mereka akan datang, jangan sedih nanti cantiknya hilang," ucapnya pelan, dia berusaha menghibur Lily. Mendengar perkataan pria paruh baya tersebut. Wanita bermanik warna biru itu mengulum senyum.
Pengantin dan pendamping pria berjalan pelan di atas karpet yang dihiasi kelopak bunga mawar.
Di ujung sana, Leon tampak berseri-seri. Saat melihat tambatan hatinya berjalan mendekatinya, dia enggan mengedipkan kelopak matanya. Betapa beruntungnya dia memiliki istri seperti Lily, yang begitu sempurna baginya.
"Aku titip anak ku, Leon!" ucap Fabio tegas, saat ia dan Lily sudah berada tepat di hadapan Leon.
"Iya Dad," ucap Leon mantap tanpa mengalihkan pandangan dari Lily.
Sementara Lily, tersipu malu ketika di tatap terlalu lama. Dia menjulurkan tangannya dengan pelan pada Leon. Pria bermanik warna coklat itu mengambil tangan kekasihnya secara cepat.
Fabio terkekeh pelan, melihat tingkah Leon.
Interaksi kedua mempelai tersebut tak lepas dari penglihatan tamu undangan yang hadir.
"Nanti malam gass pol bro!" seru salah satu sanak saudara Anastasya.
Para tamu undangan tertawa pelan mendengar guyonan tersebut.
"Baiklah, apakah kalian sudah siap?" tanya pastor yang berdiri di tengah kedua mempelai.
Leon dan Lily berdiri berhadapan dan saling menatap satu sama lain. Keduanya menganggukkan kepala bersamaan.
"Sebelum mulai, apakah di sini ada yang keberatan dengan janji suci yang akan di ikrarkan ini?" tanya pastor lagi sambil mengedarkan pandangan.
"Tidak ada, romo!" seru Marimar dengan gaya gemulainya. Dia sudah menahan rasa laparnya sedari tadi.
"Baiklah, kita mu...."
"Berhentiiiiiiiiiiiiiii!!!" teriak seorang pria dengan sangat nyaring, ia memotong perkataan pastor tersebut.
Kedua mempelai dan tamu undangan, seketika mengalihkan pandangan pada sosok pria yang berlumuran darah, dan sedang menggendong seorang anak perempuan.
"Tim Wolfiiiiiiiiiiii!" teriakan Fabio menggema di taman luas tersebut.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.