
Hanya mereka yang menderita, yang tahu rasanya penderitaan.
...****************...
Flashback
Breslin mengemudikan kendaraannya dengan laju. Dia mencari rumah sakit yang terdekat, agar Jonathan dapat segera di selamatkan.
Di kursi tengah mobil, tampak Darla kecil mengelus perlahan kepala kakeknya, yang tak sadarkan diri dan bersimbah darah. Darla tak mengerti dengan situasi saat ini, namun berkali-kali ia bertanya pada Breslin. Akan tetapi pria tersebut hanya menjawab seadanya saja. Ia sedang fokus menyetir.
Tak butuh waktu lama Breslin tiba di Rumah Sakit Javier. Dengan sigap petugas kesehatan melakukan pertolongan pertama pada Jonathan. Breslin dan Darla hanya bisa menatap dari kejauhan. Salah satu dokter yang bertugas di ruang UGD, mendekatinya dan mengatakan bahwa kondisi pasien sangat lemah dan kritis, hal itu di sebabkan Jonathan kehilangan banyak darah.
**
Sementara itu di lain tempat, Maximus telah sadarkan diri. Kepalanya terbentur dengan kuat ke jalan raya. Beruntung ia menggunakan helm. Dia pun bangkit berdiri dengan pelan. Lelaki blasteran itu segera mengendarai motor besarnya, yang sudah tak karuan lagi bentuknya.
Maximus segera mencari keberadaan Jonathan, Belle dan Benjamin. Tidak jauh dari tempatnya, kedua bola matanya melotot saat melihat pemandangan yang menggenaskan, satu mobil hangus terbakar. Satu mobil lagi, yang sangat ia kenali, pemiliknya adalah Jonathan, terparkir di tepi jalan dengan pintu mobil yang masih terbuka lebar.
Maximus menajamkan penglihatannya, saat melihat bercak darah yang terukir sepanjang 10 meter di jalan. Napasnya tercekat, dia merasakan sesuatu yang tidak nyaman di dadanya. Tanpa pikir panjang dia menghubungi polisi untuk datang ke tempat lokasi kejadian.
...****************...
Breslin dan Darla keluar dari rumah sakit, mereka mau mendatangi mansion Jonathan, ingin memberitahukan kondisi pria paruh baya tersebut, namun ia kebingungan.
Breslin sama sekali tak mengetahui di mana letak mansion Jonathan, Darla kecil tentu saja, tak ingat jalan menuju mansion. Namun di perjalanan kedua manusia berbeda generasi tersebut, tak sengaja berpapasan dengan Maximus. Ketika berhenti di lampu merah.
Breslin pun menghentikan mobilnya dengan cepat, dia mengatakan kejadian yang telah terjadi secara singkat dan jelas. Maximus tersentak saat mendengar penuturan Breslin, tanpa terasa air matanya mengalir sangat deras.
Pria bermanik warna hitam legam itu meminta Maximus untuk mengajaknya ke mansion. Maximus pun menuruti permintaannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Masa sekarang
"Cepat katakan, ada apa Max?!" teriak Lily nyaring, sambil mengguncang tubuh Maximus.
Maximus tak menjawab hanya isakan tangis yang terdengar.
"Mommyy Dalla lindu, Mommy!!" pekik Darla sambil meracau.
"Tulun tulun tulun, hikss... hiksss, hikss..." pintanya kepada Breslin sambil memukul kecil tepat di dada.
Breslin dengan cepat menurunkan bocah perempuan bertubuh tembam tersebut. Darla berlari lincah mendekati Lily.
__ADS_1
"Onty Lily, Mommy di mana? Dala lindu Mommy!" ucapnya dengan nyaring sambil menarik gaun Lily.
Lily mensejajarkan tubuhnya dan mulai terlihat cemas.
"Sayang, Mommy tadi bilangnya pergi ke mana?" tanya Lily pelan sambil menghapus jejak tangis Darla.
"Mommy mau pelgi ke sulga katanya, hikss hikss, Mommy jahat ngak ajak Dala!" Rengek Darla.
Deg.
Dada Lily bergemuruh, dia merasakan perasaan yang tak enak pada relung hatinya. Napasnya tercekat, tanpa terasa air mata mengalir di pipinya.
Semua orang yang berada di taman terkejut, mereka paham betul dengan perkataan Darla. Mereka hanya bisa menerka-nerka didalam hati.
"Kau akan menemukan jawabannya di rumah sakit!" ucap Breslin tegas, sedari tadi dia menunggu Maximus untuk mengatakan apa yang terjadi. Namun sepertinya pria tersebut, tak mampu menceritakannya.
Breslin tahu betul, dia tidak mempunyai kapasitas untuk berbicara. Belum lagi faktanya dia adalah kaki tangan si pelaku, pikirnya. Walaupun begitu Breslin tidak ikut andil dalam insiden tadi. Lelaki bermanik hitam legam itu membuat alibi kepada Arnold, bahwa dia harus pulang ke kampung untuk menjenguk orangtuanya yang sakit.
"Kau tidak di izinkan bicara!" teriak Lexi, dia sangat tahu betul siapa Breslin. Dia mengetatkan rahangnya dan menatap tajam.
Breslin tak mengindahkan perkataan Lexi, ia kembali berucap dengan nada tegas. "Ada seseorang yang sedang kritis menunggu kalian!" Breslin mengedarkan pandangan pada semua orang.
Sementara itu, para tamu undangan, sanak saudara dan keluarga inti terkejut. Tak ada yang bersuara satupun.
Hening!
Kumpulan manusia di taman kediaman Marques, memusatkan perhatian pada pria yang baru saja masuk bersama, tiga orang anggota polisi lainnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Rumah Sakit Javier.
Suara derap langkah kaki, terdengar di lorong rumah sakit. Terlihat seorang wanita yang masih menggunakan gaun pengantin berjalan tergesa-gesa menuju suatu ruangan. Ada seorang pria bertubuh kekar mengekorinya dari belakang.
Di ikuti dengan beberapa orang pria dan wanita paruh baya yang berada di belakang tubuh mereka. Petugas kesehatan menuntun keluarga Marques ke suatu ruangan di ujung lorong rumah sakit.
Seketika kedua tungkai kaki Lily terhenti.
"Kenapa kita ke sini..." tanyanya lirih, kedua air matanya dari tadi tak berhenti mengalir. Dia sangat tidak suka dengan situasi saat ini, dadanya sesak, sangat sesak! Dia dapat merasakan jantungnya berdetak amat cepat.
"Mbak, silahkan masuk dulu," jawab perawat laki-laki, dia mengerti dengan perasaan wanita bernetra warna biru laut itu.
"Honey, tenanglah. Kita masuk ke dalam dulu." Leon menyentuh pundak Lily, ia berusaha memberikannya pengertian. Walaupun saat ini pikirannya juga melayang.
__ADS_1
Wanita berparas rupawan itu, mengangguk sedikit. Lily berjalan perlahan memasuki kamar jenazah.
Perawat laki-laki menghela napas, dia berdiri di dekat dua brangkar. Dengan cepat dia membuka kain penutup tubuh dua jasad tersebut.
"Ini sia-pa?" tanya Lily terbata-bata, ia enggan menatap lama. Lily memalingkan wajah dengan cepat. Saat melihat kain putih di buka oleh petugas kesehatan tersebut. Kondisi dua jenazah tersebut hangus terbakar. Kedua tangan mereka saling bertautan satu sama lain seperti berpegang tangan.
Perawat menutup kembali jasad tersebut.
"Cepat jawab ini siapa!?" teriak Lily, mencari jawaban yang berkecamuk di dalam benaknya.
Perawat menjelaskan dengan singkat mengenai identitas korban. Keluarga inti yang berada di ruangan tercengang. Seketika Anastasya ambruk di tempat. Ia tak mampu lagi menopang tubuhnya. Fabio memapah wanita paruh baya itu keluar dari ruangan.
Lily terkejut, seketika tubuhnya terhuyung ke belakang. Leon dengan sigap menahan agar kekasihnya tidak terjatuh.
"Kau bohong!" jerit Lily, kemudian dia membalikkan badannya ke belakang. Air mata tak berhenti mengalir sedari tadi.
"Dia bukan adikku! Pasti kalian sedang berakting lagi! Cepat jawab Leon?!" teriak Lily sambil mengguncang tubuh kekasihnya. Kedua matanya memerah sebab dari tadi ia tak berhenti menangis.
"Cepat jawab! Kenapa kau diam?!" Lily memukul dadanya berkali-kali. Sebagian dunianya hancur seketika! Sakit!
Dia berharap ini hanyalah akting yang di lakukan Leon dan semua orang yang berada di dalam ruangan. "Jawab Leon, jawab!!!" raungnya, terlintas bayangan memori bersama adiknya.
Leon tak membalas perkataan Lily. Dia menatap sendu sambil menghentikan pergerakan tangan kekasihnya, dengan cepat ia membenamkan wajah Lily di dadanya. Dia merengkuh erat dan mengusap pelan punggung wanitanya.
Semua orang yang berada di ruangan menangis tersedu-sedu mendengar isakan tangis Lily. Dada mereka naik turun seirama dengan deraian air mata yang menganak sungai.
Tanpa terasa air mata Leon ikut menetes, dia masih memeluk tubuh Lily. Dahulu ia pernah berada di posisi kekasihnya, ia paham dengan perasaan Lily saat ini.
Lily sudah tampak tenang, hanya lirihan kecil yang keluar dari bibirnya.
"Permisi, apakah di sini ada keluarga pasien, atas nama Jonathan Marques?" tanya salah satu perawat wanita yang masuk ke dalam ruangan.
.
.
.
.
.
Ket :
__ADS_1
UGD : Unit Gawat Darurat.
*Jangan lupa tinggalkan jejak like,vote, dan komentarnya.