Pelangi Untuk Lily

Pelangi Untuk Lily
Chapter 27. Degup Jantung


__ADS_3

Lily baru saja tiba, dia melihat kerumunan orang di satu tempat. Samar-samar Lily melihat anaknya di dalam kerumunan tersebut. Dia pun segera menerobos masuk.


Lily terkejut melihat putra sulungnya menangis di dalam pelukan Marimar. Lily yakin sekali pasti Kendrick bertemu dengan mantan suaminya. Lantas Lily menghampiri Kendrick.


"Kendrick,!" panggil Lily.


Marimar yang menyadari kedatangan Lily seketika melepaskan pelukan. Dia menyerah bukannya tenang tetapi Kendrick malah semakin menangis. Hari ini Marimar melihat sisi rapuh dari raja singanya. Walau bagaimana pun dia tetaplah seorang anak kecil. Namun dia heran apa yang membuat Kendrick menangis. Marimar hanya bisa menerka-nerka.


Lily segera mensejajarkan tubuh dengan Kendrick dan membawa ke dalam pelukan sembari mengelus pelan punggungnya.


Marimar berinisiatif membubarkan pengunjung. Untung saja ada satpam yang datang ke tempat mereka berada. Sekarang situasi sudah terlihat mulai kondusif.


Marimar menghela napas.Dia tampak sedih mendengar tangisan Kendrick yang terasa pilu dan sesak. Dia memandang sendu kedua orang yang sedang berpelukan itu.


Nickolas dan Samuel menatap saudara Kembarnya dengan raut wajah yang sedih. Tak terasa air mata mereka berderai di pipi, mungkin ini adalah ikatan batin antara saudara.


5 menit kemudian.


Kendrick terlihat sudah tenang di dalam gendongan Lily. Di usapnya perlahan punggung anaknya. Saat ini mereka sedang berjalan menuju parkiran mobil.


Nickolas dan Samuel mengekori dari belakang. Sesampainya di basement Mall mereka segera masuk ke dalam mobil.


Tampak Marimar yang mengemudikan mobil dengan perlahan menuju apartment.


.


.


.


Malam ini, suasana kamar yang di dominasi dengan warna biru laut tampak tenang. Ukuran kamar tersebut kurang lebih 4 x 4. Di dalam kamar terdapat 3 tempat tidur anak lengkap dengan 2 lemari pakaian yang terpajang rapi di sudut ruangan. Serta meja belajar kecil untuk anak Lily belajar, tersusun dengan apik.


Lily menghela napas dengan berat. Sesudah membacakan dongeng pengantar tidur untuk si Kembar. Lily berjalan perlahan menuju ke ambang pintu. Dia mematikan saklar lampu dan menutup perlahan pintu kamar.


.


.


.


.


"Cyinnnnnnn!" panggil Marimar memekik. membuat telinga Lily rasanya ingin pecah.


"Ya ampun Marimar ini bukan hutan. Kita sedang berada di kantor!" sungut Lily dengan raut wajah terlihat kesal.


Marimar tertawa lepas.


Lily menepuk jidatnya, dia tak habis dengan Marimar sudah di beritahu bahwa ini di kantor bukan di hutan!


"Jangan marah deh cyin. Eyke canda kok!"


"Ada apa kau pagi-pagi sudah bersemangat sekali,?" tnya Lily sambil mengambil bekal sarapan di dalam tas.


"Cyin, eyke cuma mau buat you senang hari ini." Marimar sambil menatap sendu.


Lily mengerutkan dahi.


"Memang aku kenapa Mar?" Ekspresi Lily tampak bingung, ada apa dengan Marimar. Apakah wajahnya terlihat sedih sekali hari ini.

__ADS_1


"You ngak usah bohong deh sama eyke. Nanti kalau istirahat you harus cerita,!" ucap Marimar sambil mengambil bedak tabur di dalam tas pinky.


Lily mengulum senyum. Sepertinya berteman dengan Marimar harus ekstra sabar. Setidaknya Lily merasa mempunyai seorang sahabat saat ini. Sahabat yang peduli dengan dirinya, tak perduli dengan perbedaan gender.


.


.


.


Di suatu tempat nun jauh di mata Lily.


Kediaman Leon Andersean.


"Lex!" panggil Leon sembari membongkar lemari pakaian.


Mendengar panggilan dari atasannya. Lexi menoleh ke arah Leon.


"Iya Tuan," jawab Lexi


"Di mana jas biru dongkerku?"


Leon sibuk membongkar pakaian di dalam lemari. Leon terlihat gusar, pasalnya jas itu adalah pemberian mendiang kakaknya. Jas itu merupakan jas favoritnya.


Lexi melihat gelagat Leon mengerutkan dahi.


"Sebentar tuan. Aku akan memanggil asisten untuk mencarikannya."


Lexi menekan telinga kirinya perlahan, earpiece yang digunakan pun terhubung langsung dengan seseorang. Lexi berbicara dengan nada tegas memerintahkan asisten yang di tugaskan khusus untuk membersihkan kamar Leon segera menuju ke lantai 2.


Leon menghela napas. Saat melihat asisten rumah sedang mencari jas yang ingin di kenakan hari ini, namun tak juga di temukan.


Asisten yang ditugaskan terlihat mengeluarkan keringat di dahi. Dia ketakutan saat melihat raut wajah Leon tidak bersahabat. Dia berdoa dalam hati agar jas tersebut segera dapat.


"Ada apa,?" tanya Leon dengan tatapan datar.


"Aku baru ingat, bukankah Tuan memberikan jas yang berwarna biru dongker itu kepada Nyonya Lily," jelas Lexi sambil menatap.


Deg.


Mendengar nama Lily seketika degup jantung Leon berdetak dengan cepat. Entah mengapa setiap mendengar nama Lily jantungnya selalu tak karuan, Leon mengingat kejadian semalam.


Leon tak tahu mengapa kalimat ajakan menikah di lontarkan pada Lily secara tiba-tiba. Tadi malam Leon merasa mantan suami Lily pernah melakukan sesuatu yang buruk pada Lily,


Wajah Leon terlihat memerah mengingat ajakan menikahnya di tolak oleh Lily. Dia binggung ada apa dengan dirinya. Dia tak bisa mengontrol pikiran dan tubuhnya jika berada di dekat Lily.


Mungkin benar dengan perkataan Lily jika sekrup kewarasan yang berada di otaknya sudah terlepas.


"Tuan." panggil Lexi menyadarkan Leon yang sedang melamun.


"Hmm." Leon melirik sekilas.


"Jas tuan berada di tempat nyonya Lily. Apakah harus ku ambil tuan?" tanya Lexi.


"Tidak usah. Pagi ini aku akan memakai jas yang lain saja."


••••••••


Jam menunjukkan pukul 6.20 malam. Sepertinya perkiraan cuaca dari BMKG meleset. Hujan deras mengguyur jalanan membuat sebagian orang bersungut-sungut. Kegiatan yang sudah di rencanakan pun berantakan.

__ADS_1


Terlihat Leon baru saja selesai dengan perkerjaan di kantor, dia menghela napas. Leon meregangkan sedikit otot-otot tubuh yang kaku.


Tok tok tok


Suara ketukan pintu dari luar.


"Masuk!" ucap Leon sembari matanya langsung mengarah pada daun pintu.


Terlihat sekretaris pribadi berjalan perlahan menuju meja kerja Leon.


"Permisi pak. Ini untuk dokumen kerjasama kita dengan perusahaan Co.Marq." Sekretaris meletakkan map dokumen di atas meja dan mundur perlahan.


Leon menganggukkan kepala.


"Apa kegiatan ku selanjutnya?" tanya Leon membuka lembaran dokumen.


Sekretaris itu segera mengingat jadwal atasannya.


"Pukul 7 malam bapak akan menghadiri acara pertunangan pemilik perusahaan KNS group di Hotel Abiza."


Leon tersenyum sinis.


"Batalkan!"


Sekretaris itu mengernyitkan dahi. Tapi mau tidak mau dia harus menuruti perkataan atasannya.


"Baik Tuan."


"Jadi kegiatan ku tidak ada lagi kan?" tanya Leon sambil menaikan satu alis ke atas.


"Iya Tuan"


"Kau boleh pulang!" Leon memberikan kode pada sekretarisnya untuk segera keluar.


Sepersekian detik Leon mengeluarkan handphone yang berada di saku jas. Dia mengetikkan sesuatu di layar smartphone mewah itu.


.


.


.


Lily baru saja keluar dari toilet, dia menggeringkan rambutnya yang panjang dengan handuk. Terlihat layar handphone yang berada di atas meja rias bercahaya. Lily berjalan perlahan menuju meja.


Lily mengusap layar dengan pelan, satu pesan masuk dari nomor yang asing bagi Lily.


"Kirimkan alamat apartment mu. Aku akan mengambil jasku!


Leon


Deg.


Saat membaca isi pesan tersebut yang berasal dari Leon. Seketika dada Lily berdebar, tangan Lily reflek memegang dadanya yang tertutup handuk itu.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2