Pelangi Untuk Lily

Pelangi Untuk Lily
Chapter 103. Pablo Kalah


__ADS_3

Matahari mulai nampak di ujung sana.


Sementara itu.


"Hoekkkkkkkkkkkkkk!!"


Marimar hendak memuntahkan makanan di dalam perutnya. Saat pesawat yang ia tumpangi berputar-putar mengguncang isi perutnya.


"Kau jangan muntah!!!" Maximus berada di sampingnya. Ia mengeratkan pegangan tali pengaman badannya.


Guncangan pesawat amat terasa ia rasakan.


Ledakkan terdengar dari luar, sepertinya ada yang meledak barusan.


"Akika mau pulang mamiiiiii, papiiiiii!" rengek Marimar, matanya sudah mulai berkaca-kaca.


"Cihhhhhh!!!!" Maximus berdecih melihat air mata Marimar mulai keluar.


"Akika akan bertobat! Ahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh!!!!"


Pesawat menukik ke atas.


Lalu berputar kemudian ke posisi semula.


"Ahhhhhh, hiks hikkssssssssssss!!!!" Marimar menjerit dan menangis.


"Haaaaaaaaaaaaaaa!!!!!" Kelima bocah yang duduk berhadapan dengan Marimar malah berteriak gembira, mereka menganggap ini hanya sebuah permainan.


Marimar berteriak, menangis tersedu-sedu memikirkan kematian di depannya.


Ia takut.


Kematian mendekatinya, pikirnya.


“Allahumma baarik lanaa fiimaa rozaqtanaa wa qinaa 'adzaa bannaar," sahutnya sambil menarik hingusnya yang merosot turun.


(Artinya: "Ya Allah berikanlah keberkahan apa yang telah engkau berikan kepada kami dan peliharalah kami dari siksa api neraka.")


"Itu doa makan!! Bodohhhh?!!! seru Lexi yang bersebrangan bangku dengannya. Ia duduk bersebelahan dengan Breslin, bersama kelima bocah yang empat di antaranya, malah tampak kegirangan, bukannya takut terhadap keadaan di luar sana.


Lexi menggelengkan kepala, melihat situasi di sekitarnya.


Pria gemulai yang menangis-nangis dan keempat bocah yang dari tadi mengangkat tangan ke atas.


Marimar tak membalas ucapan Lexi.


Kali ini dia...


"Alhamdulillahilladzi ath-amanaa wa saqoonaa wa ja'alanaa minal muslimiin.”


Artinya: "Segala puji bagi Allah yang memberikan makan dan minum kepada kami. Dan Menjadikan kami orang Islam."


"Bodohhhhhhhhhh! Itu masih doa makan!!"


Kali ini Breslin membuka suara.


Marimar tak mengubris ucapan dua pria bertubuh kekar itu.


Ia asik meracau sendiri.


"Mamiiiiiiiiiiiiiiii, akikaaaaaaaaaaaaa hikss hiksssssss, ngak gemulaii gemulaii lagiiiiii! Huhhuu hiksssss hikssssss!"


Breslin, Lexi dan Maximus menghela nafas.


Jengah.


"Dia kenapa? Joloknya!" tanya Lunna melihat Marimar sudah kacau, hinggusnya keluar dan ia menarik kembali.


Srerttttt.


Darla mengedikkan bahu. "Padahal ini celu tahu! Hiiiiiii!" seloroh Darla menatap Marimar jijik.


"Kak Nick ini, seperti di film action?!" Samuel tersenyum sumringah.


"Iya, iyaaaa celuuu hahahahaha!!!" Nickolas mengangkat tangan di udara.


Kendrick hanya terdiam membisu.


Tiba-tiba sebuah rudal menghantam sayap kanan pesawat.


Deg.


Lexi, Breslin, Maximus dan Kendrick tertegun.


.


.


.


Bunyi alarm memekik di kabin depan pesawat.


"Alpha 1, pesawat hilang kendali! Izinkan menembak rudal kembali!" Lily membuka tuas pelontar rudal lagi.


Ia dan Leon baru saja menghancurkan pesawat tempur sekutu Pablo.


Kini,


1-1


Seimbang.


"Pesawat musuh melewati garis gencatan senjata!" ucap seorang pria di dalam radio.


Sebab radar menunjukkan mereka sudah tak berada di benua Amerika Serikat.


Lily mematikan saluran komunikasi sejenak.


"Leon, bagaimana ini?!" Lily meminta pendapatnya.

__ADS_1


"Kita kejar dia! Kita harus melenyapkannya!?"


Kedua matanya berkilat menyala, dan rahangnya mengeras.


Cukup.


Dia akan mengakhiri semuanya di sini.


"Peringatan, putar balik! di sisi barat ada angin ****** beliung!" Staff penerbangan meminta pesawat mereka kembali ke tempat.


Lily di landa kebingungan. Ia menoleh sejenak.


Leon menggelengkan kepala dan memberikan kode untuk mengiyakan namun tak melakukan perintah pria tersebut.


"Roger!"


"Kem-"


Leon dan Lily memutuskan saluran radio.


Biarlah sudah kepalang basah.


.


.


.


Aksi kejar- mengejar pesawat memekakkan telinga burung-burung di atas pencakar langit.


Tembakan sudah bertubi-tubi terdengar.


Di sisi sana tampak kumpulan udara mulai bergulung membentuk bulatan panjang.


"Leonn, aku punya ide!" Lily melirik sejenak.


"Jangan bilang kau ingin mengumpan mereka, untuk masuk ke dalam angin!!" Tebak Leon, membaca jalan pikiran kekasihnya.


"Yapssss!!!"


"Kau tahu kan konsekuensinya?! Kita bisa juga terbawa arus?" Leon mengerutkan dahi, sebab tindakan Lily membahayakan keselamatan mereka.


"Maka dari itu aku memerlukan bantuan mu!" Lily kembali menembakkan peluru ke arah lawan.


Leon menghela nafas. "Apa? Ku harap tindakan mu, tepat sasaran!"


"Kita akan terjun ke bawah, dan aku akan mengaktifkan sistem otomatis! Sebelum pesawat ini ikut terbawa arus! Aku minta tolong pada mu meminta mereka bersiap-siap sekarang!"


Leon tertegun. Nampak berpikir.


Ia menghela nafas berat.


"Aku percaya pada mu!"


"Tunggu aba-aba dari ku nanti!"


Ia mengecup sekilas bibir ranum kekasihnya. "Berhati-hatilah!" Bangkit berdiri.


Lily mengangguk dan fokus ke depan.


Pesawat bergetar sesaat.


Lily berusaha menstabilkan dan mengutak-utik tombol di bagian depan.


.


.


"Daddyyy!!" sahut Lunna melihat Leon menyembul keluar.


"Kalian pakai ini!" Leon mengambil parasut dan melemparkan pada Lexi, Breslin, Maximus, dan Marimar.


Ketiga pria tulen dewasa mengambil dengan sigap.


Lain halnya dengan Marimar, mengenai wajahnya.


"Apa lagi ini? Ini penganiayaan tingkat 1!" gerutunya, melepas sabuk pengaman.


Keempat pria itu bangkit berdiri, sambil menahan beban tubuh dengan kakinya.


Pesawat mulai berguncang kembali.


"Sudah, kita harus bersiap-siap!" Leon memasangkan parasut pada kelima bocah itu secara cepat.


"Daddy kita mau terjun ke mana?" Lunna tentu saja paham, jika memakai parasut akan terbang dan melayang di udara seperti di film kesayangannya.


Leon tak membalas, dia mengangkat tubuh Lunna dan mengaitkan padanya.


Ia melirik Lexi, Breslin, dan Maximus, memberikan kode pada mereka, untuk melakukan hal serupa pada si Kembar.


"Aku sendiri saja, Daddy!" sergah Kendrick sambil memegang kaki Leon. Ia mendongak ke atas.


Leon seakan mengerti watak Kendrick, pasrah. "Baiklah, tetap di dekat Daddy, oke?"


Kendrick mengangguk paham.


"Haaaa? Terjun? Kemanaaa!??" Marimar panik, mengedarkan pandangan pada orang di dalam.


"Ke bawahhhhhh!" sahut mereka serampak.


Menatap jengah pada Marimar di situasi seperti ini masih saja meliuk-liukkan badan.


Marimar terlonjak kaget, ia takut ketinggian.


"Aku tidak mauuuuuuuu!!!" Ia menjerit takut. Phobianya adalah ketinggian.


"Kau mau mati di sini atau bagaimana ha?!" Maximus memutar bola matanya.


"Aku tidak mau Leonnnnn!!!!!"

__ADS_1


Leon menghela nafas. Ia benar-benar malas berdebat. Ia melirik Lexi lagi, memintanya untuk membujuk Marimar.


Lexi paham. "Kalau kau tidak mau terjun, di sini saja biar kau bertemu malaikat kematian lebih cepat!?' gertaknya sambil menatap tajam.


Marimar malah kembali bercucuran air mata.


"Hiksss, hikssss hikssssssssss!!!!!!!!!" raungnya.


"Oh My God!" si Kembar dan Darla menggelengkan kepala.


.


.


.


"Kalian yang di belakang, dari hitungan satu ketiga, harus melompat keluar. Breslin buka penutup pintu, pastikan setelah di bawah langsung berpegang tangan, membentuk lingkaran!"


Suara speaker menggema.


Pesawat seperti tertarik sesuatu.


Bergetar.


Breslin mengambil posisi di dekat door.


"Eslin, itu apa?" tanya Darla saat melihat di jendela kaca seperti ada angin yang mengumpul.


"Bukan apa-apa. Darla kalau takut tutup mata ya!" Breslin berjalan sambil menggapai dinding pesawat menuju pintu.


Darla mengangguk sambil memegang erat tas ransel yang di dalamnya ada Hiro.


Sedari tadi tak ada yang tahu kecuali Marimar dan Maximus serta si Kembar.


Lexi mengambil posisi di depan pintu, Samuel bersamanya.


Maximus melakukan hal serupa, ia bersama Nickolas.


Leon dan Lunna.


Darla akan bersama Lily.


Sementara Kendrick sendiri saja. Ia tak takut.


Marimar jangan di tanya, dia masih menangis.


Breslin segera membuka pintu.


Satu... Suara speaker.


Lexi dan Breslin melompat ke bawah.


Dua....


Maximus menarik Marimar agar terjun ke bawah, namun ia menahan tubuhnya di sela pintu.


Tiga....


"Aku tidak mau, mamiiiii !" kekehnya.


"Ayooo bodohhhhhhh!!!" Maximus menarik kuat dan mendorong punggung Marimar dengan kakinya.


"Ahhhhhhhhhhhhhhhhggg!" teriak Marimar di bawah sana.


Kemudian Maximus ikut terjun.


Suara rudal di lontarkan ke depan sana, sangat nyaring.


Menghancurkan pesawat Pablo hingga tak tersisa, puing-puing pesawat tertarik pada angin ****** beliung, meluluhlantahkan benda tersebut.


Ting.


Suara kendali otomatis terdengar. Di ikuti bunyi alarm peringatan.


Suara langkah kaki cepat mendekat. Lily segera memakai parasut dan mengaitkan Darla pada tubuhnya.


"Ayo Ken, pegang tangan Mommy dan Daddy."


Pesawat semakin bergetar.


Kendrick menggengam tangan kanan Leon dan tangan kiri Lily.


Dan terjun ke bawah sana.


"Hhhaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!!!" raung mereka di udara.



Pesawat tempur Lily tertarik ke dalam angin ****** beliung.


"Belalaiiiiiiii eykeeee kegencettttttttttt!!!! Mamiiiiiiiiiiiiiiiii!" Marimar hanya bisa pasrah sebab parasut yang ia kenakan menekan buyungnya.


Lily memberikan kode membentuk lingkaran.


Mereka menurut.


Mata elang Lily melihat pergerakkan angin yang tak sesuai prediksi.


Deg..


"Damnn!!!"


"Haaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!!"


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2