Pelangi Untuk Lily

Pelangi Untuk Lily
Chapter 36. Ulah Kalian!


__ADS_3

"Selamat Nyonya Kardo, atas pernikahan kalian. Semoga langgeng hingga maut memisahkan." ucap Lily dengan raut wajah datar.


Lily menjulurkan tangan pada Rissa, namun segera di tepis olehnya. Mata Rissa melotot seakan ingin keluar, dia menahan amarah di dalam hatinya. Dia melirik sekilas ke arah Arnold.


Arnold yang merasa di perhatikan, menoleh ke samping. Kedua mata pengantin baru itu bertemu, namun bukan tatapan rasa cinta melainkan tatapan amarah dari Rissa. Sementara Arnold mengerutkan dahi, saat melihat raut wajah istrinya merah padam. Secepat kilat Rissa segera mengalihkan pandangannya pada Lily.


Lily yang melihat tingkah Rissa, tersenyum tipis.


"Kenapa kau marah Rissa, bukankah seharusnya kau bahagia. Aku datang ke sini menemani kekasihku, " ucap Lily sambil melirik ke arah Leon yang sedari tadi menatap datar Arnold.


Rissa tak bersuara, dia mengepalkan tangan. Sorot matanya menyimpan rasa benci pada wanita di hadapannya. Secepat kilat Rissa menarik tangan Lily. Namun Lily menahan pergerakan tangan Rissa.


Kedua mata Lily dengan sigap melirik sekilas ke arah Leon, bermaksud memberikan kode. Leon mengangguk cepat.


"Apakah kau bisa melepaskan tanganku dulu!" ucap Lily tersenyum sinis.


Rissa tak mengindahkan perkataan Lily. Lantas dia berjalan cepat ,mau tak mau Lily mengikuti langkah kaki Rissa.


Seketika Rissa menghentikan langkah kakinya, dia mengedarkan pandangan di sekitar tempatnya berada sekarang. Dengan cepat Lily mengibaskan tangan Rissa, sehingga membuat jari-jemari kuku Rissa terluka.


"Awh!" Ringis Rissa.


"Apakah begini cara kau memperlakukan tamu?" tanya Lily dengan raut wajah dingin.


"Cih." Rissa berdecak dengan kesal.


"Kau bukan tamuku, aku tak pernah mengundangmu! Kenapa kau datang kemari?" tanya Rissa dengan napas yang memburu.


"Bukankah sudah jelas ku katakan tadi. Bahwa aku menemani kekasihku, dia di undang oleh Arnold. Dia memintaku untuk datang bersamanya," ucap Lily.


"Kau pembohong! itu pasti kekasih bohongan mu!"


Lily terkekeh pelan sambil menggelengkan kepala, saat mendengar perkataan Rissa.


"Kau ini terlalu banyak menonton sinetron Rissa,"ejek Lily.


"Kau!" Rissa mengangkat satu tangan.


Lily segera menangkis dengan kasar tangan Rissa, sehingga membuat Rissa mundur beberapa langkah.


"Trik mu selalu saja menampar, apakah tidak ada keahlian lain Rissa." Lily melipat kedua tangan didada.


"Apa ada lagi yang ingin kau bicarakan?" ucap Lily sambil menaikkan sebelah alis.


"Ada, jangan pernah kau menganggu kehidupan ku!" ucap Rissa dengan intonasi tinggi.

__ADS_1


"Menganggu kehidupanmu?" Lily tersenyum sinis, "Dunia memang sudah terbalik, seharusnya aku yang mengatakan kalimat itu kepadamu dan Arnold! Jangan pernah mengusik kehidupan ku!" ucap Lily dengan seringai di wajahnya. Sorot mata Lily sangat dingin dan tajam, kedua matanya tak berkedip sedikitpun.


Lily melangkah perlahan ke arah Rissa. Dia tak melepaskan pandangan pada sosok di hadapannya.


Seketika Rissa memundurkan tubuhnya perlahan, dia bergedik ngeri melihat ekspresi Lily. Dingin, tajam, seakan ingin mengulitinya. Tiba-tiba pergerakkan kedua kaki Rissa terhenti, tubuhnya sekarang sudah menempel pada dinding tembok.


Lily yang memiliki tubuh tinggi dari Rissa, menatapnya remeh.


"Segini saja nyali mu Rissa, kau itu bagiku hanyalah kerikil." Sorot mata Lily sangat dingin, seringai licik terpampang di wajah cantiknya.


Rissa tak menjawab, dia terdiam. Seketika nyalinya menciut, dia berusaha mengingat kenangan bersama Lily dulu. Dulu Lily selalu berperilaku lemah lembut kepada semua orang, dia cantik, dia pintar, dia kaya, dia disukai banyak orang. Ahh dia sangat membenci Lily, Lily yang memiliki segalanya, Rissa ingin mengambil apa yang menjadi milik Lily, termasuk suaminya kala itu "Arnold". Kemanakah perginya Lily yang dulu? pikir Rissa.


"Kenapa, kau binggung aku bersikap seperti ini?" Lily membuyarkan lamunan Rissa.


"Jangan binggung Rissa sayang, mantan sahabat terindahku! Aku yang sekarang terbentuk karna ulah kalian," ucap Lily sambil menepuk perlahan pipi Rissa.


"Katakan pada Arnold, untuk tak usah ikut campur urusanku lagi!"


Rissa membeku, dia tak mengerti apa yang diucapkan Lily.


"Dan satu hal lagi, berhati-hatilah dengan wanita liar di luar sana, yang bisa saja mengoda suami tercintamu," ucap Lily penuh arti, dia segera berlalu pergi meninggalkan Rissa yang mematung di sana.


.


.


.


Leon tersenyum tipis, " Selamat atas pernikahan kalian!" ucapnya memecah keheningan tanpa menjabat tangan Arnold.


"Iya," ucap Arnold datar.


Setelah, mendengar perkataan Arnold. Leon segera melangkah pergi. Penampilan Leon yang memiliki postur tubuh tinggi dan wajah rupawan menjadikannya pusat perhatian kaum hawa yang berada di pesta. Mereka takjub dengan ketampanan Leon, mereka berfantasi liar di dalam pikirannya masing-masing. Sedari tadi Lexi selalu mengikuti langkaah kaki Leon, tanpa berucap dia seperti patung manekin.


Lily yang baru saja tiba, dari ruangan lain. Mengedarkan pandangan mencari pujaan hatinya itu. Netra mata biru itu menangkap sosok Leon membelakangi dirinya, dia berjalan cepat. Lily dapat melihat dengan jelas beberapa tamu undangan kaum hawa menatap kagum pada Leon.


Lily tak menghiraukan tatapan lapar dari kaum hawa untuk kekasihnya, dia berjalan dengan anggun ke tempat Leon berada. Lily menepuk perlahan pundak Leon.


Leon yang merasakan ada magnet ketika tubuhnya di sentuh seseorang, dia reflek memutar kepala. Senyumannya terukir ketika melihat seseorang yang di tunggu telah tiba. " Honey, kau baik-baik saja kan?" tanya Leon dengan raut wajah cemas.


"Aku baik-baik saja, Leon. Lihatlah aku masih berada di hadapanmu," ucap Lily. Dia tersenyum saat Leon menelisik tubuhnya.


"Awas saja jika dia melukai mu, aku akan melemparnya ke laut!"


Lily terkekeh pelan mendengar ucapan Leon.

__ADS_1


***


Semakin malam pesta pernikahan salah satu pengusaha di tanah air ini, semakin meriah.


"Honey, sebaiknya kita pulang!" ajak Leon. Saat melihat jam di pergelangan tangan.


Lily menganggukkan kepala dengan cepat. Mereka segera berlalu pergi meninggalkan pesta pernikahan tersebut.


****


Di dalam mobil Bentley Bacalar.


Sepasang dua insan yang sedang kasmaran itu saling menyalurkan perasaan melalui kontak mata. Mereka menatap satu sama lain.


"Honey, boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Leon sambil mengelus pelan kepala Lily.


Lily melirik sekilas ke arah Leon, "Boleh, Honey."


"Apa yang kau bicarakan denga Rissa tadi, kau sungguh tak apa-apa kan?"


"Leon, tadi aku hanya mengancamnya sedikit saja, untuk jangan menganggu kehidupanku," ucap Lily dengan pelan sambil menatap lekat.


Leon menghembuskan napas dengan pelan.


"Honey, jika kau ada masalah atau butuh bantuan, katakan padaku!" Leon menatap dalam perlahan dia mengambil tangan Lily dan mengecup singkat.


Dada Lily berdetak cepat, senyuman kembali terukir di wajahnya.


"Apakah tak merepotkanmu, Leon?"


"Aku senang jika kau berpangku tangan padaku, jika kau ingin meminta bantuanku, katakanlah! Bukankah seharusnya sepasang kekasih harus saling berbagi suka dan duka bersama. Jadikanlah aku tempat untukmu bersandar, Honey. Jangan kau pendam sendiri," ucap Leon mengecup pelan kening Lily sambil memegang lembut jari-jemarinya.


Lily tersenyum mendengar perkataan Leon, dia mengusap pelan pipi Leon, dia menatap dalam mata Leon, berusaha mendalami perasaan kekasihnya itu, melalui pancaran mata.


Sementara Lexi yang berada di kursi depan, sedari tadi melihat interaksi keduanya melalui kaca depan.


"Aku hanya mengontrak di bumi. Hufff!" kesal Lexi dalam hati.


.


.


.


Jangan lupa like, vote, favoritnya!!!

__ADS_1


__ADS_2