
***
Proses pemakaman berjalan dengan lancar, dan tanpa hambatan sama sekali. Sanak saudara, dan kerabat maupun teman sepermainan Jonathan, Belle, dan Benjamin, mengucapkan belasungkawa, yang sedalam-dalamnya.
Hari itu menjadi, hari terburuk bagi Lily dan Anastasya. Di mana ketiga orang yang mereka cintai dan sayangi pergi untuk selama-lamanya.
Langit yang semula terik menderik dan cerah, berubah warna menjadi hitam pekat. Diiringi suara guntur menggelegar, menghantarkan kepergian ketiganya pada Sang Pencipta.
Gledarrrrrrr
Kediaman Marques.
Suasana di mansion tampak sepi, tidak ada lagi suara bariton dari si empunya, yang terkadang meminta di buatkan kopi untuk menemaninya, bermain catur di ruang tengah.
Tak ada!
Hilang!
Sunyi!
Hanya keheningan yang terdengar di bilik tersebut.
Berbanding terbalik dengan keadaan di luar, tampak bising sebab bunyi guntur bersahut-sahut, beriringan dengan derasnya air hujan yang membasahi tanah dan seisi taman belakang.
***
Lily merebahkankan dirinya di atas kasur, ia memposisikan badannya menghadap ke samping. Hanya helaan napas yang terdengar dari hidung mancungnya. Sorot matanya kosong. Tak ada lagi binar yang tampak di bola matanya. Perlahan Lily menutup kelopak matanya.
Tampaknya keluarga Marques berada di kamarnya masing-masing, mengistirahatkan tubuh dan pikirannya.
***
Jam menunjukkan pukul 5 sore.
"Lily di mana?" tanya Fabio kepada Leon, saat berpapasan dengannya di ruang tengah.
"Dia di kamarnya, Dad," jawab Leon cepat. Dia segera menjatuhkan bokongnya di kursi yang berhadapan dengan Fabio.
"Sepertinya dia kelelahan," ucap Fabio sambil membuang napas. "Jangan beritahu Lily dulu siapa pelakunya," jelas Fabio dengan raut wajah serius.
Fabio mempunyai alasan tersendiri mengapa ia belum memberitahu Lily siapa pelaku sebenarnya. Kemarin dia berbohong kepada Lily, ia mengatakan bahwa yang mencelakai Jonathan adalah musuh rekan bisnis ayahnya.
"Tenang, Dad. Aku akan mengatakan kepadanya di saat yang tepat."
"Bagus. Aku sudah menyuruh tim Wolfi untuk menangkap Arnold dan menyeretnya ke Markas Q. Tapi mereka sampai sekarang, belum menemukan bedebah itu!" tutur Jonathan tiba-tiba.
Napas Fabio memburu, giginya bergesekan, sorot matanya dingin dan tajam. Saat mengingat cerita dari Maximus yang mengatakan, di tempat kejadian terdapat bekas darah yang membentang panjang di jalanan. Dia belum bisa menebak dendam apa yang dimiliki Arnold terhadap Jonathan.
"Aku akan melenyapkannya!" seru Leon tanpa aba-aba.
Fabio mengalihkan pandangan. Ia memicingkan mata.
"Kalau kau ingin membunuhnya bawalah aku!" Pria tua itu menyeringai.
"Pasti." Keduanya tersenyum licik.
"Di mana sekarang kaki tangannya?" tanya Leon.
"Breslin?"
Leon mengangguk.
"Di tempat seharusnya, dia mengatakan tidak terlibat sama sekali. Tim Wolfi sudah menggunakan alat pendeteksi kebohongan tapi hasilnya benar. Walaupun dia memang benar tidak terlibat. Aku tidak percaya! Kita harus lebih berhati-hati lagi. Musuh bisa mengintai di mana saja!"
Fabio mengedarkan pandangan di ruangan, ada sesuatu yang mengusiknya akhir-akhir ini, tapi tidak tahu apa. Dia menatap tajam kepada kumpulan pengawal di ruangan tersebut.
Saat ini ada sekitar sepuluh orang berstelan jas berwarna hitam, yang bertengker di posisi masing-masing.
Mereka menatap lurus ke depan. Seperti patung manekin.
__ADS_1
Jarak antara Leon dan Fabio sekitar 5 meter dari mereka.
"Apa kita harus menggunakan cara ka.... "
Leon tidak melanjutkan perkataannya, dia mengalihkan pandangannya, saat mendengar bunyi langkah kaki.
Tap.
Tap.
Tap.
Tap.
Derap langkah kaki yang cepat dari tangga mengusik pembicaraan keduanya. Mereka mengalihkan pandangan.
"Lily!" seru Leon sambil bangkit berdiri.
Fabio pun melakukan hal yang serupa.
Lily tak menoleh ataupun menghentikan pergerakan kakinya. Ia berlari menuju pintu tengah.
Leon dengan cepat mengikuti pergerakan kekasihnya.
"Tunggu! Di luar hujan Lily! Berhenti!"
Namun Lily tak mengindahkan perkataan Leon, ia menerobos keluar mansion dan berlari menuju taman. Kepalanya bergerak ke kanan dan ke kiri. Kedua matanya mencari seseorang. Dia memandang datar pada bangku kayu yang terletak di taman.
Pria bermanik warna coklat itu melepaskan jasnya dengan cepat.
"Honey, masuklah. Di luar hujan," ucap Leon lembut sambil merentangkan jas di atas kepala Lily.
Lily mengalihkan pandangannya. "Leon, coba lihat. Mereka bertiga tidak mengajak ku!" serunya sembari menunjuk ke arah bangku.
Leon tersenyum getir. "Mereka tidak bisa mengajak mu Honey, karena mereka sudah di pangkuan Tuhan."
Lily tak membalas, sekelabat bayangan indah berputar di kepalanya.
"Nama bunganya seperti nama mu," jawab Jonathan cepat, dengan mengelus perlahan kepala anaknya.
"Bunga Lily?" Gadis belia yang berambut panjang itu mengernyitkan dahi.
Jonathan mengangguk.
.....
"Daddy nanti kalau besar Lily mau jadi wonder woman!" serunya kala itu.
"Wow keren, berarti wonder woman harus terbang seperti ini!" Jonathan mengangkat cepat tubuh anaknya ke atas dan menurunkannya kembali. Kemudian ia menggelitik cepat tubuh Lily.
"Ih, jahat ya! Belle tidak di ajak." Belle kecil memanyunkan bibirnya sambil melipat kedua tangannya di dada. Saat melihat keduanya asik bermain tanpa dirinya.
Mendengar penuturan Belle, Jonathan dan Lily berhenti sejenak dan memandang satu sama lain.
"Ayo kejarrrrr!" seru Lily sambil berlari ke arah Belle.
"Ayo!" seru Jonathan sembari tersenyum simpul.
"Tolong! Mommyyyy! Belle di kejal dua seligala!" seloroh Belle.
....
"Honey!" panggil Leon sambil mengusap jejak air mata Lily, walaupun hujan deras ia dapat melihat kekasihnya meneteskan air mata.
"Mereka jahat Leon! Kenapa mereka pergi dari ku tanpa izin! Kenapa!?" Lily memukul dadanya kembali.
Leon menangkis pergerakan tangan Lily, agar ia tidak melukai dirinya sendiri. Kemudian Leon melempar jasnya dengan asal.
Leon merengkuh tubuh Lily dan mendekapnya erat.
__ADS_1
"Mereka tidak jahat Honey, kita semua akan kembali ke tempat seharusnya. Kita ini seperti bunga yang tumbuh perlahan dan bermekaran. Hingga waktunya tiba Tuhan akan memetik bunga yang paling indah, dan itu adalah mereka. Mereka sudah tenang di sana," ucap Leon pelan di daun telinga Lily.
Lily tak menyahut, dia menangis tersedu-sedu di pelukan Leon.
Derasnya hujan, sama seperti derasnya tangisan Lily. Dia hanyut dalam bayangannya.
Taman ini dulunya adalah tempat yang paling disukainya, namun sekarang taman nan indah dan asri ini, telah berubah menjadi ladang ranjau baginya.
Lily dapat merasakan rumput kecil yang berada di bawah tungkainya, seperti menusuk-nusuk telapak kakinya.
Sepasang kekasih itu basah kuyup dan masih tak bergeming dari posisi semula.
Tanpa satu katapun yang terucap, keduanya berpelukkan satu sama lain di bawah guyuran hujan.
***
Lantai dua
[Kamar Belle dan Benjamin]
Darla kecil menggeliatkan tubuhnya, dan memindahkan satu kaki kanannya ke samping.
Bugh.
"Awh! Daaalllaaa!" sungut Lunna sambil reflek membuka matanya. Dia mengangkat kaki Darla namun tak mampu.
"Dallaaaaaaaaa!" teriak Lunna sambil mengguncang tubuh Darla.
"Apa cih belicikkkk!" Darla membuka kelopak matanya, tanpa sengaja kedua matanya mereka bertemu.
"Kenapa kau di sini Lunna?" Darla cemberut.
"Memangnya tidak boyeh?" Lunna balik bertanya sambil memicingkan mata.
"Tidak boyeh!" seru Darla sambil mengangkat alisnya.
"Siapa yang bilang tidak boyeh?"
Darla menghela napas dengan kasar.
"Mommyyyyy," jawabnya ketus.
"Tapi kan Mommy mu tidak ada di sini."
Lunna tak mau kalah, dia mau berteman dengan Darla, sebab dari kemarin ia mencari si Kembar tapi mereka menyekap diri di dalam kamar dan tidak keluar sama sekali.
Dia bertanya pada Marimar, pria gemulai itu menjelaskan bahwa si Kembar masih berhibernasi. Marimar menyarankannya bermain bersama Darla, dan tentu saja dia bebaskan untuk masuk ke dalam kamar kedua orangtua Darla.
"Iya, juga sih." Darla tiba-tiba cemberut, tanpa terasa ia meneteskan air mata.
Lunna terkejut. "Dalla kenapa menangis? Jangan menangis," ucapnya sambil mengusap jejak tangis Darla.
"Dalla lindu Mommy. Mommy lama di sulga."
"Kalau di sulga pasti lama. Mommy lunna juga di sulga. Kata Daddy di sana meleka sama Tuhan."
"Lama? Sama Tuhan." Darla tampak bingung.
"Iya, lama. Tapi Dalla bisa kok lihat Mommy dali jauh." Lunna berusaha menghibur.
"Benalkah? Bagaimana calanya?"
.
.
.
.
__ADS_1
.