
Mansion Simon Andersean.
Ceklek.
Terdengar pintu kamar terbuka.
Lily menutup perlahan pintu kamarnya, ia melirik sekilas melihat Leon sudah tertidur pulas seperti bayi besar. Ia segera menuju kamar mandi, hendak membersihkan diri.
"Untung saja, aku pandai berakting," ucapnya pelan saat Lily sudah berada di dalam. Ia melepas kain yang melekat di tubuhnya satu-persatu. Kemudian melepaskan roti tawar yang menempel di kain segitiganya. Lalu membersihkannya dengan cepat, dan melempar roti itu ke dalam tempat sampah.
"Aku tidak akan memberikannya jatah di malam pertama. Enak saja dia sudah sering mengerjai ku, maka aku akan membalasnya sampai puas." Lily menyeringai licik dengan ide gilanya yang tercetus kemarin malam, sebelum H-1 acara pernikahan.
Lily sebelumnya, berencana untuk menghukum Leon, setelah ia menikah nantinya. Sebab saat pertempuran melawan musuh, Leon selalu saja mengerjai dirinya dan berbuat sesuka hati. Maka dari itu ia akan membalas perbuatan suaminya dengan berpura-pura datang bulan. Ia meneteskan obat merah pada roti tawar dan bersikap seperti orang yang sedang berhalangan.
Lily terkikik sejenak, membayangkan wajah frutrasi Leon tadi sore. Lalu ia menekan tombol shower dan mulai menguyur badannya.
Kurang lebih lima belas menit, ia sudah selesai dengan aktivitasnya dan berjalan cepat menuju tempat tidur.
Lily memperhatikan, wajah lelah suaminya. Ia duduk di tepi bed lalu mengusap perlahan pipi Leon.
"Maafkan aku Honey, ini lah hukuman untukmu karena suka menjahili ku." Lily menatap iba pada suaminya.
"Aku mencintaimu. Sweet dream," ucapnya pelan kemudian mengecup kening Leon.
Lily tersenyum simpul, melihat Leon menggeliat sejenak. Ia pun mulai merebahkan tubuhnya di samping Leon, memasuki ruang mimpi bersama suaminya.
***
Samar-samar terdengar percikkan air di telinga Lily. Wanita itu menggeliat sejenak. Ia enggan membuka matanya, ia masih merasakan tubuhnya begitu lelah dengan acara kemarin. Jadi lebih baik ia bermalasan dulu.
Kur...kurrr...
Kali ini suara burung masuk ke dalam indera pendengarannya.
Lily mengerutkan dahi.
Kurrr... Kurrr..
Lagi.
Terdengar deburan ombak juga.
Lily membuka matanya dengan cepat. Ia melihat langit-langit ruangan yang tampak asing. Kedua matanya mengerjap-ngerjap beberapa kali. Reflek Lily bangkit duduk. Seketika bola matanya terbelalak dengan keadaan disekitarnya.
"Haaaaaaaaaaa aku di mana?" teriak Lily nyaring.
"Honey, good morning." Leon menatap penuh arti pada istrinya. Dia tengah duduk di sebuah kursi kayu yang berada di samping tempat tidur.
Lily menoleh." Leon kita di mana?" tanyanya bingung.
"Hmm, menurut mu, coba lihat kita di mana?"
"Ckk, kau ini! Aku bertanya, malah balik bertanya."
Lily dengan cepat turun dari atas ranjang, dan berjalan lurus ke depan, melihat hamparan laut biru yang begitu luas. Kedua tangannya bertengker di atas pagar pembatas.
Angin segar menerpa wajah dan rambut panjangnya, bola mata itu menatap penuh kagum namun juga bertanya-tanya.
"Hawai, Honolulu...." lirih Lily menatap takjub dihadapannya. Detik kemudian, ia membalikkan badan. "Leon, bagaimana aku bisa di sini?!" Ia menatap kesal, lagi-lagi selalu membuatnya spot jantung. Ia merutuki dirinya sendiri jika keletihan akan tidur seperti kerbau.
"Aku tinggal menggendong mu dan membawa mu ke sini dengan pesawat pribadi Daddy, mudah bukan!" tutur Leon dengan raut wajah sombongnya. Ia menghampiri istrinya.
"Cihh, kau itu menyebalkan selalu saja semau hati. Untuk apa kita ke sini?" tanya Lily memanyunkan bibirnya sambil melipat tangannya di dada.
"Tentu saja untuk bulan madu kita!"
"Honey, aku sedang datang bulan. Kau lupa?"
__ADS_1
"Tidak, maka dari itu sampai datang bulan mu selesai. Kita tetap di sini!"
"Haaaa?!" Lily melongo. "Kau tidak bercanda kan Leon, bagaimana dengan Si kembar, Darla dan Lunna?"
Leon menarik pinggang Lily. "Tenanglah, mereka di sana bersama Opa dan Omanya."
Lily tak menyahut, wajahnya tertekuk lesu.
"Gawat, obat merahnya tidak ada, bagaimana ini." Lily tengah memikirkan rencana menghukum Leon. Akan gagal total sebab obat merah itu pasti susah didapatkan di sini, mengingat mereka tengah di resort besar.
"Honey, apa yang kau pikirkan?" Leon mengangkat dagu Lily. Kedua mata mereka bersitatap.
"Tidak ada, aku cuma berpikir, bagaimana dengan pakaian dan pembalutku," kilah Lily.
"Tenanglah, aku sudah meminta bantuan Mommy, memasukan pakaian mu ke dalam koper, lengkap dengan pembalut mu," ucap Leon.
"Pembalut juga sudah?" Lily tengah berakting.
"Tentu saja, sudah!" Leon menatap penuh arti lalu mencium sekilas bibir istrinya.
"Hm, bagus lah."
"Duh bagaimana ini, caranya keluar mendapatkan obat merah."
"Honey, selesai mandi kita sarapan dan berjalan sebentar di sekitar lautan, biar mood mu lebih membaik, pasti perut mu keram, kan," ucap Leon tiba-tiba.
Lily mengangguk tersenyum sumringah.
"Oke Lily, kau bisa bisa meminta bantuan waiters di sana nanti, tenanglah."
***
Tepat pukul delapan pagi, pengantin baru tengah sarapan di resort sembari menikmati angin semilir di sekitar mereka. Mereka duduk menghadap ke lautan yang membentang luas dan sangat panjang, di ujung sana, suasana di sekitar amat tenang dan nyaman. Belum lagi makanan yang disuguhkan pun menggugah selera.
"Terimakasih suami ku, karena membawa ku ke sini. Ini sangat lah indah," ucap Lily lalu memasukkan potongan dessert cake coklat ke dalam mulutnya dan mengunyah pelan.
"Coba ulangi panggilanmu tadi, Honey?"
"Suamiku," ucap Lily sambil mengunyah potongan kedua.
"Iya, istri ku." Leon mengulum senyum lalu menyeka sudut bibir Lily yang tampak belepotan karena cake coklatnya itu. "Aku ingin segera memakan mu, Honey!" ucapnya tiba-tiba.
"Ingat, aku datang bulan!" Lily memperingati sambil meletakkan sendok kecil di dalam piring.
"Tentu saja, aku ingat."
Kini, makanan yang berada di atas meja telah habis. Leon pun mengedarkan pandangannya. Lalu melirik sekilas pada istrinya di samping.
"Mau tambah lagi?" Tatapan mengejek.
Lily mencubit kecil lengan atas Leon. "Ih, kau ini. Aku sudah kenyang." Ia mengerucutkan bibirnya dengan sangat tajam.
Leon terkekeh pelan.
**
Setelah selesai sarapan, keduanya menikmati jalan-jalan di tepi laut.
Leon menyelipkan jari-jemarinya pada istrinya, ia mengenggam dengan erat. Keduanya berpegangan tangan sambil berjalan beriringan di atas pasir.
Lily enggan mengedipkan matanya melihat pemandangan di depan sana. Ia menatap penuh takjub. Sementara Leon, melihat Lily.
Yang sekarang sudah menjadi miliknya, istrinya.
Impiannya sudah terkabul.
Ia bahagia, bersama pujaan hatinya.
__ADS_1
Bersama belahan jiwanya.
Ia mengagumi istrinya.
Sangat mengaguminya. Ia bersyukur Tuhan mempertemukan Lily dengan cara yang unik.
Rambut Lily yang tergerai dan dress panjang menempel di tubuhnya berterbangan ke segala arah.
Hidung mancungnya, bibirnya, matanya, bulu mata, dan bola matanya sangat indah.
Semua yang ada pada istrinya, tampak elok di mata Leon.
Lily tersenyum menatap ke sana. Leon pun ikut melengkungkan bibirnya saat melihat istrinya.
Tepat pukul lima sore, mereka memutuskan untuk kembali ke resort.
"Honey, kau mandi lah dulu. Sebentar lagi aku mau ke depan, ada yang harus aku urus." Leon menangkup kedua pipi istrinya.
"Hm, baiklah. Jangan lama-lama. Aku langsung ke toilet ya," ucap Lily sambil mengecup sekilas. Ia bergegas masuk ke toilet, sedari tadi dia menahan pipis.
Leon menatap punggung belakang Lily dengan penuh makna.
***
"Segarnya," desis Lily sambil melilitkan handuk di badannya. Lalu dia mengayunkan kakinya menuju meja khusus, ia menyambar kain segitiganya dan membuka pembalut yang sudah ia siapkan di dalam toilet, agar ia tidak susah keluar kamar mandi lagi.
"Astaga, aku lupa ambil obat merahnya."
Sewaktu Leon dan Lily berada di tempat makan. Lily berpura-pura izin sebentar ke toilet, ia meminta waiters untuk membelikannya obat merah, di apotik terdekat. Waiters pun menuruti permintaannya dan mendapatkan apa yang dia inginkan. Tadi Lily menaruh obat merah di tas kecilnya.
Lily bergegas keluar kamar mandi, ia menelisik tasnya yang ternyata berada di kasur. Lalu ia membuka cepat, meraba-raba isi tasnya. Ia menautkan alis mata.
"Kemana?" gumamnya pelan. Ia pun menumpahkan semua isi tas di atas tempat tidur.
Jari lentiknya mengobrak-barik mencari benda kecil itu.
"Duh, perasaan tadi aku taruh di tas deh," gerutu Lily sebab obat merah itu tidak ada.
"Ngak mungkin, jatuh kan." Lily berusaha mengingat-ingat apa saja yang ia lakukan tadi bersama Leon.
Ceklek.
"Honey!"
Suara Leon dari belakang. Di ikuti bunyi pintu tertutup.
Lily tercekat. Mematung di tempat.
"Apa yang kau cari?" tanya Leon, menatap punggung istrinya.
Lily memutar badannya perlahan. Ia melihat Leon masih di ambang pintu.
"Kau cari ini?" Leon mengangkat obat merah di tangan kanannya. Dengan pelan dia melangkah ke depan.
Kedua mata Lily terbelalak.
Lily memundurkan satu langkah kakinya.
Leon menyeringai penuh arti.
Lily dapat melihat pancaran mata suaminya yang mengintai, dan siap menerkamnya. Dengan susah payah Lily menelan air ludahnya.
"Mampus aku," ucap Lily di dalam hati.
.
.
__ADS_1
.