
Lily mengerutkan dahi, sebab tak mendapat sahutan dari sang kekasih.
Seingatnya, Leon berada tak jauh dari tempatnya.
Ia segera menyikut lawannya dari samping, tepat di bagian perut sebelah kanannya.
"Arghhh!" desis pria itu saat hantaman mendarat sempurna. Ia terhuyung ke belakang.
Wanita itu berbalik cepat.
Melompat tinggi.
Dan melayangkan bogeman di rahang pria itu dengan sangat kencang dan keras.
"Arghhhhh!" desisnya pria itu lagi hingga tersungkur ke jalan.
KO.
Lily segera berlalu pergi meninggalkan sang lawan.
"Di mana bedebah itu!?"
"Leonnnnnnnn!!!" Lily menggerakan kepala ke segala arah.
"Damnnnn!" umpatnya.
"Semoga saja, Pablo sudah berada di genggaman Leon!" desisnya.
Tiba-tiba Lily menghentikan langkah kaki. Kemudian menekan benda kecil di telinganya.
"Lex, Breslin, Rey. Di mana Leon?" tanya Lily dengan menghindar dari desakan dua orang pria yang tengah beradu jotos.
"Aku tidak tahu!" sahut Rey cepat, ia tengah mendapatkan bogeman dari seorang wanita berkulit hitam. Rey menyeringai, kemudian sengaja menyentuh aset penting sang wanita.
"You're jerkkkkk!" Wanita itu melebarkan mata dan hendak melayangkan pukulan namun Rey menangkisnya dengan gesit.
"Kami juga tidak tahu, Queen!" sahut Lexi dan Breslin serempak.
Keduanya tengah membelakangi satu sama lain. Punggung belakang mereka menempel. Lexi dan Breslin dikelilingi oleh enam orang pria, mereka membentuk lingkaran.
Jadi, sekarang keduanya berada di tengah.
"Breslin, kau hajar tiga orang di depan mu!" desis Lexi dengan mengangkat kedua tangan, memasang manuver seperti petarung di ring tinju.
"Oke, Lex! Kau juga!" desisnya hendak berlari ke arah lawan.
Dan..
Bugh.
Bugh..
Bughhh.
Hantaman bertubi-tubi.
Dua lawan enam.
1-0
Napas keduanya terengah, kemudian bersamaan mencibir, menatap musuh yang tergeletak tak berdaya di jalanan.
"Heii, apakah kalian melihat Yellowww?!" tanya Lily lagi. Yellow tiba-tiba menghilang.
Lagi...
"Tidak, kemana dia?" Rey heran.
"Aku juga tidak melihatnya!" Breslin menggelengkan kepala.
"Hmm, dia suka sekali menghilang. Apakah King tidak memakai earpiece?" tanya Lexi sembari mengayunkan kaki.
"Earpiecenya hancur! Dan sudah di buangnya tadi!" sahut Lily mulai cemas. "Kalian cari Leon dan Pablo, kemungkinan Leon mencari bedebah itu!"
"Oke, Queen!" sahut mereka serempak.
.
.
.
Jarak beberapa meter dari mereka.
__ADS_1
"Dalaaa, Daddy di mana ya? Lunna cuma lihat Mommy sama Om Lilin sama Lexiiii," cetus Lunna.
Ia celingak-celinguk dari balik pilar toko pakaian.
Darla berada di belakangnya.
Hiro berada di depan seperti bodyguard.
"Tidak tahu, Lunna. Eh Lunna kenal sama Om Lilin. Breslin?" Dahi Darla berkerut, mengapa Lunna bisa mengenali seorang pria yang pernah menyelamatkan, dia saat tragedi Daddy dan Mommynya pergi ke surga.
Dan mengapa pula, panggilan singkat sama,"Om Lilin."
"Om Lilin yang bantu Lunna melalikan dili waktu di Mall!" serunya tanpa menatap lawan bicara.
"Benalkahhhh?" Darla tertegun.
Lunna mengangguk.
"Hmmm, Om Lilin tampan ya!" celetuk Darla tanpa sadar saat melihat Breslin melepaskan pakaian, hingga menampakkan otot-otot di perutnya.
Enam kotak terpampang di tubuhnya.
Buliran air keringat menetes pelan di sekujur dada dan perut.
Sorot mata tajam, hidung mancung, rahang tegas, bibir tipis berwarna pink.
Ia mengibaskan rambut, napasnya nampak terengah.
Dua kata.
Tampan dan sexy.
Slow motion.
Darla enggan mengedipkan mata.
"Haaaa?" Lunna melonggo, kemudian memutar badannya ke belakang. "Apa kau bilang?!"
Darla tersadar dan mengalihkan pandangan ke arah Lunna.
"Kau bilang apa tadi ha?" tanya Lunna kembali, ia takut salah mendengar. Maklum, suasana di sekitar sangat ribut.
Darla tak langsung menjawab. Ia nampak berpikir, namun entah mengapa matanya malah beralih pada Breslin di ujung sana, yang sedang menatapnya.
Darla tersipu malu. Terpampang semburat rona merah di pipi bulatnya.
Lunna mengikuti arah tatapan Darla.
"Oh My Goddddd! Dalaaa!! Kau gilaaaaa!" Lunna melototkan mata dan mulutnya mengangga. Berarti ia tidak salah mendengar perkataan Darla barusan, yang memuji paras Breslin. Pria dewasa yang menyelamatkannya tempo lalu.
"Kau itu, masih kecil bodohhhhhhh!!" Lunna mencubit pipinya.
"Ishhhh, apa sih. Sakit tahu. Memangnya aku tidak boleh menganguminya apa!?" protes Darla dengan mengibaskan tangan Lunna.
Mata Lunna terbelalak.
Kemudian ia menarik nafas.
Dan membuangnya kasar.
"Kau gila, Dallaaaa!" desisnya heran.
.
.
.
"Kakkk, Sam manaaaa?" tanya Nickolas, menepuk pundak kakaknya. Saat menyadari Samuel tak berada di belakang tubuhnya lagi.
Padahal tadi ia masih berbicara dengannya.
"Haaa?" Kendrick membalik badan. "Apa kata mu?!" Guratan panik mulai tampak, di garis mukanya.
"Tadi dia di belakang ku, tapi sekarang tidak ada?" Nickolas sudah cemas.
"Marimar kemana?" tanyanya.
"Tadi katanya ke belakang sebentar, mau pipis!"
Kendrick menelisik keadaan di sekitar.
Nihil, tak ada batang hidung Samuel.
__ADS_1
Ia berusaha tenang, mungkin bersama Marimar, pikirnya.
Sepersekian detik.
"Huhh, lega!" Marimar baru saja tiba, ia merapikan pakaian dan memasukkan tali tas ke dalam tangan kanannya.
"Mar, di mana Samuel?" Kendrick mencondongkan tubuhnya.
"Loh kan tadi di sini, eyke tadi kan uda bilang sama Nickolas dan Samuel mau pipis sebentar." Pria kemayu itu heran.
"Jangan bercanda, Mar!" Kendrick menampikkan wajah serius.
"Astaga, ngapain eyke bercanda. Kalian kali yang mau ngerjain eyke kan?" Marimar mencibir.
"Tidakk!" sahut Kendrick dan Nickolas serempak.
Keduanya menatap tajam namun sorotan mata mereka terlihat cemas.
Marimar tertegun sejenak.
"Samuel hilang!" sahutnya tiba-tiba.
"Oh my God, gaji eyke di potong!"
Marimar menggerakan badan ke kanan dan ke kiri.
Ia panik
Sangat panik.
Takut jika Samuel terluka atau...
Ahh.. Jangan sampai..
"Ya udah kalian tunggu di sini. Jangan ke mana-mana. Okey!!??" Marimar mengangkat jari telunjuk, memperingati anak asuhnya. Ia berlalu pergi meninggalkan Kendrick dan Nickolas yang belum membalas ucapannya.
Keduanya bersitatap satu sama lain, dan mengalihkan pandangan menatap punggung Marimar, yang mulai menjauh dari mereka.
"Kak, apa sebaiknya kita bantu, Marimar?" Saran Nickolas. Dia cemas terhadap Samuel. Takut terjadi sesuatu, mengingat adiknya masih labil. Belum lagi kerumunan orang di depan sangat anarkis.
Kendrcik tak menyahut.
"Kakkkk!" panggilnya menyadarkan Kendrick, yang sedang melamunkan sesuatu.
.
.
.
"Samuellllllllllll, kau di mana !" teriak Marimar di tengah kerumuman.
Ia takut terjadi sesuatu.
Kemungkinan Lily akan mencabut nyawanya jika Samuel terluka.
Ia uring-uringan sendiri.
"Samueellllllllllllll!!" panggilnya lagi sambil berjalan cepat, tanpa tahu tujuannya ke mana.
Marimar kebingungan, di mana ia harus mencari.
"Oh My God, akika berharap Samuel baik-baik aja!"
Raut wajahnya terlihat sedih.
"Ke mana, ke mana, ke mana? Ku harus mencari ke mana?" gumamnya sendiri. "Duh kok malah nyanyi sih!" Pria setinggi 179 cm itu mengerakkan badannya dengan kemayu.
"Samuelllllllllllllllllllllllllllllllllllllll!!!!!!" panggilnya lagi, kali ini lebih kuat dan lebih kencang, hampir setara dengan suara speaker.
Untung saja suara khodamnya tidak keluar.
Akan tetapi ia tidak sadar, jika berteriak di telinga seorang pria.
"Berisikkk! Kau bisa diam tidak!? Manusia aliennnnnn?!" Pria itu menutup telinganya.
Kemudian melototkan mata. Ia melihat penampilan pria di hadapannya. Kemudian menyeringai.
.
.
.
__ADS_1