
Beberapa bulan kemudian.
Kini, Leon dan Lily tengah menanti kedatangan buah hati mereka. Leon sudah tidak sabaran dengan kelahiran anak pertamanya. Ia teramat senang karena tidak perlu menunggu waktu yang lama, setelah benih ditaburkan di gua milik istrinya, janin terbentuk dengan cepat.
Begitu pula dengan Marco dan Yellow yang saat ini juga menantikan kedatangan anak pertama mereka. Kedua pasangan itu, sangat antusias ketika dokter mengatakan jika Yellow akan melahirkan putra kembar.
Sedangkan Leon dan Lily, mereka enggan bertanya apa jenis kelamin anak pertama mereka. Mereka tidak peduli yang terpenting anak mereka dalam keadaan sehat.
Kediaman Leon Andersean.
Waktu menunjukkan pukul satu dini hari, tampak di sebuah ruangan masih diterangi cahaya lampu temaram.
"Honey, aku mau makan pecel lele mang usep," pinta Lily tiba-tiba dengan muka memelas pada Leon.
Saat mendengarkan permintaan istrinya, Leon menarik nafas panjang.
"Lagi?" tanya Leon sambil mengelus perut istri.
"Iya!" seru Lily bersemangat sambil tersenyum simpul.
"Daddy bingung dengan diri mu, nak, dari sekian banyaknya makanan, kenapa harus pecel lele?" tanya Leon pada makhluk hidup kecil yang berada di balik perut Lily.
"Pecel lele enak Daddy!" Lily menirukan suara kecil seolah-olah yang menjawab adalah anaknya.
"Baiklah Daddy, pergi dulu ya," ucap Leon sambil mengecup kening dan perut Lily sejenak. Lalu beranjak dari tempat tidurnya.
Sudah kurang lebih 1 minggu ini, di tengah malam Lily meminta Leon untuk pergi ke lapak pecel lele Mang Usep, dia hanya ingin suaminya yang membelikannya langsung. Leon tentu saja menuruti permintaan Lily. Beruntung sekali, lapak pecel lele buka 24 jam, jadi Leon tidak kesusahan, walaupun harus menahan kantuk di tengah malam. Ia pun juga menyukai makanan asing itu.
"Ini pecel lelenya," ucap Mang usep tersenyum sembari menyodorkan kantong hitam yang berisi dua bungkus pece lele.
Leon mengangkat wajahnya, sedari tadi dia sedang melihat foto Lily diponselnya sambil menunggu pesanan dibuatkan.
"Oke, terimakasih." Leon beranjak berdiri lalu memberikan beberapa lembar uang kepada Mang usep.
"Sama-sama, hehe. Neng Lily kira-kira kapan lahirannya ya?" tanya Mang Usep penasaran.
Pria yang sudah mulai nampak keriput itu, sudah mengetahui jika Leon adalah suami Lily. Seminggu yang lalu, Leon mengatakan bahwa istrinya mengidam pecel lele, dan meminta dibuatkan pesanan seperti biasa dari Neng Lily. Ucapan itu ia tirukan sesuai intruksi dari istrinya.
"HPL nya kemarin sih seminggu lagi pak," jawab Leon.
"Wah, semoga lancar lahirannya ya. Titip salam sama Neng Lily." Mang usep mangut-mangut senang dengan Leon, pria bule yang tidak sombong, pikirnya. Pasalnya penampilan Leon benar-benar berkharisma dan kendaraan yang dia tumpangi sepertinya sangat lah mahal.
Leon mengangguk. "Oke Mang, saya jalan dulu ya," pungkasnya.
**
Tidak butuh waktu yang lama, Leon telah sampai ke mansion. Lalu secepat kilat dia menuju dapur mempersiapkan hidangan pecel lele, kesukaan anak dan istrinya itu.
Setelah selesai, dia membawa nampan berisi makanan dan minuman ke lantai tiga mengunakan lift khusus.
Ceklek.
Leon berjalan perlahan seraya melirik sekilas Lily yang ternyata sudah tertidur. Ia meletakkan nampan di atas meja. Lalu naik ke tempat tidur.
"Honey." Leon menyibak rambut panjang Lily, lalu mengelus pelan pipi tembamnya itu. Kedua mata Leon enggan berkedip, melihat wajah istrinya yang semakin hari semakin bertambah menawan, dia sangat menyukai tubuh Lily yang terlihat berisi. Terkadang Leon merasa gemas sendiri dengan istrinya.
Lily melenguh saat merasakan sentuhan di kulitnya. Dengan perlahan ia membuka kelopak matanya, lalu mengerjap-ngerjap beberapa kali. Ia tersenyum simpul saat Leon memandanginya. "Honey, maaf aku ketiduran."
Leon mengecup kening Lily sekilas. "Tidak apa-apa, ayo kita makan."
.....
Keesokan harinya, matahari mulai muncul malu-malu di atas pencakar langit.
"Honey," panggil Lily sambil mengelus dada Leon.
__ADS_1
"Hmm," balas Leon tanpa membuka mata. Rasa kantuk masih menjalar diwajahnya.
"Honey." Kali ini suara Lily sedikit tegas.
"Iya, Honey." Leon malah memeluk erat istrinya, karena biasanya Lily meminta di elus-elus punggung belakangnya.
Lily menghela nafas. "Leon, sepertinya aku akan melahirkan."
Satu detik.
Dua detik.
Tiga deti..
"Ha!" Sontak Leon membuka mata dengan cepat, dan tanpa ba bi eo, dia beranjak dari tempat tidur.
"Lexiiiiiiiii!!" panggil Leon nyaring sambil menyambar baju kaos. Dia mengambil gagang telpon. "Lexi cepat siapkan mobil! Istri ku akan melahirkan!!"
Tut.
"Honey." Lily masih berbaring di atas kasur, ia melihat suaminya sangat panik sambil mencari sesuatu kesana kemari.
"Bagaimana ini? Katanya seminggu lagi, bajunya mana? Tasnya mana?" Leon sibuk sendiri, mengemasi keperluan untuk di rumah sakit nanti.
"Honey!" panggil Lily lagi, namun kali ini lebih kuat.
Mendengar suara istrinya, Leon menoleh ke sumber suara. "Iya Honey, ada apa?"
Lily memberikan isyarat melalui mata, dengan melirik ke bawah kakinya. Tampak air ketuban sudah pecah.
Reflek Leon segera mengangkat tubuh istrinya ala bridal style.
.....
"Wah putra ku tampan sekali!" cetus Leon sambil menatap terpana pada bayi mungil digendongannya.
"Putra kembar ku juga tampan!" Marco tak mau kalah.
Entah kebetulan atau apa, Lily dan Yellow melahirkan di hari, waktu, dan tempat yang sama. Bedanya Yellow sudah tiba di rumah sakit dari semalam. Dia menunggu pembukaan jalan lahirnya.
"Anak ku lebih sangat tampan!" Leon memutar mata dengan malas.
"Anak ku 1000 kali lipat lebih tampan!!" seru Marco sambil menatap tajam.
"Sudah, sudah lah kalian ini. Tiga-tiganya tampan! nanti mereka bangun," ucap Elizabet menengahi kedua pria itu sebelum cucunya terbangun akibat perdebatan mereka.
Mau tidak mau, Leon dan Marco terdiam.
"Jadi siapa namanya?" tanya Anastasya sambil melihat cucunya.
"Emm, biarkan Lily yang menamainya Mom," ucap Leon sambil melirik sekilas Lily yang sedari tadi masih terbaring lemah di atas brangkar.
Lily hanya tersenyum simpul melihat Leon yang menggendong putranya dengan sangat hati-hati.
"Kalau kau Marco, anak mu akan di beri nama siapa?" tanya Anastasya penasaran.
"Kailano Suprapto, dan Keilano Suprapto," jawab Marco cepat.
"Aku setuju, babe." Yellow berada di ruangan juga. Ia berjarak beberapa meter dari Lily.
"Tidak bisa, Kailano Fernandez dan Keilano Fernandez!" sergah Sebastian cepat.
"Aish, Daddy! Suprapto saja!"
"Fernandez!"
__ADS_1
"Suprapto!"
"Stop!" seru Fabio saat melihat perdebatan mulai terjadi antara Marco dan Sebastian.
Keduanya mendengus kesal.
"Lucu sekali mereka," ucap Simon sedari tadi dia hanya mendengarkan obrolan kedua rival itu.
"Seperti anak kecil," tutur Fabio dengan terkekeh kecil sambil menepuk pundak Simon.
Simon menangguk menyetujui perkataan Fabio.
"Lily, siapa nama cucu ku ini?" tanya Simon sambil melihat seksama bayi mungil di dekapan Leon.
"Aku mau melihatnya dulu, Dad," ucap Lily.
Leon segera mendekat dan memberikan tubuh putranya perlahan.
"Tampan sekali dia, kalau Belle masih hidup dia pasti akan sangat senang jika anakku laki-laki." Lily memandangi wajah putranya dengan seksama.
Mendengar ucapan Lily, seketika suasana menjadi terenyuh di dalam ruangan.
"Romeo Andersean!" seru Lily saat teringat kala itu Belle pernah memintanya menamai anaknya Romeo. Pasalnya dulu adiknya, setelah menikah menginginkan seorang anak laki-laki dan akan memberikan nama Romeo. Namun, anak pertama Belle adalah anak perempuan. Walau pun begitu, sewaktu itu, Belle amat bersyukur atas pemberian Tuhan padanya. Kini, Lily akan mengabulkan keinginan mendiang adiknya.
"Bagus sekali, aku suka," ucap Leon tersenyum sambil memainkan tangan mungil anaknya.
Semua orang yang berada di ruangan mengangguk setuju.
Terpampang binar kebahagiaan di ruangan VIP luxury tersebut. Saat ketiga bayi tampan telah hadir di tengah-tengah mereka.
....
Delapan tahun kemudian.
Tampak seorang bocah kecil sedang berlari-lari kesana kemari tanpa memakai celananya. Dia memanggil ibunya berkali-kali sambil menangis tersedu.
"Mommyyyy!! Hikssss hikssss!! Burung Romeo ngak mau berdiiriii!! Hiksss hiksss!" ucap Romeo berlari-lari, terlihat tetesan air kencing menetes di sepanjang lantai satu.
"Ada apa, sayang?" Lily menuju sumber suara, sedari tadi dia sedang memanggang cake di dapur.
"Mommy!!" teriak Romeo lagi sambil mengusap-usap jejak air matanya yang tak berhenti mengalir.
"Oh my God!" Mulut Lily mengangga melihat keadaan lantai satu penuh dengan air kencing putranya.
"Ada apa ini?" tanya Leon baru saja tiba bersama Lexi, Breslin dan Si kembar.
"Dadddyyyyy!!" Romeo berlari kencang menuju Leon dan memintanya untuk segera di gendong.
Leon mengangkat cepat tubuh Romeo sambil mengerutkan dahi melihat pemandangan di ruangan.
Lexi dan Breslin terheran-heran dengan keadaan di sekitar, begitu pula dengan si kembar.
"Kenapa menangis?" Leon menyeka air mata Romeo.
"Tadi Romeo pas lagi pipis burung Romeo, ngak bisa hidup Daddy!" ucap Romeo sambil bersembunyi di dada Leon. Ia teramat malu.
Leon dan Lily saling menatap satu sama lain.
.
.
.
.
__ADS_1