Pelangi Untuk Lily

Pelangi Untuk Lily
Chapter 57. Keresahan Leon


__ADS_3

***


Perusahaan Lunna. Corp.


Leon menghembuskan napas dengan kasar. Pria bermanik warna coklat itu, tampak mengetik sesuatu di layar handphonenya.


Tok..tok..tok.


Mendengar suara ketukan pintu, Leon segera meletakkan benda mini tersebut di atas meja.


"Masuk!"


"Tuan," ucap Lexi sambil menundukkan kepala dengan pelan.


"Ada apa?" tanya Leon.


"Ini laporan hasil rapat kemarin." Lexi menyodorkan tumpukan berkas.


"Baiklah." Leon mengambil berkas tersebut.


"Saya permisi, Tuan," ucap Lexi sambil mengayunkan kedua tungkainya.


"Tunggu!" ucap Leon tegas.


Lexi menghentikan pergerakan langkah kakinya.


"Iya, Tuan."


"Aku mau meminta pendapat mu," tutur Leon, dia tampak sedang berpikir. Pria tampan itu, menyimpan sesuatu di dalam pikirannya.


"Pendapat?" Lexi tampak heran.


Leon menganggukkan kepala perlahan.


"Iya, pendapat mu."


"Baik, silahkan Tuan."


"Kau tahu Lex, aku bingung bagaimana menjelaskan kepada orangtuaku mengenai pernikahan ku minggu depan. Lily selalu bertanya pada ku, di mana mereka. Dia tentu saja, mau berkenalan. Aku sudah menelpon mereka berkali-kali tapi tetap saja, tidak aktif," jelas Leon singkat, dengan menatap datar.


"Apakah Tuan sudah mencoba menelpon menggunakan nomor lain." Lexi menebak jika nomor Leon di blokir oleh kedua orangtuanya.


"Maksudmu?" Leon mengerutkan dahi.


"Bukan maksud ku lancang, bisa saja nomor Tuan di blokir," jelas Lexi memberikan pengertian.


"Kau benar juga, apakah sebegitu bencinya mereka pada diriku?"


Leon menghela napas.


"Tidak, mereka mungkin sedikit kecewa pada anda, Tuan." Lexi sangat tidak enak hati.


"Kau jangan membela mereka, kedua orangtua ku memang seperti itu!"


Lexi tak membalas perkataan Leon, dia takut salah berucap lagi.


Leon mengernyitkan dahi melihat gelagat tangan kanannya. "Kenapa kau diam?"


"Maaf, Tuan." Lexi tampak salah tingkah.


Leon menghembuskan napas dengan kasar.


"Apakah lebih baik aku telepon mereka nanti malam saja?"


"Ide yang bagus, Tuan."


"Baiklah, berikan aku kartu yang baru."


"Baik, Tuan."


"Terimakasih, kau boleh keluar."


Lexi pamit undur diri, dia segera berjalan cepat menuju pintu.


...****************...


Leon melirik ponsel yang berada di atas meja, dia menyambar benda mini tersebut.


Honey, aku merindukanmu.

__ADS_1


Aku juga Honey. Lily tersenyum simpul di sebrang sana.


Kapan ini berakhir?


Lily terkekeh pelan. Tidak akan lama, Honey.


Kenapa harus ada pijit?


Pingit, Honey. Lily tertawa di sebrang sana.


Bagus ya, kau senang menertawakan ku.


Leon pura-pura kesal, namun bibirnya melengkung, membentuk senyuman. Dia sangat senang mendengarkan tawa calon istrinya.


Tidak, Honey. Aku cuma bercanda. Lily menahan senyum di ujung sana.


Baiklah, aku terpaksa percaya.


Kenapa harus terpaksa, ada-ada saja. Lily terkekeh.


Leon tak membalas perkataan tambatan hatinya.


Aku mencintaimu, sangat mencintaimu, ucapnya tiba-tiba.


Aku juga mencintaimu, Honey.


Makanlah yang banyak agar kau kurus, kelakar Leon.


Ih, kau ini, kalau mau kurus ya harusnya diet.


Leon terkekeh pelan.


Aku cuma bercanda, Honey. Aku tak sabar minggu depan.


Bersabarlah, Leon.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Malam harinya.


Leon berdiri di atas balkon mansionnya, kedua tangannya bertengker di pagar pembatas. Pria bermanik warna coklat itu, menatap lurus ke depan. Dia sedang menikmati hembusan angin malam, yang menerpa wajah rupawannya.


Sesuai dengan keinginannya tadi siang, dia akan menelpon kedua orangtuanya, memberitahu perihal pernikahan minggu depan.


Hallo, siapa ini? sapa suara pria di sebrang sana.


Leon, jawabnya singkat.


Ckk! Pria itu berdecih kesal.


Jangan kau tutup telponnya, Tuan Simon.


Lancang sekali kau memanggilku dengan sebutan nama!


Bukankah anda yang mengajarkan pada ku, bersikap tidak sopan.


Kau! Apa mau mu ha?!


Aku mau mengatakan, minggu depan aku akan menikah.


Hahaha, Lalu? Simon tertawa mengejek.


Datanglah, walaupun hanya sebentar. Calon istri ku dan keluarga besarnya mau berkenalan dengan kalian.


Cih, aku tak sudi datang ke pernikahan anak durhaka.


Simon, apakah itu Leon? ucap samar-samar seorang wanita di sebrang sana.


Leon, pulanglah nak. Mommy tidak akan memaksa mu untuk menikah lagi. Wanita paruh baya itu mengambil alih benda mini tersebut.


Aku akan menikah, Mom.


Benarkah?


Datanglah, Mom. Minggu depan, hari kamis.


Kembalikan ponselku! Bentak Simon di ujung sana.


Awh! Ringis wanita tersebut.

__ADS_1


Mom!


Leon tampak khawatir saat mendengar suara ibunya mengaduh kesakitan.


Jangan menelpon ku lagi! Mulai dari detik ini kau bukan anakku, ucap Simon di ujung sana.


Simonnnn! pekik wanita paruh baya di dalam telpon.


Baiklah, kalau itu keinginan mu, pungkasnya.


Leon segera mengakhiri sambungan telepon.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Los Angeles.


Cafe Paradise [Ruangan VIP]


Tampak sepasang suami istri yang sudah tua, saling beradu mulut. Setelah, pria paruh baya tersebut menaruh telepon di atas meja. Perdebatan pun terjadi.


"Kenapa kau mengatakan bahwa Leon bukan anak mu lagi ha?!" pekik wanita berambut pendek yang sudah memiliki keriput di wajahnya.


"Kenapa kau marah, dia tidak pantas menjadi anakku. Dia tidak pernah menuruti perkataan ku!" Pria paruh baya itu, menatap tajam istrinya. "Kau berani melawan ku!"


"Iya, aku berani! Kenapa? Untuk apa aku takut!" Tantang wanita bermanik warna coklat tersebut.


"Kau!!" Pria itu mengangkat satu tangannya ke udara.


"Apa? Kau mau menamparku!? Silahkan, silahkan!" teriakan wanita paruh baya itu, menggema di ruangan. Kedua matanya tampak berkaca-kaca.


Pria paruh baya itu menurunkan tangannya, dengan cepat. Napasnya memburu, dia membuka dasi di kerah bajunya dan membuang asal.


Wanita berambut pendek itu berjalan perlahan menuju sofa panjang di bilik tersebut. Dia menghempaskan bokongnya dengan cepat.


"Aku merindukan anak ku, Simon. Kau tahu Leticya sudah pergi. Leon anak kita satu-satunya sekarang." Air mata mengalir di kedua pipinya.


"Dia membangkang karena kita juga, Simon. Kita terlalu sibuk dengan urusan pekerjaan," ucapnya sambil terisak, wanita itu menatap sendu suaminya.


"Cih, aku berkerja untuk kalian!" protes Simon.


Wanita paruh baya tersebut, beranjak dari tempat duduknya.


"Iya, kau memang berkerja untuk kami! Tapi apakah kau pernah mengasuh dan memberikan mereka perhatian?"


"Itu tugasmu, Elizabet! Tapi kau malah sibuk sendiri!"


"Tugas kita bersama Simon!" pekik Elizabet, sambil mengusap jejak air matanya. "Aku akan ke Indonesia," ucapnya.


"Kalau kau ke sana, kita bercerai!" Gertak Simon.


"Baik, aku akan mengurus surat perceraian kita sekarang!" Elizabet berjalan cepat menuju pintu.


"Elizabettttttt!" panggil Simon sangat nyaring, untung saja di ruangan tersebut kedap suara.


Simon berusaha mengejar istrinya. Pria berkulit putih itu, menoleh ke kanan kiri, menelisik keberadaan Elizabet. Namun kerumunan pengunjung di cafe, membuatnya kesulitan mencari wanita berambut pendek itu. Dia pun membalikkan badan dengan cepat, tanpa menyadari ada seseorang, yang berada dibelakangnya.


BUGH.


Simon tak sengaja menabrak tubuh seorang pria, yang sama tinggi dengannya.


"I'm sorry, sir," ucap Simon tak enak hati.


"It's okay." Pria yang memiliki tato laba-laba diwajahnya, tersenyum tipis.


Simon menundukkan sedikit kepala, dan segera mengayunkan kedua tungkainya menuju pintu utama.


"Mister, are you okay?" tanya pengawal berpakaian serba hitam di belakang tubuhnya.


Pria tersebut, memberikan kode bahwa dia baik-baik saja. Kedua matanya fokus menatap punggung Simon, yang perlahan menghilang di balik pintu. Seringai licik terbit di raut wajahnya.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2