
"Aku tidak menggombal Honey, tapi kau memang sangat cantik." Kedua mata Leon tak berkedip, dia mengagumi wajah Lily yang amat cantik baginya.
"Sudahlah Leon, aku bisa diabetes mendengar pujian berlebihan mu itu." Lily terlihat salah tingkah.
Leon terkekeh pelan, melihat gelagat Lily. Dia baru saja sadar tujuannya datang kemari. Perlahan Leon mengeluarkan bunga mawar merah, yang berada di belakang tubuhnya, dia menyodorkan bunga tersebut pada Lily.
"Untukmu, Honey." Leon tersenyum.
Raut wajah Lily terlihat berbinar, dia tak menyangka Leon datang ke sini untuk memberikan bunga padanya. Lily segera menerima bunga itu, dia menatap dalam kekasihnya.
"Tumben, Honey. Biasanya kau mengirimkan bunga padaku kalau tidak siang, ya sore." Lily terkekeh pelan.
"Sesekali aku ingin memberikan langsung padamu, Honey."
Kedua insan itu saling berbicara, meluapkan perasaan cinta yang menggebu, hingga mereka pun terpaksa menyudahi obrolan tersebut karena harus berkerja. Leon pun pamit undur diri, dia mengecup pelan kening Lily.
Lily terkejut dengan tindakan Leon.
Blush.
"Leon, apa yang kau lakukan ada orang di sekitar kita." Lily berdecak kesal, dia malu. Sebagian rekan kerja melihat ke arah mereka berdua.
"Biarkan saja Honey!" Leon mengecup lagi kening Lily.
"Leon!" gerutu Lily sambil melototkan mata.
Leon yang melihat raut wajah Lily, malah tertawa. Dia sangat senang melihat pujaan hatinya itu kesal.
"Aku pergi dulu, maaf jika nanti siang kita tidak bisa makan bersama." Raut wajah Leon terlihat sedih.
"Iya, tak apa-apa. Jangan sedih Honey!" Lily mengulum senyum melihat ekspresi Leon, seperti anak kecil saja. Dia mengelus perlahan lengan Leon.
"Baiklah," ucap Leon dengan pelan.
Sebelum melangkahkan kaki ke area parkir, Leon mengacak rambut Lily terlebih dahulu. Dia mengecup pipi Lily dengan cepat.
Lily terkesiap, "Leonnnnnnnn!" teriak Lily, dia baru saja sadar suaranya terlalu nyaring. Lily reflek menutup mulutnya.
Terlihat rekan kerja yang lalu lalang memasuki gedung terkejut mendengar teriakan Lily. Mereka menggelengkan kepala, ada pula yang tertawa kecil. Image Lily di jaga! mungkin kau sudah terkena karma, karena kemarin mengatai sekrup kewarasan Leon lepas!
Lily mengedarkan pandangan di sekitarnya. Dia tersenyum malu.
"Ih dasar Leon!" sungut Lily dalam hati.
__ADS_1
Sementara itu, Leon sudah berjalan cepat meninggalkan Lily. Dia tersenyum simpul melihat tambatan hatinya kesal. Leon memasuki mobil mewah itu dan meninggalkan perusahaan Co. Marq.
***
Kaki jenjang Lily melangkah ke ruangan bagian finance dengan anggun, suara hentakan heels setinggi 5 cm itu beradu dengan lantai porselen. Beberapa rekan kerja pria yang mengagumi paras Lily tersenyum genit padanya. Mereka berusaha mencari perhatian, namun sayang sekali. Di relung hati Lily sudah terukir satu nama yang sudah terkunci rapat.
Lily menebarkan senyum ramahnya saat berpapasan dengan beberapa rekan kerja.
"Lilyyyyyyyyyyyyyyyyy!" panggil seseorang dengan sangat lantang, mungkin bisa membuat kaca di gedung retak.
Lily terlonjak kaget, saat namanya di panggil. Reflek dia mengusap pelan dadanya. Jika dia mempunyai penyakit jantung mungkin sudah op-name di rumah sakit. Dia sangat kenal dengan suara itu, tentu saja Marimar! Dengan pelan Lily memutar tubuh rampingnya.
Lily menggelengkan kepala, saat melihat Marimar memakai pakaian kerja yang sedikit berbeda. Marimar mengenakan pakaian blazer perempuan dengan dasi biru yang menghiasi lehernya, heels runcing setinggi 10 cm membuat dia semakin terlihat tinggi. Jangan lupakan tas pinky kesayangan Marimar bertengker di tangan kanan.
Marimar berjalan cepat ke arah Lily, dia melangkah dengan begitu gemulai seperti model Victoria Secrets yang sedang memperagakan busana modisnya. Namun belum sampai Marimar berada di dekat Lily, dia tak sengaja menginjak kulit pisang alhasil dia kehilangan keseimbangan dan membuatnya terjatuh ke lantai.
Bugh.
"Aduh, pantat akika sakit," raung Marimar dengan mengelus pelan bokongnya.
Lily yang melihat Marimar terjatuh, tertawa lepas sambil memegang perut.
Suara dentuman tubuh Marimar mengagetkan beberapa rekan kerja yang sedang sarapan. Ada pula yang melihat kejadian berlangsung ikut tertawa, tak ada satupun yang bergerak untuk membantu.
Lily segera tersadar, dia berjalan cepat ke arah Marimar.
"Bagus ya, eyke jatuh you malah ketawa-ketiwi!" Marimar berdecak dengan kesal sambil bangkit berdiri.
Lily tak menyahut perkataan Marimar, dia menahan tawa.
***
Jam menunjukkan pukul 10 pagi, Lily masih berkutik dengan perkerjaannya. Dia melirik sekilas ke arah Marimar. Terlihat Marimar sedang menginput data di komputer.
Lily mengedarkan pandangan menelisik keberadaan Melisa, dari tadi tak kunjung datang. Dia harus cepat mengembalikan flashdisk tanpa sepengetahuan Melisa.
Lily menghembuskan napas dengan pelan, dia terlihat memikirkan sesuatu. Sekelabat ide muncul di dalam kepalanya.
15 menit kemudian.
Ekor mata Lily tak sengaja melihat Melisa datang dengan raut wajah gusar, dia terlihat sedang mencari sesuatu.
Lily melihat gerak-gerik Melisa dengan intens, dia pun bangkit berdiri.
__ADS_1
"Mar, aku permisi sebentar ya," Lily menepuk pelan pundak Marimar.
Marimar menganggukkan kepala, dia sibuk dengan perkerjaan yang harus segera di selesaikannya.
Lily berjalan pelan ke arah dispenser, dia mengambil air putih sambil kedua matanya mengarah pada Melisa yang sedang sibuk mencari sesuatu di atas meja kerja.
"Kau sedang mencari apa Mel?" tanya Lily dengan pelan.
Melisa tak langsung menjawab, dia terlihat ragu.
"Aku sedang mencari flashdisk," ucap Melisa dengan terpaksa.
"Flashdisk, memangnya kau taruh di mana?" tanya Lily sambil menatap datar.
Melisa tak lagi menyahut pertanyaan Lily, dia tak ingin terlalu berlama-lama. Tadi pagi Milano marah saat mengetahui flashdisk yang di berikan padanya, tak tahu berada di mana. Dia harus segera menemukan benda kecil tersebut. Melisa membolak - balikkan barang yang berada di atas meja kerjanya.
Lily yang melihat tingkah Melisa, hanya terdiam. Sekarang dia harus menunggu moment yang tepat untuk menjatuhkan flashdisk di bawah meja Melisa.
Dengan pelan Lily melangkah, dia menjatuhkan flashdisk dan menggeser pelan dengan kaki. Selanjutnya Lily menjatuhkan name tag kerjanya. Dia pun perlahan membungkukkan badan ke bawah.
"Itu flashdisk mu bukan Mel?" tanya Lily sambil matanya memberikan kode pada Melisa untuk melihat ke bawah.
Melisa menghentikan pergerakan tangan saat mendengar perkataan Lily. Dia segera membungkukkan tubuhnya, raut wajahnya seketika berbinar. Melisa dengan pelan mengambil flashdisk itu.
"Akhirnya," celetuk Melisa tanpa sadar, dia merasa lega. Setidaknya jatah bulanannya tak terhenti!
Melisa menatap Lily. "Terimakasih," ucapnya tersenyum palsu.
Lily menganggukkan kepala dan menyelipkan kembali name tagnya ke pakaian kerja, dia pun kembali ke meja kerja sambil membawa gelas yang berisi air putih.
"Baiklah, seberapa pintar kalian!" Gumam Lily di dalam hati dengan raut wajah yang tak bisa terbaca.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.