Pelangi Untuk Lily

Pelangi Untuk Lily
Chapter 109. Aksi Penyelamatan


__ADS_3

Tampak dua buah helikopter terbang di atas pencakar langit, tanpa tahu ke mana arah mereka akan berlabuh. Kedua pesawat amfibi merk UH-60 Black Hawk berwarna abu-abu sedari tadi, sedang mencari kumpulan manusia di luar benua Amerika Serikat.


Berbekal titik terakhir jejak puing pesawat jatuh, mereka pun pergi ke arah timur. Beberapa kilo meter dari tempat kejadian.


Yellow tertunduk lesu. Hati kecilnya mengatakan, ia tidak boleh menyerah. Ia duduk di kursi co-pilot sembari berkomunikasi dengan Rey berada di helikopter satunya, melalui alat kecil.


Mereka sudah menyusuri semua pulau yang sekiranya tampak di pelupuk mata. Namun, dari beberapa jam yang lalu tak jua menemukan mereka.


Nihil.


"Yellow, kau yakin kita ke arah yang benar?" tanya Rey di sebrang sana sambil melihat melalui teropong khusus.


"Aku yakin, Rey. Aku yakin sekali jika mereka terdampar di pulau mistis. Pulau itu sangat susah ditemukan!" sahutnya cepat.


"Kau jangan bercanda! Bersihkan pikiran mu dari hal-hal yang tidak masuk di akal," protes Rey, ia tidak percaya hal yang berbau mistis.


"Aish, makanya aku menyuruh mu membaca buku yang ku berikan kemarin," kilah Yellow sembari memberikan kode kepada pilot untuk terbang lebih tinggi lagi.


Rey terdiam. Ia tak menyahut, memang benar sebelum mereka menemui orangtua Leon dan Lily di mansion Simon. Yellow memberikannya sebuah buku yang terlihat besar dan usang. Ia tak mau membaca buku itu, karena terlihat aneh baginya. Alhasil ia pun tak menyentuh atau membuka buku tersebut.


Yellow menautkan alis mata, saat Rey tak menanggapi perkataannya. Ia menghela nafas kasar. Ia menebak jika Rey tak membaca sama sekali buku itu.


"Asal kau tahu, di sekitar pulau di siang harinya, angin berhembus kencang. Tapi jika di malam harinya angin berhembus sangat pelan, dan adanya perbedaan waktu di sana yang katanya lebih cepat sepuluh menit. Terdapat satu suku yang mendiami pulau itu. Mereka tak dapat terlihat, sama seperti pulaunya pun susah untuk ditemukan." Yellow berinisiatif menjabarkan isi buku secara singkat agar Rey dapat mengerti kegundahannya.


"Ha? Tak dapat terlihat?" Rey melonggo mendengar penuturan. Lalu ia terkekeh pelan. "Semakin melantur saja!"


"Cihh, kau ini keras kepala sekali!" Yellow berdecih kesal.


"Hmm, sekarang bagaimana caranya menemukan pulau itu."


Rey berpikir sebaiknya dia mengalah saja, saat mendengar suara Yellow yang sebal.


Yellow menghela nafas. "Aku juga tidak tahu cara menemukannya, karena di dalam buku, tidak ada petunjuk sama sekali."


"Whats?!" cetus Rey cepat. Ia mengusap wajahnya dengan kasar.


"Tapi, aku punya ide!" seru Yellow tiba-tiba.


"Apa itu?" Rey penasaran.


"Hmmm," ucap Yellow nampak berpikir, sembari menelisik ke bawah sana.


.


.


.


"Gukkk..gukk!!" Hiro mengonggong sebab kumpulan manusia di sekitarnya hanya terdiam membisu tak membuka suara setelah mendengar satu orang pria berkulit hitam, dia bisa membaca isi pikiran.


"Maka dari itu-!" Pria itu mengangkat tombaknya ke arah Lily.


Leon dengan sigap membawa Lily ke belakang tubuhnya, berusaha melindungi. Ia menatap tajam dan dingin pada sosok pria di hadapannya.


Suasana mencekam.


Tidak ada yang berani berkutik, saat melihat tombak runcing itu.

__ADS_1


"Haha!" Pria itu malah tertawa keras, lalu menyeringai. "Hati ku semakin perih melihat keromantisan kalian!" Ia menurunkan tombaknya.


Mereka menghela nafas lega.


"Tapi!"


Mereka tegang lagi, menunggu pria itu membuka suara.


"Salah satu anak mu, akan mendapatkan kutukan Belalai Tunduk!" Ia mencibir sambil menunjuk tak tentu arah antara si Kembar atau pun Lily.


"Ha?!" Mereka melongo. Semakin bingung.


Pria itu mengerlingkan mata. "Belalai di bawah perut anak mu, tidak bisa berfungsi dengan baik sebagaimana mestinya."


Dahi mereka semakin berkerut. Mereka tak menyela satu pun.


"Lalu kutukan dapat musnah jika dia menikahi seseorang wanita yang memiliki tanda kupu-kupu di belakang leher, dan-"


Terdengar bunyi helikopter di atas sana sangat nyaring, memekakkan telinga sehingga mereka tidak dapat mendengarkan penuturan pria itu.


Lantas mereka semua mendongakkan kepala ke atas.


"Wahhh pesawat!" teriak Lunna dan Darla kegirangan sembari melompat-lompat.


Pria itu tiba-tiba melihat ke arah Hiro, lalu menggerakkan satu tangannya memberikan isyarat yang aneh. Kedua mata Hiro seketika berbinar lalu membungkukkan badan, seperti memberikan hormat.


Tak ada satu pun yang melihat interaksi pria itu dan Hiro, mereka tengah memusatkan perhatian ke atas.


"Akhirnya, kita bisa pulang!" seru Lily, setelah melihat helikopter sudah bertengker di pasir, yang berjarak sepuluh meter dari tempatnya.


Leon mengangguk.


Deg.


Kosong.


Ke mana pria itu tadi?


Mereka bersitatap satu sama lain.


Terheran-heran.


Tiba-tiba pulau itu bergetar seperti terguncang.


"Oh my God! Apa ini? Tidak mungkin gempa kan?!" pekik Lily sembari menuntuk anak dan keponakannya untuk berlari menuju pesawat.


Leon tak menyahut, dia pun ikut berlari seraya memberikan kode pada ke empat pria yang masih sibuk menelisik keberadaan sosok tadi.


Mereka segera tersadar saat guncangan semakin terasa. Keempat pria itu pun berlari mengekori Leon.


"Hei, ayo cepat!!" seloroh Yellow menyembul dari dalam helikopter. Ia membuka topi kupluknya dan mengibaskan rambutnya.


Deg..deg..deg..


Langkah kaki Marimar terhenti saat melihat wanita yang tak asing di depannya. Ia tertegun.


"Cantiknya!" Gumamnya sembari memegang dada.

__ADS_1


"Heii, Marco, ayo cepat masuk!!" Lexi berteriak menyadarkan Marimar yang masih mematung lima meter dari pesawat.


Marimar segera tersadar dan berlari secepat kilat, ia menahan tubuhnya agar tak terjatuh. Guncangan terasa kencang dan kuat.


Ia semakin mempercepat langkah kaki.


"Ayo, cepat!!" Yellow menjulurkan tangannya sebab helikopter hendak lepas landas.


Marimar pun menjulurkan tangan kanannya tanpa menghentikan langkah.


Ia mengeryitkan dahi saat melihat pulau seperti akan masuk ke dalam air. Hal itu terlihat dari pasir di sisi sana sudah mulai tenggelam.


"Ayooooo cepattttttt!!!!" pekik Yellow sembari mengaitkan tangan di landing skids. (Penyangga helikopter yang berada di bawah.) Sebab helikopter berjarak dua meter dari pasir.


Marimar pun melompat sangat tinggi.


Dan


Hap.


Tangan Yellow dan Marimar saling bertautan.


Seketika pulau itu tenggelam masuk ke dalam lautan.


Hilang.


Dua pesawat itu pun menjauhi tempat tersebut.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Yellow setelah mereka berhasil masuk ke dalam pesawat. Ia duduk di samping Marimar.


"Iya, aku baik-baik saja!" seru Marimar.


Tanpa suara gemulainya.


Lexi yang sekarang duduk di kursi co-pilot tertegun.


Ketika mendengar suara asli Marimar keluar.


Begitu pula Maximus dan Breslin di samping Marimar terdiam.


Tiba-tiba Marimar menoleh ke kanan. "Mulai dari sekarang panggil aku Marco!" ucap Marimar tersenyum penuh arti.


Maximus melongo.


"Siapa di sana, King bertanya kalian baik-baik saja kan?" tanya Rey di pesawat satunya bersama Leon, Lily dan kelima bocah.


"Kami baik-baik saja!" jawab Lexi cepat.


"Oke, situasi aman terkendali." Lexi menoleh pada Leon dan mengangkat satu jempolnya.


Leon yang berada di belakang mengangguk. Ia mengusap rambut Lily yang sedang merebahkan kepalanya di pundaknya. Ia menge_cup sekilas kening Lily.


Dua helikopter terbang tinggi meninggalkan lautan yang luas membentang. Suara lengkingan lumba-lumba di bawah sana menemani mereka.


Burung-burung pun terbang di sisi kanan dan kiri mengantarkan kepergian mereka.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2