Pelangi Untuk Lily

Pelangi Untuk Lily
Chapter 108. Penduduk Setempat


__ADS_3

"Kau berani dengan ku ha?!" Maximus membusungkan dada, dia menatap tajam dan dingin seraya menangkis gerakan tangan pria gemulai di hadapannya.


"Tentu saja, akika berani, emang you siapa? Dewa Hades, Dewa Zeus!?" Marimar pun membusungkan dada bidangnya. Ia mengetatkan rahang seraya kedua matanya berkilat menyala.


"Ayo kelahi!!! Kelahi, kelahi!!!!" Lexi, dan kelima bocah masih bersemangat mengompori, bukannya melerai kedua pria yang sedang tersulut emosi itu.


Entah mengapa Maximus dan Marimar tak pernah akur, selalu saja berperang seperti anjing dan kucing.


"Hei, hei sudah lah! Jangan berkelahi lagi kita harus cepat mandi, nanti King marah!" Breslin memperingati sembari memisahkan tubuh Maximus dan Marimar.


Kedua pria itu mendengus kesal sambil menatap tajam satu sama lain. Tampak tangan mereka masih terkepal erat.


"Kalian dengar tidak?!" Breslin meninggikan suaranya, ia menatap dingin Maximus dan Marimar secara bergantian.


Saat melihat sorotan mata Breslin, seketika kedua pria yang tengah berseteru itu menelan ludah dengan kasar.


"Ampun deh, Eslin kalau marah syerem banget sih. Atut, mami!" Gumam Marimar dalam hati.


"Kok mirip Daddy ya, ngeri!" Maximus seketika menciut.


Tampak emosi kedua pria itu mulai mereda.


"Iya, Eslin!" ucap Marimar tanpa menatap lawan bicara.


"Oke, hehe!" ucap Maximus sembari terkekeh, ia tampak salah tingkah.


Breslin menghela nafas kasar.


"Hei kalian sudah selesai mandinya?" tanya Leon di ujung sana. Sepertinya sepasang kekasih itu baru saja selesai dengan aktivitas tabrakan bibir.


Terpampang guratan kesal di wajah Lily. Ia mendengus kasar sembari menyeka jejak permainan kekasihnya tadi.


Hampir saja dia collapse, karena kehabisan nafas. Sebab Leon benar-benar meraup dan menjamah rakus bibir Lily.


"Lima menit lagi, King!" seru Lexi sembari melirik sekilas pada ketiga pria dan kelima bocah, memberikan mereka kode agar cepat menyelesaikan mandinya.


Mereka mengangguk paham dan bergegas melanjutkan membersihkan badan.


"Oke!" jawab Leon, lalu mengalihkan pandangan kepada Lily yang tengah memanyunkan bibir.


.


.


.


Kurang lebih lima belas menit lamanya, rombongan Leon sudah selesai mandi. Mereka pun kembali ke tempat semula.


"Gukkk, gukk!" Hiro menyalak saat Leon dan Lily baru saja keluar dari dalam hutan.


Sedari tadi anjing berjenis mini pom itu menunggu mereka di dekat tenda. Ia di perintahkan Lily untuk menjaga markas kecil di dekat pohon, Hiro pun menuruti perintah sembari menikmati hembusan angin di sekitarnya.


Hiro terlihat senang sebab yang di tunggu telah datang. Ia mengibas-ngibaskan ekor ke kanan dan ke kiri, lalu berlari mendekati Lily. Kemudian mencari perhatian dengan menunjukkan wajah puppy eyesnya.


Lily terkekeh pelan.


"Lucu sekali dia!" sahut Leon tanpa menghentikan ayunan langkah kaki.


Leon mengganguk, menyetujui apa yang di katakan kekasihnya.


"Kalian berempat, setelah selesai makan, buatlah tanda S.O.S menggunakan buah kelapa yang Maximus dan Marimar ambil kemarin!" perintah Leon melirik sekilas kepada keempat pria itu.


Mereka mengangguk paham.


"Air kelapanya sudah tidak ada lagi, Kan?"tanya Leon memastikan.


"Sudah kosong semua Tuan," jawab Maximus cepat.

__ADS_1


"Good."


"Honey, makanan kemarin masih ada?" Leon mengalihkan pandangan di sisi kanan.


Lily melirik sekilas. "Masih ada, Honey," jawabnya.


"Mom, ternyata makanan yang kemarin enak juga ya," tutur Lunna sebab daging burung di indera pengecapannya lumayan enak, walaupun terasa hambar. Akan tetapi dia menyukainya, bocah itu jadi teringat film bertahan hidup di alam liar, yang menyantap hewan kecil di sekitar.


Lily tersenyum simpul sembari mengelus kepala Lunna.


"Iya enak, Dala mau cepat makan, lihat ini pelut Dala kulus." Dalla menimpali sembari membusungkan perut buncitnya.


Leon, dan Lily beserta pasukannya menggelengkan kepala, melihat tingkah Darla.


.


.


.


Selesai mengisi perut, Leon, Lily, dan si kembar duduk di pasir beristirahat sejenak, dan bercengkrama ria.


Tampak Hiro bermain bersama Darla dan Lunna, mereka berlari ke sana ke mari.


Sedangkan, Lexi, Breslin, Maximus dan Marimar tengah menyusun buah kelapa membentuk huruf S.O.S, berjarak lima meter dari bibir laut.


Teriknya matahari di atas sana, tidak menyulutkan semangat mereka dalam melaksanakan perintah Leon. Angin yang tidak terlalu kencang di sekitar, menemani mereka.


"Hei, kau bisa menyusun tidak sih!?" seru Maximus saat melihat Marimar hampir saja membentuk huruf lain.


"Bisa kok! You ini, yang tidak sabaran!" Marimar berkilah seraya membungkukkan badan mengambil kembali dua buah kelapa. Pria gemulai itu tidak fokus sebab dia belum terasa kenyang.


"Ckkk!" Maximus berdecak kesal sembari mengerlingkan mata.


"Sudah, sudah kenapa kalian selalu saja berdebat?" tanya Lexi heran dengan sikap keduanya.


Lexi mendengus sembari menggelengkan kepala, melihat gelagat mereka.


"Sudah lah Lex, biarkan saja. Lebih baik kita selesaikan ini dengan cepat." Breslin menepuk pelan pundak Lexi.


Lexi melirik. "Iya, kau benar."


***


Tampak tanda S.O.S berderet rapi di tengah pulau. Jadi, ketika Rey ingin menyelamatkan mereka, ia tidak akan kesulitan dan dapat berhenti tepat di hadapan mereka.


Angin di sekitar bertambah kencang, padahal matahari di pencakar langit sangat terik. Akan tetapi kulit mereka tidak terbakar atau pun panas. Lily dan Leon mengerutkan dahi, ketika merasakan suasana aneh yang terjadi di sekitar.


Darla menghampiri sepasang kekasih itu yang sedang duduk bersila menghadap lautan. "Aunty, Hilo ke mana?" tanyanya tiba-tiba.


Lily menautkan alis mata. "Loh, bukannya tadi main sama Darla?" Wanita itu malah balik bertanya.


"Iya, tapi tadi di-."


Ucapan Darla terhenti, kedua matanya memandang ke arah hutan belantara. "Itu, Hilo! Eh itu siapa yang bersama Hilo?" Ia memicingkan mata melihat sosok tak di kenalinya berjalan beriringan dengan Hiro.


Lantas, Leon dan Lily memutar badannya.


Keduanya tertegun, lalu bangkit berdiri.


Sepasang kekasih itu menatap satu sama lain.


Begitu pula dengan empat pria terusik menghentikan aktivitasnya, yang hendak memanggang ikan. Lalu mereka mendekati Leon dan Lily.


Lunna dan si Kembar pun berlari kecil, menghampiri calon Daddy dan Mommynya.


Sosok itu menghentikan ayunan kaki sekitar dua meter dari kumpulan manusia di depannya. Ia menatap datar.

__ADS_1


"Gukk, gukkk!" Hiro menyalak.


"Bisakah kalian tidak membiarkan anjing ini masuk ke dalam hutan itu bisa membahayakannya!" seru pria berkulit hitam, setinggi 188 cm, hidung mancung, dan iris mata berwarna abu-abu. Giginya sangat rapi dan putih bersih. Telinganya dihiasi bulatan kayu yang besar. Ia hanya mengenakan penutup kain dari kulit pohon di bawah perutnya. Otot-otot pria itu menonjol, ada sedikit luka yang membekas di dadanya. Ia tidak memakai sepatu atau pun sendal, bertelan_jang kaki. Satu tangannya memegang kayu panjang yang runcing, seperti tombak.


Pria itu menatap datar.


Leon enggan menyahut, tengah berpikir, sembari menganalisis tampilan pria di hadapannya. Ia menebak jika pria itu adalah penduduk yang mendiami pulau tanpa nama ini.


"Maaf, kami tidak bermaksud," tutur Leon menatap datar pula.


"Apakah kau yang tadi malam mengusik tidur ku?" Ia memicingkan mata.


Leon terheran-heran. "Maksud anda?"


"Suara mendayu belahan jiwa mu di air terjun!"


"Astaga, jangan bilang." Lily tersentak kaget, mengingat kejadian semalam, ia dan Leon yang bercumbu mesra, dan tidak berlebihan, walau pun hampir kebablasan.


Leon menyembunyikan raut wajahnya. Ia tak membalas perkataannya.


"Apa! Suara, suara apa? Jangan bilang kalian tadi malam berkembang biak?" cetus Marimar tanpa sadar, ia ceplas-ceplos, tanpa filter dan tidak di saring.


Mendengar penuturan Marimar, Leon dan Lily beralih menatap dingin kepadanya.


Yang di tatap malah meliuk-liukkan badan, ia tidak sadar.


"Kepala dan telinga ku sakit! Hati ku perih!" tutur pria itu lagi.


"Iya benar, sama aku juga begitu!" Maximus menimpali.


Lexi dan breslin spontan menganggukkan kepala, menyetujui pria itu.


Lantas Leon dan Lily menatap mereka jua sangat tajam, setajam silet.


Ketiga pria itu terlihat salah tingkah saat diperhatikan.


"Kalian sudah melakukan kesalahan di pulau ini dan melanggar perserikatan jomblo, yang isinya tidak boleh memamerkan kemesraan di depan orang jomblo seperti aku!" tutur pria itu sambil menunjuk Leon dan Lily bergantin.


"Ha?" Lily melongo.


Leon menautkan alis mata.


"Iya, eyke juga jomblo, iya benar sekali. Sangat tidak berprikemanusian sekali, kan!" Marimar berkata dengan mengebu-gebu.


"Iya, benar itu!"


Lagi dan lagi.


Lexi, Breslin dan Maximus membuka suara tanpa filter. Mereka mengernyitkan dahi, mengapa tak bisa mengontrol mulut mereka.


"Kenapa dengan mulut ku sih!" Lexi mengaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Pria itu menyeringai ke arah Lexi. "Itu adalah suara hati mu, jadi keluarkan saja!"


Lexi melebarkan mata. "Apa, bagaimana dia bisa tahu, seakan bisa membaca pikiran ku!"


"Iya, aku bisa membaca pikiran kalian semuanya di sini!" serunya licik. "Termasuk kalian bocah kecil!" Pria itu menunjuk membuat, Darla dan Lunna ketakutan dan berlindung di balik tubuh Leon dan Lily.


Sedangkan si kembar, sedari tadi hanya terdiam, tengah mendengarkan dan melihat pria itu dengan intens.


Pria itu menatap tajam.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2