
"Menikah?" Lily mengerutkan dahi, saat ini mereka masih berada di posisi semula.
"Iya menikah. Kita harus segera menikah. Aku tak ingin melakukan sesuatu di luar batas," ucap Leon tegas.
"Di tambah lagi kau sudah merebut ciuman pertamaku!"
"Haaaah! ciuman pertama?" Lily bertambah bingung, bagaimana seorang duda mengatakan bahwa ini adalah ciuman pertamanya.
"Sekrup di kepala mu memang sudah lepas Leon." Lily berdecak dengan kesal.
Leon tertawa terbahak-bahak sambil menggelengkan kepala.
"Apa yang lucu?" Lily memanyunkan bibir.
"Kalau pun memang sudah lepas. Kau bisa memperbaikinya kan?" Leon mengerlingkan mata.
"Kau sungguh aneh Leon." Lily langsung memalingkan wajahnya ke samping. Terlihat jelas rona merah di pipi, dia terpesona dengan wajah Leon yang tertawa lepas. Langka sekali!.
"Leon bisa kah kau menyingkir dari tubuhku."
"Baiklah."
Leon segera beranjak dari posisi. Dia pun membantu Lily untuk bangkit berdiri.
"Awhh!" Lily merasakan sakit di pergelangan kakinya
"Lihat kaki mu sepertinya terkilir. Aku gendong saja."
"Tidak usah Leon. Aku bisa sendiri," ucap Lily sambil menahan rasa sakit di kaki.
Leon menganggukkan kepala. Dia pasrah dengan kemauan wanita yang sudah memporak-porandakan hatinya.
Terlihat Lily kesusahan untuk bangkit berdiri.
"Lily bisakah kau tidak keras kepala!" ucap Leon dengan nada tegas.
Lily menghela napas. "Baiklah."
Leon mengendong Lily dengan sangat hati-hati.
"Di mana kamar mu?" tanya Leon dengan menatap pada Lily.
"Di sana." Tunjuk Lily.
Leon mengantarkan Lily ke dalam kamar, dengan pelan dia membaringkan tubuh Lily di tempat tidur. Leon ingin berlalu pergi sebentar untuk mengambil sesuatu.
Gledarrrrrr.
Suara guntur menggelegar begitu keras.
Lily reflek menarik tangan Leon hingga dia terjembab di atas kasur.
"Leon jangan tinggalkan aku!" pinta Lily dengan suara yang gemetar.
Tubuh Lily terlihat gemetar, Leon yang mengetahui sedikit informasi mengenai masa lalu Lily segera memeluk Lily dan mengelus pelan punggung berusaha menenangkannya.
"Peluklah aku sesuka hati mu." Bisik Leon di telinga Lily.
__ADS_1
"Tidurlah." Bisiknya lagi dengan pelan.
Mendengar perkataan Leon, seketika Lily memejamkan matanya dengan pelan. Dia dapat mencium aroma tubuh Leon yang begitu harum.
Sementara Leon dari tadi menahan diri untuk tak berbuat yang aneh pada Lily. Dia juga seorang laki-laki, tubuhnya bereaksi saat Lily mendekap erat.
"****!"Gumam Leon di dalam hati.
10 menit kemudian.
Terdengar suara dengkuran halus dari Lily. Leon melihat dengan seksama wajah Lily yang tanpa polesan make up. Matanya tak berkedip sedikit pun.
"Cantik."
Leon mengelus perlahan pipi Lily yang begitu mulus. Dia mengecup pelan kening kekasihnya itu. Malam ini Leon sudah memutuskan bahwa Lily sudah menjadi pasangannya.
Mata Leon terasa amat berat perlahan kedua matanya menutup. Dia ikut tertidur di samping Lily, mereka memasuki ruang mimpi bersama-sama.
Jam menunjukkan pukul 5 pagi. Suara jam weker Lily menyala. Lily terbangun dari mimpi. Dia dapat merasakan sesuatu yang berat menimpa tubuhnya. Lily membuka perlahan mata.
Deg.
Lily baru saja tersadar dengan kejadian semalam, dia menepuk kedua pipinya.
"Ya ampun, apakah aku sudah melakukan hal yang salah. Tidak kan. Tunggu dulu bukannya semalam Leon mengajak ku menikah. Kenapa rasanya terlalu cepat." Gumam Lily dalam hati.
Lily melihat dengan seksama wajah Leon. Satu senyuman terbit di bibir Lily. Wajah yang sangat tampan di tumbuhi dengan bulu halus di sekitar rahangnya.
"Kalau di pikir-pikir pertemuan ku dengan Leon. Lucu juga ya." Gumam Lily.
"Sudah puas kau melihat wajahku?" Leon perlahan membuka matanya.
"Kau jangan kegeeran Leon. Aku tadi melihat jam di atas nakas," kilah Lily dengan raut wajah yang gugup.
"Kau sedang menggoda ku ya." Leon tersenyum melihat tingkah Lily.
"Mana ada aku menggoda mu. Aneh se..."
Cup.
Ciuman sekilas mendarat cepat di bibir sexy Lily. Lily langsung menutup wajahnya dengan selimut.
Leon terkekeh pelan. Sepertinya mengerjai Lily menjadi hiburan tersendiri baginya.
Tepat pukul 6 pagi mereka segera beranjak dari tempat tidur. Leon segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Lily pun memasak sarapan untuk dirinya dan Leon.
Sarapan simple yang di masak oleh Lily sudah tersedia di atas meja. Aroma nasi goreng menyeruak ke indera penciuman Leon. Saat ini mereka sedang berada di ruang makan saling duduk berhadapan.
"Kau pandai memasak?" tanya Leon.
"Tentu saja. Aku harus pandai memasak."
Leon tersenyum mendengar perkataan Lily. Anggap saja dia menjilat ludah sendiri karna mengatakan Lily bukan tipenya beberapa hari yang lalu kepada Lunna. Ternyata, Lily bukanlah anak orang kaya yang manja.
"Kenapa kau senyam-senyum?" Lily mengerutkan dahi.
Leon tak menyahut. Dia melihat Lily dengan tatapan kagum.
__ADS_1
"Leon kau benar-benar gila!" sungut Lily karena merasa tak dihiraukan.
"Tidak ada honey. Aku hanya melihat di wajah mu ada bulu mata yang jatuh!"
"Hah. Benarkah?"
Leon menganggukkan kepala. Sementara Lily sibuk menyentuh pipinya. Leon segera mendekat ke arah Lily.
"Honey bukan di situ."
Lily mendongakkan kepalanya ke atas.
"Dimana?" Lily tampak binggung dari tadi dia berusaha menepuk pipi agar bulu matanya jatuh.
Leon segera menangkup pipi Lily dan mengecup perlahan kening.
Blush.
Wajah wanita berparas rupawan tersebut memerah.
"Vitamin kedua agar kau semangat berkerja hari ini." Leon menatap dalam.
.
.
.
"Duh tuan di mana. Kenapa tidak di angkat telpon ku," sungut Lexi sambil memegang handphone di tangan kanan.
Lexi tampak mondar-mandir seperti setrikaan. Dia bingung kemana Leon. Padahal hari ini ada kunjungan penting ke perusahaan KNS Group, tadi malam Lexi mendapatkan informasi dari sekretaris Leon. Jika Leon membatalkan kehadirannya di acara pertunangan pemilik perusahaan tersebut.
"Lexiiiii!" panggil Lunna yang baru saja selesai sarapan ditemani Nannynya.
"Iya Nona." Lexi menghentikan gerakan kaki.
"Daddy di mana?" tanya Lunna.
"Nah aku saja tidak tahu nona. Bisa-bisanya tuan Leon menghilang secara tiba-tiba seperti hantu saja" Gumam Lexi di dalam hati.
"Daddy nona sedang dalam perjalanan pulang." Bohong Lexi, tidak mungkin dia mengatakan sebenarnya kepada Lunna.
"Oh begitu. Memangnya daddy tadi malam kemana?" tanya Lunna dengan wajah imut.
Dia ingat jika tadi malam Leon tak mengunjungi kamarnya. Rutinitas rutin yang di lakukan Leon, membuat Lunna hapal. Walaupun ada perkerjaan bisnis di luar kota tidak lupa Leon memberitahukan padanya melalui Lexi.
Lexi menghela napas berat, menjelaskan pada Lunna harus lebih berhati-hati.
Drrttttt..
Satu panggilan masuk di handphone Lexi. Dia melirik sekilas layar tersebut dan segera mengusap tombol hijau ke samping.
"Tuan," ucap Lexi dengan raut wajah senang.
.
.
__ADS_1
..
Jangan lupa likenya ^_^