Pelangi Untuk Lily

Pelangi Untuk Lily
Chapter 117. Marco Hilang


__ADS_3

"Mommy!" teriak Lunna berlarian cepat menghampiri Lily yang masih berada di ambang pintu.


"Ya, sayang!" Lily menurunkan tubuhnya seraya merentangkan kedua tangan.


Hap.


"Wah Lunna sudah makin berat ya," ucap Lily dengan menggendong Lunna sambil mencium gemas pipi Lunna berkali-kali.


Lunna terkikik geli. "Mom, mana adiknya?" tanyanya penasaran dan tak sabaran.


Lily tak langsung menjawab, ia menoleh kepada Leon yang sedari tadi memperhatikan interaksi antara istri dan putrinya. Kedua pasutri baru itu berbicara melalui gestur tubuhnya.


"Mommm!" panggil Lunna saat ia tak mendapatkan balasan.


"Leon dan Lily masuk lah dulu." Elizabet beranjak berdiri dari atas sofa. Wanita paruh baya itu tengah duduk di ruang keluarga bersama si Kembar, Darla, Breslin, Lexi dan tentu saja ada Hiro.


Leon dan Lily menoleh. Keduanya mengangguk sambil mengayunkan kaki menuju sofa hendak bergabung dengan yang lainnya.


"Mom, adiknya mana?" Lagi dan lagi pertanyaan itu Lunna lontarkan pada Lily.


"Honey," panggil Lily melirik sekilas pada Leon, yang dari tadi mengulum senyum mendapatkan pertanyaan dari putrinya.


"Hmm, adiknya Lunna on proses ya," jawab Leon cepat.


Lunna keheranan, kata baru yang baru saja masuk ke dalam otak kecilnya.


Melihat raut wajah Lunna, Leon dan Lily tanpa sadar menarik nafas panjang.


"Duh pengantin baru, kenapa hanya lima hari Leon?" tanya Elizabet setelah Leon dan Lily duduk berhadapan dengannya. Tampak Lunna berlarian kecil mendekati Darla yang berada di samping Elizabet.


"Menantu Mommy ini yang meminta aku pulang," desis Leon pelan sambil melirik Lily sekilas.


Lily memutar bola mata dengan malas. Bagaimana tidak di sana, Leon selalu menyerangnya tanpa mengenal waktu, dari subuh, pagi, siang, sore, malam, hingga di tengah malam, bisa hancur lama-lama badannya. Kalau pun di sini, setidaknya ada lima kurcaci yang akan mengganggu mereka, pikir Lily, agar terhindar dari suaminya.


"Benar kah, dear?" Elizabet penasaran sebab sebelum keberangkatan Leon ke Honolulu, putranya mengatakan tujuh hari berada di sana.


"Iya, Mom, karena...." ucap Lily lirih, ia tampak berpikir.


"Tidak mungkin aku mengatakan yang sebenarnya pada Mommy kan, itu pasti sangat memalukan!"


"Karena menantu Mommy ini, tidak mampu meladeni kekuatan jagung besar milikku, Mom!" sahut Leon saat perkataan Lily menggantung.


Kedua mata Lily terbelalak, mendengar penuturan suaminya yang tanpa filter itu. "Leon!"


Elizabet malah tertawa pelan saat mendengar perkataan putranya, ia sekarang mengetahui kepulangan mereka ke Los Angeles lebih cepat.

__ADS_1


Lexi dan Breslin sedari tadi yang sedang bermain catur bersama si Kembar, tampak salah tingkah, sedangkan si Kembar, Darla dan Lunna kebingungan.


Lain halnya Hiro sedari tadi ia asik bermain dengan mainan barunya.


"Kau ini, ih!" Lily mencubit lengan Leon lalu mendengus kesal.


Leon terkekeh. "Mau aku makan lagi?" Ia menggoda istrinya itu.


"Tidak mau," ucap Lily tersipu malu, saat manik matanya bertabrakan dengan Elizabet.


Elizabet menggelengkan kepala perlahan sembari mengulum senyum, melihat kemesraan putra dan menantunya.


"Lily, Leon setelah cucu-cucu ku tidur siang, ada yang harus kita bicarakan nanti, ini berkaitan dengan Marco," ucap Elizabet tiba-tiba.


Leon dan Lily menatap satu sama lain sambil mengerutkan dahi, ketika melihat raut wajah Elizabet tampak serius.


***


"Dear, apakah kau tahu mengapa Mommy mu dan Maximus pulang ke Indonesia tanpa menunggu kalian?" tanya Elizabet menatap ke arah Lily. Saat ini pasutri dan wanita paruh baya itu saling duduk berhadapan di ruangan khusus.


"Hmm, kemarin Mommy ku mengatakan ada keperluan mendadak saja, Mom." Lily merasakan ada sesuatu yang tidak beres. "Memangnya kenapa?"


Leon yang berada di samping Lily, menggengam erat tangan istrinya.


Dahi Lily berkerut. "Maksudnya Mom?"


"Dia pergi bersama teman wanita mu itu Lily, pada malam kepergian kalian ke Hawai. Mommy lupa siapa namanya-"


"Yellow, Mom," jawab Lily cepat rasa cemas mulai menjalar di hatinya. "Lalu Mom?" tanya Lily tidak sabaran.


"Honey, tenanglah," ucap Leon sambil mengelus kepala Lily berusaha menenangkan kegusarannya.


"Mami dan papinya sudah menghubungi Marco namun tidak di aktif sama sekali, papi Marco sangat cemas. Kau tahu kan, Marco paling dekat dengan papinya. Dia mengalami stroke, jadi Mommy mu pulang ke Indonesia menemani mami Marco di rumah sakit."


Mendengar penuturan mertuanya, nafas Lily tercekat. Benar dugaannya, ada sesuatu yang janggal saat Daddy Yellow menelponnya, pikiran Lily sudah tak menentu. "Kenapa Mommy tidak mengatakan padaku langsung, Marco sudah ku anggap sebagai keluargaku." Sesal Lily sebab ia terlalu berlarut dalam kebahagiannya. Sampai-sampai lupa dengan orang terdekatnya. Ia berharap Marco baik-baik saja.


"Kami tidak ingin menganggu kalian,dear," ucap Elizabet tak enak hati. Sebenarnya ia mau memberitahu Lily langsung kemarin, namun Anastasya melarangnya.


"Aku akan menelpon Yellow," ucap Lily menyambar ponselnya. Lily semakin gusar saat nomor Yellow pun tidak aktif.


"Honey," panggil Leon sedari tadi dia mendengarkan obrolan Mommy dan istrinya.


"Leon, bagaimana ini, kemana mereka? Jangan-jangan, Daddy Yellow..." ucap Lily lirih, dia bodoh mengapa lupa dengan tingkat keposesifan Daddy Yellow ketua mafia Draglife.


"Tenanglah, aku akan meminta bantuan Montero untuk melacak keberadaan mereka," tutur Leon sambil menatap lekat kedua mata istrinya.

__ADS_1


'Tapi Leon, Daddy Yellow sangat berbahaya, aku takut jika Marco kenapa-kenapa?"


Leon segera merengkuh Lily dan membawanya ke dalam pelukkannya.


***


Kamar Leon


Lantai tiga.


"Bagaimana Rey?" tanya Leon kepada Rey di ujung sana.


"Posisi terakhir Marco di Moskow," sahut Rey cepat, ia tengah mengutak-atik keyboard miliknya. Tampak layar monitor menampilkan jejak terakhir lokasi Marco berada.


Leon tertegun sejenak. "Baiklah, hubungi Barbossa. Minta bantuan padanya, aku yakin Barbossa mengenali Tuan Fernandez."


"Siap King."


Tut.


Panggilan dimatikan.


"Honey, Barbossa siapa? Lalu di mana Marco?" Cecar Lily beruntun. Ia baru juga saja selesai menghubungi Mommynya menanyakan kabar tentang kedua orangtua Marco.


"Temanku, Honey. Posisi terakhir Marco di Moskow," ucap Leon pelan.


Mendengar penuturan Leon, Lily semakin gundah gulana. Ia yakin seribu persen yakin, bahwa dalang di balik hilangnya Marco adalah Daddy Yellow, Sebastian Fernandez.


"Honey, bagaimana kalau kita ke Moskow," cetus Lily tiba-tiba.


"Tidak! Kita cukup memantaunya dari sini. Percayalah padaku, biarkan Marco menyelesaikan masalah percintaannya sendiri, Honey. Kita cukup mendoakan agar Marco dan Yellow baik-baik saja. Besok Marco pasti bisa dihubungi lagi," tutur Leon membuat Lily terdiam benar yang dikatakan suaminya, ia berharap agar kedua temannya itu tidak mengalami sesuatu hal yang buruk.


**


Di lain tempat.


"Daddyyy!! Buka pintunya, aku mohon!!!" Yellow mengedor-gedor pintu dari dalam ruangan sambil terisak.


"Dadddyy!! Aku membencimu!!!" raung Yellow histeris sambil merosot ke bawah, ia sudah terlihat kacau dan lelah karena menangis sedari malam.


"Marco..." ucap Yellow lirih dengan kedua mata yang menganak sungai. Ia memeluk kedua kakinya sambil menangis tersedu-sedu.


.


.

__ADS_1


__ADS_2