Pelangi Untuk Lily

Pelangi Untuk Lily
Chapter 47. di Balik Layar (3)


__ADS_3

"Menurutku Leon orang yang baik, Jo. Kau juga tahu kan latar belakang keluarganya. Jangan kau risaukan pilihan Lily. Aku yakin dia sudah belajar dari masa lalunya." Fabio menatap lekat sahabatnya itu. Dia tahu keresahan yang dirasakan oleh Jonathan saat ini. Mengingat dulu dia telah salah mengambil keputusan dengan menitipkan putri sulungnya, kepada pria bejat yang tak bertanggung jawab.


Jonathan menghembuskan napas dengan pelan. Dia memejamkan sesaat kedua matanya. Dia takut salah mengambil langkah, Jonathan sudah mengetahui latar belakang Leon.


Leon merupakan anak bungsu dari Simon Andersean, salah satu konglomerat di negeri raksasa yang memiliki kekuasaan dan kekayaan melimpah. Simon adalah pesaing bisnis Jonathan kala itu.


"Jo, aku yakin Leon bisa menjaga Lily dan si Kembar," ucap Fabio lagi saat melihat kegundahan yang terpampang di raut wajah Jonathan.


"Baiklah, aku mempercayaimu." Jonathan bangkit berdiri, dia berjalan ke arah jendela. "Aku hanya tak mau, anakku disakiti lagi untuk kedua kalinya. Kau tahu sendiri, aku sudah semakin tua. Waktu ku..... "


"Bisakah kau diam, Jo!" sela Fabio. Dia tak mau mendengar perkataan sahabatnya yang terlalu berlebihan, menurutnya itu. "Aku juga akan menjaga, Lily dan anak-anakmu. Kau tahu sendiri kan mereka sudah kuanggap sebagai anak ku juga, jika terjadi sesuatu di luar kendali kita. Aku pasti akan melindungi mereka Jo," tutur Fabio dengan cepat.


"Terimakasih Fabio," ucap Jonathan sambil memutar kepalanya ke belakang menatap ke arah Fabio. "Maafkan aku terlalu berlebihan, aku hanya takut saja. Karena perbuatanku dimasa lalu membuat orang yang ku sayangi terluka."


"Ya aku tahu itu, yang terpenting kau sudah menyesali perbuatanmu Jo," tutur Fabio seraya membuang napas dengan pelan.


Jonathan membalas perkataan Fabio dengan menganggukkan kepala. "Bagaimana pergerakan Arnold, apa yang dia lakukan sekarang?" tanya Jonathan secara tiba-tiba, sembari kedua matanya kembali menatap ke luar jendela.


"Menurut pantauan tim Wolfi, dia masih berada di mansion dan tidak keluar dari sana. Beberapa hari yang lalu ada sesuatu yang mencurigakan terjadi di mansion." Fabio masih duduk di sofa dengan menatap ke arah Jonathan.


"Mencurigakan?" Jonathan mengernyitkan dahi.


"Apakah berhubungan dengan Lily?" tanyanya penasaran.


"Tidak, Jo."


"Hmm, pantau terus pergerakan bedabah itu." Jonathan menatap lurus dengan raut wajah yang dingin. Posisi tubuhnya masih berada di dekat jendela.


Semenjak kejadian 3 tahun yang lalu, Jonathan langsung bergerak cepat dengan membuat perusahaan kecil yang didirikan Arnold menjadi bangkrut.

__ADS_1


Namun siapa sangka, dalam waktu 3 bulan saja perusahaan Arnold kembali bangkit dan berkembang pesat hingga saat ini. Jonathan tentu saja bingung, mengapa Arnold dengan mudah bisa kembali dari keterpurukannya.


Semula Jonathan ingin membalas perbuatan Arnold yang membuat Lily dan Kendrick terluka. Namun Anastasya mengatakan bahwa kita tak boleh membalas kejahatan dengan kejahatan, biarkanlah kita balas dengan kebaikan dan pengampunan.


Jonathan pun menuruti perkataan istrinya, asalkan Arnold tak membuat ulah lagi.


Jonathan melindungi Lily dan si Kembar tanpa sepengetahuan mereka, sebab dia takut Arnold akan menyakiti mereka lagi. Ketika Lily dan si Kembar berada di Moskow, Jonathan tetap menempatkan pengawal bayangan yang selalu berada di sisi mereka. Walaupun jarak yang terbentang sangat jauh, dia tak akan lengah.


Saat putri sulung dan cucunya kembali ke Indonesia. Tim Wolfi selalu memantau pergerakan mereka, dari bandara hingga tiba di mansion.


Ketika berada di Mall pun tim Wolfi tak pernah melepaskan pandangan matanya. Tim Wolfi setiap saat akan melaporkan apa saja yang mereka lakukan. Ketika insiden Kendrick dan Darla yang berada di dalam toilet pun mereka juga mengikuti keduanya dengan jarak yang cukup aman.


√ Lihat chapter 04. Mal Marq. Jonathan adalah pria yang merokok dan sedang menelpon tim Wolfi.


Akan tetapi, beberapa hari yang lalu Jonathan mendapatkan informasi dari Lily bahwa Arnold yang telah bersengkokol dengan Pablo.


Arnold menjual data perusahaan Co. Marq kepada teman lama sekaligus musuhnya itu. Dia tak habis pikir, mengapa Pablo masih saja menyimpan dendam kepadanya. Namun, Jonathan merasa senang berkat kepintaran Lily yang bisa mengetahui dengan cepat siapa dalang di balik kekacauan perusahannya tersebut.


Jonathan menoleh ke arah Fabio. "Iya, aku juga baru tahu akhir-akhir ini." Jonathan mengusap wajah keriputnya itu dengan kasar.


"Jo, jangan kau pikirkan. Karena itu malah lebih bagus sebagai pertahanan diri Lily," jelas Fabio berusaha memberikan pengertian.


"Iya kau benar, seharusnya aku tak meredam kemampuannya."


"Bukankah, Lily seperti mendiang ibumu dulu Jo," tutur Fabio dengan cepat sembari tersenyum simpul, saat mengingat wanita yang dianggap dulu sebagai ibu.


"Iya kau benar sekali, tapi kau tahukan ibuku dulu itu bar-bar sekali." Jonathan terkekeh pelan. Dia jadi teringat mendiang ibunya yang sudah berpulang ke pangkuan Sang Pencipta.


"Fabio aku memintamu untuk mengawasi terus pergerakan Lily dan si Kembar, aku tak ingin mereka terluka kembali. Kau tahu sendiri kan, Arnold pasti akan beraksi ketika mengetahui rencananya untuk membuat perusahaanku hancur telah gagal. Segera lakukan audit minggu depan," pungkas Jonathan sembari berjalan pelan keluar dari ruangan.

__ADS_1


Fabio bangkit berdiri dengan cepat seraya menganggukkan kepalanya. Dia segera mengambil ponsel yang berada di saku celana dan menekan pelan di layar smartphone itu.


"Max, temui aku di cafe Helios sekarang!" Perintah Fabio dengan cepat.


"Baik Dad," ucap Maximus dengan sigap di sebrang sana.


"Sekarang!" ucap Fabio lagi, pasalnya Maximus selalu saja mengerjai dirinya.


Beberapa hari yang lalu, dia harus menunggu anaknya itu sekitar 5 menit. Dia tak bisa mentolerir keterlambatan Maximus. Bagi Fabio waktu adalah segalanya. Fabio segera mematikan sambungan tersebut. Dia segera berjalan cepat keluar dari ruangan dan meninggalkan markas Q.


Tiga puluh lima menit kemudian, Fabio sudah tiba di cafe Helios. Dia melangkahkan kedua tungkai kakinya dengan cepat ke dalam cafe. Dia menelisik Maximus, tak perlu lama dia menemukan keberadaan anaknya itu.


"Max,"sapa Fabio saat sudah berada tepat dihadapan Maximus.


"Iya, taruh saja minumannya di atas meja," ucap Maximus tanpa melihat ke arah panggilan tersebut. Dia sedang asik bermain game kesayangannya di ponsel.


Mendengar perkataan Maximus, Fabio melototkan kedua matanya.


"Anak lucknut, enak saja mengatai aku ini pelayan. Kalau bukan anakku mungkin sudah ku buang ke laut."Gumam Fabio dalam hati sambil menatap tajam ke arah Maximus. Namun Max tak bergeming dari posisi semula. Tampak layar smartphone itu menampilkan game PUBG.


Fabio dengan cepat menjewer satu telinga Maximus.


"Awh!" Ringis Maximus sembari mengangkat wajahnya. Kedua mata berwarna hazel itu terkejut melihat keberadaan ayahnya, yang tak tahu sejak kapan berada di depannya.


"Kenapa kau menjewer telingaku Dad?" tanya Maximus dengan raut wajah meringis kesakitan, sembari tangan kanannya meletakkan ponsel di atas meja.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2