
Tanpa terasa hari berganti hari, semenjak pertemuan pertama Leon dan si Kembar. Dia menawarkan diri kepada Lily untuk menjemput mereka di sekolah. Dia sangat menikmati kegiatan barunya itu.
Pria itu ingin mengenal lebih dekat lagi calon anaknya. Beberapa hari yang lalu, Lily juga menceritakan semua masa lalunya kepada Leon, tanpa satupun yang terlewatkan.
Sebenarnya Leon sudah mengetahui mengenai kisah Lily dan anaknya dari orang kepercayaannya. Namun dia ingin mendengarkan secara langsung penjelasan dari kekasihnya tersebut.
Tidak lupa juga, Lily menceritakan perihal pengasuh si Kembar, yang merupakan kaki tangan mantan suaminya. Leon merasa sangat kesal, saat Lily mengatakan bahwa dia melepaskan begitu saja pengasuh si Kembar.
Namun Leon berusaha memahami keputusan Lily. Dia sangat yakin, jika Lily mempunyai seribu satu cara, untuk menghadapi masa lalunya. Dia tak habis pikir, mengapa Arnold masih saja mengusik kehidupan Lily. Padahal mereka sudah lama berpisah, entah apa yang diinginkan Arnold dari Lily.
Leon berharap, Lily dan si Kembar baik-baik saja, dia akan berusaha melindungi mereka.
Dia mengantisipasi keselamatan kekasih dan calon anaknya itu, dengan menempatkan pengawal bayangan di apartement Lily, walaupun dia tahu calon mertuanya, juga memantau pergerakan putri sulung dan cucunya itu. Namun, dia tak mau lengah. Karena dia yakin sekali, jika Arnold pasti akan mencari celah untuk menyakiti mereka.
Di sore minggu ini, Leon menyempatkan diri untuk mengajak Lily, si Kembar dan Lunna, bersantai sejenak di taman kota.
Tampak keempat bocah kecil, sedang bercengkrama di bawah pohon sembari duduk di ayunan kayu. Sementara Leon dan Lily yang berada tak jauh dari mereka, sedang duduk tenang di bangku memperhatikan interaksi keempat buah hatinya dengan seksama.
"Kak Ken, Lunna mau minta di ayunin," pinta Lunna dengan menunjukkan wajah puppy eyesnya.
"Baiklah," ucap Kendrick dengan raut wajah datar. Kendrick dengan cepat berdiri di belakang Lunna sembari kedua tangannya mengambil alih tali yang menjuntai di ayunan tersebut. Dia segera menggerakkan ayunan dengan pelan.
"Manja banget sih, Lunna," cetus Nickolas dengan ekspresi mengejek, sedari tadi dia berada di belakang Samuel mendorong bangku ayunan untuk adiknya itu.
"Memangnya ngak boyeh apa?" Lunna melototkan kedua matanya ke samping sembari melipat kedua tangan mungilnya di dada.
"Tentu saja, tidak boleh. Lunna sudah besar jadi tidak boleh manja," ucap Samuel menimpali saudara kembarnya, sembari melirik sekilas ke samping.
"Ih tapi kata Daddy, Lunna masih kecil kok," protes Lunna, tampak kedua matanya sudah mulai berkaca-kaca.
"Yah, Lunna cengeng. Cewek ngak boleh cengeng," ucap Samuel. Dia sangat suka mengusili Lunna, entahlah dia merasa senang jika melihat Lunna kesal. Biasanya dia akan mengerjai Darla, namun sepupunya itu saat ini sedang berada di Australia. Mau tidak mau, dia harus menyalurkan hobinya itu kepada Lunna.
__ADS_1
"Tapi kata Daddy, cewek ngak apa-apa kok cengeng. Yang ngak boyeh cengeng itu cowok tau!" Lunna tak mau kalah, dia menatap tajam Nickolas dan Samuel secara bergantian.
"Daddy Lunna bohong!" seru Nickolas menimpali sembari menatap ke arah Lunna.
"Ih seram banget, jadi takut," ejek Samuel dengan mengangkat sedikit sudut bibirnya.
"Iya seram, kayak nenek lampir kan Sam?" Kedua tangan Nickolas tiba-tiba berhenti mengayun. Karena pada hitungan ketiga pasti Lunna akan bereaksi, tebaknya.
"Satu, dua, ti.... ."
Gumam Nickolas dan Samuel didalam hati secara bersamaan. Namun belum sampai pada hitungan ketiga, Lunna sudah memberikan respon terhadap perkataan mereka.
"Lunna bukan nenek lampil!" teriak Lunna dengan lantang sembari turun dari ayunan tersebut. Tampak kedua tangannya terkepal dengan erat di samping tubuhnya. Suara Lunna yang lantang, membuat burung-burung yang berada diatas pohon berhamburan keluar dari tempat persembunyian.
"Nenek lampir," ejek Nickolas dan Samuel sembari menjulurkan lidah.
"Lunna bukan nenek lampil, aku akan membeli kalian pelajalan!" Kedua tangannya masih tak bergeming masih di posisi semula. Napas Lunna memburu, enak saja Nickolas dan Samuel mengatai dirinya nenek lampir. Padahal dia adalah wanita yang paling cantik di taman saat ini, pikirnya.
"Haaaaaaa, awas kalian akan aku tinju!" teriak Lunna lagi dengan lantang sembari menggapai tubuh Nickolas dan Samuel.
Namun, Nickolas dan Samuel dengan sigap berlari menjauh ke arah pohon. Mereka berlari memutari pohon, Lunna tak mau kalah, dia pun ikut mengejar mereka dengan tangannya yang terkepal kuat. Akhirnya aksi kejar mengejar itu pun terjadi.
"Awas kalian, akan ku cincang!" teriak Lunna lagi dengan berapi-api sembari kedua kakinya terus berlari, mengejar Nickolas dan Samuel.
Kendrick sedari tadi hanya diam, dia tak ingin ikut campur dengan urusan saudara kembarnya. Dia tak mau bertingkah seperti ketiga bocah kecil tersebut.
Kendrick menghela napas dengan pelan, saat melihat ketiga bocah kecil itu saling mengejar satu sama lain, mengitari pohon. Lantas dia pun mendudukkan bokong mungilnya itu diayunan kayu.
Dia menatap lurus kedepan, melihat Leon dan Lily yang sedang duduk bersama sambil menatap juga ke arahnya berada. Satu senyuman terbit di wajah Kendrick.
Leon dan Lily dari kejauhan melihat dengan seksama, interaksi ketiga bocah kecil yang sedang berlari memutari pohon besar. Mereka terkekeh pelan saat melihat tingkah ketiganya.
__ADS_1
Tampak satu orang pria yang sudah tua, berada di balik pohon yang berada tak jauh dari keenam orang tersebut. Pria itu dengan cepat mengambil ponsel yang berada di saku celananya. Dia mengusap layar ponsel dan tampak menekan nomor handphone.
"Tuan, situasi terkendali," ucapnya dengan pelan kepada seseorang di sebrang sana.
"Baiklah, Fabio cepatlah kemari. Ada yang ingin ku tanyakan." Jonathan segera memutus sambungan telepon tanpa mendengarkan jawaban dari tangan kanannya itu.
Fabio menoleh sekilas ke arah pengawal Leon yang berada 3 meter darinya, yang juga sedang memantau aktivitas putri sulung, Jonathan. Dia menghela napas dengan pelan. Fabio segera berlalu pergi dari taman kota.
Kurang lebih 25 menit, Fabio sudah sampai di markas Q, yang berada di tengah hutan belantara. Tampak pengawal berdiri tegap di gerbang pintu masuk. Saat melihat mobil bermerk mewah berwarna hitam, mereka membuka gerbang dengan cepat. Mobil itu berhenti di tempat itu dengan pelan. Fabio segera turun dari mobil. Kedua tungkai kakinya berjalan dengan pelan ke ruangan Jonathan berada.
Tap.. tap.. tap.
Jonathan sedang berdiri tegap, menatap ke luar jendela, sembari menghirup sepuntung rokok. Tampak asap mengepul di dalam ruangan. Saat mendengar suara derap langkah kaki mendekat, dia menoleh sekilas. Dia pun segera membuang rokok itu tepat di bawah kakinya dan menginjak rokok tersebut menggunakan kaki kanannya.
"Duduklah," ucap Jonathan sembari berjalan pelan ke arah sofa berwarna coklat. Dia segera duduk di sofa yang tersedia di dalam ruangan.
Fabio menuruti perintah sahabat sekaligus atasannya tersebut. Dia mendudukkan bokongnya dengan pelan.
"Fabio bagaimana pendapatmu mengenai Leon?" tanya Jonathan to the point, sembari menatap lekat Fabio.
.
.
.
.
***
Maafkan kak Nana, yang selalu update chapter malam-malam. Dikarenakan kondisi Nana yang beberapa hari ini sedang sakit, jadi updatenya terlambat. Nana akan mengusahakan untuk update ya walaupun tidak rutin.
__ADS_1
Jangan lupa tekan like, komentar dan favoritnya. Biar kak Nana semakin semangat updatenya.