Pelangi Untuk Lily

Pelangi Untuk Lily
Chapter 73. Pasutri Gaje dan Tiga Kurcaci


__ADS_3

***


Beberapa jam yang lalu.


Kediaman Marques.


"Maximuuuuuuuuuuuuuusssssss!!" teriak Fabio nyaring dan menggelegar di seluruh ruangan mansion.


Para asisten yang di berada di mansion terlonjak kaget, saat mendengar suara yang menggema kuat.


Supir yang sedang duduk, sambil meneguk kopi tersedak hingga membuatnya terbatuk-batuk.


Mang bebet yang hendak menyiram tanaman kesayangan Anastasya, tanpa sengaja mengarahkan selang air ke atas sangkar burung beo, menyebabkan Mang bebet di sumpah serapah oleh sang burung.


"Mang Bebet burungnya lemah! Mang Bebet burungnya lemah!"


Perkataan itu di ulang-ulang oleh burung beo. Yang mengajarinya tentu saja Maximus, siapa lagi!


"Kutu kupret!" Kesal Mang bebet sambil menatap tajam si beo.


Bernadet dan beberapa temannya yang berada di dapur mengelus dadanya. Mereka hampir saja spot jantung di tempat!


Anastasya berjalan cepat menuju ruang tengah sebab dia juga ikut terkejut saat memoles bibirnya dengan lipstik, membuat hasil karyanya berantakan.


"Fabio kenapa kau berteriak?!" Anastasya menatap tajam pada kaki tangan mendiang suaminya.


Fabio bangkit berdiri dan menyembunyikan sebuah kertas di belakang tubuhnya.


"Eh tidak tid-ak Nyon-ya."


Fabio tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya. Penyebab dia berteriak gara-gara Maximus dan Marco membawa si Kembar pergi ke Los Angeles tanpa sepengetahuannya.


Yaps, Fabio membaca surat dari Maximus hendak menyusul Lily dan Leon ke sana.


Fabio naik darah dengan kelakuan anaknya yang bertindak semau hati.


Pasalnya Lily berpesan kepadanya untuk jangan memberitahukan kemana Lily pergi kepada si Kembar dan Mommnya. Lily tidak mau Anastasya kepikiran dengan cucunya yang di culik. Mengingat kesehatan Anastasya semakin menurun semenjak kepergian Jonathan.


Fabio pun menyetujui permintaan Lily. Dia berbohong pada Anastasya bahwa Lily mengajak Darla keluar kota untuk menghibur cucunya. Anastasya mangut-mangut mendengar penjelasan Fabio, dia tidak banyak bertanya.


"Fabio, kenapa kau melamun?" Anastasya menjentikkan jari sambil menaikkan sebelah alis matanya.


"Tidak, Nyonya!"


Fabio menyembunyikan kegusarannya sambil mengatur ritme pernapasan.


"Lalu kenapa kau berteriak! Kau tidak lihat lipstik ku yang pernah di belikan Jo tempo lalu, berantakan!"


Anastasya menunjukkan wajahnya itu sambil melototkan mata.


Fabio menggelengkan kepala dengan menahan senyumnya saat melihat muka Anastasya seperti onde-onde.


"Ckkk!" Anastasya berlalu pergi meninggalkan Fabio.


Setelah punggung Anastasya menghilang dari pandangannya. Fabio dengan sigap mengambil ponselnya dan menghubungi nomor Maximus, Lily, dan Leon secara bergantian. Namun tidak ada satupun yang mengangkat teleponnya.


"Argggghhhh!" Fabio frustasi seraya mengacak-acak rambutnya.


***


Los Angeles.


Bandara LXO.


Maximus tiba-tiba menghentikan langkah kakinya, telinganya berdengung sejenak. Maximus merasa ada seseorang berteriak kepadanya. Seketika dia merinding disko!


Bugh.


"Aduh, you jangan asal berhenti donk!" seru Marimar karena dia menabrak tubuh belakang Maximus. Marimar merapikan pakaian dan tas pinky kesayangannya.


Maximus memutar tubuhnya dan melototkan mata pada Marimar.


"Ih syerem deh! Eyke takut. Tapi bohong!"


Marimar berjalan cepat ke depan dengan melengak-lengokkan tubuh gemulainya.


Maximus jengah terhadap tingkah Marimar, dia mengetatkan rahangnya dengan mengepalkan kedua tangannya.

__ADS_1


"Max!"


Kendrick menegur Maximus yang terlihat seperti kepiting rebus. Sepertinya tengah menahan amarah.


"Eh iya," ucap Maximus segera tersadar, secepat kilat pria blasteran itu merubah ekspresi wajahnya.


"Jangan melamun, ayo cepat kita harus keluar dari Bandara!"


Kendrick berjalan tergesa-gesa beriringan dengan Nickolas dan Samuel. Tiga kurcaci inilah pelaku di balik pelarian ke Los Angeles.


Si kembar merasa janggal dengan penjelasan Fabio yang mengatakan Lily dan Darla berlibur ke Kota.


Samuel pun bertanya kepada Maximus untuk memastikan praduganya. Semula Maximus mengelak namun berkat kelicikannya. Samuel mengancam akan menyebarkan video yang pernah di rekamnya tempo lalu, ketika Samuel tanpa sengaja memergoki Maximus sedang berbuat tidak senonoh di dalam kamar. Mau tidak mau, Maximus pun berkata jujur.


Setelah mendengar penjelasan Maximus. Si kembar memutuskan untuk menyusul Lily dan Leon. Bermaksud membantu mereka mencari Darla dan Lunna.


Si kembar mengajak Maximus pergi ke Los Angeles. Maximus pasrah dengan kemauan si Kembar. Marimar yang sengaja menguping obrolan mereka, tentu saja harus ikut dengan alasan menjaga si Kembar di sana.


Di sinilah mereka berada menyamar sebagai pasangan suami istri beserta tiga anak tirinya.


"Ecus mi!" seru Marimar ketika hendak melewati pintu pemeriksaan sebab di depannya ada wanita berambut kuning menghalangi jalannya.


"Excuse me!" Kendrick membenarkan perkataan Marimar.


"Aaa iya iya. Ecus mi! Apa lah itu pokoknya ecus mi!"


Kendrick menepuk keningnya sambil menghela napas.


Sekitar sepuluh menit lamanya akhirnya mereka keluar dari pelataran bandara.


"Sekarang kita ke mana?"


Marimar mulai bertanya sebab dia bingung kemana tujuan mereka. Mengingat salah satu dari mereka tak ada seorang pun yang tahu di mana keberadaan Lily dan Leon.


"Kita ke pusat kota saja dulu! Katanya ada parade!" jawab Samuel cepat. Dia ingin menikmati keramaian acara di Los Angeles.


"Kalian ini sebenarnya mau liburan atau mau mencari Darla, sihhh!?"


Marimar keheranan mendengar jawaban Samuel yang melenceng dari tujuan.


"Sambil menyelam minum air!" seloroh Nickolas melirik sekilas pada Marimar.


Kurang lebih 30 menit lamanya.


Kendaraan roda empat itu berhenti di area pemberhentian. Kelima orang manusia yang berada di dalam mobil menyembul keluar.


Mereka memutuskan untuk mengisi kampung tengah dahulu. Sebelum mulai menghubungi Lily ataupun Leon.


Restaurant Black Sunset.


"Ahh tidak ada nasi!" Keluh Marimar saat melihat daftar menu yang menampilkan makanan western food.


"Makan burger saja!" Maximus melototkan kedua matanya pada Marimar.


"Cihhhh, menyebalkan!" Marimar berdecak kesal sambil mengerlingkan mata.


"Ah sudahlah! Kalian ini seperti pasangan suami istri saja!"


Samuel jengah dengan tingkah dua pria di hadapannya.


"Ihh amit-amit jabang bayi!" Marimar bergedik ngeri.


"Siapa juga mau sama alien seperti diri mu. Aku masih normal!" Maximus menaikkan dagunya.


"Kau!" Marimar beranjak dari tempat duduknya.


Pengunjung di restaurant menatap keheranan pada Marimar.


"Mar, duduk!" perintah Kendrick tegas. Ekor matanya melihat pengunjung yang memandang aneh pada pria gemulai itu.


Marimar menghela napas kemudian mengayunkan kakinya tanpa melihat ke depan, sebab matanya tengah menatap tajam Maximus.


Bruk.


"Awh!"


Wanita berambut pendek mengaduh kesakitan karena Marimar menabrak dirinya.

__ADS_1


"Oh my God. Maafkan aku!" Marimar memohon maaf, dia tidak sengaja.


"Kau tak apa?" tanya pria tua yang sepertinya suami wanita itu. Pria tua itu terlihat cemas kemudian dia mengalihkan pandangan pada Marimar. Seketika matanya menyala.


"Maafkan dia, Mam, Sir! Apakah ada yang terluka?"


Kendrick yang melihat keteledoran Marimar dengan sigap menghampiri Marimar. Kendrick kecil mendongakkan kepalanya ke atas seraya menatap datar pada lawan bicara.


Seketika raut wajah pria itu berubah, melihat bocah kecil di depannya.


"Bagaimana Elizabet, apakah tubuh mu terluka?" tanyanya pada sang istri.


"Tidak apa-apa," ucapnya dengan pelan. Tampak sang istri mengulum senyum melihat kesopanan Kendrick.


"Sekali lagi kami meminta maaf!"


Sang istri dan pria itu menganggukkan kepala seraya tersenyum simpul.


"Baiklah, kami permisi dulu! Ayo Mar!" Kendrick menoleh sekilas pada Marimar yang sedari tadi terdiam.


Keduanya pun berlalu pergi meninggalkan pasangan suami istri yang sudah tua itu.


"Lucu sekali pria kecil itu, Simon," ucap Elizabet tiba-tiba tanpa melepaskan pandangan matanya dari Kendrick.


"Kau masih marah pada ku?" tanya Simon sebab istrinya dari tadi mendiamkannya.


"Tentu saja, aku masih marah! Minggir kau!" Elizabet mengibaskan tangan Simon yang tengah merangkul dirinya.


***


Selesai dengan aktivitasnya, kelima manusia berbeda generasi itu, pergi menuju pusat kota.


Si Kembar dan Marimar tampak menikmati parade di jalanan. Lain halnya dengan Maximus, dia lebih banyak terdiam.


"Kak kita ke sana yuk!" ajak Samuel saat melihat kelinci di kawasan tersebut.


Kendrick dan Nickolas mengangguk setuju.


Sesampainya di tempat tujuan, mereka menyentuh dan mengelus perlahan hewan mungil itu.


Samuel menggendong kelinci dengan pelan. Namun tiba-tiba kelinci itu melompat-lompat. Samuel pun mengejarnya dan berhasil menangkapnya.


"Ngikkkkk!" Seketika suara lengkingan kuda memekakkan telinganya.


Masa sekarang.


"Samuellllllllll!" jerit seseorang memanggil namanya.


Lantas Samuel membalikkan badannya, dia sangat tidak asing mendengar suata tersebut. "Mommyyyyy!"


"Kenapa kalian bisa di sini?!"


Lily turun dari kudanya dan menghampiri Samuel sembari menelisik tubuh putra bungsunya.


"Mom, Sam kangen!" seru Samuel sambil memeluk kaki Lily.


Lily menghela napas. "Kalian bersama siapa ke sini?" tanyanya serius.


"Hehehehe." Samuel terkekeh pelan dengan mendongakkan kepalanya ke atas.


"Nyonya!" panggil Maximus dari arah samping.


Lily mengalihkan pandangan dan menatap tajam Maximus. "Aku butuh penjelasan Max!"


Maximus tak langsung menjawab,dia tampak salah tingkah.


"Nyonya Lilyyy!" panggil Breslin dia baru saja tiba, entah dari arah mana.


"Iya ada apa?"


Lily terkejut melihat penampilan Breslin yang kacau dan berantakan.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2