Pelangi Untuk Lily

Pelangi Untuk Lily
Chapter 83. Bad Blood


__ADS_3

***


Di lain tempat.


"Apakah kalian mau cepat mati ha!?" tanya Pablo murka, sebab apa yang diinginkannya tak dapat di wujudkan oleh anak buahnya. Pasalnya Pablo mengulur waktu untuk mencari keberadaan Darla dan Lunna yang sampai sekarang tak dapat di temukan.


"Kami sudah mencari ke setiap sudut kota, Mister! Tapi tidak ada tanda-tanda dari kedua bocah itu," jawab salah satu anak buah Pablo cepat. Tubuhnya gemetar hebat sebab ia merasa ajalnya semakin mendekat.


"Dan kalian menyerah ha?! Kalian semua tidak becus berkerja!!!!" murka Pablo, kedua matanya berkilat menyala. Rahang pria tua itu mengeras sehingga menampakkan urat-urat di sekujur lehernya. Dia menatap dingin dan tajam pada anak buahnya. "Rodrigo!! Ambilkan aku pistol!!" pintanya nyaring pada tangan kanannya.


Gleg.


Lima anak buah Pablo menelan ludahnya dengan kasar. Swedish pasrah tak tahu harus berbuat apa. Ini kesalahan mereka sebab tak becus menjalankan perintah. Seketika telapak tangan mereka berkeringat dingin.


Rodrigo memberikan senapan berlaras pendek pada Pablo. "Mister," ucapnya pelan sembari menunduk sedikit.


Rodrigo menatap datar Swedish yang berada di hadapannya. Kemudian pria itu memundurkan langkah kakinya perlahan ke belakang dan berdiri tegap di dekat dinding ruangan. Entah apa yang ada di dalam pikiran pria berkulit hitam itu, dia seperti patung manekin yang tak bernyawa.


"Kalian tahu kan! Apa hukuman yang pantas untuk orang yang tidak bisa menjalankan tugas dari ku!!!" seru Pablo menyeringai licik sambil mengelus pistol berwarna emas miliknya.


"Aku masih berbaik hati memberikan kalian waktu mencari dua bocah itu!" ucapnya lagi dengan memberikan setengah senyum.


Detik kemudian.


Dor.


Dor.


Dor.

__ADS_1


Dor.


Dor.


Pablo membidik tepat di kening kelima anak buahnya dengan satu kali tembakan pada setiap kepala, sehingga mereka tewas di tempat.


Seketika senyuman Pablo memudar. Pria itu mengusap percikan darah di wajahnya dan meludah ke sembarang tempat.


Cuih.


"Rodrigo!" panggilnya nyaring tanpa menatap lawan bicaranya.


"Yes, Mister!" sahut Rodrigo cepat seraya mengangkat kepala, memandang lurus ke depan.


"Panggil Arnold! Sekarang!!!" Titahnya menyeringai licik.


"Baik Mister,' ucap Rodrigo pelan dengan mengayunkan kakinya keluar ruangan.


"Ada apa Uncle?" tanya Arnold yang baru saja masuk ke dalam bilik. Dia membuang sepuntung rokok di lantai dan menginjak benda itu dengan cepat.


Pablo membalikkan badannya. "Jalankan rencana cadangan kita selanjutnya!" perintah Pablo, menatap datar pria di depannya.


Arnold terkekeh pelan. "Sepertinya kau akan membuat mereka menangis darah Uncle! Baiklah, sesuai permintaan mu!" cetus Arnold membuat Pablo tersenyum penuh arti.


"Jangan sampai gagal! Jika kau melenceng dengan apa yang ku suruh! Aku akan membunuh mu!" Pablo tak ingin rencananya berubah.


Seperti tempo lalu, saat Arnold tidak menuruti perintahnya. Arnold menghabisi Jonathan terlebih dahulu tanpa persetujuan darinya. Keponakan atau bisa di katakan anaknya itu bertindak sesuka hati dan tidak mengindahkan perkataannya.


Pablo tentu saja naik pitam, sebab rencana yang telah di susunnya, tidak sesuai keinginannya. Dia tentu saja ingin membunuh Jonathan, dengan tangannya sendiri. Namun takdir berkata lain, musuhnya tewas di tangan anaknya.

__ADS_1


"Tenang saja Uncle, aku akan menjalankan apa yang kau titahkan kepada ku!" seru Arnold sambil berkacak pinggang.


"Jangan sampai kau gagal!" Ancam Pablo sambil tersenyum sinis.


"Tidak akan, rencana mu kali ini akan berjalan mulus, dan berhasil!" seru Arnold dengan melemparkan senyuman licik pada Pablo.


"Lakukan dengan cepat! Kita ketemu di Saint Clara!"


"Yes, Uncle!" sahut Arnold sambil memperhatikan tubuh Swedish yang sudah tak bernyawa di lantai. "Uncle, kenapa tidak mengajak ku bermain!" serunya.


"Cihh, aku ingin bersenang-senang sendiri. Sama seperti diri mu!" Pablo melebarkan matanya.


"Haha, ternyata kau dendam pada ku! Baiklah,' ucap Arnold sambil berjongkok dan menyentuh salah satu mayat Swedish. "Mau di apakan mereka?" tanya Arnold datar.


"Mutilasi saja!"


Arnold mengangguk paham.


"Aku pergi!" pungkas Pablo seraya mengayunkan kaki ke ambang pintu.


.


.


.


.


Setelah membaca mohon tekan like, hadiah, vote atau komentar ya.

__ADS_1


Terimakasih untuk readers setia dan readers silent hehe.


__ADS_2