
***
Media masa di Los Angeles dikejutkan dengan aksi perkelahian antara dua kelompok Mafia yang terkejam di tanah air.
Stasiun televisi menampakan siaran langsung aksi baku hantam itu.
Helikopter berjumlah dua buah merekam aksi tayangan di atas pencakar langit, menggunakan kamera khusus.
Sorotan cahaya lampu mengarah pada kendaraan Swedish maupun Montero secara bergantian.
Bunyi ambulance.
Suara Helikopter.
Dan deruan mobil, polisi, Swedish dan Montero terdengar di sepanjang ruas jalan.
Peringatan aparat keamanan untuk menghentikan pertikaian sangat nyaring.
Status level 1, kedua belah pihak tak mengindahkan perkataan komandan angkatan darat dan angkatan udara.
Ribuan pasang mata menyaksikan langsung dari rumah, toko pakaian, restaurant, mall, museum, bahkan bar sekalipun tak ketinggalan. Para aparat keamanan berjejer di depan pintu, lengkap dengan senjatanya masing-masing.
Warga setempat di himbau untuk tidak mendekat ke area baku hantam, sebab akan membahayakan nyawa mereka.
Pusat Kota Lockdown sementara, atas perintah Wali Kota.
Ledakan dan tembakan senjata api memekakan indera pendengaran.
"Leon, awas di belakang!" seru Lily saat melihat mobil Swedish ingin menghantam bagian kap kendaraan di belakang. Wanita itu membidik anak buah Pablo yang berjumlah lima buah secara bergantian menggunakan senjata apinya.
Dengan gesit Leon membelokkan kendaraan ke sisi kiri.
Alhasil, serangan pun terelakkan.
"Lex, kalian di mana?" tanya Leon seraya mengemudikan kendaraan.
"Kami di blok D, polisi benar-benar menyusahkan!!"
"Damn! Breslin lemparkan granat di sisi kiri mu!" perintah Lexi di sebrang sana. Saat ini Breslin dan Lexi, di dalam satu mobil.
"Lex, perintahkan Montero untuk tetap menjaga narkoba di dermaga!"
"Yes, King! Oh My God! Breslin ledakan saja mobil polisi itu!" ucap Lexi di sebrang sana sepertinya mereka tengah di kejar oleh aparat keamanan.
"Kalian berhati-hatilah!" seru Leon sembari menyentuh bluetooth wireless di telinga. Kemudian ia menekan kembali benda kecil itu.
"Rey, kau di mana?" tanya Leon pada Rey di ujung sana.
"Street Beach, King. Aku sedang bersenang-senang!" ucap Rey tanpa menghentikan serangan ke polisi dan Swedish.
Tanpa jeda
Ia membabi buta.
Tak memandang siapa lawan.
Sudah lama sekali dia tidak menggunakan senjata kesayangannya.
HK M320 Grenade Launcher, senjata canggih yang mampu menemukan target dalam penglihatan di malam hari, di lengkapi dengan teropong khusus.
Yang melontarkan peledak berkekuatan sedang pada musuh.
Di sisi kiri dan kanannya Montero berjumlah tiga orang juga membidik Swedish.
Mereka tengah berdiri di belakang mobil pick up tercepat di dunia, Toyota Tundra TRD Supercharged berwarna merah.
Montero adalah orang pilihan Leon yang sudah terlatih dalam berperang dan membidik musuh dalam jarak dekat maupun jauh.
Walaupun jumlah mereka sedikit sebab Leon benar-benar memilih Montero dengan seleksi yang ketat.
Beberapa di antaranya adalah mantan marinir yang sudah lama vakum.
Dor.. dor...dor... dorrr.. dorr..dor....dor.
Boom.
Bledar.
Montero terkekeh keras melihat Swedish satu-persatu tewas di tempat.
"Hey kalian cepat ke Ninety Tower! Selamatkan anak ku! Kami akan menyusul!" perinta Leon seraya kedua matanya sibuk memperhatikan keadaan di sekitarnya.
__ADS_1
"Siap King!" seloroh Rey cepat.
***
"Honey, kita tidak ada cara lain! Boleh kah aku menggunakan B!" pinta Lily cepat saat melihat Montero yang mengikuti Leon di hadang oleh Swedish dan aparat keamanan.
"Baiklah!" Leon melirik sekilas.
"Honey, tapi bagaimana caranya menembakkan bazoka ke arah mereka semua?" Dahi Lily berkerut. Pasalnya ia harus melontarkan senjata berkekuatan skala besar itu, dalam satu kali gencatan.
Leon mengulas senyum.
"Lihat di kaca belakang Honey, kejutan untuk mu!"
Ia menekan tombol khusus dan satu lubang terbuka di belakang kursi kemudi.
"Wow, keren!"
"Tunggu aba-aba dari ku!" perintah Leon tersenyum penuh arti. "Tapi..."
"Iya aku tahu! Cih, dasar mesum!" sela Lily yang sudah tahu isi pikiran kekasihnya.
"Haha, kau sudah hapal rupanya!"
Lily memutar bola mata dengan malas seraya mengambil Bazoka di dalam tas khusus yang terletak di tengah bangku mobil. Ia segera membuka retsleting dan mengambil cepat senjata besar itu.'
"Apakah berat?" tanya Leon, karena senjata itu, bebannya sekitar tiga kilogram.
"Tidakkk!"
Leon tersenyum simpul sembari membelokkan setir ke sisi kanan.
"Sekarang duduk di paha ku Honey!"
"Lalu bagaimana caranya kau menyetir, Honey?"
"Gampang!"
Lily segera menuruti perintah kekasihnya dan duduk di atas pangkuan Leon seraya menaruh bazoka di pundaknya kirinya.
Intermezo di luar negeri, kursi kemudi mobil sebelah kiri ya guys.
Leon menekan sesuatu di dashboard mobil.
Terdengar suara dari satu speaker, sepertinya itu adalah alat kemudi otomatis sehingga tanpa melihat Leon dapat mengendalikan kendaraan.
"Kau nakal!" ucap Lily menatap dalam kedua mata Leon.
"Aku tidak peduli!" Leon melirik sekilas dua g**dukan di depan matanya.
"Honey, kau mesum!" Lily melebarkan mata saat melihat tambatan hatinya melihat aset pentingnya.
"Wangi!" Goda Leon mengendus aroma tubuh Lily yang membangkitkan sesuatu di bawah sana.
Lily menghela napas pelan mendengar penurutan Leon seraya mengerutkan dahi.
"Oh My God! Kenapa aku jadi membayangkan yang aneh-aneh!"
"Honey, pada hitungan kelima tembakkan B!"
Lily mengangguk dan memposisikan badannya senyaman mungkin. Ia melihat musuh dan polisi melalui celah di bagian senjata.
Keduanya seperti berpelukkan satu sama lain di dalam mobil.
Leon menaruh dagu di pundak kanan Lily. Satu tangannya menahan pinggang Lily agar kekasihnya tidak terjatuh.
"Siap?"
Lily mengangguk sedikit.
"Satu, dua, tiga, empat...."
"Leonnn!" panggil Leon sebab mobil musuh semakin mendekat.
"Tunggu!"
"Leonnnnnnnn!"
"Lima!"
Sepersekian detik.
__ADS_1
Bledar.
Boom.
Kendaraan di belakang hancur seketika.
Jalan raya di penuhi lalapan api yang berasal dari mobil Polisi dan Swedish.
Masyarakat yang menyaksikan kejadian di layar persegi terlonjak kaget.
Komandan angkatan darat geram dan hendak mengirimkan tank militer saat melihat kedua belah pihak memporak-porandakan pusat kota.
Situasi semakin memanas.
.
.
.
"Honey, kau sangat seksi," gumam Leon pelan.
"Ha, apa?"
Lily mengubah posisi kepalanya menghadap wajah sang kekasih, kini mereka bertatapan satu sama lain. Hanya menyisihkan ruang sedikit di antara hidung mancung mereka.
Leon menempelkan tubuh Lily agar lebih dekat lagi. Kemudian tanpa aba-aba, ia melabuhkan k*cup*n di bibir ranum kekasihnya.
Lily tertegun sejenak.
Detik kemudian dia memejamkan mata dan hanyut dalam sentuhan lembut yang diberikan sang kekasih.
Leon mengeksplor indera pengecapan Lily.
Melilit.
Ia bergerak.
Menukar saliva.
Berhenti sejenak.
Dan kembali mengulangi.
Keadaan di dalam mobil sangat panas.
Membakar gelora asmara dua kekasih yang tengah di mabuk cinta.
Begitu pula di luar kendaraan roda empat itu.
Montero mengambil alih jalanan. Mereka menuju tempat tujuan dengan cepat.
.
.
.
Beberapa meter dari kendaraan Leon.
Nampak seorang pria tua duduk di kursi tengah sembari menyenderkan kepalanya.
Ia nampak berpikir.
"Mister, are you okay?" cetus Rodrigo memperhatikan Pablo yang terdiam. Ia baru saja selesai membalut luka atasannya.
"Hmm." Pablo hanya berdeham.
"Siapkan rencana lainnya!" perintah Pablo menatap lurus ke depan.
Tiba-tiba ia menyeringai licik.
"Baik, Mister!"
Rodrigo mengangguk paham dan segera mengambil gawai yang berada di saku jas.
"Jalankan rencana di Ninety Tower!" perintah Rodrigo cepat.
.
.
__ADS_1
.
..