Pembalasan Putri Yang Diusir

Pembalasan Putri Yang Diusir
Season 2 - Perusahaan Abrian


__ADS_3

Setelah pergi meninggalkan kampus Bella diantar menuju perusahaan Abrian sesuai perintah Abrian sendiri. Dalam perjalanan, Bella menceritakan kejadian yang sudah dia alami hari ini pada Nia dan Refa.


“Apa tindakanku tadi sudah benar kak?”


“Sangat benar, kau tidak boleh ditindas oleh mereka dan jika mereka berani menindas mu maka pukul mundur mereka dengan kekuatanmu.”


“Iya benar sekali, tidak perlu takut meladeni orang-orang sombong mereka. Lawan saja toh kau memiliki bala bantuan yang tidak bisa diremehkan.”


“Syukurlah, aku tidak salah mengambil tindakan. Ternyata kehidupan kampus tidak seperti dselalu menyenangkan. Beberapa orang hanya ingin berteman dengan mereka yang memiliki kekayaan dan tidak sedikit orang memilih sendiri karena merasa tidak pantas berada di lingkungan orang-orang sombong dan gila kekayaan.”


Sampailah mereka di depan perusahaan Abrian, terlihat Abrian juga baru sampai di kantor setelah menyelesaikan masalah dengan dua ular jahat di hotel.


“Kalian pulanglah, Bella akan kembali bersamaku.” Ucap Abrian pada Nia dan Refa.


Abrian memberikan isyarat pada Bella untuk mengikutinya. Sedikit ragu tapi Bella memberanikan diri untuk berjalan berdampingan dengan Abrian.


Suasana kantor tidak begitu ramai karena jam istirahat sudah selesai. Hanya ada beberapa karyawan yang ada di luar ruang kerja mereka. Beberapa orang itu menatap kaget bos mereka yang berjalan bersebelahan dengan seorang gadis muda cantik.


“Lihat bos datang bersama siapa?”


“Mungkin adik bos. Bukankah bos memiliki adik perempuan?”


“Ya bos memang memiliki adik perempuan akan tetapi adik bos tidak berada di negara ini. Dan lihatlah wajah mereka tidak mirip sama sekali.”

__ADS_1


“Apa mungkin itu kekasih bos? Wah ternyata bos kita suka dengan gadis muda seperti itu.”


“Ini akan menjadi trending topic pembicaraan di kantor pasti.”


Begitulah bisik-bisik karyawan membicarakan Abrian dan Bella tapi Abrian tidak menanggapainya. Dia terlihat begitu santai berjalan melewati beberapa karyawan itu. Berbeda dengan Bella yang terlihat sedikit gugup, pasalnya dia baru pertama kali masuk perusahaan.


“Jangan terlalu memikirkan perkataan orang lain selagi tidak merugikan diri sendiri. Jika memang perkataan mereka melibihi batas baru boleh bertindak.” Kata Abrian saat berada di lift bersama Bella dan Haidar.


“Iya siap bos.”


Haidar yang berdiri di depan mereka berdua hanya menghela napas saja. Bosnya datar dan dingin sedangkan gadis bernama Bella cuek bebek. Hampir sejenis tapi beda kata. Sungguh cocok sekali sifat keduanya, menyatu dengan sendiri.


Lift terus melaju ke atas, Bella menatap kagum bangunan yang entah berapa lantai ini. Tempanya sangat luas, tinggi dan memanjakan mata karena tidak membosankan saat di lihat. Di sekelilinya juga banyak bangunan menjulang tinggi, mereka seperti bersaing untuk mendapatkan pengakuan siapa yang paling tinggi. Dalam hati Bella berharap semoga suatu saat dia kan menjadi salah satu pemilik gedung tinggi seperti ini.


“Oh tentu saja aku bisa. Apa disana aka nada sesuatu yang menarik?” jawab Bella sambil bertanya kembali, karena dia merasa akan ada sesuatu terjadi.


“Tentu saja karena di sana ada ayah dan ibu tiri mu.”


Deg…


Detak jantung Bella berdetak sangat cepat ketika Abrian menyebut ayah dan ibu tirinya. Siapkan dia bertemu dengan dengan mereka berdua? Si penghancur mental dan si pembunuh ibunya.


“Apa kau takut bertemu dengan mereka? Tidak usah takut karena kau datang bersama ku. Lagi pula belum tentu mereka bisa mengenalimu. Jangan pernah takut, semakin kau takut tidak akan ada kata kuat dalam hatimu.” Abrian berjalan keluar dari lift dan masuk keruangannya di ikuti Bella sedangka Haidar masuk ke ruangan lain yang letaknya berhadapan dengan ruangan Abrian.

__ADS_1


“Duduklah dan tolong periksa beberapa berkas itu.” Abrian duduk di kursi kebesarannya sedangkan Bella duduk di sofa.


“Aku harus bersikap seperti apa saat bertemu dengan mereka?” tanya Bella sambil membuka berkas pertama.


“Tidak usah terlalu ramah pada mereka dan berperanlah sebagai adik sepupuku. Dengan begitu mereka tidak mencurigaimu dan tidak berani mengusik mu. Biar aku yang menjalankan rencana.”


“Baiklah aku menurut saja.” Jawab Bella sambil mencoret beberapa angka yang menurutnya salah.


Abrian memperhatikan mata dan tangan Bella yang bergerak cepat sambil mencoret berkas yang Abrian beri. Sudut bibi Abrian tertarik ke atas.


Tidak sampai satu jam Bella sudah menyelesaikan dua tumpukkan berkas yang Abrian minta periksa. Dengan segera Abrian melihat berkas yang sudah Bella kerjakan sesuai perintahnya.


“Ternyata kau sangat pandai. Tidak sia-sia aku merekrutmu Arbella.” Ucap Abrian tersenyum puas. Orang yang sudah berpengalaman saja mebutuhkan waktu paling cepat 3 jam untuk memeriksa berkas sebanyak ini tapi Bella tidak sampai satu jam sudah selesai.


“Aku curiga jika ibumu bukan orang biasa karena kau terlihat pintar belajar dan cerdas.”


“Tidak, ibuku memang orang biasanya. Mungkin kederdasanku menurun dari pria jahat itu.” Kata Bella merujuk pada ayahnya.


“Tidak mungkin ayahmu, karena dia tidak pandai menjalankan bisnis. Selama ini perusahaan milik kakekmu berjalan bukan karena otaknya melainkan otak asistennya.” Abrian tentu tahu bagaimana Perusahaan Gu masih bisa bertahan sejauh ini di tengah keadaan duania bisnis yang tidak bisa dikatakan mudah.


Asisten Fanghiu, seorang pria berusia 48 tahun yang merupakan otak bertehannya Perusahaan Gu. Pria yang sedari kecil sudah di didik oleh Tuan Gu terdahulu untuk menjadi asisten anaknya. Tuan Gu terdahulu sudah tahu jika anaknya tidak memiliki kecakpan dalam mempimpin perusahaan, demi menutupi kekurangan anaknya itu beliau mendidik seorang anak sahabatnya untuk dijadikan orang yang bekerja di balik layar sekaligus asisten untuk anaknya kelak. Terbukti sampai sekarang kinerjanya sangat baik dan memuaskan. Sayangnya Fanghiu masih menyendiri dan tidak memiliki keluarga sehingga dia dijuluki perjaka tua.


Mendengar cerita singkat dari Abrian, Bella mulai mengaikan memorinya selama dirinya masih berada dirumah itu. “Oh pantas saja pria jahat itu selalu seenaknya sendiri bekeja, ternyata karena otaknya bodoh dan memiliki asisten pintar.” Ucap Bella memaki ayahnya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2