
Anjar menangis sesegukan karena tidak menemukan keberadaan Alin. Entah kenapa dia merasa gagal menjadi laki-laki karena tidak bisa melindungi seorang wanita. Malah dia yang dilindungi oleh seorang wanita.
“Heii pria bodoh kenapa kau menangis? Cepat bantu aku naik ke atas.”
Tiba-tiba Anjar mendengar suara Alin dari bawah tebing dan langsung mendekatinya.
“Alinn kau masih hidup?” Anjar melihat kebawah dan menemukan Alin bergelantungan pada akar pohon dan memegang 3 buah pisang ditangannya.
“Heii apa kau pikir aku akan mati secepat itu? Cepat bantu aku naik. Aku sudah sangat lapar sekali dan ingin makan pisang ini. Kamu mau apa tidak hah?” Teriak Alin sangat keras.
Entah ingin tertawa atau lanjut menangis, Anjar melihat gadis bar-bar itu bergelantungan di akar pohon memegang pisang seperti monyet dan bisa selamat.
“Baiklah tunggu sebentar aku akan mencari tali dulu untuk membantumu.” Kata Anjar sambil melihat sekitar siapa tahu menemukan tali.
“Pria bodohhhh kau buka tas yang ada dipundakmu itu, ada tali panjang milikku dalam tasmu.” Alin memang selalu membawa tali panjang saat pergi kemana pun karena untuk berjaga-jaga jika terjadi suatu hal yang tidak diinginkan seperti saat ini.
Anjar langsung membuka tas ransel tersebut dan menemukan seutas tali cukup panjang. Dengan hati-hati Anjar menurunkan tali itu pada Alin.
“Tarik yang kuat, awas saja tidak kuat bisa-bisa bukannya menolongku kamu malah ikut terjatuh kesini juga.” Ucap Alin berteriak dari bawah.
“Iya iya cerewet sekali, bersiaplah aku akan menarikmu.”
Alin berpegang erat tali itu dan tidak lupa memegang erat pisang ditangannya yang entah dia dapat dari mana.
__ADS_1
Dengan sekuat tenaga akhirnya Anjar berhasil menarik Alin sampai ke atas.
“Apakah kamu tidak apa-apa?” Tanya Anjar memutar tubuh Alin.
“Ck ck ck, tentu saja tidak. Sudah ku bilang nyawaku sangat banyak jadi tidak akan mati dengan mudah.” Jawab Alin sambil mengupas pisang ditangannya.
“Ini mau tidak? Tadi dibawah aku menemukan pohon pisang dan ada buahnya mulai matang. Aku hanya mengambil 5 dan sudah aku makan 2 dibawah.” Kata Alin sambil mengunyah pisang di mulutnya.
“Tentu saja aku mau. Kamu bilang hanya? Tapi mengambil 5. Tidak sekalian mengambil 10 saja.” Ucap Anjar mengelap ingusnya.
“Iuuuhhhh jorok sekali kamu Anjar.” Kata Alin sambil tertawa.
Seorang Anjar menangis sampai mengeluarkan ingus seperti itu dan tentu saja Alin langsung tertawa terbahak-bahak.
"Ternyata kamu sangat cengeng sekali yaa." Ejek Alin masih tertawa.
Anjar sebenarnya sangat malu sekali ditertawakan Alin. Jatuh sudah reputasinya di depan gadis bar-bar satu ini.
Tidak lama itu terdengar suara mobil ditelinga Anjar.
“Alin apa musuh kita datang lagi.” Tanya Anjar terlihat panik.
“Tidak, mereka adalah anak buahku.” Jawab Alin acuh.
__ADS_1
“Apa anak buahmu? Bagaimana bisa?” Tanya Anjar tidak percaya.
Dua buah mobil berwarna putih berhenti didepan Anjar dan Alin. Turun 8 orang wanita menggunakan pakaian berwarna hitam dan langsung mendekati Alin.
“Masih selamat kamu Lin?” Tanya seorang wanita pada Alin.
“Tentu saja, nyawaku sangat banyak. Apa mereka sudah kalian bereskan?”
“Sudah aman ditangan Jeje.” Jawab wanita tadi.
“Baguslah, ya sudah ayo kita ke rumah Alfi.” Ajak lin kepada semuanya.
Anjar hanya mengikuti dibelakang Alin, kali ini dia merasa seperti pengeran yang dikawal oleh wanita-wanita cantik.
“Sudahi mengkhayalmu atau aku buang kamu ke jurang.” Ucap Alin menghancurkan imajinasi Anjar.
****
Tenang yaa...
Nanti author bakal update cerita lagi kok..
Jangan lupa follow yaa ❤❤❤
__ADS_1