
"Ya Cila sedang mengandung anakku dan tentu saja dia tidak akan pernah kembali kepadamu." kata Aldi tersenyum mengejek.
"Tidak mungkin, kalian pasti sedang membohongiku." bantah Dika yang tidak mempercayai ucapan Alfi dan Zay.
Alfi berjalan mendekat Dika yang masih terikat di kursi lalu dengan tersenyum mengejek.
"Kau terlalu percaya diri jika Cila masih mencintaimu. Asal kau tahu Dika, perasaan seseorang itu bisa berubah apalagi ketika sudah disakiti. Dulu mungkin Cila memang mencintaimu tapi sekarang Cila mencintaiku. Apalagi sebentar lagi kami akan memiliki anak. Lebih baik buang jauh-jauh perasaanmu pada Cila karena kau sudah banyak menyakiti perasaannya." kata Alfi dengan sorot mata tajam.
Dika tidak menjawab apapun karena apa yang dikatakan Alfi memang benar. Dia sudah banyak menyakiti Cila mulai dari berkencan dengan wanita-wanita penghibur sampai dengan berhubungan dengan Vely yang pada waktu itu masih adik tiri Cila.
Menyesal, tentu saja saat ini Dika sangat menyesal telah menyakiti hati Cila tapi itu sudah tidak ada gunanya. Cila sudah menemukan orang baru yang terlihat sangat mencintainya sedangkan Dika terpuruk akibat ulahnya sendiri. Mengapa baru sekarang dia menyadari jika Cila adalah wanita yang tepat untuk menjadi pendamping hidupnya bukan seperti Vely yang baik didepan tapi buruk dibelakang. Mungkin ini karma untuknya karena dulu mencampakkan Cila begitu saja.
"Akan diapakan orang ini Tuan Alfi?" seorang anak buah Alfi memberanikan diri bertanya.
"Bawa orang ini desa terpencil dan pastikan dia tidak akan kabur." perintah Alfi kepada anak buahnya.
"Baik Tuan Alfi."
Dika menatap Alfi bingung,
"Aku tidak mau. Mengapa aku di bawa ke desa terpencil? Apa sebenarnya yang kalian rencana?" tanya Dika tidak terima.
"Aku tidak meminta persetujuan darimu. Ini akibatnya karena kamu berani mendekati istriku dan menyentuhnya."
Alfi langsung berjalan keluar ruangan tempat Dika dikurung diikuti Zay tapi kemudian dia membalikkan badan lagi.
"Jangan lupa beri suntikan seperti biasanya." ucap Alfi kepada 2 anak buahnya.
"Baik tuan." jawab tegas kedua anak buah Alfi.
"Selamat menikmati" Zay tersenyum sinis menatap Dika yang masih mematung mendengar perkataan Alfi.
Setelah Alfi dan Zay keluar dari ruangan tersebut, kedua anak buah Alfi mendekati Dika dan salah satu dari mereka menyuntikkan cairan berwarna merah pada tubuh Dika.
"Apa yang kalian suntikkan kepadaku?" Dika memberontak saat jarum suntik sudah masuk menembus masuk kulitnya.
"Tenang saja cairan ini tidak akan membuatmu langsung mati." jawab orang yang sedang menyuntikkan cairan itu.
__ADS_1
"Benar cairan ini tidak akan membuatmu mati tapi cairan ini akan menyiksamu secara perlahan." kata orang disebelahnya.
Saat jarum suntik itu sudah dicabut, tubuh Dika terasa dingin lalu kesadarannya mulai menghilang.
Sedangkan dirumah kediaman Alfi, para ibu-ibu sedang duduk di taman belakang bersama dengan Cila dan Dinda.
"Cila 2 minggu lagi kamu sama Alfi bakal ngadain resepsi pernikahan. Biar semua orang tau kalo kamu itu istri Alfi." kata Mami Ara sambil melihat beberapa koleksi gaun mewah di majalah fashion.
"Emang perlu ya mi, kan banyak juga yang udah tau kalo Cila istri Mas Alfi pas di pesta pernikahan Dika sama Vely." Cila merasa tidak perlu mengada resepsi pernikahan toh menurutnya itu tidak terlalu penting.
"Perlu dong sayang, kan kamu belum dikenalin secara resmi." jawab Mami Ara.
"Iya Cila, mana sekarang kamu lagi hamil. Kalo kehamilan kamu udah besar dan kamu belum dikenalin ke publik bisa-bisa banyak yang mikir engga-enggak sama kamu." Mama Rena ikut menjelaskan kepada Cila.
Cila berpikir sejenak memikirkan ucapan Mami Ara dan Mama Rena.
"Ya udah Cila mau ngadain resepsi pernikahan." kata Cila tersenyum.
"Nah gitu dong. Biar nanti bucan yang nyiapin semuanya." kata Mami Ara dengan semangat.
"Bucan apa tan?" tanya Dinda yang merasa baru mendengar kata itu.
Yang lain tertawa mendengarnya, mereka kembali melanjutkan obrolan seputar resepsi pernikahan yang diinginkan Cila sambil bercanda ria.
Namun tiba-tiba seorang pelayan mendatangi mereka dan melaporkan sesuatu.
"Permisi nyonya," kata pelayan tersebut.
"Iya bik kenapa?" kata Mami Ara menanggapi.
"Itu didepan ada seorang pria datang mencari Nyonya Rena." lapor pelayan itu sambil melihat Mama Rena.
Mama Rena mengerutkan kening.
"Siapa ya bik?" tanya Mama Rena penasaran.
"Katanya suami nyonya." jawab pelayan itu.
__ADS_1
"Ya udh bik bawa ke ruang tamu aja nanti kita kesana." kata Mami Ara.
Mama Rena terkejut mendengar jawaban pelayan itu. Pasti yang dimaksud pelayan itu adalah Tuan Reza, tapi bukannya mereka akan bercerai lalu untuk apa dia mencari Mama Rena.
"Mbak kenapa ya dia cari aku?" Mama Rena terlihat sedikit cemas.
"Mana mbak tau Ren, kamu kira aku ini dukun atau peramal yang tau maksud dan tujuan seseorang datang tanpa bertemu lebih dulu." kata Mami Ara menjawab nyeleneh.
"Mending temuin dulu aja Ren." saran Tante Hesti.
"Aku takut mbak, rasanya belum siap mau ketemu orang itu lagi." ucap Mama Rena lirih.
"Ah kamu itu penakut banget sih Ren. Dia ngak bakal makan kamu dan jangan pake perasaan biar kamu siap ketemu orang itu." celetuk Mami Ara lagi.
"Iya ma jangan takut, kalo dia mau nyelakain mama ngak bakal bisa kan ada penjaga didepan." kata Cila menggenggam tangan Mama Rena.
"Udah ayo aku temenin." Mami Ara langsung menarik tangan Mama Rena.
"Cila kamu ngak usah keluar nanti takut kenapa-napa. Toh itu orang nyarinya Rena bukan kamu sayang. Dinda temenin Cila aja ya." perintah Mami Ara.
Mami Ara, Tante Hesti dan Mama Rena keluar menuju ruang tamu. Sedangkan Cila dan Dinda pergi ke ruang keluarga yang letaknya disamping ruang tamu.
Sampai di ruang tamu, Mami Ara masuk lebih dulu.
"Selamat siang Tuan Reza yang terhormat," sapa Mami Ara ramah.
"Selamat siang juga Nyonya Ara," kata Tuan Reza.
"Ada tujuan apa anda datang ke rumah saya?" tanya Mami Ara tanpa basa-basi lagi.
"Tujuan saya datang kesini untuk menjemput istri saya." jawab Tuan Reza dengan tenang.
"Istri? Memang siapa istri anda Tuan Reza?" kata Mami Ara berkata sinis.
"Tentu saja Rena. Nyonya Ara sayang minta tolong kembalikan istri dan anak saya. Walaupun anak saya sudah menjadi istri anak anda tapi mereka menikah tanpa restu dari saya." ucap Tuan Reza percaya diri.
Mama Rena menatap tajam orang di depannya ini. Dia merasa tujuan Tuan Reza datang kesini dengan maksud tidak baik.
__ADS_1
"Aku bukan istri mu lagi Reza."