
Abrian Anggara, Abrico Anggara dan Abrilla Anggara merupakan tiga anak kembar pasangan Alfian Anggara dan Fricilla Andini.
Alfi merupakan seorang pengusah sukses, pemilik Perusahaan Anggara sedangkan Cila merupakan penerus bisnis Perusahaan Andara. Cilla juga merupakan anak dari pemimpin organisasi perlindungan di Cina, Black Star.
Pernah mengalami perjalanan hidup berliku membuat Cila mendidik ketiga anak kembarnya sebaik mungkin. Tidak akan dia biarkan anak-anaknya mengalami hidup seperti dirinya. Oleh karena itu sedari kecil baik Cila dan Alfi sudah mengajari anak-anaknya berbagai hal yang bisa menjadi bekal mereka ketika menghadapi berbagai macam hal dengan orang luar.
Abrian Anggara, si sulung yang tampan, dingin dan tidak suka keramaian. Di umur 5 tahun dia sudah pandai mengoperasikan komputer dan ahli bermain pisau lipat milik ibunya. Pernah suatu hari Rian membantu seorang nenek di taman yang tasnya di copet. Dengan gerakan cepat Rian melemparkan pisau lipat yang selalu di bawa untuk menghentikan pencopet itu. Alhasil kaki pencopet mengalami luka serius akibat goresan yang cukup dalam.
Abrico Anggara, wajahnya mirip sang ayah, Alfian Anggara. Namun sifatnya bertolak belakang dengan Alfi. Sifat Rico suka usil dan cepat beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Di umur 5 tahun dia juga sudah pandai mengoperasikan komputer dan ahli dalam membuat racun serta penawarnya. Pernah suatu hari kelinci peliharaan Oma Ara di buat sebagai bahan percobaan oleh Rico dan hal itu membuat Oma Ara hampir terkena serangan jantung. Untung saja dengan cepat Rico langsung memberikan penawarnya. Jika tidak mungkin kelinci itu sudah tewas.
Abrilla Anggara, si cantik satu ini sifatnya lebih dingin dari sang kakak, Rian. Selain itu dia tidak suka basa-basi kepada siapapun dan susah ditebak. Di umur 5 tahun dia juga sudah pandai mengoperasikan komputer dan ahli dalam menembak. Pernah suatu hari dia bermin computer milik ayahnya di ruang kerja dan berhasil membobol sistem kemanan hotel pamannya, Anjar. Hingga membuat sang paman kebingungan. Rilla juga pernah menjadikan Anjar titik sararan menembak dengan meletakkan apel pada kepala dan tangan kanan kiri Anjar. Karena hal itu membuat Anjar selalu waspada saat bertemu keponakan cantiknya satu ini.
Tiga anak kembar itu selalu membuat orang-orang di rumah merasa seperti memegang bom yang kapan saja bisa meledak. Tiada hari tanpa hal baru yang di buat mereka bagaikan masaa tanpa garam. Tapi walaupun seperti itu orang-orang di rumah sangat menyayangi ketiganya. Terutama Rilla, sedari kecil sudah sering sakit akibat saat dalam kandungan tubuhnya terkena racun akibat ulah orang yang menjahati ibunya. Awalanya dokter mengira racun itu sudah bisa diatasi dengan baik namun saat usia Rilla menginjak 3 tahun dampak dari racun itu mulai terasa lagi ditubuhnya.
Sdah berbagai cara di lakukan oleh Alfi dan Cila bahkan banyak orang untuk menyembuhkan Rilla tapi tidak satupun membuahkan hasil. Hal itu membuat Rilla harus mengkonsumsi obat demi meredakan rasa sakit yang dia rasakan.
***
“Bagaimana mas sudah terselesaikan?” Cila yang sedang duduk bersama Rico mendekati Alfi yang baru keluar dari ruang kepala sekolah dengan menggendong Rilla.
__ADS_1
“Tenang saja, semuanya sudah tertasi. Lalu apakah kamu sudah mendapatkan rekaman CCTV kelas Rilla?” tanya Alfi, tadi sebelum masuk ruang kepala sekolah Alfi berkata biar dia saja yang masuk dan Cilla mengambil rekanan CCTV kelas Rilla.
“Ya aku mendapatkannya dan sudah aku kirimkan pada Zay. Ya ampu Rilla kenapa kamu nak?” Cilla melihat wajah putrinya pucat dan seperti tidak memiliki tenaga lagi.
“Ayo sebaiknya kita pulang sekarang. Jangan lupa hubungi Dokter Tama untuk segera ke rumah.” Alfi membawa Rilla masuk ke mobil sedangkan Cilla menggandeng Rian dan Rico mengikuti Alfi. Beberapa pengawal membawa tas milik tiga anak kembar itu masuk ke mobil belakang.
Di mobil Alfi memeluk tubuh Rilla yang semakin dingin. “Rilla sabar nak, masih bisa mendengar ayah kan?” tanya Alfi menepuk pelan pipi anaknya. Rilla merespon dengan menganggukkan kepalanya.
“Hallo, Dokter Tama tolong segera ke rumah.”
“Baik, aku segera ke sana.”
“Rilla, yang kuat nak. Tolong sabar sebentar lagi kita sampai rumah.” Ucap Cilla menggenggam tangan putrinya.
Tidak lama kemudian mereka sampai di rumah, bebrapa pengawal menyambut kedatangan mereka di depan pintu dan terlihat Dokter Rama juga baru sampai.
“Ayo bawa ke kamar.” Rama dan Alfi berlari menuju kamar yang sudah di buat oleh Alfi khusus untuk Rilla.
Sebuah kamar bernuansa merah muda dengan peralatan langkap seperti di rumah sakit sudah tertata di ruangan itu. Terlihat dua orang perawat sudah menyiapkan beberapa peralatan yang akan di pasangkan pada tubuh Rilla.
__ADS_1
“Al, tolong tinggalkan kami dulu.” Pinta Dokter Rama setelah Alfi membaringkan tubuh Rilla ke ranjang.
“Baiklah.” Alfi keluar dari kamar dan terlihat Cilla dan Oma Ara sudah duduk di kursi depan pintu kamar.
“Mas, sampai kapan Rilla harus seperti ini? Sebentar lagi dia akan masuk sekolah dasar, aku tidak akan mengizinkan dia bersekolah jika kondisinya tetap seperti ini. Mas tahu sendiri tadi jika teman-temannya tidak ada yang perduli dia diganggu oleh Fani. Lalu bagaimana jika hal ini terulang lagi saat naik ke jenjang lebih tinggi? Pasti akan lebih sering dia diganggu karena Rilla itu tidak mudah bergaul.” Cilla mengeluarkan rasa kekhawatirannya yang sudah mengganggu pikirannya beberapa hari ini.
“Sepertinya kita memang harus menerima tawaran Azkio. Kita tidak bisa egois mempertahankan Rilla tetap disini dengan kondisinya yang tidak stabil.” Ucap Alfi memikirkan tawaran Azkio dua bulan yang lalu.
Azkio adalah kakak Cilla yang tinggal di Afrika. Dia menawarkan supaya Rilla di rawatnya. Bukan hanya sekedar merawat tapi juga mengobati Rilla dengan cara tradisional.
“Jika itu jalan terbaik, kalian harus ikhlas berpisah sementara dengan Rilla.” Ucap Oma Ara menenangkan Cilla.
“Baiklah, aku izinkan Rilla di asuh oleh Kak Zio. Mas kamu beri tahu Kak Zio sekarang, supaya besok malam dia datang kesini mengingat kondisi Rilla sudah seperti itu.
Tanpa mereka sadari Rian dan Rico mendengar pembicaraan mereka.
“Apa kiba bisa berpisah dengan Rilla?” ucap Rico pada sang kakak.
Rian menggelengkan kepala. “Aku tidak yakin, tapi kita harus bisa. Ini semua demi kesembuhan Rilla dan kita juga bisa menengok Rilla kapapun kita mau.” Rian sebenarnya sangat tidak rela berpisah jauh dengan Rilla tapi dia setuju dengan ucapan sang ayah, tidak boleh egois.
__ADS_1
“Sudah, lebih baik nanti kita cari boneka untuk Rilla supaya dia tidak bersedih.” Rian menepuk pundak Rico dan mengajak Rico ke kamar.