
Sudah hampir 3 bulan sejak pertemuan Alfi dengan ketua Dragon Gold belum terlihat pergerakan apapun dari organisasi Black Star. Padahal mata-mata Paman Jack meloporkan jika Tuan Gerry akhir-akhir ini sudah mengadakan pertemuan dengan antek-anteknya dan dari kabar yang di dapat Tuan Gerry sudah mengetahui jika ada keturunan Chen yang masih hidup yaitu Cila. Bahkan kabar kehamilan Cila juga sudah diketahui pria tua itu dan membuatnya murka.
Kehamilan Cila sudah memasuki usia 9 bulan hal itu membuat Alfi bekerja dari rumah demi menunggu hari kelahiran anaknya. Perlengkapan bayi juga sudah di belikan oleh Mami Ara dan Mama Rena, 2 calon nenek baru itu terlihat sangat antusias menunggu kelahiran cucu mereka.
Seperti pagi ini mereka terlihat sedang sibuk mendekor kamar bayi yang letaknya terhubung dengan kamar Alfi dan Cila.
“Mbak kalo di dekor warna merah muda tapi yang lahir cowok gimana?” Tanya Mama Rena melihat banyaknya aksesoris berwarna merah muda yang di beli Mami Ara.
“Aduh iya juga ya Ren, tapi aku yakin pasti anaknya cewek.” Jawab Mami Ara dengan penuh percaya diri.
“Ngak mbak, kyaknya yang lahir cowok.” Mama Rena juga yakin dengan pendapatnya.
“Ah kalian sih kenapa ngak cek jenis kelaminnya sekalian kalo kyak gin ikan jadi pusing.” Ucap Mami Ara menatap Alfi dan Cila yang dari tadi hanya memperhatikan Mami Ara dan Mama Rena.
“Kan biar surprise mi, lagian mami kenapa beli warna merah muda semua? Kan bisa beli warna biru yang netral bisa buat cewel bisa buat cowok.” Alfi menatap heran maminya yang notabene sudah berpengalaman hamil dan melahirkan malah bingung sendiri memilih warna.
“Ya karna mami yakin nanti cucu mami itu pasti cewek, liat tuh istri kamu semenjak hamil makin cantik.” Jawab Mami Ara menatap Cila yang hanya tertawa.
“Cila akhir-akhir ini juga mainnya pistol sama panahan mbak, pasti anaknya cowok.” Kata Mama Rena yang selalu melihat putrinya berlatih di ruang belakang bersama Bibi Hana.
Alfi memijat pelipisnya melihat Mami Ara dan Mama Rena berdebat jenis kelamin anaknya.
“Udah dekorasi kamar biar nanti Zay atau Anjar yang urus setelah Cila lahiran. Nanti kita tinggal terima beres aja. Kan baru lahir tidurnya juga masih sama Alfi sama Cila juga.” Ujar Alfi memberikan solusi.
***
Di sebuah café terlihat Anjar dan Alin sedang menunggu kedatangan seseorang yang tak lain rekan bisnis Anjar. Ya Alin sekarang bekerja sebagai sekretaris Anjar karena dia merasa bosan tidak memiliki kesibukan.
Awalnya Anjar tidak mau menerima Alin sebagai sekretarisnya karena dia sendiri merasa tidak seperti bos perusahaan lain. Kerjanya hanya mengecek laporan dari anak buahnya saja. Tapi karena Alfi memutusakan bekerja dari rumah tanggungjawab bertemu dengan klien di jalankan oleh Anjar. Mau tidak mau Anjar menerima Alin sebagai sekretarisnya karena tidak ada alasan lagi untuk menolak.
“Aku rasa klien kita hari ini memiki maksud lain.” Ucap Alin membuat Anjar langsung menoleh.
__ADS_1
“Apa maksudmu Alin?”
“Beberapa pengunjung café disini seorang mata-mata, jadi kita harus berhati-hati.” Alin menyadari sejak awal masuk café ini terlihat beberapa orang sedang memperhatikan gerak gerik dia dan Anjar.
“Darimana kamu mengetahui hal itu?” Tanya Anjar yang masih belum percaya.
“Mereka anggota Black Star jadi tentu aku tahu seperti apa cara kerja mereka.” Jawab Alin dengan sikap masih tenang.
“Apa mereka menyadari penampilanmu Alin?” Ya semenjak menjadi sekretaris Anjar penampilan Alin sengaja di ubah dengan tangan handal Mami Ara.
“Entahlah aku belum mengetahuinya, semoga saja tidak. Jika pun iya berarti nyawa kita dalam bahaya.” Ucap Alin dengan santainya.
Saat mereka sedang berbicara berdua klien yang mereka tunggu akhirnya datang. Seorang pria paruh baya dengan sekretarisnya juga. Anjar dan Alin bersikap ramah menyambut mereka supaya mereka tidak curiga jika Alin dan ANjar sudah mengetahui mata-mata yang ada di café tersebut.
Mereka langsung memulai membahas Kerjasama yang akan mereka jalin. Selama pembahasan tidak ada hal mencurigakan yang membuat Alin sedikit bingung dengan tujuan klien di depannya.
“Baiklah saya setuju menjalin Kerjasama dengan anda Tuan Anjar. Semoga kita tidak saling mengecewakan.” Ucap pria tua tersebut.
Setelah klien mereka pergi Alin langsung mengajak Anjar pulang ke rumah kediaman Alfi. Alin merasa akan terjadi sesuatu hari ini dan yang pasti target utama adalah Cila dan calon bayinya. Walaupun sudah ada anggota Dragon Gold disana tapi Alin ingin ikut membantu jika nantinya terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Anjar langsung masuk mobil dan duduk di bagian kemudi sedangkan Alin berada di sebelah Anjar. Anjar mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi sesuai dengan perintah Alin.
Saat berada di tempat sepi tiba-tiba mobil mereka ditembaki oleh beberapa orang yang mengendarai sepeda motor.
“Ahh ternyata dari tadi mereka mengikuti kita.” Ucap Anjar sambil melirik pengemudi sepeda motor yang sudah menghimpit mobil.
“Kamu fokuslah dengan kemudi biar aku yang menghadapi mereka.” Alin mengeluarkan 2 buah pistol dari tasnya dan berpindah tempat duduk kebagian belakang.
Dengan sedikit membuka kaca mobil Alin menembaki pengendara sepeda motor di bagian kiri terlebih dahulu.
Dor.. Dor..
__ADS_1
Dua kali menembak dan langsung tepat sasaran membuat 2 orang yang mengendarai sepeda motor terjatuh. Ganti Alin bergeser ke bagian mobil sebelah kanan. Terlihat 2 orang terus menembaki mobil yang dikemudiakan oleh Anjar. Untung saja mobil ini dilapisi oleh anti peluru jika tidak mungkin Anjar sudah tewas dari tadi.
“Berani mencari masalah denganku..”
Dor.. Dor.. Dor.. Dor..
Terdengar 4 kali tembakan Alin tujukan kedapa 2 orang musuhnya dan membuat mereka terjatuh.
“Akhirnya kita selamat,” Ucap Anjar mengelus dadanya.
“Kata siapa kita selamat, ini baru permulaan jangan senang dulu. Lebih baik fokuslah menyetir, aku tidak mau mati muda karena ulahmu.” Ucap Alin sambil memakai baju anti peluru ke tubuhnya, tidak lupa dengan pelindung kepala. Dia juga sudah melemparkan sepatu hak nya kebelakang mobil dan berganti dengan sepatu hitam andalannya.
“Telan obat itu kalo masih mau hidup.” Alin melempar botol kecil kepada Anjar, untung saja Anjar berhasil menangkapnya.
“Hei obat apa ini?” Tanya Anjar yang tidak mau menelan obat sembarangan.
“Yang jelas bukan racun, kamu cerewet sekali jadi pria.” Jawab Alin kesal.
Tidak mau melihat Alin murka Anjar menlan 1 obat berbentuk kapsul itu.
“Bukan 1 tapi 3.” Ucap Alin membuat Anjar harus menelan 2 obat lagi.
Alin membuka tasnya lagi dan mengambil handpone miliknya, entah apa yang dia lakukan karena gerakannya sangat cepat sekali.
“Lihat di belakang ada 2 mobil hitam yang sepertinya musuh. Lebih cepat lagi dan cari tempat sepi untuk kita menghabisi mereka.” Pinta Alin pada Anjar.
Anjar menuruti perintah Alin, biarlah Alin mengambil komando karena jika dia yang mengambil alih pasti akan kacau.
****
Hai reader's
__ADS_1
Jangan lupa kasih dukungan dan follow IG Author yaa ❤