Pembalasan Putri Yang Diusir

Pembalasan Putri Yang Diusir
Pembunuh katamu?


__ADS_3

Renita menatap angkuh saat melewati para perawat, dia yang tahu jika rumah sakit ini milik keluarga Abrico langsung memposisikan diri bak isri pemilik rumah sakit ini. Perempuan ini yakin jika dia berhasil mejadi istri Abrico maka rumah sakit ini nanti juga menjadi miliknya.


"Awas saja kalian, jika Rico sudah menikahi ku maka kalian akan aku pecat semua. Berani sekali mengangumi Kak Rico, pria itu hanya aku yang boleh mengagumi. Kalian hanya bawahan saja tidak pantas menaruh rasa pada pemilik rumah sakit ini." Ucap Renita dengan wajah kesal, pasalanya sepanjang lorong dia mendengar pujian-pujian dari para perawat, dokter dan pengunjung yang memuji ketampanan Rico, bahkan beberapa berkata ingin menjadi istrinya.


"Sudahlah Re, tunggu saja nanti jika kamu sudah resmi menjadi Nyonya Muda Anggara. Kamu bebas memecat mereka. Sekrang diamlah dulu, papa lelah mendengar umpatan mu." tegur Tuan Yanse sambil mendorong kuris roda Renita. Sebenarnya Tuan Yanse juga malu karena dilihati banyak orang, dia seperti membawa orang tidak waras karena Renita mengoceh terus.


Sampailah mereka di depan ruangan VVIP, terlihat di depan pintu ada beberapa orang berpakain hitam, mereka adalah anak buah Abrian yang ditugaskan menjaga ruangan tersebut. Tidak boleh seorang pun masuk kecuali sudah mendapatkan izin dari pihak keluarga dan dokter yang menangani Senafa.


"Maaf,ada keperluan apa kalian datang kesini?" tanya salah seorang dari penjaga tersebut.


"Kami ingin masuk menjenguk Nona Arbella." pinta Renita dengan angkuh. Baginya sifat ramah hanya ditujukan pada orang yang memiliki tingkat kesetaraan dengannya atau diatasnya.


"Tidak ada yang diizinkan masuk selain pihak keluarga dan dokter." jawab penjaga itu dengan tegas.


"Kalian hanya seorang penjaga tidak usah melarangku, aku ini calon istri tuan kalian. Cepat buka kan pintu itu." perintah Renita memaksa.


"Benar, dia calon istri tuan kalian. Sebaiknya menurut saja jika tidak mau dalam masalah." tambah Tuan Yanse yang geram karena penjaga tidak mau memberikan izin.


"Maaf, tuan kami sudah menikah. Mungkin kalian salah ruangan."


"Apa? Menikah?" Renita ayahnya terkejut mendengar pernyataan penjaga itu. Yang benar saja Abrico sudah menikah. Tidak salah bukan.


Sebenarya yang dikatakan penjaga itu memang benar, tun mereka sudah menikah. Tuan mereka adalah Abrian, sudah menikah beberapa hari yang lalu. Tentu saja Renita dan papanya tidak tahu karena Renita baru saja pindah ke kota ini dan papanya tidak mendapatkan undangan. Pernikahan itu memang dihadiri banyak orang namun rata-rata dari kalangan pengusaha dan tidak di liput media atas permintaan Abrian dan istrinya.


"Kalian bohong, aku pikir kalian percaya dengan apa yang kalian katakan hah." bentak Renita membuat keributan.


"Anda pikir ini bar, bisa berbicara sesuka hati dan berteriak membuat ribut saja." Suara seorang gadis membuat mereka menoleh.


Para penjaga sedikit membungkukkan badan melihat siapa pemilik suara itu. Salah seorang dari mereka maju dan berkata,


"Maaf Nona Rilla. Mereka memaksa ingin masuk dan perempuan itu mengaku calon istrinya saudara anda. Tentu saja kami berkata jika tuan sudah menikah namun mereka tidak percaya."


Rilla menatap Renita dan Tuan Yanse dengan tatapan menyelidik. Sudut bibirnya tersenyum, sepertinya dia tahu siapa dua orang ini.


"Hei kamu, perintahkan mereka untuk memberi izin kami masuk." pinta Renita tidak tahu sopan santun.


"Biarkan mereka masuk, siapa tahu ada drama yang ingin mereka maiankan." ucap Rilla singkat lalu masuk ke dalam ruangan.


Renita dan papanya terlihat bingung dengan ucapan gadis itu, meraka tidak tahu jika itu adalah Abrilla, saudara kembar Abrico. Memang selama ini keberadaan Abrilla belum banyak yang tahu karena gadis itu lama menetap bersama Tuan Azkio.


"Halo Se, bagaimana keadaan mu?" tanya Rilla mendekati ranajang.


"Sudah lebih baik kak."


"Baguslah, oh ya kita ada tamu. Ayah dan ibu semoga bisa menyambutnya denga baik." kata Rilla sambil mengedipkan mata pada orang tuanya.


"Siapa sayang?" tanya Cila penasaran.


Mata Rilla hanya melirik pintu masuk dan terlihat seorang pria mendorong kuris roda yang diduduki seorang perempuan. Wajah Cila berubah tidak bersahabat saat melihat perempuan itu. Sedangkan Alfi menaikkan sebelah alis melirik Rilla dan Senafa. Dua gadis itu hanya terkekh saja melihat reaksi orang taunya.


"Selamat malam Tuan Alfi, Nyonya Cila, Nona Arbella dan Nonaa..."


"Aku Abrilla Anggara, kembaran Abrico Anggara." ucap Rilla karena dia tau Tuan Yanse tidak tahu siapa dirinya.


Tuan Yanse dan Renita terkejut karena gadis yang mereka temui tadi ternyata Nona Muda keluarga ini. Renita seperti kehilangan muka karena sudah membuat kesan buruk pertama kali bertemu saudari Abrico.


"Ahh aku tau kalian merasa tidak nyaman kare hal tadi bukan? Tenang saja aku bukan gadis yang suka ambil hati." kata Rilla dengan suara tekekeh.


"Namun aku adalah gadis yang akan mengambil nyaa kalian dengan senang hati." sambung Rilla dalam hati.


Renita dan papanya terasa kikik dengan perkataan Rilla. Namun mereka merasa senang karena Rilla tidak tersinggung dengan sikap mereka tadi.


"Em bagaimana keadaanmu Arbelella?" tanya Renita dengan lembut. "Maafkan sikapku kemarin, aku salah paham padamu." lanjutnya dengan menggunakan kempuan aktingnya.


"Tubuhku sakit semua, kulitku memerah karena siraman air panas dari mu, tangaku terluka karena cakaran kuku mu yang seperti setan dan rambut ku banyak rontok karena jambakan tangan mu amat sangat kuat." jawab Senafa dengan wajah memelas, dia sengaja mengikuti permainan Renita.

__ADS_1


Glukkk


Renita menelah ludahnya dengan perasat tak karuan. Dalam hati dia mengumpat karena gadis di depannya malah memperjelas tindakannya kemarin.


"Tapi tenang saja, aku sudah memaafkan mu. Jika tidak aku maafkan nanti papa mu akan mengatakn jika aku gadis yang tidak memiliki hati pemaf dan menuduh orang tua ku tidak mendidik ku dengan baik. Bukan begitu Tuan Yanse?" tanya Senafa sambil tersenyum menatap papa Renita.


Tuan Yanse membelalak saat mendengar pertanyaan gadis itu, rasanya dia ingin menyembunyikan wajahnya dari tatapan Tuan Alfi dan Nyonya Cila. Sungguh dia tidak menyangka gadis yang dia pikir kemarin lemah ternyata hari ini bermulut manis sekali. menjatuhkan harga dirinya dan Renita secara halus.


"Arbella, tolong maafkan aku dan papa ku. Aku terlalu cemburu melihatku keluar dari mobil Kak Abrico dan papaku terlalu mengkhawatirkan aku yang sudah terjatuh oleh mu. Mungkin jika saja kamu tidak mendorongku, papa ku tidak akan melukai kamu." Renita mulai mengeluarkan air mata buaya, di balik kata maafnya juga tersirat makna yang menyalahkan Arbella.


"Sepertinya perkataan mu harus diralat Nona Renita. Yang benar itu, jika saja kamu mampu mengendalikan rasa cemburu dan tidak bertindak semena-mena pada adikku, maka dia tidak akan memperlakukan diri mu seperti itu. Lagi pula, kamu siapa berani mengaku-ngaku Kak Rico itu calon suami mu? Apakah ayah dan ibu sudah mengantarkan Kak Rico untuk melamar gadis seperti dia?" Rilla, gadis itu mulutnya memang lebih manis daripada Senafa. Tentu saja , karena dia adalah gurunya Senafa.


Alfi dan Cila hanya menggelengkan kepala mendengar pertanyaan dari Rilla. Berbeda dengan Renita dan Tuan Yanse yang tersenyum mendengar pertanyaan Rilla.


"Maaf sebelumnya Tuan Alfi dan Nyonya Cila, sepertinya ini waktu yang tepat untuk memberitahu kalian tentang Renita dan Abrico." kata Tuan Yanse dengan penuh percaya diri.


"Ada apa dengan mereka?" tanya Alfi mengerutkan keningnya.


"Kak Abrico sudah menodai saya tuan, dia sudah merenggut kesucian saya. Tapi Kak Abrico tidak mau bertanggungjawab. Padahal dia sudah berjanji akan menikahi saya." Renita menangis tersedu-sedu sambil menjawab pertanyaan Alfi.


Alfi, Cila, Rilla dan Senafa yang suah diberitahu oleh Rico tentu hanya tersenyum saja mendengar hal itu. Mereka sudah tahu jika Renita dan papanya pasti akan menemui mereka untuk membahas hal ini.


"Tuan Alfi, saya sebagai orang tua Renita ingin meminta pertanggungjawaban atas perbuatan putra anda. Saya tidak bisa melihat putri saya di perlakukan seperti ini." Tuan Yanse ikut memasang tampang sedihnya di depan mereka.


"Maaf, aku tidak tahu jika sedang ada tamu." Abrian yang baru tiba bersama Keyra langsung mendekati mereka.


Renita tersenyum melihat kedatangan pria yang dia kira Abrico padahal jika dilihat lebih teliti lagi, wajah Abrico dan Abrian itu sangat berbeda.


"Kak Abrico, akhirnya kamu datang. Kapan kakak akan menikahi aku?" tanpa ada rasa malu Renita menjalankan kursi rodanya mendekati Abrian.


Abrian menatap tidak suka Renita, dia memang tahu jika Renita pasti mengira dirinya adalah Rico namun tetap saja tidak nyaman.


"Aku Keyra, istri sahnya. Oh kamu berniat menjadi istri kedua suamiku?" tanya Kerya dengan mata mendelik. Dia tahu siapa gadis di depannya, tapi dia hanya ingin ikut mengerjai Renita.


"Ya, kami memang sudah menikah. Kamu mengatai dia calon pelakor?" tunjuk Kerya pada Senafa. "Namun ternyata yang calon pelakor itu kamu, eh ralat kamu bukan calon pelakor lagi tapi memang pelakor." Tuduh Kerya dengan tatapan tajam.


"Tidak aku bukan pelakor. Asal kamu tahu, suami ku sudah main gila denganku. Dia sudah meniduri aku dan dia berjanji akan menikahi aku." bantah Renita tidak terima dengan tuduhan Keyra.


"Kak, kakak akan menikahi aku kan? Tolong ceraikan dia dulu kak, aku tidak mau menjadi istri kedua. Aku hanya ingin menjadi istri satu-satunya." pinta Renita mencoba memegang tangan Rian yang dia kira Rico.


"Untuk apa aku menceraikan istriku yang cantik bak bunga mawar demi menikahi kamu yang tidak seberapa bak bunga bakai." tolak Rian membuat Rilla kesulitan menahan tawa sedangkan yang lain tersenyum saja kecuali renita dan papanya.


"Nah dengarkan pelakor, suami ku tidak mau menikahi mu. Lihat saja penampilan mu, wajah kusam dan pucat, tubuh kurus kering seperti kuang gizi, rambut seperti mak lampir dan suara berisik seperti burung beo."


Perkataan Kerya membuat Renita langsung memegang wajah, melihat tubuhnya dan mengecek rambutnya. Dia merasa terhina sekali.


"Cukup Nona Kerya, anda memang istri Tuan Abrico tapi bukan berarti bisa menghina putri saya sepeti ini." Tuan Yanse tidak terima Renita di perlakukan buruk.


"Wah sejak kapan Keyra menjadi istri ku? Apakah Kak Rian rela berbagi istri dengan ku?" Rico, pria itu baru saja tiba.


Jangan tanya bagaimana wajah Reita dan papanya, tentu saja sangat terkejut. Dua orang itu menatap Abrian dan Abrico secara bergantian.


"Ya, dia kakak ku. Ingin menjadi istriku tapi tidak bisa membedakan kami." Sindir Rico mendekati ranjang Senafa.


"Minum obat ini supaya kamu lekas pulih." ucap Rico memberikan bebrapa butir obat pada Senafa. Tadi sebelum kembali ke rumah sakit, Rico menyempatkan diri pergi ke Laboratorium miliknya untuk meminta obat pada Amoz.


"Kak Abrico, jadi kaka belum menikah kan?" tanya Renita dengan wajah berbinar. Kesempatannya menjadi sitri pria itu masih terbuka lebar.


"Jika kamu menikah dengan gadis seperti ini, ibu akan meledakkan laboratorium milik mu, Rico." Cila yang dari tadi hanya diam kini mulai membuka suara. Mulutnya sudah tidak tahan untuk menolak sacara langsung gadis itu menjadi menantunya.


"Nyonya cila, memang kenapa dengan putri saya? Dia gadis yang baik, cantik, tentu tidak ada kurangnya bukan?" tanya Tuan Yanse.


"Benar, aku bisa menjadi istri yang baik untuk Kak Abrico. Aku bisa dalam segala hal." sambung Renita menyakinkan Cila.


"Baik darimana? Perempuan yang suka keluar masuk club malam bersama pria yang selalu berbeda-beda, memakai barang haram di Hotel Flamboyan, pernah melakukan aborsi 2 kali di tempat praktek ilegal dan kemarin baru saja keguguran dengan usia kandungan 2 bulan. Kamu pikir aku tidak tahu tentang mu, Renita. Aku bukan papa mu yang terlalu mempercayai mu." Ungkat Rico sambil melemparkan bukti pada Renita dan papa nya.

__ADS_1


Tuan Yanse mengambil foto-foto itu dan dia sangat terkejut melihat putrinya memeluk pria yang usianya hampir sama dengannya, ada juga bersama pria yang sepertinya masih sanga muda, foto Renita sedang mengonsumsi barang haram dan surat pernyataan aborsi atas nama Renita sebanyak 2 lembar berserta bukti pembayarannya.


"Kalian pikir dengan menyuap dokter yang menangani mu kemarin itu bisa membuatnya tutu mulut, asal kalian tahu dokter dan perawat yang bekerja di rumah sakit ini adalah orang-orang yang kami rekrut bersedia bersikap profesional dan jujur. Apalagi dengan kami yang sudah memberikan mereka pekerjaan."


Sebelum Rico ke ruangan Senafa, dokter yang menangani Renita sudah melaporka lebih dulu permintaan Tuan Yanse yang ingin keguguran Renita tidak boleh tersebar kemanapun termasuk Abrico. Dokter itu bukan sembarang dokter karena salah satu orang kepercayaan Rico yang ikut bergabung di Laboratoriaum AcO.


"Tapi foto ini tidak bisa dijadikan bukti, bukankah anda sendiri yang berkata jika foto bisa di manipulasi." kata Tuan Yanse mencoba tetaap mengelak.


"Jika aku mencari bukti hanya sebuah foto saja tapi beserta saksi. Saat ini mereka sudah di kantor polisi untu di periksa. Selain itu ada berita menarik lain. Jika anda ingin tahu silahkan buka internet."


Mendengar perkataan Rico, mereka semua langsung membuka internet.


"Kabar terkini\,anak dari Tuan Yanse seorang petinggi di kepolisian terlibat kasus penggunaan nark*ba\, pr*stitui serta melakukan aborsi ilegal. Polisi menangakap sejumlah saksi untuk di periksa dan saat ini akan segera di lakukan penangkapan untuk pihak lain yang terlibat."


"Renita Orion, putri tunggal Tuan Yanse Orion terlibat bisnis haram. Di duga sang ayah ikut terlibat dalam hal tersebut."


"Menjadi simpanan pengusaha, Renita Orion tertangkap kamera saat sedang berkencan dengan sugardaddy nya."


Hadline berita dipenuhi nama Renita dan papanya. Warganet menghujat kelakukan Renita, bahkan teman-teman kampusnya ikut memenuhi kolom komentar. Mereka mengatakan jika tidak heran Renita seperti itu karena dia sering di antar dan di jemput pria tua setiap berkuliah. Renita juga sudah pindah kuliah sebanyak 4 kali, sering tidak masuk kuliah dan tidak pernah membuat tugas dan itu menyebabkan dia tidak lulus-lulus.


"Bagaimana bisa seperti ini?" tanya Renita mengamuk.


"ini pasti ulah kalian kan? Kalian menghancurkan hidupku. Terutama kamu Arbella, jika kamu tidak berangkat bersama Kak Rico mungkin aku tidak akan menjadi seperti ini." Renita berdiri dari kuris rota dan berniat menarik kaki Senafa. Namun dengan cepat Alfi mencengkram tangannya.


"Tidak akan ku biarkan kamu menyentuh putriku seujung kukupun."


"Lepas, lepaskan akuu." teriak Renita mengamuk.


Tuan Yanse menarik pistol dari tinggangnya dan mengarahkan pada mereka semua, kecuali Renita.


"Lepaskan putriku atau kalian akan aku tembak mati." Ancam pria paruh baya itu.


"Apa anda tidak takut masuk penjara?" tanya Rico sambil memeluk Senafa.


"Hukuman seperti itu tidak berlaku untukku. Apalagi aku itu polisi yang memiliki jabatan tingi." jawab Tuan Yanse dengan sombong.


"Oh ya, asal anda tahu Tuan Yanse. Sejak beberapa jam yang lalu anda sudah diberhentikan secara tidak hormat."


"Tidak, tidak mungkin." ucap pria itu tidak percaya.


"Aku yang sudah membeberkan seluruh kejahatan mu pada atasan mu, bahkan anak buahmu semua sudah di pecat lebih dulu dan saat ini mereka sedang menikmati dinginnya lantai penjara."


Tuan Yanse tetap tidak percaya dengan ucapan Abrico, dia mengangap itu semua bohong. Saat sedang lengah sebuah tembakan terdengar merdu di telinga mereka semua.


Dorrr


"Ahhhhhhh..."


"Papa....."


Tuan Yanse terkejut saat sebuah peluru menembus pundaknya. Dengan cepat Rian menendang pistol dari tangan pria itu dan langsung memeganginya.


"Upsss, maaf Tuan Yanse aku hanya mengetes kemampuan menembakku. Apakah masih lincah seperti dulu." ucap Rilla yang ternyata pelaku penembakan Tuan Yanse. Dari tadi memang tangan rilla dalam saku celananya membuat Tuan Yanse tidak curiga sama sekali.


"Papa, kalain jahat. Kalian pembunuh. Lepaskan akuu." teriak Renita menangisi papanya yang mulai kehilangan kesadaran. Hal itu karena peluru yang Rilla tembakkan mengandung racun.


Plakkkkk


Sebuah tamparan mendarat di pipi Renita. Pelakunya ada lah Cila.


"Pembunuh katamu? Harusnya kata itu lebih cocok untukmu. Kamu yang pembunuh karena sudah membunuh bayi-bayi yang tidak berdosa. Diluar sana banyak perempuan yang ingin memiliki anak namun oleh Tuhan belum diberi kepercayaan. Mereka berusaha kesana kemari melakukan pengobatan demi hadirnya bayi mungil untuk melengkapi rumah tangga mereka. Tapi kamu, kamu yang mudah memiliki anak dengan tega membunuh mereka semua. Jika tidak mau mereka ada maka jangan pernah membuat mereka ada. Aku memang bukan orang yang suci, tangan ku juga kotor tapi setidaknya aku masih mmiliki hati nurani pada nyawa manusia yang tidak berdosa. Jika kamu tidak mau merawat mereka setidaknya lahirkan mereka dengan selamat. Supaya mereka bisa di asuh oleh orang tua yang memiliki hati nurani dan belas kasih."


Tangisan Renita semakin menjadi-jadi, dia juga meronta-ronta ingin dilepaskan. Dokter, polisi serta beberpa anak buah Rian masuk ke ruangan. Membawa Renita dan Tuan Yanse keluar dari ruangan ini untuk mendapatkan pengobatan dan proses lebih lanjut.


Hancur sudah karier yang dibangun oleh Tuan Yanse, ditambah putrinya mengamuk seperti orang gila. Menyesal pun tidak ada guna.

__ADS_1


__ADS_2