Pembalasan Putri Yang Diusir

Pembalasan Putri Yang Diusir
Kalian Kalah dan Kami Menang


__ADS_3

Abrico menyerang anak buah Ed dan Lay dengan buas. Pria yang tadi masih bersikap biasa saja kini berubah seperti induk singa yang kehilangan anaknya.


Bella sendiri mengikuti pergerakan Abrico, gadis itu walaupun hanya sebentar berlatih bela diri tapi cukup lihai menghindari serangan.


"Kau itu tampan tapi kenapa tingkah mu seperti orang kesurupan? Rasakan ini."


Dor... dor... dor...


Tiga buah tembakan Bella luncurkan pada musuhnya. Dia tersenyum puas tembakannya tepat sasaran.


Di sisi lain Lay, pria itu mulai mulai lelah menghadapi Alfi. Dia tidak menyangka jika ayah Abrilla ternyata pandai bela diri. Walaupun usianya tidak muda lagi tetap saja tenaga orang tua itu seperti tidak ada habisnya.


"Begini saja kemampuan mu? Aku pikir kau itu hebat dan kuat. Tapi ternyata kehebatan mu dibawah standar." Ejek Alfi melihat Lay terjerembab menghantam meja.


Lay tidak menanggapi ejekan Alfi, pria itu malah menatap Ed yang ternyata sulit juga menaklukkan Abrilla. Anak buah mereka juga sudah banyak yang tumbang padahal menurut perhitungan mereka, jumlah anak buah musuh lebih sedikit.


Ed ternyata menyadari jika Lay melihatnya, pria itu menganggukkan kepala memberi kode pada rekannya.


Tangan kiri Ed dan Lay merogoh kantor celana mereka dan tiba-tiba melemparkan sesuatu pada Alfi dan Abrilla.


Byurrrr....

__ADS_1


Sebuah bubuk putih tersebar ke berbagai arah, ternyata tindakan Ed dan Lay di ikuti oleh anak buah mereka.


Ed dan Lay tersenyum sinis melihat bubuk racun mengenai target mereka. Bubuk itu berisi racun yang bisa membuat kulit panas dan melepuh. Bahkan bisa menyebabkan kebutaan jika terkena mata.


"Kalian kalah, menyerahlah." Teriak Ed melihat Abrilla tanpa pergerakan. Dia pikir bubuk tadi sudah membuat gadis itu kesulitan untuk menyerangnya.


"Kalah dan menyerah? Maaf itu tidak ada dalam kamus kami." Jawab Abrilla dan tiba-tiba dari atas ballroom beberapa orang berpakaian hitam loncat dan langsung menyerang Ed, Lay serta anak buah mereka.


Pergerakan orang-orang itu sangat cepat sekali, mengalihkan perhatian Ed, Lay dan antek-anteknya.


Ternyata orang-orang berpakaian hitam itu anak buah Rilla. Kelompok penyerang yang Abrilla tempatkan saat dirinya sudah puas bermain dengan Ed.


Mereka sudah ada tugas masing-masing dibawah kendali ketua mereka. X02 bertugas menumbangkan musuh tanpa sisa. X04 bertugas mengumpulkan musuh dalam satu barisan dibawah aturan mereka. X06 bertugas membereskan kerusuhan.


Saat ini Keluarga besar 3R berkumpul di tempat Rian dan Keyra berdiri. Mereka menyaksikan anak buah Abrilla bergerak menyelesaikan sisa-sisa pertempuran mereka.


"Siapa yang mengatur perjalanan mereka ke markas?" tanya Alfi sambil merapikan penampilannya.


"Anak buah ku, mereka sudah berjaga di pintu darurat." Azkio, pria yang usianya tak muda lagi baru saja bergabung karena tadi baru membereskan pengkhianatan di kuburan mereka.


"Lalu bagaimana tamu undangan? Apa mereka tidak curiga dengan kejadian ini?" Cila terlihat sedikit khawatir kejadian ini tercium sampai luar. Bisa-bisa media langsung datang menyerbu hotel.

__ADS_1


"Tenang saja Ibu, Amoz sudah mengurus hal itu. Penemuan barunya langsung berguna untuk kita." Jawab Abrico yang sudah mengkoordinasikan ini dengan Amoz tadi pagi.


"Tidak usah mengkhawatirkan banyak hal Ibu, semua sudah terkendali. Kami sudah mengurusnya dengan persiapan yang matang." Rilla menenangkan Ibunya, dia tahu wanita. disebelahnya ini memiliki kekhawatiran yang tinggi.


"Nona semua sedah terselesaikan." Zee mendekati Abrilla bersama dengan beberapa anak buahnya yang menyeret tubuh Ed serta Lay. Dua pria itu sudah tumbang, mereka pasrah di seret oleh anak buah Abrilla.


"Kalian kalah dan kami menang." Ucap Abrilla berjalan mendekati Ed.


"Kau tidak kenapa-napa, Bril?" Ed terkejut melihat gadis di depannya baik-baik saja tanpa luka.


"Tentu saja, kau pikir aku akan terluka karena bubuk racun murahan mu itu? Tentu saja tidak." jawab Abrilla tersenyum mengejek. "Semua rencana mu sudah terbaca dengan baik oleh ku jadi mana mungkin aku kalah darimu. Kau bisa saja menghasut anak buah kakak ku untuk berkhianat tapi aku juga bisa menyusupkan anak buah ku untuk mengorek informasi tentangmu."


Sebelum Abrilla ikut kembali ke tanah kelahirannya, gadis itu sudah mempersiapkan segala sesuatu yang mungkin bisa menjadi masalah untuk nya kedepan. Oleh karena itu, dia meminta anak buahnya bergerak cepat. Inilah hasil dari pergerakan anak buahnya, dia bisa mengendalikan keadaan sebaik mungkin.


Ed tidak menyangka jika Abrilla ternyata wanita penuh siasat. Dia pikir Abrilla itu hanya gadis manja dan mudah untuk di tipu. Menyesal dulu dirinya menolak gadis di depannya ini.


"Apa kau tidak mencintai ku lagi?" tanya Ed berharap masih ada kesempatan untuk mendapatkan Abrilla.


"Tidak, saat aku pergi dari sana dan memutuskan kembali kesini, saat itu juga sudah aku hapuskan perasaan ku padamu."


"Aku tidak mau basa basi lagi, Zee urus mereka berdua. Nanti anak buah Kak Abrico akan ikut membantu kalian." Perintah Abrilla dengan tegas. Zee mengangguk dan langsung membawa mereka pergi.

__ADS_1


__ADS_2