Pembalasan Putri Yang Diusir

Pembalasan Putri Yang Diusir
Season 2 - Azkio datang dan berpisah


__ADS_3

Pukul 8 malam seluruh keluarga Alfi sudah berangkat ke markas karena Azkio sudah sampai di markas 15 menit yang lalu. Sepanjang perjalanan tidak satu patah katapun keluar dari masing-masing anggota keluarga Anjar. Rico yang biasanya tidak bisa diam kini terlihat seperti benda tak bernyawa, hanya diam menggenggam tangan Rilla.


Setelah 20 menit perjalanan sampailah mereka di markas. Terlihat disana Azkio sudah berdiri menunggu kedatangan mereka. Cila turun dari mobil lalu menghampiri Azkio.


“Kak aku titip putriku padamu. Tolong jaga dia sebaik mungkin. Aku berharap disana dia bisa mendapat pengobatan terbaik dari kakek.” Ucap Cila memeluk kakaknya.


“Tentu saja, apapun akan aku lakukan demi keponakan cantikku itu. Sudah jangan bersedih, apa kau mau melihat Rilla ikut bersedih.” Ucap Azkio menenangkan Cilla.


Azkio melepas pelukan Cilla dan menghampiri tiga keponakannya. “Paman dengar beberapa waktu lalu kamu menjadikan kelinci kesayangan Oma Ara sebagai bahan percobaan lagi Rico.”


Rico hanya tersenyum saja sambil menggaruk kepala. Pasti ibunya yang memberitahu pamannya satu ini. “Iya benar paman.”


“Apa paman perlu membelikan kamu kelinci dalam jumlah banyak sebagai bahan percobaan? Kasihan Oma Ara yang harus di buat terkejut karena tingkah jail mu ini.”


Rico menggelengkan kepala. “Tidak usah paman, jika menggunakan kelinci lain itu tidak seru karena tidak ada tantangan tersendiri.” Ucap Rico lirih sambil melirik Oma Ara.

__ADS_1


Azkio terkekeh mendengar jawaban Rico. Kini dia ganti menyapa Rian yang dari tadi hanya menampilkan wajah datar saja. “Hai boy, wajah datarmu terlihat sangat jelek. Cobalah tersenyum sedikit.”


“Aku sedang tidak ingin menebar senyum paman.” Jawab Rian tanpa ekspresi.


“Ya baiklah, tidak apa.” Azkio sangat paham dengan sifat keponakannya satu ini, datar dan dingin seperti es balok.


Kini Azkio menyapa si cantik Rilla yang masih dalam gendongan Alfi. “Hai nona cantik, apa kamu siap mengunjungi kediamanan paman?” Azkio menatap iba keponakannya satu itu, wajahnya pucat dan tubuhnya terlihat lebih kurus dari terakhir mereka bertemu.


“Tentu saja, paman sudah menyiapkan kamar khusus untuk Rilla bukan?” Rilla menjawab dengan raut wajah bahagia, dia tidak mau orang-orang disekitarnya sedih karena harus berpisah dengannya.


Setelah menyapa keponakannya, Azkio mengobrol sebentar dengan Cila, Alfi dan Oma Ara. Tepat pukul 9 malam, Azkio mengambil Rilla dari gendongan Alfi.


“Rian, Rico, paman tunggu kedatangan kalian secepatnya. Jangan suka membuat keonaran dan jangan manjadi pria lemah.” Ucap Azkio pada Rian dan Rico. Kedua bocah itu mengangguk saja.


Setelah melakukan salam perpisahan Azkio menggendong Rilla masuk ke helikopternya disaksikan Alfi sekeluarga. Secara perlahan helicopter naik dan menghilang dari pandangan mereka semua.

__ADS_1


“Rian, Rico ayo pulang. Saat ada waktu senggang kita pasti akan mengunjungi Rilla.” Ucap Alfi menghibur kedua putranya.


“Baik ayah.”


Mereka memutuskan untuk pulang tanpa bersedih. Sebuah kaliamt tertanam di diri mereka. Berpisah untuk kesembuhan lebih baik dari pada bertahan tapi merasa kesakitan.


***


“Apa Rilla sedih berpisah dengan ayah, ibu dan kakak?” tanya Azkio memangku keponakannya.


“Ya, Rilla sangat sedih tapi Rilla harus kuat paman.” Jawab Rilla lirih namun mash terdengar oleh Azkio.


“Tidurlah, perjalanan masih jauh. Jika sudah sampai pasti paman akan membangunkan Rilla.” Rilla menurut, perlahan matanya mulai terpejam dan memasuki alam mimpi.


“Paman janji akan merawatmu dengan baik suapaya cepat pulih.”

__ADS_1


__ADS_2