Pembalasan Putri Yang Diusir

Pembalasan Putri Yang Diusir
Menunggu kedatangan


__ADS_3

Bella baru saja pulang dari kampus. Dia masuk rumah dengan wajah tidak enak dipandang. "Apa yang sedang kau pikirkan? Wajahmu jelek sekali seperti kain lecak yang tidak di setrika." tanya Abrico yang sedang duduk di ruang tamu.


"Kak Rico mengagetkan aku saja. Seperti hati disiang bolong." Bella baru menyadari jika Rico ada disitu. Dia pikir tidak ada siapa pun di rumah ini karena tadi pagi mereka berkata akan pergi ke rumah utama.


"Kau saja yang kurang awas baik penglihatan maupun pendengaran. Jawab pertanyaan ku tadi bocah kecil." Rico berjalan menghampiri Bella.


"Aku hanya sedang kesal dengan mereka yang bermuka dua. Kenapa banyak sekali orang menjijikkan seperti mereka? Didepan kita mereka sangat baik tapi dibelakang kita mereka malah menjelekkan kita."


Rico tersenyum mendengar jawaban Bella. Ternyata bocah ini sedang mengeluarkan unek-unek tentang temannya.


"Apa mereka yang kau maksud adalah gadis bernama Alexa?" tebak Rico membuat Bella menyengitkan dahi.


"Darimana Kak Rico tahu? Apa kakak menguntit ku? Oh jangan-jangan kakak mematai aku ya?"


"Benar sekali adikku sayang, mulai saat ini aku yang nakan mengawasi mu karena Kak Abrian sudah fokus dengan persiapan pernikahannya. Oh ya apakah kamu ingin membalas perbuatan wanita bernama Alexa itu?"


"Memang boleh? Jika boleh ingin sekali aku membuat dirinya malu karena sudah membuat gosip buruk tentangku. Aku pikir dia benar berubah baik setelah kejadian dulu tapi ternyata dia itu ular berkepala dua." Bella sangat geram dengan Alexa karena sudah menyebarkan gosip jika Bella menggoda Leo, pria incaran Alexa.


"Tentu saja boleh, asal dia yang memulai dulu makan kamu berhak mengakhirinya." Bisik Rico ditelinga Bella. Itu membuat Bella terkejut.


"Aduh kenapa jantungku berdetak sangat cepat saat memandang wajah Kak Rico dari dekat? Apa dia memakai parfum ciptaannya sendiri? Yang bisa membuat orang di sekitarnya dag dig dug?" ucap Bella dalam hati.

__ADS_1


"Hai kenapa wajahmu memerah? Apa kau sakit?" tanya Rico memegang kening Bella.


"Emm tidak kak, mungkin aku kelelahan saja." jawab Bella berusaha tenang, dia tidak mau Rico tahu jika jantungnya berdetak cepat saat berada didekatnya.


"Ya sudah istirahat saja dulu, urusan Alexa terserah dirimu ingin melakukan apa padanya." Rico mengacak-acak rambut Bella lalu pergi entah kemana.


"Jantungku kenapa yaa? Apa aku mengalami gejala serangan jantung? Oh tidak. Aku tidak mau mati muda. Sepertinya aku harus mengurangi makan makanan yang berminyak dan harus rajin berolahraga. Iya benar aku harus berolahraga." Bella berbicara sendiri sambil berjalan, itu membuat beberapa pelayan menatap heran dirinya.


"Ada apa dengan Nona Bella? Kenapa dia berbicara sendiri?"


"Entahlah, mungkin sedang menghapal tugas kuliah."


"Tapi kenapa aku mendengar kata minyak?"


Bincang dua orang pelayan itu hanya menebak saja.


Malam hari tiba, Abrian, Abrico, Abrilla dan Arbella sedang menunggu kedatangan keluarga besar mereka. Alfi mengabari jika saat ini mereka masih dalam perjalanan dan sudah dekat.


"Kenapa lama sekali sih?" Rilla terus saja bertanya karena dia tidak sabar dengan oleh-oleh yang dibawa oma opanya.


"Sabar Rilla, kau tahu sendiri mereka itu membawa orang tua semua. Jika tidak pelan dalam mengendarai mobil bisa-bisa sakit pinggang mereka kumat." jawab Rico asal-asalan karena dia sambil bermain game.

__ADS_1


Plukk..


Rilla menimpuk kepala Rico dengan gigitan apel miliknya. "Kau ini kak asal saja bicara. Bagaimana jika oma mendengar pasti dia akan menjewer telingamu."


"Biarkan saja, membuat oma kesal itu hobiku. Jika oma tidak kesal rumah tidak akan ramai."


"Jika ingin ramai bakar saja rumahnya."


"Iya lalu koleksi mobilmu jadi rongsokan dan kau merengkek minta dibelikan mobil baru."


Bruk Bruk... "Aduhhh"


Dua buah bantal melayang cantik pada wajah Rilla dan Rico.


"Apa kalian tidak bisa diam? Kau ini Rico jika tidak dengan Bella ribut maka dengan Rilla. Apa tidak bosan hah?" Pelaku pelempar bantal itu adalah Rian. Pria kulkas itu terganggu karena dia sedang merancang proyek baru yang akan dia bangun.


"Sebenarnya bosan kak. Ingin sekali saja ribut denganmu tapi aku takut jika ribut denganmu, aku akan kau kirim ke planet mars. Kan tidak lucu jika disana aku hanya memiliki teman alien."


Rilla tertawa mendengar celoteh Rico. "Eh Bella kenapa dari tadi kau diam saja? Apa kau sakit gigi?" tanya Rilla yang dari tadi tidak mendengar suara Bella.


"Tidak kak, aku hanya sedang mengingat pembelajaran tadi siang saja supaya tidak lupa." jawab Bella berbohong. Tidak mungkin dia menjawab sedang menenangkan jantungnya yang dari tadi tidak bisa berdetak dengan tenang karena bertemu dengan Rico.

__ADS_1


"Baguslah, memang lebih baik seperti itu. Jika kau ikut membuka suara yang ada akan semakin berisik." Ujar Abrian menanggapi jawaban Bella.


Bella hanya tersenyum saja. "Ini jantung ngk ada akhlak, ngak bisa tenang apa."


__ADS_2