
Saat ini Bril duduk berhadapan dengan Ed, terlihat gadis itu sangat bahagia berbeda dengan Ed yang tetap memasang muka dinginnya.
“Sudah aku katakana jika aku tidak tertarik dengan mu Bril.” Kata Ed menatap malas gadis di depannya.
“Kita sudah lama berteman apakah kau tidak memiliki perasaan apapun padaku? Kau juga kenapa menyembunyikan identitas aslimu dariku?”
“Karena jika aku menggunakan identitas asliku makan akan banyak gadis mendekati aku karna kekayaan.”
“Tapi aku tidak seperti itu bukan? Buktinya aku tetap berteman denganmu dan tetap mencintaimu.”
“Tetap saja aku tidak mencintaimu Bril. Aku tahu kau kaya dan tidak mungkin mencintaiku karna harta tapi sungguh hatiku tidak ada tempat untukmu.”
Kembali ditolak, dulu dirinya ditolak karena Ed merasa tidak pantas menjadi kekasihnya dan dia tidak ingin memiliki pasangan berasal dari kalangan atas. Kini dia kembali ditolak dengan alasan tidak mencintai.
“Aku tidak akan menyerah, aku akan tetap berusaha mendapatkan mu selagi kau belum menikah.” Kekeh Bril tersenyum.
“Abrilla Anggara Sharga, aku sudah 2 kali menolak mu apa kau ingin aku menolak sampai 3 kali?” tanya Ed menatap jengah gadis di depannya.
“Edrice Alzam, tidak akan ada penolakan ketiga. Aku yakin itu.”
“Kau sudah mengetahui identitas asliku?”
“Tentu saja, aku tidak akan mudah untuk kau bohongi lagi. Edran itu nama mu di dunia bawah bukan?” Bri berucap lirih tapi Ed masih mendengarnya.
“Kauuu…”
“Tidak usah menunjukku seperti itu sayang, aku memang sudah kau bohongi tentang identitasmu dulu tapi sekarang hal itu tidak akan pernah terjadi lagi.”
***
Setelah menemui Ed, Bril pergi menuju kantor ayahnya. Sharga Group, perusahaan yang sama besarnya dengan milik Ed. Bril selalu tampil ceria dan ramah kepada siapapun, kecuali orang yang tidak dia sukai.
__ADS_1
Tumbuh menjadi gadis cantik, periang dan pintar membuatnya tidak sombong. Setiap bulan biasanya dia akan mengajak beberapa karyawan kantor milik ayahnya untuk melakukan aksi sosial ke panti asuhan atau panti jompo.
“Nona Bril, nanti malam aka nada jamuan makan malam di hotel Smantha pukul 7. Berhubung Tuan Sharga tidak bisa hadir jadi nona yang harus mewakili perusahaan.” Ucap Paman Derik, asisten ayahnya.
“Baik paman, terimakasih sudah memberitahuku.”
Hari ini Bri mendapat tugas dari ayahnya untuk mengecek beberapa kontrak kerjasama dengan beberapa perusahaan. Dengan otak pintarnya Bril menyelesaikan itu dengan cepat dan melanjutkan pekerjaan lain lagi.
Tepat pukul 5 sore Bril memutuskan untuk pulang karena harus bersiap untuk pergi ke jamuan makan malam. Dalam perjalanan pulang, Bril menyempatkan untuk menelpon Ed tapi panggilan terus ditolak. Kerena kesal Bril meminta anak buahnya untuk mencari tahu apa yang sedang Ed lakukan.
Tidak sampai 5 menit dapatlah informasi jika Ed sedang melakukan pertemuan bisnis dengan seorang pengusaha wanita di sebuah hotel.
“Ah rupanya hotel yang sama dengan tempat jamuan makan malam. Sepertinya kita akan bertemu lagi honey.”
***
Tepat pukul 7 malam Bril sudah sampai di hotel Smantha. Dirinya tampil cantik menggunkan dress selutut berwarna putih. Terlihat orang yang Bril kenal menyapa dirinya.
“Apa ayahmu sibuk Bril sehingga tidak bisa hadir?” tanya seorang pria paruh baya yang datang bersama istrinya.
“Ya sudah jika begitu ayo masuk bersama dengan kami Bril.” Ajak Bibi Jihan menggandeng tangan Bril. Dengan senang hati Bril masuk bersama pasangan ini.
Acara jamuan makan malam di buat oleh asosiasi penguasaha di kota ini dengan tujuan menjalin silahturahmi antar pengusaha. Biasanya juga dijadikan sebagai ajang pembukaan tender besar yang melibatkan negara.
Bril yang sudah sering mengikuti acara seperti ini tentu saja tidak gugup lagi. Di usianya yang menginjak 24 tahun Bril sudah dikenal banyak pengusaha lain karena sering memenangkan beberapa tender dan membawa perusahaan ayahnya terus naik dan menduduki posisi atas. Tidak heran banyak pengusaha yang berniat menjadikan Bril menantu ataupun istri.
“Nona Bril, senang bertemu dengan anda kembali.” Bril yang sedang duduk manis melihat sekelilingnya sedikit terkejut melihat kedatangan seseorang.
“Tuan Willy, senang bertemu dengan anda.” Willy merupakan seorang pengusaha muda yang baru pindah ke negara ini. Perusahan Willy juga sedang menjalin kerjasama dengan Sharga Group.
“Panggil aku Willy saja. Usia kita tidak berbeda jauh.”
__ADS_1
“Ya baiklah, panggil aku Bril tanpa embel-embel nona.”
Bril dan Willy duduk bersebelahan dan mereka mengobrol bersama. Dari kejauhan Ed yang baru datang dengan seorang wanita menatap datar saat melihat Bril.
“Tuan Ed, apa yang sedang anda perhatikan?” tanya wanita disamping Ed.
“Oh bukan apa-apa Nona Elfa.”
Jamuan makan malam sudah di mulai dan terlihat ruangan sangat ramai sekali. Bril tersenyum saat menemukan keberadaan Ed, namun seyumnya luntur ketika Ed sedang mengobrol mesra dengan seorang wanita.
Karena penasaran Bril mendekati Ed. “Halo Ed, kita bertemu lagi.” Sapa Bril berdiri di samping Ed.
Ed tidak menanggapi sapaan Bril, dia tetap fokus mengobrol dengan Nona Elfa.
“Maaf siapa gadis itu Tuan Ed?” tanya Elfa menatap tidak suka Bril.
“Dia gadis pengusik tidak tahu malu dan suka menggoda pria.” Jawaban Ed terdengar keras ke telinga beberapa pengusaha dekat mereka.
Bril terkejut saat Ed menjawab seperti itu, entah kenapa kali ini hatinya sangat sakit sekali. Elfa yang mendengar jawaban Ed langsung mendorong Bril kasar. “Kau gadis penggoda lebih baik pergi dari sini. Bagiamana jika kau berniat menggoda pria lain yang sudah memiliki istri? Sudah pergi sana.”
Punggung Bri terasa sangat sakit saat terbentur kursi. Bril tidak tahu jika wanita di depannya berani melakukan hal itu di depan umum. Ed sendiri terkejut melihat tindakan Elfa tapi entah kenapa dia tetap bersikap tidak perduli dengan Bril.
“Bril apa yang terjadi denganmu?” Willy yang kebetulan tidak jauh dari mereka langsung berlari saat melihat Bril di dorong seorang wanita.
“Willy tolong bantu aku berdiri.”
Dengan sigap Willy membantu Bril berdiri, Willy merasa tangan Bril terasa dingin sekali dan wajahnya sedikit berbeda. Mata Bri juga mulai memerah.
“Sepertinya memang tidak aka nada penolakan untuk ketiga kalinya Tuan Ed yang terhormat. Karena saya memilih untuk kembali mundar dan tidak akan pernah maju lagi untuk anda.” Kini Bril terlihat begitu dingin di mata Ed.
“Willy bisakah kau bawa aku pergi dari sini.” Suara Bril bergetar dan ibu membuat Willy tidak tega melihatnya.
__ADS_1
Tanpa meminta persetujuan dari Bril, Wily mengangkat tubuh Bril ke gendongannya dan membawa pergi dari jamuan. Bril pasrah dan menenggelamkan wajahnya di pundak Willy.
“Antar aku ke rumah.” Pinta Bril lirih kemudian tidak sadarkan diri.