Pembalasan Putri Yang Diusir

Pembalasan Putri Yang Diusir
Season 2 - Menjalankan Misi


__ADS_3

Edrice duduk termenung di apartemen miliknya, wajahnya kusut seperti baju tidak di strika. Pikirannya melayang pada sikap Bril yang mengacuhkannya tadi. Entah kenapa hatinya sangat sakit ketika Bril mengatakn dia orang asing.


“Kenapa jadi seperti ini Bril? Aku tahu aku salah tapi kenapa kau tidak memberikan aku kesempatan untuk meminta maaf.”


Rezan yang baru saja mengangkat telepon mendekati Edrice. Dia ingin menyampaikan informasi yang mungkin bisa membuat Tuan Muda-nya semakin murung. Dengan pelan Rezan mendekat dan menepuk bahu Edrice.


“Tuan Muda, anak buah kita melapor bahwa Nona Bril ikut kembali ke Indonesia bersama saudaranya. Saat ini mereka menuju bandara, pesawat akan berangkat tepat pukul 3 sore.”


Mendengar hal itu Edrice langsung menyambar jasnya dan menelpon seseorang. Tekadnya sudah bulat untuk menemui Bril lagi, jika dengan cara baik-baik tidak bisa makan dia akan menggunakan cara sedikit kasar. Asal bisa berbicara bedua dengan Bril.


“Ayo segera kebandara, Rezan.” Ucap Edrice dengan terburu-buru, Rezan yang tidak mengerti apa yang sudah bosnya rencanakan hanya bisa mengikuti saja.


***


Disis lain, seorang wanita tengah berbicara dengan seseorang melalui sambungan telepon. Wanita itu tersenyum sinis mendengarkan laporan dari anak buahnya.


“Lakukan rencana yang sudah aku kirimkan padamu. Aku ingin tahu seberapa hebat dirinya.” Perintah wanita itu.


“Baik Nona! Saat ini kami sudah siap diposisi masing-masing.” Sahut seorang wanita yang merupakan anak buah dari wanita itu.


“Pasukan mana yang hari ini kau bawa, Zee?” tanya wanita itu.


“Pasukan X06 dengan jumlah 10 anggota, mereka sudah tersebar di beberapa titik. Target mendekat Nona, kami bersiap.” Jawab wanita bernama Zee.


“Selamat menjalankan misi, aku tunggu kabar baiknya Zee.” Ucap wanita itu kemudian menutup telepon.


Di bandara terlihat beberapa bagian dijaga ketat oleh orang berpakaian serba hitam. Jalan khusu juga disediakan oleh pihak penerbangan untuk mengawal kepulangan anak dan keponakan seseorang yang sangat disegani di negara ini.


Sebuah mobil yang di duga rombongan Abrian tiba di bandara dan bersiap masuk kepesawat. Mereka menggunakan hoodie berwarna hitam semua, tidak lupa masker dan kacamata melekat di wajah mereka.


Disebuah sudut, seseorang mengawasi mereka dan memberi perintah pada anak buahnya. “Bawa Bril secara paksa karena aku yakin jika dengan cara halus dia pasti memberontak.”


“Baik tuan, segera kami laksanakan.” Sahut anak buahnya.


Disamping pria itu berdiri seseorang dengan raut wajah cemas. “Tuan Muda, apakah ini tidak berbahaya? Anda lihat sendiri penjagaan mereka sangat ketat.”


“Kau meremehkan aku, Rezan? Sudah percayalah padaku ini akan berhasil, sebelum Bril memaafkan aku tidak akan aku biarkan dia pergi dengan mudah dari negara ini.” Pria itu ada Edrice, dia meminta bantuan dari temannya yang merupakan salah satu mafia cukup terkenal di kota ini untuk membantunya membawa Bril.


“Tuan, mana wanita yang bernama Bril? Ada 2 wanita di rombongan mereka dan menggunkan atribut yang sama.” Lapor seseorang.


“Bawa saja keduanya, toh kita tidak berniat menyakiti mereka.” Jawab Edrice, dirinya saja tidak tahu Bril yang mana.


Tidak lama setela itu terdengar baku tembak antara pengawal Abrian dan anak buah Edrice. “Tuan dan Nona, cepat masuk ke pesawat biar mereka kami yang menghadapi.”


Belum sempat masuk, orang suruhan Edrice datang dalam jumlah cukup banyak, sebagian menghadapi para penjaga dan yang lain langsung membawa Abrilla dan Arbella dengan paksa. Edrice yang melihat orang suruhannya berhasil membawa Bril tersenyum puas. Dia kemudian meminta anak buahnya mundur.

__ADS_1


“Mana Bril?” tanya Edrice yang baru saja masuk ke mobil berisi dua wanita menggunakan masker dan kacamata.


“Silahkan tuan buka sendiri, wanita ini atau itu.” Tunjuk anak buahnya.


Dengan semangat Edrice membuka masker dan kacamata wanita sebelah kanan tapi saat dibuka ternyata itu bukan Bril. Kini ganti wanita sebeahnya yang Edrice lepas masker dan kacamatanya. Dan hasilanya juga sama dia bukan Bril.


“Kalian siapa hah? Mana Bril?” tanya Edrice emosi.


“Maaf tuan, sebenarnya ada apa ini? Kenapa anak buah anda menculik kami?” tanya salah satu wanita itu dengan nada tinggi.


“Seharusnya aku yang bertanya pada kalian, siapa kalian dan kenapa bisa berada di pesawat milik Sharga Group?


“Kami ini tamu perusahaan Tuan Sharga yang akan kembali ke Amerika. Jadi wajar saja kami menaiki pesawat itu.” Wanita satunya menjawab dengan ketus.


“Apa? Bagaimana bisa, seharusnya ini jadwal keberangkatan Bril. Lalu sekarang mereka dimana?” Edrice panik karena dia salah sasaran.


“Sebaikanya anda bebaskan kami dari sini dulu tuan, kami harus kembali hari ini. Saya juga sedang hamil muda merasa sesak berada di mobil anda.” Ucap seorang wanita mengelus perutnya.


Merasa bersalah, Edrice meminta anak buahnya mengantarkan dua wanita itu ke tempat tadi. Dia juga meminta maaf atas kejadian yang sudah terjadi.


“Rezan, bukankah katamu Bril berangkat pukul 3 sore, tapi kenapa kita salah sasaran?” tanya Edrice marah.


“Maaf Tuan Muda, saya juga tidak tahu. Tapi sejak tadi anak buah kita tidak hanya melihat kedatangan orang-orag tadi yang menuju tempat khusu milik Sharga Group. Jadi tidak mungkin kita kecolongan.” Jelas Rezan.


Dor..


Dor..


Dor..


Anak buah Edrice siap siaga melidungi bos mereka, mereka melihat sekeliling tapi tidak menemukan siapa yang sudah menembaki mobil.


“Siapa yang berani menyerangku?” tanya Edrice tersulut emosi.


“Maaf tuan, kami tidak melihat siapapun menembak ke arah kita.” Lapor salah satu anak buah Edrice.


“Kurang ajar, berani sekali mereka memancing emosiku.”


Di atas gedung Sharga Group 3 orang wanita dengan memakai gaun sedang melakukan photoshoot dan 2 orang berperan sebagai fotografer. Tapi jangan salah, sebenarnya merekalah yang sudah menembaki mobil Edrice tadi. Namun untuk menutupi kecurigaan dan menghindari pengawasan anak buah Edrice mereka menyamar seperti itu.


“Apakah potret kami sangat mempesona?” tanya seorang wanita dengan tatapan yang hanya mereka saja tahu artinya.


“Sungguh mempesona sekali, bahkan banyak yang mengagumi kalian.” Jawab seorang wanita dengan mmegang camera ditangannya. Jangan remehkan camera itu karena sudah dimodifikasi sebagai alat tembak dengan sekali pencet tombol khusus berwarna merah.


“Apa sebagai fotogrefer kau tidak berniat mengabadikan pemandnagan indah dibawah sana?”

__ADS_1


“Oh benar juga katamu, aku harus mengabadikan pemandangan indah dibawah sana.”


Cekrekkkk


Cekrekkk


Cekrekkkk


“Ahhhhhh….”


Dibawah sana beberapa anak buah Edrice merasakan sakit yang amat luar biasa akibat sebuah jarum mencap di tubuh mereka. Edrice yang melihat hal itu langsung mencaut salah satu jarus, dia memperhatikan jarus tersebut dan terkejut.


“Ini jarum beracun, cepat bawa mereka ke markas.” Perintah Edrice pada anak buahnya yang tidak terkena jarum tersebut.


“Sepertinya lawan kita bukanorang biasa. Kita harus pergi dari sini Rezan dan minta Hulk menyelidikinya.” Edrice kembali masuk ke mobil dan pergi dari bandara. Dia mengurungkan niat untuk mencari keberadaan Bril, saat ini nyawanya lebih penting dari apapun.


Diatas gedung 5 orang wanita tertawa sinis melihat target pergi dengan wajah panik.


“Ah sepertinya, kalian diatas sana sangat handal memerankan peran pada sore hari ini.” Ucap seorang wanita di sambungan telepon.


“Tentu saja, bukankah kalian juga tadi memerankan peran sangat menyakinkan. Mereka itu bodoh, bisa-bisnaya percaya jika diriu hamil muda. Ibu hamil mana yang berani menaiki pesawat dalam keadaan hamil muda dan pakian sangat ketat seperti itu.” Mereka menertawakan kebodohan Edrice dan anak buahnya.


“Kini tinggal menunggu aksi selanjutnya dari 3 orang di pintu keluar bandara. Semoga mereka tidak mengalami kegagalan.”


Dipintu keluar bandara 3 orang menyamar sebagai supir taksi, melihat ada 3 buah mobil keluar dari bandara dengan gerakan cepat 3 buah benda terlempar di udara dan jatuh di atas 3 mobil tadi.


Melihat tugas mereka berjalan dengan mulus, ketiganya tersenyum senang.


“Aku yakin tidak sampai 10 menit mobil mereka akan terasa panas. Jika tidak segera keluar mungkin mereka akan mati ditempat.”


Benar saja tidak sampai 10 menit Edrice dan anak buahnya merasa kepanasan dalam mobil. Mereka menepikan mobil di jalanan sepi dan keluar. Saat mereka sudah keluar, terdengar bunyi bom akan meledak dalam hitungan 10 detik.


“Lari menjauh.” Teriak Edrice pada anak buahnya.


Duarr..


Duar..


Duar..


Tiga buah mobil meledak dalam waktu bersamaan, untung mereka berhasil menjauh dan ledakan tidak terlalu besar.


Tanpa sepengetahuan mereka, seseorang pengendara motor mengawasi mereka dari kejauhan, dia adalah Zee.


“Tugas selesai dan tidak mengalami kegagalan, laporan selesai.”

__ADS_1


__ADS_2