
Pagi hari Rian sudah siap dengan jas berwarna putih melekat di tubuh kekarnya, wajah pria itu menyiratkan sesuatu yang sulit untuk di tebak. Semalam dia tidak bisa tidur dengan tenang karena anak buahnya memberi kabar Ed sudah masuk ke hotel yang letaknya di depan hotel ini.
Clekk
Pintu terbuka menampilkan keluarga besarnya. “Wah kau sangat tampan kak pagi ini. Aku yakin Keyra akan cemburu jika banyak gadis memuji ketampanan mu.” Rilla mendekat, gadis itu langsung memeluk erat sang kakak. Rian tersenyum membalas pelukan sang adik.
“Jangan lama-lama memeluk Kak Rian, ingus mu bisa mengotori bajunya Rilla.” Rico, perusuh itu ikut memeluk Rian. “Setelah menikah jangan lupakan kami.” Ucapnya lirih.
“Bagaimana mungkin aku melupakan kalian? Kita sejak masih jadi biji kecambah sudah bersama-sama dan sampai kapan pun tidak akan pernah lupa. Semalam kalian biasa saja dengan ku tapi kenapa sekarang jadi cengeng seperti ini.” Ledek Rian pada sang adik.
Rilla melepas pelukan, dia menatap sebal sang kakak. “Ck sedah haru seperti kau malah meledek kami kak. Ini bukan cengeng hanya saja kami merasa sedikit merelakan, merelakan berbagi kasih sayang dengan istri mu nanti. Benar kan bu?” tanya Rilla pada ibunya.
Cila tersenyum mengangguk, di ikut mendekati anak-anaknya. “Benar sekali, tapi bukan berarti kalian iri. Kelak kalian juga akan melakukan hal yang sama seperti Rian yaitu berumah tangga. Tidak terasa sebentar lagi Rian sudah menyandang gelar sebagai seorang suami. Pesan ibu padamu, jaga dan sayangi lah istri mu dengan baik. Kau tahu bukan jalan hidupnya itu berliku, jadi jangan menggores luka pada istri mu nanti.”
Rian megangguk dan memeluk ibunya, mana mungkin dia menyakiti perasaan Keyra. Rasa cintanya pada keyra amat besar, bahkan saat gadis itu pergi tidak seorang pun bisa menggantikan posisinya. “Iya bu, Rian janji tidak akan menyakiti dia. Jika Rian menyakiti Keyra berarti Rian juga menyakiti Ibu.”
“Hai boy, tidak terasa kamu sudah dewasa dan sebentar lagi akan menjadi kepala rumah tangga. Ayah berharap bisa menjadi suami yang baik untuk istri mu. Sayangi dia seperti kau menyayangi keluarga mu. Dan jangan pernah mengambil keputusan dalam keadaan marah.” Alfi menepuk bahu putranya. “Di pundak mu ini akan menjadi tempat bersandarnya istri mu bukan wanita lain.” Tambahnya mengingatkan.
“Aku mengerti ayah. Kesuksesan suami itu berkat istri, jika istri bahagia maka semua akan di permudah. Seperti itu bukan?” ujar Rian yang sering mendapat nasehat dari sang ayah. Alfi mengagguk membenarkan.
Kini ganti Azkio mendekat, tidak banyak kata yang Azkio ucapkan untuk keponakannya. “Setelah menikah perhatikan keselamatan istri mu, jangan sampai dia terluka. Karena saat orang yang kita cintai pergi maka kesendirian yang akan menemani kita.” Kata pria itu seperti mengungkapkan apa yang dulu pernh dia rasakan.
“Iya paman, Rian paham. Terimakasih.”
__ADS_1
Untuk opa dan para oma, pesan mereka untuk Rian sama. Menjaga dan melindungi istri dengan sebaik mungkin. “Jadikan masa lalu opa, paman mu dan orang tua mu sebagai pelajaran. Jangan lengah sedikit pun.”
Sedangkan di ruangan lain keyra sudah bersiap dengan gaun pengantinnya yang menjuntai indah. Riasan yang tidak begitu mencolok juga menambah kesan anggun pada dirinya. Dia tidak menyangka jika hari ini dirinya akan resmi menjadi istri Abrian, pria yang sangat dia cintai.
Kinan masuk ke kamar Keyra, dia ikut menggunakan kebaya yang sama dengan calon besan. Bibirnya terus menampakkan senyum. “Apa kau sudah siap sayang menjadi Nyonya Abrian Anggara?”
Keyra menoleh melihat ibunya masuk bersama seorang pria, Fangyu. Pria itu tersenyum melihat Keyra. “Cantik sekali calon menantu Keluarga Anggara.” Ujarnya memuji Keyra.
“Aku sudah siap bu, tapi aku sedih tidak ada ayah yang mendampingi.” Ayah yang dimaksud oleh Keyra adalah Jonathan, walaupun bukan ayah kandungnya Keyra menyayanginya.
Wajah Kinan berubah tidak senang tapi dia berusaha menutupinya. “Sayang jangan bersedih, walaupun tidak ada ayah tapi ada Paman Fangyu yang akan mendapingi dirimu. Dia akan menggantikan peran ayah di pernikahan mu ini.”
Keyra menatap Fangyu, pria itu tersenyum mengangguk. “Tenang saja key, paman akan mendampingi mu dan ibu mu.” Keyra hanya mengangguk saja, walaupun dia menolak pasti ibunya akan tetap memaksa.
“Permisi Nyonya Kinan, acara pernikahan akan segera di mulai. Tuan Abrian dan keluarga besarnya juga sudah di bawah.”Kata seorang pengawal.
“Baik kami akan segera turun.”
“Ayo Key, calon suami mu sudah siap di bawah.” Kinan menggandeng tangan Keyra sebelah kiri dan Fangyu menggandeng tangan Keyra sebelah kanan. Mereka persis suami istri yang akan mengantarkan putrinya ke pernikahan.
Beberapa pengawal mengikuti mereka dari belakang, ballroom tempat acara berada di lantai 2. Sampai dibawah mereka berjalan di atas taburan bunga mawar putih dan merah. Di ujung sana Alfi menatap Keyra dengan senyum mengembang.
“Kenapa tangan mu dingin kak? Gugup ya?” Rilla yang iseng memegang lengan Rian terkekeh. “Rileks kak, aku jamin sebelum Keyra resmi jadi istri mu pengganggu tidak akan muncul.” Ujar Rilla menatap sekelilingnya.
__ADS_1
“Aku percaya pada kalian.” Ucap Rian tenang.
Keyra dan Rian sudah duduk berdampingan, dengan cepat Rian berhasil menjadikan Keyra sebagai istrinya. Terlihat keduanya sangat bahagia, pasangan itu juga mendapat banyak pujian dari tamu undangan yang hadir.
‘Selamat menjadi Nyonya Abrian, istri ku’ bisik Rian di telinga Keyra. Wanita itu tersenyum malu mendengarnya.
Setelah menandatangani akta pernikahan mereka langsung melakukan foto bersama atas usul Rilla. Kinan dan Fangyu lebih banyak menebar senyum pada tamu undangan berbeda dengan keluarag besar Rian yang bersikap sewajarnya saja. Bukan karena tidak bahagia tapi karena sesuatu akan terjadi di pernikahan ini.
“Saya senang bisa menjadi besan kalian, Tuan dan Nyonya Anggara. Semoga dengan pernikahan mereka hubungan kita bisa terjalin baik secara keluarga maupun bisnis.” Kinan tanpa malu berkata seperti itu pada Alfi dan Cila.
“Nyonya Kinan, bagi kami pernikahan bukan ajang membuat kerajaan bisnis keluarga tapi menyatukan dua orang yang saling mencintai untuk mengarungi bahtera rumah tangga dengan sah.” Alfi berkata dengan opan tapi tersirat sebuah sindiran untuk wanita di depannya ini.
Sayangnya perkataan Alfi tidak di cerna dengan baik oleh Kinan, wanita itu beranggapan Alfi dan Cila berharap Rian dan Keyra segera memiliki keturunan. Dengan begitu mereka tidak akan bisa di pisahkan. Berbeda dengan Fangyu yang merasa tersindir karena sorot mata Alfi sangat tajam menatap dia dan Kinan.
Di pojok ruangan Rico memberikan kabar pada Rilla dan Rian lewat alat yang terselip di kerah bajunya. Alat itu sangat kecil dan warnanya sama dengan warna pakaian mereka.
“Ed masih memantau dengan begitu rencana kita tidak perlu di tunda.” Eskpresi Rico dalam berucap tersenyum karena dirinya sedang menemani beberapa tamu. Walalupun sambil menemani tamu tapi mata dan telinga bekerja dengan baik. Bahkan jam tangannya seperti CCTV yang mengawasi beberapa bagian ballroom.
“Baik, aku segera memberi intruksi padanya.” Balas Rilla yang berada dekat orang tuanya sedangkan pengantin baru itu sedang menyalami tamu undangan sambil berbincang.
“Jangan lupa tutup ruangan sementara, jika sudah selesai buka 4 pintu darurat untuk mengamankan tamu undangan.” Rian ikut menanggapi walaupun dia sedang berbincang dengan rekan bisnisnya.
“Lakukan sekaranggg…” perintah Rilla pada seseorang.
__ADS_1