
Tek.. tek.. tek..
1 menit
2 menit
3 menit
Sampai 5 menit berlalu tidak ada percakapan diantara 4 orang itu. Abrian, Abrico dan Abrilla larut dalam pikiran masing-masing. Sedangkan Arbella hanya memperhatikan 3 orang itu.
"Sebenarnya kita mau apa disini?" tanya Bella lelah menunggu mereka.
"Huff... Baiklah aku meninta kalian berkumpul itu karena ingin mengubah sedikit rencana. Aku ingin di hari pernikahan ku dengan Keyra masalah harus selesai hari itu juga. Karena tidak mungkin kita menunda rencana, aku khawatir Edrice juga memiliki rencana lain." Dari tadi Abrian memikirkan baik buruk rencana barunya itu.
"Aku setuju kak. Lay itu licik dan dia pasti akan meminta bantuan koneksinya. Aku takut Edrice dan Lay tahu acara pernikahan ini dan mereka memanfaatkannya untuk menyerang kita. Kita tidak tahu apa sebenarnya tujuan Edrice, yang kita tahu dia ingin meminta maaf pada Rilla. Tapi peristiwa kemarin membuat ku ragu jika Edrice hanya sekedar meminta maaf."
Abrico tentu saja tahu siap Lay, pria berwajah codet dengan mata sebelah kanan tidak berfungsi. Lay dikenal sebagai ketua mafia yang sulit diajak bicara baik-baik. Asal kliennya berani membayar mahal maka dengan senang hati dia melaksanakan tugas.
Abrian melihat Rilla. "Rilla apa pendapat mu? tanyanya.
Rilla tersenyum tapi itu bukan senyum biasa. "Jangan panik, aku yakin kita bisa melawan mereka."
Abrico mendesah pelan, dia yakin adiknya satu itu memiliki rencana sendiri. Rilla sangat berbeda dengan yang dulu, jika dulu gadis itu akan langsung mengatakan apa itu rencananya. Maka sekarang dia akan bergerak sendiri tanpa orang lain tahu.
"Jangan bertindak gegabah, aku tidak mau kau terluka." Ujar Abrian memberi peringatan.
"Tenang saja kakak, rencanaku tidak berbeda jauh dari kalian. Lalu apa rencana kalian? Pernikahan tidak lama lagi. Persiapan juga tidak bisa sebentar." Kata Rilla menatap kedua kakaknya.
Abrian dan Abrico menjelaskan apa rencana mereka sedangkan Rilla dan Bella hanya mendengarkan. Sesekali Rilla menyela pembicaraan untuk memastikan sesuatu. Bella sendiri hanya mengangguk, ternyata dirinya juga masuk dalam bagian rencana mereka. Dimana harus ada sebuah pengorbanan jika ingin mendapatkan sesuatu.
Bella cukup terkejut dengan rencana gila milik mereka. Baik buruknya harus dipikirkan, hal pertama yang harus disiapkan Bella adalah mental. Mentalnya tidak boleh lemah saat nanti harus menghadapi lawan.
__ADS_1
"Apa kau keberatan dengan rencana ini Bella?" tanya Rian.
"Tidak, aku akan melakukan itu." jawab Bella yakin.
"Baguslah, tenang saja kami tidak akan membiarkan dirimu lecet." ujar Rilla memeluk Bella.
***
Pagi hari setelah sarapan bersama Bella pergi berlatih bela diri bersama Opa Maxim. Sedangkan Rian, Rico dan Rilla pergi menggunkan mobil masing-masing. Entah kemana tujuan mereka, hanya ketiganya yang tahu.
Orang pertama yang sampai ke tempat tujuannya adalah Rian. Dengan menggunakan masker dan kacamata dia masuk ke gedung rumah sakit.
"Dimana?" tanya Rian sambil berjalan di lorong rumah sakit.
"L4, ruang anggrek pojok kiri."
"Baik aku kesana, kau sudah mengatur CCTV dan lainnya?"
"Oke... "
Rian tidak melewati lift melainkan tangga darurat yang letaknya diujung lorong. Dengan santai dia naik sampai lantai 4 supaya tidak ada orang yang mencurigai dirinya.
"Pitter, terimakasih sudah mau membantuku." Kata Rian mendekati pria yang berdiri dekat pintu.
"Ck kau ini pemilik rumah sakit kenapa harus berterimakasih denganku yang hanya direktur rumah sakit." jawab Petter terkekeh.
"Apa kondisinya semakin parah?"
"Ya sangat parah, aku sudah memeriksanya dan benar Tuan Jonathan diberi suntikan racun setiap seminggu sekali. Kini hidupnya hanya mengandalkan alat medis dan kuasa Tuhan saja." Jelas singkat Petter.
"Sudah aku duga ini terjadi. Ya sudah atur saja pemindahan pria tua itu seperti rencana. Anak buahku sudah standby di parkir khusus yang terhubung dengan ruanganmu."
__ADS_1
"Baik, percayakan padaku."
Petter langsung masuk ke ruang Jonathan, dia meminta orang kepercayaannya untuk membawa Jonathan ke ruangannya dengan kursi roda.
"Ilam kau pindahkan pria itu ke ranjang untuk menggantikan Tuan Jonathan. Kau dan Son bertugas menjaganya disini. Jika nyonya Kinan datang dan menanyakan kenapa wajah suaminya diperban katakan jika wajah suaminya mengalami gangguan kulit dimana wajahnya lebam dan mengeluarkan bau busuk. Apa kalian mengerti?" Kata Petter menatap anak buahnya itu.
"Mengerti tuan."
"Bagus, kalian ayo ikuti aku. Bersikap seperti biasa jangan sampai ada yang curiga." Petter keluar lebih dulu diikuti anak buahnya yang mendorong Jonathan di kursi roda.
"Sudah selesai?" tanya Rian yang menunggu di pintu.
"Sudah, aku segera membawanya."
"Baiklah, aku juga akan pergi."
Setelah Petter pergi Rian tersenyum sinis. "Nyonya Kinan, maafkan aku menukar suami mu." ujar Rian lalu pergi.
Tidak lama setelah Rian pergi, Nyonya Kinan datang. "Jika saja sore kemarin aku tidak ada acara pasti sudah menjenguknya." ucap Nyonya Kinan.
Dia masuk keruangan itu dan menemukan 2 orang perawat. "Bagaimana kondisi suami saya dan kenapa wajahnya diperban?"
"Maaf Nyonya, wajah suami anda lebam dan mengeluarkan cairan berbau busuk jadi kami terpaksa menutupnya. Apa nyonya ingi melihat dulu? " tanya salah satu perawat bersiap membuka perban.
"Eh tidak usah, kalian keluarlah dulu. Aku ingin berdua dengan suamiku." perintahnya pada 2 perawat.
Kedua perawat itu keluar dan Kinan mengunci pintunya.
"Hai suamiku, aku tidak menyangka jika suntikan yang aku berikan ternyata merusak wajah tampan mu. Tapi aku senang, dengan begitu kau akan cepat mati. Jika kau sadar tentu akan membuat ku tidak nyaman. Tidak nyaman menikmati hartamu. Oh ya asal kau tahu, aku sudah mendapatkan seluruh harta milik putrimu, Senafa Gu. Aku bisa mendapatkan itu dengan caraku sendiri. Aku juga sebenar lagi akan memiliki menantu orang terpandang. Kau pasti iri. Dan aku memiliki satu kabar lagi, aku sedang mengandung. Tapi sayangnya ini bukan anakmu, ini anakku dengan Fangyu. Dia yang akan mewarisi seluruh harta kekayaan keluargamu. Tidak sia-sia aku menggoda Fangyu. Dia tampan dan berotak pintar. Beda denganmu yang bodoh. Ya sudah aku pergi dulu, kali ini aku tidak berminat memberikan mu suntikan."
Setelah berkata seperti itu, Kinan keluar tanpa menyapa 2 perawat tadi.
__ADS_1