
Zay memandang Ayunda yang sedang tersenyum sendiri. Dia curiga jika Ayunda sedang memikirkan pria lain.
"Hei mengapa kau senyum-senyum sendiri gadis kecil?" tanya Zay memicing.
"Ck ck ck, kau membuyarkan lamunanku saja pria tua." jawab Ayunda dengan sinis.
"Apa katamu, pria tua? Aku masih muda dan tampan tapi kau mengatai aku pria tua." kata Zay tidak terima.
"Kau memang tua, lihat saja Kak Alfi sudah menikah bahkan sebentar lagi akan memiliki anak sedangkan kau jangankan menikah, punya pasangan saja tidak."
Zay melotot saat Ayunda berkata seperti itu, dia curiga jika kata-kata pedas yang Ayunda sampaikan itu dapat dari Mami Ara. Karena hanya Mami Ara yang selalu mengatai dia tidak punya pasangan, ya walaupun apa yang Mami Ara bilang adalah benar.
"Kau tambah jelek saat memelototkan mata seperti itu." ejek Ayunda menatap Zay.
"Sepertinya lama tidak bertemu kemampuan berbicara mu meningkat pesat bahkan sekarang kau pandai bela diri." Zay meminum lemon tea milik Ayunda.
"Kau juga banyak berubah, selain mulai banyak bicara dengnku kau juga berubah jadi pria tidak bermodal." balas Ayunda memperhatikanmu Zay minum lemon tea miliknya.
Jujur saja Zay sudah mulai kesal dengan Ayunda, padahal dulu Ayunda tidak berani bersikap seperti ini kepadanya. Tapi sekarang dia merasa mati kutu setelah kalah mengejsk gadis kecilnya itu.
"Oh ya kemarin aku melihatmu di cafe X bersama seorang pria, siapa pria itu?" tanya Zay ingin tahu.
__ADS_1
"Oh itu teman masa kecilku, namanya Ben dan aku sangat senang bertemu dengan dia kemarin." Ayunda menjawab dengan senyum manisnya.
Zay merasa kesal melihat Ayunda yang sepertinya bahagia bertemu dengan pria bernama Ben. Apakah aku mulai menyukai gadis ini? Mengapa aku tidak suka saat dia senang membicarakan pria lain, pikir Zay menatap Ayunda.
"Hei jangan melamun seperti itu, ayam tetangga ku kemarin mati akibat lama melamun." kata Ayunda menepuk pipi Zay.
Zay merasa seperti ada aliran listrik yang menyengat tubuhnya saat Ayunda menepuk pipinya.
"A a apa yang kau lakukan?" ucap Zay tergagap.
"Menyadarkan mu sebelum banyak setan masuk kedalam tubuhmu pria tua." jawab Ayunda.
"Kau semakin menyebabkan saja Yunda. Kemana sikap pendiam yang kamu miliki dulu?"
Jam makan siang telah tiba, Zay memesan 2 ayam geprek super pedas dengan cumi asam masis, tidak lupa jus melon kesukaan Yunda.
"Kau ini pesan banyak sekali. Apakah kau sanggup menghabiskan ini semua?" Ayunda manatap 1 piring ayam geprek dan 1 piring cumi asam manis serta nasi yang masih hangat di dalam piring saji besar.
"Bukankah ini makanan kesukaanmu dan pasti kau sanggup untuk menghabiskannya. Tenang saja aku yang membayar, karena aku bukan pria tidak bermodal seperti apa yang kau katakan tadi." Zay mulai mengambilkan makan untuk Ayunda, entah mengapa dia senang sekali bisa makan berdua dengan gadis kecilnya ini tapi dia gengsi untuk mengatakannya.
"Ya walaupun ini makanan kesukaanku semua tapi bukan berarti kau bisa memesan dalam porsi besar seperti ini. Yak karena kau yang membayar jadi kau yang harus menghabiskan."
__ADS_1
"Sudah gampang jika tidak habis kita berikan saja kepada orang diluar sana yang membutuhkan." jawab Zay enteng.
"Jika memang ingin memberi kau harus memesan makanan baru, lebih baik ini aku saja yang membawa pulang. Jangan terlihat seperti orang pelit pria tua."
"Iya iya nanti aku akan pesan makanan baru, sebaiknya kita mulai makan siang ini. Jika kau terus mengoceh kapan kita akan makan? Apa perlu aku suapi?" kata Zay bersiap menyuapi Ayunda.
"Ck ck ck kau pikir aku anak kecil atau sedang sakit sehingga harus disuapi. Aku bisa makan sendiri, lebih baik sekarang kita urus perut kita masing-masing." Ayunda mulai menikmati makanan yang sudah diambilkan oleh Zay.
Zay sendiri sengaja tidak membalas perkataan Ayunda, jika dia membalas bisa-bisa gadis didepannya ini akan terus berceloteh. Dia juga ikut menikmati makan siangnya sambil memandang wajah Ayunda, sedikit senyum terlihat di bibirnya.
Selesai makan siang Ayunda ingin langsung bertemu rekan bisnis, sebenarnya dia sudah mulai memegang kendali perusahaan milik almarhum papanya tapi karena tadi Zay mengajak bertemu dia tadi di kantor hanya sebentar.
"Rekan bisnismu wanita atau pria?" tanya Zay di parkiran.
"Seorang wanita paruh baya, memang kenapa? Apa jika seorang wanita muda kau ingin meminta bantuan ku untuk meminta kontaknya?" ucap Ayunda terkekeh.
"Tidak, aku hanya bertanya saja. Maksudku jika rekan kerjamu seorang pria kau harus berhati-hati, aku takut ada yang ingin mendekati mu dengan niat yang tidak baik." jawab Zay memperingati.
"Tenang saja aku akan berhati-hati, wah ternyata kau sangat perhatian juga denganku." ucap Ayunda tertawa.
"Kau jangan salah paham dulu gadis kecil, aku selalu perhatian kepada siapapun." Zay tidak menyadari jika jawaban yang dia ucapan bisa di salah artikan oleh Ayunda.
__ADS_1
"Ya baiklah dasar buaya, sudah aku pergi dulu. Terimakasih atas traktirannya dan hati-hati dijalan." Ayunda langsung masuk mobil dan melajulan melintasi jalan raya.
Zay menatap mobil yang dikendarai Ayunda sampai tidak terlihat olehnya lalu masuk mobil dan menuju kantor.