
Abrico duduk santai menatap keluarga Tua Fras yang hanya sedang berdiri ketakutan dihadapannya. Setelah mengusir paksa tamu undangan yang hadir dan tersisa Keluarga Tuan Fras, dirinya serta beberapa anak buahnya raut wajah Abrico hanya tersenyum sinis menatap sang pembuat onar.
“Kau tahu apa salahmu?” tanya Abrico sambil memegang sebuah suntikan berisi cairan berwarna merah. Suntikan ditangannya terlihat sangat mengerikan karena jarum suntiknya terlihat panjang.
Tuan Pras menyenggol lengan anaknya untuk menjawab pertanyaan Abrico. Dirinya tidak ingin menambah masalah dengan menyinggung kembaran Abrian.
“Maafkan aku, aku tadi terbawa emosi.” Ucap Fadli tidak berani menatap Abrico.
“Terbawa emosi ya? Hem besar sekali nyalimu membuat masalah dengan adik sepupuku.” Abrico berdiri dan mendekati Fadli.
“Tuan Abrico tolong jangan lakukan apa-apa pada putraku. Aku mohon.” Istri Tuan Pras menghadang jalan Abrico yang mendekati anaknya. Dirinya takut Abrico menyuntikkan cairan yang ada ditangannya pada Fadli.
Siapa yang tidak mengenal Abrico Anggara, anak kedua dari pasangan Alfian Anggara dan Fricilla Andara. Abrico memang terlihat lebih ramah dari sang kakak, Abrian tapi sifatnya sama kejam.
Jika Abrian bisa menggunakan cara kasar untuk membalas perbuatan seseorang maka Abrico menggunakan cara halus. Contohnya menyuntikkan sesuatu pada tubuh pelaku kejahatan. Suntikan yang dia berikan tidak membuat orang langsung meninggal tapi meninggal secara perlahan, seperti memberikan siksaan pada organ tubuhnya.
“Nyonya Fras, anda sudah tahu bukan jika aku bukan tipe orang yang mudah memaafkan? Jadi menyingkirlah. Atau anda ingin menggantikan anak anda untuk menerima suntikan ini?”
Tuan Fras dan Fadli terkejut mendengar tawaran Abrico. “Tidak biar aku saja yang menerima suntikan itu jangan ibuku.” Ujar Fadli menyingkirkan tubuh ibunya ke belakang.
__ADS_1
“Jangan, biar ibu saja.”
Melihat anak dan istrinya berdebat mengajukan diri, Tuan Fras memohon pada Abrico. “Tuan kau boleh ambil seluruh hartaku tapi jangan sakiti istri dan anakku.”
“Anda pikir aku dengan mudah menyetujui permintaan anda Tuan Pras? Tentu saja tidak. Karena aku tahu perusahaan anda sebenarnya sedang dalam kondisi tidak baik. Anda membuat pesta ini juga untuk mencari investor bukan? Bahkan saat anda tahu Bella merupakan bagian dari keluargaku, anda berniat mengajukan perjodohan dengan Fadli. Padahal antara anda dan Nyonya Kinan Gu sudah mengatur perjodohan untuk anak kalian. SUngguh serakah hidup anda Tuan Fras.”
Abrico tertawa sinis melihat raut wajah orang-orang serakah di depannya. Tidak sia-sia dirinya datang terlambat dan sempat mendengar pembicaraan Bella dan Nyonya Kinan di kamar mandi. Dengan begitu dia cepat bergerak mencari informasi.
“Tuan maafkan kesalahan keluargaku. Aku janji tidak akan membuat masalah dengan kalian.” Pinta Tuan Pras memohon.
“Sudah aku katakana jika aku bukan tipe orang pemaaf. Kalian bawa mereka ke markas dan bakar tempat ini. Katakan pada media jika Tuan Pras mencoba membakar kita dan melarikan diri dari negara ini. Buat buktinya juga.”
“Sudah lemah, berani berbuat kotor dan seenaknya sendiri lagi. Kalian pikir aku tidak tahu jika kalian sudah menyeewengkan dana sosial setiap bulannya. Untung saja aku tidak ikut kelompok kemanusiaan milik kalian.” Kata Abrico kemudian pergi meninggalkan tempat itu.
“Misi selesai…” Ucap Abrico mengirim pesan suara pada seseorang.
***
Dipinggir jalan sebuah mobil terparkir bebas, didalam mobil Abrian dan Bella sedang menunggu sesuatu.
__ADS_1
“Apa kau siap Bella?” tanya Abrian dibalik kemudi.
“Tentu saja, sepertinya akan sangat seru.”
“Ayo kita buat mengalami cedera.”
Dari belakang sebuah mobil melaju cukup kencang meleati mobil Abrian. Melihat itu Abrian langsung menyusul mobil di depan.
“Pakai sabuk pengamanmu Bella.” Ucap Abrian melajukan mobilnya dengan sangat kencang.
Jalanan terlihat sangat sepi dan hanya ada dua mobil melaju di jalan tersebut. Posisi mobil yang dikendarai Abrian sudah mendekati mobil di depannya. Abrian menambah sedikit kecepatan lagi kemudian menabrak bagian belakang mobil di depannya. Dengan sekali tabrakan mobil di depan mereka langsung hilang kendali dan menambrak pembatas jalan. Abrian tersenyum puas melihat mobil di depannya penyok dan mengeluarkan asap. Dengan cepat Abrian menekan tobol di samping kemudi membuat plat nomor mobil berubah.
Abrian dan Bella saling melirik dan menarik ke atas bibir mereka.
“Cedera apa yang kau harapkan untuk ibu tirimu itu atau kau ingin ibu tirimu tewas ditempat?” tanya Abrian yang sudah santai mengendarai mobilnya.
“Aku harap salah satu kakinya patah atau hidungnya bengkok atau wajahnya rusak. Tewas ditempat terlalu ringan untuk membalas semua kejahatannya pada ibuku.” Jawab Bella mengingat ibunya sering mendapat penyiksaan keji dari wanita jahat itu saat masih hidup.
“Lihatlah sirine polisi dan ambulan sudah terdengar. Sepertinya ibu tirimu mengalami cedera serius seperti yang kau harapkan.” Abrian melirik mobil polisi dan ambulan yang sudah mendekati lokasi tadi.
__ADS_1
“Sedikit rasa senang tumbuh dihatiku jika itu memang benar.”