Pembalasan Putri Yang Diusir

Pembalasan Putri Yang Diusir
Yang ditunggu akhirnya datang


__ADS_3

Orang yang mereka tunggu sudah datang secara bersamaan. Mereka tiba di rumah utama Keluarga Anggara dengan 3 mobil utama dan 4 mobil pengawalan. Kedatangan mereka disambut antusias oleh si kembar dan Bella.


"Selamat kembali ke rumah semuanya... " Sapa Rico merentangkan kedua tangannya.


"Malam nak, bagaimana kabar kalian semua?" Cila turun memeluk anak-anaknya satu persatu.


"Malam ibu, kabar kami semua baik. Bagaimana perjalanan kalian apakah ada hambatan?" jawab Rian sebagai anak tertua.


"Perjalanan kami lancar tidak ada kendala. Hanya harus berhati-hati karena bersama opa dan oma kalian." Alfi membantu Oma Ara dan Oma Rena turun dari mobil.


"Syukurlah, halo oma-oma ku yang cantik. Bagaimana kabar kalian?" Rian membantu Alfi menggandeng Oma Rena.


"Kabar kami baik tapi sedih juga karena kalian sudah lama tidak mengunjungi kami. Kalian terlalu sibuk dengan bisnis hingga lupa mengunjungi orang tua ini." Ucap Oma Ara tersenyum, walaupun umur sudah semakin tua tidak mengambil wajah cantik wanita itu.


"Hai Opa Max, Oma Qian. Tetap gagah dan menawan saja." Rilla mendekati Maxim yang masih gagah berwibawa diusianya yang tidak muda lagi. Pria itu menggandeng istrinya yang masih terlihat awet muda.


"Rilla bagaimana kabarmu sayang? Kau juga semakin cantik, pasti banyak pria yang mendekati mu." Ujarnya terkekeh.


"Tentu saja, aku harus semakin cantik supaya mendapatkan pria tampan dan kaya untuk memenuhi keinginan ku." jawab Rilla sombong.


Dari mobil belakang seorang pria keluar dengan tampilan yang tidak kalah gagah dari Opa Maxim. "Apa ketampanan ayah dan keinginan mu selama ini belum terpenuhi Bril sehingga harus mencari pria tampan dan kaya?" tanya pria itu menghampiri Rilla.


"Ehh ayah, bukan seperti itu ayah. Maksudnya ku pria yang akan menjadi suamiku kelak. Ayah itu tampan tapi suamiku kelak harus lebih tampan."


"Azkio putri kita itu harus mendapat kualitas bagus, mulai dari bibit, bebet dan bobotnya." Kata Alfi pada Azkio.


"Sudah ayo masuk, kasihan opa dan oma jika berdiri terus. Nanti pinggang mereka encok. Ayo masuk semuanya." ucap Abrico sambil menggandeng ibunya masuk kedalam.

__ADS_1


"Rian minta pengawal membawa barang-barang masuk ke dalam seperti biasa." pinta Alfi pada putranya.


"Baik ayah, masuklah dulu."


Setelah berkumpul di ruang keluarga, pelayan membawa minuman dan cemilan.


"Rian apa kamu sudah yakin akan menikah dengan Keyra? Ayah dan ibu tidak mau kejadian dulu terulang kembali." tanya Alfi serius.


"Sudah ayah seperti yang Rian jelaskan kejadian dulu terjadi karena Rian dan Keyra kurang terbuka saja. Tapi kami janji mulai saat ini tidak akan terulang lagi kejadian seperti dulu." jawab Rian yakin.


"Syukurlah, ibu senang jika kalian sudah menyadari kesalahan itu. Oh ya, kami cukup terkejut saat tahu Keyra adalah saudari tiri Bella dan mereka juga anak tiri wanita jahat itu. Sungguh kejam sekali dia mengorbankan 2 putrinya untuk kepentingan pribadi." Cila sangat geram dengan wanita seperti itu.


"Bella kenalkan mereka opa dan oma mu. Kau sudah diberi tahu Rilla bukan?" kata Alfi melihat Bella.


Bella mengangguk. "Sudah ayah, halo opa dan oma namaku Bella. Senang bertemu dengan kalian." sapa Bella dengan sopan.


"Iya benar opa." jawab Bella tersenyum.


"Bella berencana kuliah di luar negeri setelah rencana kami berhasil dan untuk perusahaannya sementara waktu akan dikelola oleh Keyra. Rilla tidak mau mengelola perusahaan itu karena Keyra lebih berhak. Dan aku juga memiliki rencana sendiri." Kata Rilla mengutarakan keinginannya.


"Baik ayah mengerti, lalu negara mana yang ingin Bella tuju?" tanya Alfi.


"Aku menyarankan Bella ke China. Disana ada Opa Max dan Oma Qian yang bisa mengawasi dan mengajarinya. Dan masih ada beberapa asset omanya disana atas nama Senafa Gu." Kata Rilla membatu Bella menjawab.


"Syukurlah, akhirnya opa dan oma ada teman. Untuk masalah asset sebenarnya di perusahaan opa masih ada saham senilai 18% atas nama Tuan Gu. Karena beliau sudah tidak ada berarti nanti itu akan menjadi milik Bella." Ujar Opa Max.


"Lalu bagaimana dengan wanita rubah itu Rian? Apa yang akan kamu lakukan padanya?" tanya Oma Ara.

__ADS_1


"Tentu saja masuk lab percobaan. Rico sudah menyiapkan ruang bedah khusus untuk wanita itu." jawab Rico cepat.


"Ckck kau ini apapun pasti akan jadi bahan percobaan. Sudah cukup kelinci kesayangan oma meregang nyawa akibat ulahmu." Oma Ara menatap sengit Rico teringat nasib kelinci kesayangannya.


"Itu karena umurnya saja sudah tua oma jadi sudah rentan penyakit." Elak Rico.


"Oh ya, Rilla harus lebih berhati-hati. Ayah curiga Edrice merencanakan sesuatu untuk mendekati mu lagi." Ucap Azkio membuat Rian dan Rico memicingkan mata.


"Bukankah tidak ada pergerakan sama sekali dari pria itu paman?" tanya Rico heran.


"Dia memang tidak bergerak tapi dia menggunakan kekuasaannya di dunia bawah untuk mendekati Rilla lagi. Seseorang memberi tahu paman jika Edrice meminta bantuan pada pria bernama Lay. Rico pasti kau tahu siapa pria itu."


"Tentu saja aku tahu, dia ketua mafia di bagian selatan Afrika. Memiliki koneksi dengan salah satunya perwira angkatan laut. Aku sebenarnya heran kenapa Edrice kini menjadi terobsesi dengan Rilla padahal dulu dia selalu mengacuhkan gadis itu." Ujar Rico menatap Rilla, sedangkan yang ditatap bergelayut manja di lengah ibunya.


"Edrice itu bermuka dua. Dia dulu menolak Rilla karena menganggap kekuasaan paman tidak sebesar dirinya. Tapi saat tahu yang sebenarnya dia berubah. Tidak akan dia biarkan ikan besar lepas dari kolamnya. Padahal orang tuanya sangat baik tapi kenapa anaknya tumbuh menjadi iblis." Azkio saja heran memikirkan pria itu.


"Kau juga kenapa bisa jatuh hati dengan pangeran iblis bermuka dua? Memang tampan tapi tidak berperikemanusiaan."


"Kak Rico, jika dulu aku tahu dia bukan pria baik-baik aku pasti sudah menjauhinya. Mungkin dulu mata dan otak ku belum bekerja dengan lancar jadi ya seperti ini. Tapi tenang saja sekarang aku sudah tahu mana pria yang harus didekati dan mana yang harus dihindari." Jawab Rilla.


"Sudah yang terpenting saat ini kalian harus berhati-hati dan bergerak lebih cepat dari Edrice. Opa yakin kalian bisa melawannya."


"Ya sudah ayah, ibu, paman, opa dan oma sekarang istirahat. Rico, Rilla dan Bella sekarang ikut aku." pinta Rian pergi ke ruang baca.


"Apa kalian tidak ikut?" tanya Cila menatap suami dan kakaknya.


"Biarkan mereka bergerak sendiri dan kita bergerak sendiri. Mereka juga sudah besar, sudah tahu langkah seperti apa yang harus dilakukan. Tugas kita hanya membantu dan mengingatkan. Sudah ayo kita istirahat saja." Ucap Azkio santai.

__ADS_1


__ADS_2