
Jika Alfi dan Zay sedang menikmati hari indah bersama pasangan mereka lain halnya dengan Zay yang harus melaksanakan perjalanan bisnis di luar negeri, tepatnya di Cina.
Kedatangan Anjar ke Cina bukan sekedar urusan bisnis belaka namun untuk melaksanakan misi khusus yaitu mencari informasi tentang Black Star, organisasi yang sedang Alfi selidiki.
Sudah 4 hari Anjar di Cina namun belum mendapatkan informasi apapun. Anak buahnya yang sudah dia sebar di negara ini pun belum memberikan kabar, cukup sulit bergerak dinegara orang apalagi tujuan mereka mengorek informasi tentang organisasi yang sudah lama menghilang.
Karena merasa bosan di hotel tempat dia menginap, Anjar memutuskan untuk berjalan-jalan mencari udara segar. Dia pergi ke pusat perbelanjaan terdekat menggunakan mobil yang dikendarai oleh anak buahnya. Sampai ditempat tujuan dia Anjar langsung turun dan meminta anak buanya untuk Kembali ke hotel. Cukup lama dia berada dipusat perbelanjaan itu dan memutuskan untuk pergi ketempat lain.
Anjar menyusuri gang sempit yang entah menuju kemana, sayup-sayup dia mendengar suara orang berkelahi. Karena penasaran Anjar memutuskan untuk mendekat dan ternyata ada seorang wanita sedang berkelahi dengan tiga orang pria. Terlihat ketiga pria itu menyerang wanita dengan brutal, namun Anjar akui beladiri wanita itu patut di acungi jempol.
Wanita itu terlihat gesit menghindari serangan dan mekukan serangan terhadap ketiga pria didepannya. Merasa semakin terdesak dan mengeluarkan luka cukup parah, ketiga pria itu melarikan diri secepat mungkin.
“Sudah puas menonton perkelahian ini?” Suara wanita itu mengagetkan Anjar yang masih mematung menatap kepergian tiga pria tadi.
Anjar berusaha memfokuskan diri lagi dan kemudian mendekati wanita itu, “Maaf aku tadi hanya lewat saja dan tidak ada maksud jahat.” Anjar tahu jika wanita didepannya terlihat sedikit mencurigai dirinya, wajar saja dia itu orang asing dimata wanita ini.
“Sepertinya kau bukan orang sini tuan, benar bukan?” tanya wanita itu merapikan penampilannya yang terlihat sedikit berantakan.
“Iya nona, aku memang bukan orang sini. Perkenalkan namaku Anjar, salam kenal nona.” jawab Anjar memperkenalkan diri tanpa menjelaskan banyak hal.
Wanita itu menatap intens Anjar kemudian berkata, “Panggil aku Alin, maaf tuan aku harus pergi.” Alin melangkah pergi seperti menghindari Anjar. Melihat wanita yang bernama Alin pergi Anjar mengejarnya.
“Tunggu Alin,”
Alin menghentikan langkahnya dan menoleh kebelakang. “Ada apa tuan? Bukankah kita tidak memiliki urusan?” tanya Alin menatap Anjar.
__ADS_1
“Iya nona tapi sepertinya aku memiliki urusan denganmu setelah ini.” Ucap Anjar tersenyum.
Alin terlihat mengerutkan keningnya tanda tidak mengerti dengan ucapan Anjar.
“Apa maksudmu tuan aku tidak mengerti?” tanya Alin lagi.
Anjar menunjuk tanda merah dilengan kiri Alin, “Aku butuh informasi tentang tanda itu.” Jawab Anjar dengan raut wajah serius.
Alin kaget mendengar jawaban Anjar tapi dia sebisa mungkin untuk tetap tenang.
“Ini hanya tato biasa tuan, tidak ada yang penting.” Ujar Alin terkekeh.
“Lalu bagaimana jika kakak ipar ku juga memiliki tanda seperti itu? Apa itu juga tato biasa.” Sontak perkataan Anjar membuat raut wajah Alin berubah datar.
Tanpa berkata apapun Alin langsung menarik Anjar mengikuti langkah kaki kakinya yang sangat cepat. Sambil melihat keadaan sekitar Alin terus melangkah memasuki gang-gang sempit lalu berhenti di sebuah rumah di pemukiman kumuh.
Tidak butuh waktu lama motor berhenti di sebuah apartemen mewah di pusat kota.
Lagi-lagi Alin menarik tangan Anjar untuk mengikutinya, sampai mereka di depan pintu apartemen dan dengan sidik jari Alin pintu langsung terbuka. Sebuah ruangan luas dan mewah membuat Anjar terkagum-kagum. Baru kai ini dia melihat apartemen dengan desain interior menarik.
“Silahkan duduk, aku kedalam sebentar.” Ucap Alin pergi meninggalkan Anjar. Anjar duduk di sofa sambil memandang sekelilingnya, tidak ada foto stupun di apartemen itu. Hanya ada sebuah lukisan sangat besar bergambar bintang-bintang kecil, sederhana namun indah.
Tidak lama menunggu Alin keluar menggunakan dress rumahan bermotif bunga-bunga berbeda dengan tadi dia menggunakan pakain serba hitam. Terlihat anggun dan berwibawa dimata Anjar.
“Darimana kamu berasal?” tanya Alin duduk berhadapan dengan Anjar.
__ADS_1
“Indonesia,” jawab Anjar singkat.
“Kakak iparmu pria atau wanita?”
“Kakak iparku wanita, namanya Cila dia berusia 23 tahun dan memiliki tanda seperti milikmu namun di tepak kaki.”
“Bolehkan aku bertemu dengannya?” pinta Alin memohon.
Anjar tersenyum mengembang, “Tentu saja boleh, tapi dengan 1 syarat kamu harus menceritakannya terlebih dahul kepadaku.”
“Apakah kamu bisa dipercaya?” tanya Alin memicing.
“Tentu saja bisa, jika tidak nyawaku bisa jadi taruhannya.”
Hayoo udah mulai ke misteri yang belum terpecahkan ini..
Pasti nanti bakal ada komen, "Wah Alin jodoh Anjar ya thor..." 🙈
Jangan lupa ❤❤❤
LIKE
KOMEN
FAVORIT
__ADS_1
VOTE