
Pukul 7 malam Mami Ara sudah berdandan rapi dan cantik. Mami Ara sedang menunggu Zay yang katanya masih bersiap dikamar.
"Alfi coba tolong panggil Zay, ini udah jam 7 kok belum turun-turun juga. Udah kyak cewek aja dandan lama banget." ucap Mami Ara sambil merapikan penampilannya.
"Lah itu Zay udh siap mi." tunjuk Alfi pada Zay yang baru saja turun.
"Zay ayo cepat berangkat, nanti kita ketinggalan acaranya." Mami Ara menghampiri Zay dan menariknya supaya cepat berangkat.
"Sabar dong mi, jangan tarik-tarik gini kyak anak kecil." Walupun Zay protes tapi tetap saja dia mengikuti langkah cepat Mami Ara.
"Udah ngak usah protes. Mami sama Zay berangkat dulu ya Fi, kamu ajak Cila makan malam jangan lupa minum susu ibu hamil."
"Iya mi hati-hati dijalan. Selamat menikmati Zay." Alfi menjawab sambil tersenyum jahil menatap Zay.
Mami Ara dan Zay berangkat bersama 2 orang bodyguard. Malam ini Zay menggunakan jasa berwarna hitam yang dipesankan Mami Ara. Penampilan Zay malam ini juga sangat berbeda dari biasanya karena tingkat ketampanannya naik ke level 3. Selama perjalanan Zay hanya diam saja sedangkan Mami Ara mewanti-wanti Zay supaya nanti saat ditempat acara harus ramah.
Sampailah mereka disebuah rumah mewah yang terlihat sangat ramai. Mami Ara dan Zay turun dari mobil dan langsung masuk ke dalam rumah tersebut. Sampai didalam terlihat dekorasi berwarna biru muda menghiasi dinding rumah tersebut dan seorang wanita paruh baya menghampiri Mami Ara.
"Mbak Ara akhirnya datang juga. Tere pikir mbak tidak jadi datang."
"Pasti datanglah mbak sudah janji sama kamu mau datang. Oh iya yang ulang tahun mana nih?" kata Mami Ara.
"Masih dikamar mbak belum dikeluarin takut nanti banyak yang deketin. Kan katanya mau dipepet sama anak Mbak Ara." bisik wanita itu kepada Mami Ara.
"Iya benar juga, pinter kamu Tere." ucap Mami Ara tersenyum.
"Ini siapa mbak? Zay bukan?" tanya Tante Tere melihat Zay.
"Iya kenalin ini Zay anak mbak nomor 2, Zay kenalan dulu." kata Mami Ara menyenggol lengan Zay.
"Hai tante kenalkan saya Zay." sapa Zay dengan ramah.
"Aduh kamu ganteng banget, panggil Tante Tere ya. Oh ya udah ayo duduk disana bareng yang lain juga." ajak Tante Tere.
Mami Ara dan Zay mengikuti langkah kaki Tante Tere.
__ADS_1
"Hai semua lihat siapa yang datang." kata Tante Tere menyapa tamu yang lain.
"Ya ampun Mbak Ara, akhirnya bisa ketemu lagi kita." seorang wanita menghampiri Mami Ara dan memeluknya.
"Iya mumpung ada waktu."
"Ini anaknya mbak ya? Ganteng banget mbak." kata ibu lain.
"Iya kenalkan ini Zay, anak bungsu saya." jawab Mami Ara tersenyum melirik Zay.
"Halo nama saya Zay, salam kenal semaunya." sapa Zay dengan senyum dipaksakan.
"Udah punya pacar belum nakal Zay? Kalo belum sama anak tante aja." celetuk seorang wanita.
"Pacar sih ngak ada tapi calon istri udah ada jeng." kata Mami Ara menjawab.
Zay melotot mendengar jawaban Mami Ara yang semena-mena. Calon istri darimana? Dekat dengan perempuan tidak. Itu yang ada dipikirkan Zay saat ini.
Terdengar sautan kecewa dari ibu-ibu yang kumpul itu. Gagal dapat mantu ganteng dan tentunya kaya.
"Ya sudah jeng silahkan nikmati hidangan yang ada, saya mau jemput anak gadis saya sebentar." kata Tante Tere.
"Mi, kok cuma Zay sih cowoknya? Kan malu jadinya." kata Zay yang duduk di samping Mami Ara.
"Ya gapapa dong, malu kenapa juga. Kamu kan ganteng, pake baju lagi. Kecuali kami cuma koloran terus kepalanya botak, boleh kamu malu soalnya mirip tuyul." jawab Mami Ara sambil mencomot pancake durian.
"Ah nanya sama mami ngeselin."
"Ya udah kamu jangan nanya apa-apa sama mami, mending kamu makan kue aja nih." Mami Ara menyuapi Zay kue lapis supaya Zay tidak banyak bicara.
Tidak lama kemudian Tante Tere turun menghampiri tamu undangan ibu-ibu sosialita bersyukur seorang gadis cantik.
"Selamat malam semuanya, terimakasih sudah hadir diacara ini. Perkenalkan gadis disamping saya ini namanya Ayunda, dia anak sematawayang saya. Hari ini dia berulang tahun yang ke 22 tahun dan baru saja menyelesaikan S1 di luar negeri." Tante Tere mengenalkan Ayu kepada ibu-ibu yang hadir.
Mereka memuji wajah cantik Ayu sekaligus mengucapkan selamat. Terakhir Tante Tere dan Ayu menghampiri Mami Ara dan Zay.
__ADS_1
"Mbak ini kenalkan Ayu anak gadis ku."
"Hai tante, saya Ayu." sapa Ayu mengalami Mami Ara.
"Hai sayang, panggil aja Mami Ara oke. Kamu cantik banget, imut lagi. Selamat ulang tahun ya sayang." kata Mami Ara yang terlihat sangat menyukai Ayu.
"Makasih Mami Ara."
"Oh iya Ayu, kenalin ini anak tante." kata Mami Ara mencubit lengan Zay.
"Hai saya Ayu salam kenal." sapa Ayu tersenyum.
"Saya Zay salam kenal juga." jawab Zay sambil mengusap lengannya.
"Tere mbak ada gaun terbaru loh, kamu mau liat ngak?" kata Mami Ara tersenyum misterius.
"Wah mau dong mbak. Ya udah sekalian kita gabung sama yang lain aja." jawab Tante Tere antusias.
"Ayu mami minta tolong temenin Zay dulu ya, soalnya kasihan Zay ngak ada temennya. Abisnya tadi dia maksa mau ikut kesini." kata Mami Ara tersenyum manis.
Ayu menganggukkan kepala. "Iya Mami Ara."
Zay menatap sinis Mami Ara yang telah memfitnahnya. Bisa-bisanya mami berbohong kepada gadis kecil di depannya ini. Zay ingin protes tapi Mami Ara menatap horor kepada dirinya jadi mau tidak mau Zay hanya bisa mengikuti keinginan maminya itu.
"Ayu ajak Zay ke taman samping rumah. Kasian kalo disini berisik suara ibu-ibu." perintah Tante Tere kepada anaknya.
Ayu menganggukkan kepala dan mengajak Zay ke taman samping rumah. Setelah Zay dan Ayu pergi dari ruangan itu, Mami Ara dan Tante Tere bertos ria.
"Akhirnya ada waktu buat deketin mereka." kata. Mami Ara terlihat senang.
"Iya mbak, semoga mereka cocok ya dan kita jadi besan."
"Pasti cocok, kalo ngak cocok ya kita buat cocok." ujar Mami Ara semangat.
Jika Mami Ara dan Tante Tere sedang berisik berbahagia lain halnya dengan Zay dan Ayu, mereka duduk berdampingan tapi hanya diam saja.
__ADS_1
"Dunia memang sempit ya. Ternyata kamu anak Mami Ara." kata Ayu mengawali pembicaraan.
"Ternyata kamu masih hidup kamu bocah kecil."