
19 tahun kemudian...
Melupakan seseorang yang pernah mengisi hati kita memang tidaklah mudah terlebih orang itu cinta pertama kita. Perlu waktu cukup lama untuk kembali memulai dengan orang baru, itupun tidak bisa kita prediksi berapa lama kita sudah pasti melupakannya.
Hal ini yang sedang dirasakan Abrian Anggara, putra pertama Alfi dan Cila yang sudah berusia 24 tahun. Hubungan asmaranya kandas begitu saja setelah menjalin hubungan dengan seorang gadis cantik berusia 24 tahun.
Keyra, gadis cantik yang sudah menjadi kekasih Abrian selama 3 tahun memutuskan Abrian tanpa alasan yang jelas setelah itu dia menghilang. Gadis yang berprofesi sebagai dokter bedah itu memiliki sifat lembut, baik hati dan tentunya pandai bela diri.
Awal pertemuan Abrian dan Keyra dii rumah sakit. Saat itu Abrian mengalami luka tembak di lengan dan di bawa kerumah sakit milik keluarganya. Saat itu dokter yang menangani adalah Keyra. Usianya saat itu masih 21 tahun tapi kemampuan medisnya tidak diragukan lagi.
Pertemuan kedua mereka saat Keyra sedang mengahadapi preman yang ingin memalaknya tapi karena pandai bela diri para perampok itu malah yang babak belur. Peristiwa itu disaksikan oleh Abrian saat dia pulang dari kantor. Abrian membantu Keyra memanggil pihak berwajib dan mengantarkan Keyra pulang ke rumah.
Pertemuan ketiga mereka terjadi saat Abrian mengantarkan Oma Ara ke panti asuhan dalam acara bakti sosial. Ternyata Keyra dulu juga tinggal di panti asuhan dan saat lulus sekolah dia pergi kuluar negeri karena menerima beasiswa.
Sejak pertemuan itu Abrian semakin jatuh hati pada Keyra. Mereka mulai menjalin hubungan setelah 2 bulan pendekatan yang dilakukan Abrian. Hari-hari dijalani mereka dengan bahagia, bahkan hubungan mereka sudah direstui orang tua Abrian. Memasuki tahun ketiga hubungan mereka, orang tua Abrian meminta mereka segera menikah. Abrian dengan senang hati langsung melamar Keyra dan Keyra menerimanya.
Dua minggu sebelum pernikahan mereka digelar, Keyra mengajak Abrian bertemu. Abrian yang sudah sangat mencintai Keyra tentu sangat senang saat gadis pujaannya mengajak bertemu. Dia menyempatkan diri membeli bunga mawar kesukaan Keyra dan sampai ditempat tujuan mereka bertemu masih mengobrol biasa. Namun setelah satu jam, Keyra berbicara serius pada Abrian.
“Abri, maafkan aku. Pernikahan kita tidak bisa dilaksanakan, aku rasa hubungan kita cukup sampai disini saja.”
Tubuh Abrian terasa seperti baru tertembak, dia sempat tertawa karena meganggap ucapan Kerya bercanda. Tapi melihat Keyra meneteskan air mata Abrian sadar jika ucapan Keyra tidak bercanda.
“Kenapa? Apa kau tidak mencintaiku lagi Key?” tanya Abrian menatap lekat wajah gadis yang sudah mengisi hatinya selama tiga tahun ini.
__ADS_1
“Aku tidak bisa menjelaskan alasannya Bri. Yang jelas aku tidak bisa menikah denganmu.” Ucap Keyra menggelengkan kepala.
Setelah berkata seperti itu Keyra pergi meninggalkan Abrian. Abrian pikir Keyra pergi untuk menenangkan diri ternyata dia salah, Keyla pergi tanpa ada yang tahu kemana tujuannya. Ini sudah satu tahun sejak kepergian Keyra yang entah kemana dan Abrian masih tetap dalam kesendiriannya.
“Permisi om, bolehkan aku mengumpat disini?” Seorang gadis menggunakan hoodie putih dengan rambut dicepol ke atas tiba-tiba masuk ke dalam mobil Abrian. Wajahnya merah seperti kepiting rebus dan bibirnya mengeluarkan darah disudutnya. Abrian ingin menolak tapi melihat kondisi gadis ini sedang tidak baik-baik saja dia menganggukkan kepala.
Gadis itu menunduk ketakutan dan tangannya bergetar hebat. Dari arah belakang mobil Abrian terlihat segerombolan pria berlari sambil mencari-cari sesuatu. Abrian sudah bisa menebak jika yang dicari mereka adalah gadis yang saat ini sedang bersembunyi dimobilnya.
Tok tok tok…
Kaca mobil Abrian di ketuk oleh seorang pria, dengan santainya Abrian keluar dari mobil.
“Ada apa mengetuk kaca mobilku?” tanya Abrian datar.
Pria bertubuh tegap itu terlihat sedikit takut melihat raut wajah Abrian yang tidak bersahabat. Namun dia masih memberanikan diri untuk bertanya.
Abrian mengerutkan keningnya, dia mengamati dengan teliti pria di depannya itu. Abrian tidak menjawab apapun tadi tangannya menunjuk salah satu jalan di sampingnya.
“Terimakasih tuan, maaf sudah mengganggu anda.” Pria itu beserta rekannya langsung berlari ke jalan yang ditunjuk oleh Abrian.
Melihat sudah tidak ada orang lagi Abrian masuk kembali ke mobilnya. “Mereka sudah pergi.”
“Syukurlah, terimakasih om kalau begitu aku pergi dulu.” Ucap gadis itu pelan.
__ADS_1
Abrian tidak mendengarkan ucapan gadis itu, dia malah mengunci pintu mobil dan menjalan mobil meninggalkan tempat itu. “Tenanglah aku bukan orang jahat. Kau akan aman bersamaku.” Abrian bisa melihat jelas raut wajah gadis itu ketakutan.
“Siapa namamu?”
“Senafa, panggil saja Nafa.”
“Aku Abrian. Siapa orang-orang tadi?”
“Aku tidak tahu, tapi yang jelas mereka ingin menculikku.”
Abrian tahu yang di ucapkan gadis ini tidaklah bohong tapi Abrian juga tahu jika ada sesuatu yang gadis ini sembunyikan darinya. Terlihat sangat hati-hati, itu yang Abrian rasakan dari gadis disampingnya.
Tidak membutuhkan waktu lama mobil yang dikendarai Abrian sampai di sebuah rumah mewah dengan halaman luas di area samping. Abrian mempesilahkan gadis itu ikut masuk dengannya. Sampai di dalam seorang palayan diminta Abrian membawa gadis itu membersihkan diri dan mengobati lukanya. Sedangkan Abrian pergi ke ruang kerjanya. Tujuannya untuk mencari identitas gadis itu.
Sedangkan di sebuah rumah kediaman seorang pengusaha yang usianya sudah mencapai 50 tahun. Seorang wanita paruh baya memarahi para pengawalnya.
“Bodoh kalian. Bagaimana bisa mengejar dan menangkap gadis kecil itu saja tidak bisa. Percuma aku membayar kalian mahal.”
“Mohon maaf Nyonya Gu, kami sudah berusaha keras tapi Nona Nafa cepat tiba-tiba menghilang dari kejaran kami.” Ucap pengawal itu membela diri.
Brakk…
Nyonya Gu menggebrakkan meja hingga membuat tangannya terluka. Wajahnya merah padam dan menggertakkan gigi.
__ADS_1
“Sudah sering ku katakana jangan panggil anak itu dengan sebutan nona. Di rumah ini hanya putriku yang berhak dipanggil nona. Gadis itu hanya anak pembawa sial, sama seperti ibunya.”
“Maafkan kami nyonya, kami tidak akan mengulanginya lagi.”