
Rico baru selesai membuat obat baru terkejut saat sang kakak menghubunginya untuk datang ke kampus Senafa karena gadis itu katanya terlibat perkelahian dengan temannya. Rian baru saja mendapat kabar itu dari anak buahnya yang memang ditugaskan menjaga Senafa dari jauh, di susul panggilan dari dosen kampusnya.
“Heii mau pergi kemana?” Tanya Azom melihat Rico keluar laboratorium dengan terburu-buru.
“Ada urusan penting.” Jawab Rico singkat.
Di sebuah ruangan seorang pria paruh baya memarahi Senafa habis-habisan. Tidak hanya pria, Senafa juga mendapatkan kekerasin fisik terlihat sudut bibir gadis itu berdarah. Pria paruh baya itu adalah Tuan Yanse, papa Renita. Tuan Yanse marah saat masuk ke ruangan itu melihat putrinya menangis. Renita melihat papanya datang langsung mengadukan hal yang tidak-tidak mengenai Senafa yang masih dikenal dengan nama Arbella. Hal itu
membuat kemarah Tuan Yanse semakin menjadi-jadi, menampar Senafa berkali-kali tanpa memperdulikan larangan dari pihak kampus.
Tidak ada yang bisa menghentikan tindakan Tuan Yanse karena dia adalah salah satu petinggi polisi yang cukup disegani. Belum lagi sebuah pistol menggantung cantik di pinggang pria itu membuat pihak kampus yang ada
pada ruangan tidak berani mengentikan orang itu.
“Gadis seperti mu tidak pantas berkuliah disini. Tindakan kasarmu itu seperti orang yang tidak pernah di didik oleh orang tuanya.” Ucap Tuan Yanse pada Senafa.
“Saya memang tidak pernah didik oleh orang tua saya tuan.” Jawab Senafa dengan perasaan sakit. Bagaimana bisa orang tuanya menddiknya jika ayahnya saja tidak mengaggapnya dan ibunya walaupun satu rumah dia tidak pernah bisa berbicara dengan sang ibu.
“Oh pantas saja, ternyata kamu anak yatim piatu. Kamu berani mendekati calon suami putri ku karena kamu butuh uang kan? Berapa uang yang kamu butuhkan? Aku bisa membayarmu.”
“Bahkan nyawa anda tidak mampu membeli dia.” Suara seorang
pria mengangetkan mereka yang ada dalam runagan.
“Tuan Abrico, silahkan masuk.”
“Yang lain keluar, biarkan kami berempat saja.” Perintah Rico membuah pihak kampus langsung keluar dari ruangan.
Abrico menatap Tuan Yanse dengan tatapan tajam, lalu beralih menatap Senafa. Gadis itu menundukkan kepal tidak berani menatap Rico. Jangan tanya bagaimana penampilan Senafa, tentu saja acak-acakan.
"Tuan Rico kenapa anda disini?" tanya Tuan Yanse terkejut melihat kedatangan Rico.
“Kak Abrico, gadis itu sudah melukaiku. Tubuh ku sakit semua karena ulahnya.” Renita, gadis itu tanpa rasa malu berucap memelas demi mendapatkan perhatian dari Rico. Dia kira Rico kesini karena mengkhawatirkan dirinya.
__ADS_1
Rico tidak menanggapi ucapan Renita, memilih mendekati Senafa dan memegang tangan gadis itu. Dingin sekali, itu yang Rico rasakan saat menyentuh tangan Senafa.
“Tubuhmu ada yang sakit?” tanya Rico pelan.
Senafa menganggat kepalanya perlahan dan menatap wajah pria yang jongkok di depannya.
“Hatiku lebih sakit kak.” Jawaban yang keluar dari bibir gadis itu membuat emosi Rico semakin tinggi. Ditambah melihat wajah Senafa yang lebam tatapannya langsung beralih lagi pada Tuan Yanse.
“Tuan Abrico, sebenarnya anda ada hubungan apa dengan gadis
itu?” Tanya Tuan Yanse sedikit gugup melihat tatapan pria itu sangat tidak bersahabat.
“Iya kak, kenapa kakak sangat dekat dengan dia? Apa dia selingkuhan kakak dan sudah merebut kakak dariku.” Sambung Renita yang tidak terima melihat perlakuan lembut Rico pada Senafa.
“Dia adalah adik sepupuku, beraninya kalian menyentuhnya.” Jawab Rico dengan penuh penekanan.
“Apa? Adik sepupu?” Renita dan papanya sangat terkejut.
pernah dekat sama sekali. Menjadi teman mu saja aku tidak sudi.”
“Kak Abrico, bukankah kakak akan menikahi aku? Kakak tidak mungkin lupa janji itu bukan?”
Rico tersenyum sinis mendengar pertanyaan Renita.
“Aku memang berkata akan menikahi mu jika memang tuduhan papamu terbukti benar. Tapi sampai saat ini papamu saja tidak memiliki bukti yang kuat.”
“Tapi foto itu memang foto kamu dan Renita tidur dalam satu kamar dan kamu memuluk tubuh Renita. Itu termasuk bukti.” Jawab Tuan Yanse membela putrinya.
“Kalian pikir aku bodoh hah? Foto seperti itu tidak bisa dijadika bukti, bahkan rekaman CCTV pun bisa di manipulasi. Difoto itu memang putrimu tapi pria di foto itu bukan aku.”
Beberapa hari yang lalu Rico di datangi Tuan Yanse bersama beberapa anggota polisi. Dia ditangkap dengan tuduhan pemerkosaan terhadap seorang gadis yang tak lain putri Tuan Yanse. Namun saat Tuan Yanse tahu Rico
anak dari orang terkaya dan terhormat di negara ini, dia gunakan kesempatan itu untuk menjadikan putrinya menantu keluarga yang sangat berpengaruh itu.
__ADS_1
Rico yang malas meladeni orang saperti itu hanya menjawab jika memang dia benar sudah melakukan hal itu dia siap menikahi gadis itu. Namun bukti yang di miliki Tuan Yanse hanya sebuah foto saja, membuat Rico
menolah bertanggungjawab. Namun bagi Tuan Yanse cepat atau lambat, bagaimanapun caranya Rico harus menikahi Renita.
“Anda tidak bisa mengelak, apapun alasan anda Renita harus anda nikahi secepatnya. Saya sendiri yang akan menyampaikan hal ini pada orang tua anda, jika anda menolak.” Ancam Tuan Yanse membuat Rico tersenyum
misterius.
“Jangan berani membawa orang tua saya ke masalah yang tidak ada sangkut pautnya dengan saya. Oh ya mengenai pertengkaran Renita dan Senafa, akan saya bawa ke jalur hukum. Saya tidak terima adik saya di perlakukan seperti ini. Dan jika orang tua saya tahu putrinya di perlakukan seperti ini apakah mereka mau memiliki calon menantu seperti putri anda. Kasar dan tidak sopan. Aku sudah melihat rekaman perkelahian mereka, itu dimulai oleh Renita. Jadi kata maaf saja tidak cukup untuk menyelesaikan masalah ini. Ditambah anda Tuan Yanse, ingin membeli adik saya? Anda pikir dia tidak punya uang hingga harus anda beli. Tugas anda harusnya menjadi pelindung bukan penuduh dan pembeli.”
“Kasus ini pasti Renita tidak akan bersalah. Aku jamin adik anda yang bersalah. Lihat saja, aku sendiri yang akan menangani kasus ini.” Ucap Tuan Yanse tidak mau kalah. Dia pikir Abrico tidak mampu mengatasi masalah ini karena jika sudah di bawa ke jalur hukum, itu daerah kekuasaanya. Tidak ada yang berani membantah perintahnya.
Rico tidak menanggapi perkataan Tuan Yanse, dia memilih menggendong tubuh Senafa untuk segera di bawa ke rumah sakit. Dia takut Senafa kenapa-napa. Senafa sendiri pasrah saat tubuhnya berada dalam gendongan Rico,
dia tahu tatapan Rico yang artinya tidak boleh menolak.
“Ahhh, papa perutku sakitttt. Kak Rico tolong akuuu.” Teriak Renita memegangi perutnya.
Tuan Yanse langsung memegangi Renita berbeda dengan Rico yang hanya menatapnya saja.
“Astaga re, ada darah mengalir di kakimu.” Tuan Yanse terkejut melihat darah mengalir di kaki Renita.
“Jika ingin nyawa mereka selamat cepat bawa putri mu ke rumah sakit.” Ujar Rico sambil berjalan keluar ruangan.
"Se, kenapa kamu diam saja saat Tuan Yanse menamparmu?" tanya Rico heran, padahal Rico tahu jika Senafa bisa menghentikan kekerasan yang dilakukan pria itu.
"Aku sengaja supaya dia masuk ke kandang singa. Sakit hatiku tidak akan terbayarkan secara langsung jika hanya menangkis serangannya atau membalasan tamparannya." jawab Senafa lirih.
"Tapi tidak dengan mengorbankan wajahmu."
"Jika wajahku tidak disentuh olehnya, Kak Rico tidak bisa membuat laporan untuknya. Tidak ada bukti visumnya bukan? Ucapan saja tidak dapat di proses kak, perlu bukti yang kuat. Selain rekaman CCTV, bukti kekerasan juga sangat diperlukan."
rico tersenyum mendengar jawaban Senafa. Benar juga yang dikatan Senafa, ucapan tidak bisa di proses."
__ADS_1