Pembalasan Putri Yang Diusir

Pembalasan Putri Yang Diusir
BAB 38 - Annchie


__ADS_3

Dikediaman Alfi.


Mereka baru selesai makan malam bersam, ada Alfi, Cila, Kak Dinda, Zay dan Anjar. Anjar juga ikut tinggal di kediaman Alfi. Masih di meja makan, Anjar langsung membuka pembicaraan.


"Bagaimana kak perasaan mu berhasil mempermalukan pria brengsek itu bersama siluman ular?" tanya Anjar terkekeh.


"Tentu saja aku bahagia. Ah aku lupa menyiram balik siluman ular itu." jawab Kak Dinda menepuk keningnya.


"Kakak tidak mengajakku sih. Coba Kak Dinda mengajakku, akan aku bawakan langsung mobil pemadam kebakaran untuk membantu kakak menyiram perempuan itu." kata Zay sambil tersenyum.


"Ya benar sekali kak. Jika Kak Dinda juga mengajakku pasti akan aku jadikan samsak pria brengsek itu." Anjar terlihat sangat kesal mengingat wajah Vely.


"Kalian ini ada-ada saja. Tapi aku juga menyesal tadi hanya satu kali menampar pria brengsek itu."


"Memang Kak Dinda ingin menampar pria brengsek itu berapa kali ?" kata Alfi ikut bertanya.


"Tentu saja harus berkali-kali. Biar dia pipinya merah dan bengkak." jawab Kak Dinda kesal.


"Tenang saja kak jangankan pipinya yang merah dan bengkak, seluruh tubuhnya juga bisa kita buat bengkak dan warnanya tidak hanya merah. Ada hijau, biru dan ungu." jawab Zay nyeleneh.


"Memang bisa seperti itu?" Cila tidak tahu apa yang dikatakan oleh Zay.


"Ada kakak ipar tapi maksud hijau, biru dan ungu itu kata lain dari babak belur bagi kami."


"Oh seperti itu." Cila mengangguk paham.


"Sudah Cila mending kita lihat majalah fashion terbaru dikamar ku. Tidak apakan Alfi jika Cila ikut denganku ke kamar?"


"Tidak apa kak ajak saja Cila ke kamar kakak. Aku juga ingin menyelesaikan pekerjaan ku bersama Zay dan Anjar." ucap Alfi memberi izin.


"Ya sudah kami ke atas dulu ya." ucap Cila menggandeng lengan Kak Dinda.


Setelah Cila dan Kak Dinda pergi ke atas, kini giliran ketiga pria itu pergi ke kamar Zay.


"Gimana Zay?" Alfi membuka pembicaraan.


Zay mengambil sebuah kertas yang terlipat rapi di lemari bersama selimut bayi milik Cila. Selimut bayi milik Cila memang sengaja disimpan oleh Zay karena Alfi takut jika dia yang menyimpan istrinya akan mengetahui sesuatu yang belum tentu kebenarannya.


Zay meletakkan secarik kertas dan selimut diatas meja.

__ADS_1


"Kertas apa nih?" tanya Anjar penasaran.


"Bener kata lo Fi, setelah gue bongkar ini selimut didalemnya ada kertas ini." ucap Zay menatap Alfi.


"Jadi ini yang lo maksud bukan selimut biasa." kata Anjar menatap Alfi.


"Iya bener. Dari awal gue megang ini selimut gue udah ada rasa curiga. Lo liat deh bentuk jahitan sebelau sini, warna benangnya beda. Ini benang biasa sedangkan bagian lainnya benang emas." Alfi menunjukkan bagian yang dia maksud.


Zay dan Anjar meneliti benar-benar benang tersebut dan benar yang dikatakan Alfi jika benangnya berbeda.


"Coba baca itu kertas." kata Anjar melirik kertas diatas meja.


Alfi langsung membuka kertas itu dan dibentangkan di atas meja.


ant ⭐ I ⭐ otes ⭐ Annchi


Kening Alfi, Zay dan Anjar mengkerut membaca isi kertas tersebut.


"Apa sih maksudnya?" kata Anjar tidak mengerti.


"Ini pasti kode gue yakin." kata Alfi mentapZay dan Anjar.


"Ini kode maksudnya gimana sih? ant artinya semut, otes apa lagi dan Annchie juga apa?" kata Zay yang mencoba mengartikan kata dalam kertas itu.


"Zay kertas sama pulpen, Anjar buka google." perintah Alfi kepada kedua pria itu.


Zay dan Anjar langsung melaksanakan perintah Alfi.


"Kita harus nyari huruf yang tepat buat ngelengkapin kata ini. Lihat kata terakhir itu udah lengkap dan huruf A ditulis tebal, itu tandanya yang harus kita lengkapi kata huruf pertama pada setiap kalimat." jelas Alfi kepada Zay dan Anjar.


"Coba lo cari kata Annchie dulu Jar." kata Zay memerintah Anjar.


Anjar langsung mengetik kata Annchie di ponselnya.


"Annchi yang berasal dari bahasa Cina ini memiliki arti bidadari cantik yang biasa digunakan untuk nama anak perempuan." kata Anjar membacakan hasil pencariannya.


Mendengar perkataannya Anjar Alfi langsung menulis ulang kata yang ada dikertas.


"Cila berasal dari Cina. Yang buat surat ini ngasih informasi kalo bayi yang ada diselimut ini berasal dari Cina dan bernama Annchie. Bukan apa arti satu persatu kata yang harus kita cari cuma pesan singkat yang harus dipecahkan." kata Alfi tersenyum bisa memecahkan kata tersirat di kertas tersebut.

__ADS_1


"Berarti sebenarnya kita ngak perlu nyari satu persatu arti kata itu. Karena kuncinya udah ada kata terakhir yaitu Annchie." kata Zay memperjelas.


"Iya betul. Cuma ini ada kata help sama notes gue takut ini ada maksudnya juga." ucap Alfi kembali bingung.


"Terus ada tanda bintang lagi ini." tambah Anjar.


"Kyaknya kita harus cari tahu juga tentang tanda bintang ini. Oh iya gimana sama dokter rumah sakit tempat gue kemarin?" ucap Alfi kepada Anjar.


"Ngak ada informasi yang mencurigakan Fi. Kalo menurut gue lebih baik itu dokter kita culik dan interogasi di markas. Biar dia mau buka suara." kata Anjar membari saran.


Alfi menimbang-nimbang saran yang diberikan Anjar.


"Hem ide yang tidak terlalu buruk. Gue serahin ke lo ya."


Anjar mengacungkan jempol dan tersenyum.


"Lo bakal kasih tau Cila sekarang apa nanti Fi?"


"Nanti aja pas kita udah dapetin semua informasi. Kalo sekarang masih abu-abu Zay." jawab Alfi kepada Zay.


"Pantes aja muka Cila mirip Cina lah ternyata dia memang orang Cina. Beh bibit unggul nih Fi kalo lo punya anak sama Cila." ucap Anjar terkekeh.


Alfi tersenyum mendengar ucapan Anjar. Dari awal dia bertemu Cila, Alfi sudah memiliki kecurigaan tentang identitas Cila. Karena Cila tidak ada kemiripan dengan keluarga Andara.


"Fi bibit kecebong lo unggul ngak tuh? Kok belum jadi-jadi sih."


Zay tertawa mendengar perkataan Anjar. Sedangkan Alfi menatap sengit dua pria didepannya itu.


"Ck lihat aja ntar sekali keluar langsung 3 bibi unggul." jawab Alfi percaya diri.


"Kalo sampe benar sekali keluar 3 gue bakal jaga anak lo walaupun di kantor." ucap Zay tertawa.


"Iya kalo sampe bener sekali keluar 3 gue siap dekor kamar bayi anak lo mewah." Anjar ikut menanggapi perkataan Alfi.


"Oke gue pegang omongan lo berdua ya." Alfi berdiri dan berjalan keluar kamar Zay.


"Eh lo mau kemana Fi?"


"Mau nyetak bibit unggul biar jadi 3." jawab Alfi menatap sengit Anjar.

__ADS_1


"Boleh ikut ngak nih kita? Jadi penonton gitu atau tim hore."


"Nikah sono lo berdua. Awas aset kalian keburu karatan."


__ADS_2