
“Kau sudah mendapat kabar dari ibu?” tanya seorang pria di sebrang telepon.
“Ya, aku sedang menuju markas bersama Bella, kita berangkat bersama Co. Ayah dan ibu sudah berangkat lebih dulu tadi.” Jawab Abrian mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi.
“Apa urusan kalian sudah selesai?”
“Anak buah ku yang akan menjalankan rencana selanjutnya.”
“Baik aku tunggu di markas. Hati-hati.”
Abrian menutup telepon dan menambah kecepatan mobil yang ia kendarai. Pikirannya tidak tenang, dirinya takut akan terjadi sesuatu dengan saudara kembarnya.
“Tenanglah, adikmu pasti baik-baik saja.” Bella sudah sedikit mengetahui tentang keluarga Abrian dan tadi saat ibu Abrian menelpon dia tidak sengaja mendengar percakapan singkat mereka. Abrian juga sudah menceritakan tentang Abrilla walaupun secara singkat.
“Entahlah, aku tidak yakin. Firasatku mengatakan jika setelah ini aka nada perubahan pada diri Abrilla. Sejak kecil dia yang paling banyak mengalami banyak rasa sakit dari pada aku dan Abrico. Untung saja ada Paman Azkio dan istrinya yang sudah meninggal bisa membuat kondisinya pulih. Tapi takdir kembali berkata lain saat mereka kecelakaan, kondisi Abrilla kembali memburuk dan itu terbawa sampai sekarang.”
Bayang-bayang kelam terniang kambali di pikiran Abrian. Saat ini dia hanya bisa berharap tidak terjadi sesuatu yang buruk pada adiknya itu. Dia juga sudah memikirkan balasan apa yang cocok untuk mereka yang sudah membuat adiknya seperti itu.
Sampai di markas Abrian disambut oleh anak buahnya, mereka sudah bersiap mengawal keberangkatan Abrian dan Abrico. Dilapangan luas belakang markas sebuah helikopter sudah siap terbang.
“Apa Abrico sudah di dalam?” tanya Abrian pada salah satu anak buahnya.
“Tuan Muda Abrico sudah di dalam helikopter 5 menit yang lalu.”
“baik, terimakasih.”
Abrian mengandeng erat tangan Bella masuk ke dalam helicopter. Di dalam Abrico tersenyum menyambut kedatangan Abrian bersama Bella.
__ADS_1
“Berangkat sekarang.” Perintah Abrian.
“Hai Bella, senang bertemu dengan mu.” Sapa Abrico dengan ramah.
“Hai Abrico, senang juga bertemu dengan mu.” Bella sedikit canggung saat bertemu dengan saudara kembar Abrian.
“Tidak usah takut dengannya, dia lebih ramah dariku.” Ucap Abrian melirik Bella.
Abrico mendengar ucapan kakaknya.
“Istirahatlah di kamar sana, aku sudah menyiapkan kamar untukmu.” Abrico meminta salah satu pengawal wanita untuk mengantarkan bella ke kamar.
“Bai terimakasih.”
Setelah Bella pergi beristirahat Abrian dan Abrico mulai kembali ke mode hening.
“Tentu saja sudah, lihatlah rekaman CCTV yang aku kirim kepadamu.” Jawab mengutak atik laptop di depannya.
Beberapa menit kemudian Abrian menunjukkan seringai jahat. “Satu pria bajing*n dan satunya wanita ular. Benar bukan ucapanku?” tanya Abrian sambil menata tajam wajah pria dan wanita yang terpampang nyata di layar ponselnya.
Abrico mengangguk setuju.
“Benar sekali. Kau tau pria itu bernama Edrice, pria yang sudah lama disukai oleh Rilla namun terus menolak adik cantik kita dengan berbagai macam alasan. Seorang CEO dan seseorang yang cukup berpengaruh di dunia bawah. Dan wanita plastik itu bernama Elfa, seorang janda yang menutupi identitasnya dengan berpura-pura menjadi gadis lajang. Wanita itu seorang penyelendup budak wanita yang berkedok sebagai CEO agensi kecantikan.”
Sudut bibir Abrian terangkat ke atas, adiknya memang sangat lihai dan cepat mengorek informasi seseorang. Abrian kembali menatap wajah dua orang itu di layar ponselnya. Sebuah rencana besar sudah terancang di otaknya. Namun kali ini dia akan berkolaborasi dengan Abrico.
“Sudah siap bermain?”
__ADS_1
Abrico yang sudah mengerti dengan pertanyaan kakaknya ikut tersenyum jahat. “Aku selalu siap.”
Tidak ada kekhawatiran dihati mereka berdua. Antara mereka dan Edrice tentu saja lebih unggul mereka. Edrice seorang CEO, mereka juga CEO. Harta kekayaan mereka juga lebih besar dan melimpah dari pada Edrice. Edrice hanya seseorang yang cukup berpengaruh di dunia bawah sedangkan mereka sangat-sangat berpengaruh di dunia bawah, ditambah latar belakang keluarga ibu mereka yang merupakan organisasi perlindungan yang sangat di segani oleh orang-orang dunia bawah. Jangan lupakan paman mereka, Azkio Sharga seorang yang memiliki antek-antek dunia bawah sangat kejam.
Dengan kekuatan yang tidak bisa diremehkan untuk apa mereka takut dengan Edrice. Masalah dengan wanita ular bernama Elfa juga hal keci. Dengan sekali tindakan juga bisa meretakan usaha yang selama ini wanita itu bangun. Tapi tidak untuk sekarang, karena mereka ingin bermain-main dulu. Siapa tahu Abrilla juga berniat ikut berkolaborasi bersama mereka.
“Apa kau sudah memberi perintah pada anak buah kita untuk memulai permainan?”
“Tentu saja, mungkin nanti aka nada sesuatu yang membuat salah satu dari mereka tidak bisa tidur nyenyak.” Jawab Abrico acuh.
“Wow, tugas seperti apa yang kau perintahkan pada anak buah kita?”
“Membuat gagal pengiriman budak wanita ke Mexico karena polisi mengendus rencana mereka.”
Abrian mengangguk, bukan rencana yang buruk.
“Lalu untuk Edrice, apa kau tidak berniat mengirimkan hadiah untuknya?”
“Itu tugasmu, bukankah kau memiliki penyokong untuk membuatnya sedikit kelimpungan? Jadi gunakan itu.”
“Baiklah.” Abrian mengirim pesan pada seseorang.
Pesan itu ditujukan pada pemimpin salah satu perusahaannya yang berada di Afrika untuk mencabut seluruh saham yang ada di perusahaan Edrice. Tidak lupa membocorkan sedikit data kecurangan anak cabang perusahaan Edrice yang menggunakan cara kotor untuk mendapatkan proyek tambang.
Abrico tersenyum puas saat membaca pesan yang berisi hadiah untuk Edrice. “Sepertinya kau sangat bersemangat sekali membuat orang panik.”
“Oh tentu saja. Salah mereka yang berani membuat lotus kita tumbang.”
__ADS_1
Kedua saudara itu tertawa puas dengan rencana yang mereka buat. Tingal menunggu hasilnya dan melihat reaksi sasaran.