Pembalasan Putri Yang Diusir

Pembalasan Putri Yang Diusir
Season 2 - Menyesal


__ADS_3

Mobil yang di kemudiakan Rezan membelah jalanan yang tidak begitu padat. Di sampingnya Edrice termenung, mungkin merasa bersalah atas apa yang telah terjadi pada Bril, pikir Rezan. Mereka sampai di pelataran rumah sakit tempat Bril menjalani operasi. Dengan segera Edrice berjalan masuk rumah sakit dan menuju ruang tempat Bril. Anak buahnya telah melapor jika operasi Bril sudah selesai dan berjalan dengan lancer.


Sampailah Edrice di lantai 3 tempat Bril di rawat, tiba-tiba nyalinya menciut saat ingin mendekati ruangan di ujung sana, penjagaan di depan pintu kamar Bril terlihat sangat ketat. Edrice takut para penjaga itu tersulut emosi saat melihat wajahnya seperti para penjaga yang ada di kediaman Tuan Sharga.


“Apa kita tunda saja untuk menjenguk Nona Bril, Tuan Muda?” tanya Rezan yang baru saja datang menyusul bosnya.


“Aku bingung, kenapa aku sekrang terlihat seperti pengecut?” ucap Edrice menertawakan dirinya sendiri.


Saat mereka masih berdiri dekat lift, terlihat seorang pria keluar dari lift dengan menenteng bucket bunga dan beberapa barang lain di papaerbag. Edrice mengenali pria itu dan langsung memanggilnya.


“Anda teman Bril bukan?”

__ADS_1


Willy yang tidak menyadari keberadaan Edrice langsung menoleh, tatapan tidak suka langsung dilaangkan Willy pada pria yang memanggilnya itu.


“Untuk apa anda disini Tuan Edrice yang terhormat?”


“Emm saya ingin melihat keadaan Bril? Bagaimana kondisinya sekarang?” Edrice sebenarnya malas berbicara dengan orang asing tapi demi mendapatkan informasi tentang kondisi Bril dia harus mengesampingkan egonya.


“Bukankah anda merasa senang melihat Bril seperti ini? Bril sudah lebih baik tapi alangkah lebih baik lagi jika dia tidak melihat wajah anda.” Jawab Willy lalu pergi meninggalkan Edrice.


“Tunggu, aku belum selesai bertanya.” Kata Edrice berusaha menghentikan Willy tapi hanya diacuhkan saja.


Mau tidak mau Edrice menuruti saran Rezan, saat ini memang bukan waktu terbaik untuk menemui Bril dan meminta maaf pada gadis bar-bar itu.

__ADS_1


Rezan mengantar Edrice kembali ke apartemen setelah itu dia memutuskan untuk kembali kerumahnya sendiri. Edrice merasa tubuhnya tidak nyaman memutuskan untuk membersihka diri. Berjalan menuju kamar mandi dengan langkah gontai dan tidak bersemangat, pria itu memutuskan untuk berendam. Hampir 30 menit lamanya berada di kamar mandi, Edrice keluar dan menuju walk in closet memilih pakaian.


Sebuah album foto kelulusan kuliah dibuka dan menampilkan foto Edrice bersama teman-teman kuliahnya, termasuk Bril. Bril beridiri tepat disebelah Edrice, gadis itu terlihat tersenyum menampilkan deretan giginya.


“Ternyata kau sangat cantik ya.” Guman Edrice tersenyum menatap wajah Bril.


Sedari dulu Edrice tahu jika Bril menyukai dirinya, namun karena Ed tidak menyukai gadis yang banyak tingkah, Bril dia tolak dengan berbagai alasan dan itu berhasil membuat Bril mundur. Edrice tidak tahu selama 2 tahun itu Bril masih menyukainya dan memendam perasaanya secara rapat. Hari kelulusan tiba, Ed yang selama ini diketahui sebagai mahasiswa dari kalangan rendah ternyata anak dari salah satu donatur di kampus itu.Identitasnya terbongkar dan itu membuat Bril kembali gencar mendekatinya.


Hal itu membuat Edrice beranggapan Bril kembali menyukainya karena dia anak dari kalangan atas. Dan membuat Edrice mengacuhkan Bril. Sayangnya walaupun selalu diacuhkan, itu tidak membuat Bril menyerah begitu saja. Edrice yang penasaran dengan latar belakang keluarga Bril hari itu meminta anak buahnya mencari informasi itu, dapatlah informasi jika Bril anak dari Tuan Sharga, salah satu pengusaha sukses dan seorang mafia sangat terkejut. Berarti Bril mencintai dirinya bukan karena harta, tapi tetap saja Edrice menolak Bril. Entah kenapa dia merasa jenuh setiap melihat sifat Bril yang seenaknya sendiri.


Hingga penolakan kedua terjadi saat Bril datang secara tiba-tiba ke kantornya dan mengklaim dirinya adalah calon suami Bril. Tapi lagi-lagi Bril tidak menyerah sama sekali dan itu membuat Edrice tambah tidak menyukai Bril. Hingga pada saat malam jamuan makan malam, sat dirinya baru datang melihat Bril duduk berbincang dengan seorang pria yang terlihat sangat dekat. Edrice dalam hati langsung mengatai Bril gadis murahan.

__ADS_1


Kata itu malah terucap dengan jelas saat Nona Elfa bertanya pada Edrice tentang Bril. Keluarga jawaban tidak pantas yang membuat Nona Elfa mending bril hingga terjatuh. Kini sebuah penyesalan singgah dihatinya karena ceroboh dalam berucap.


“Maafkan ucapanku yang sudah banyak menyakiti hatimu.” Ucap Edrice menutup album foto itu.


__ADS_2