Pembalasan Putri Yang Diusir

Pembalasan Putri Yang Diusir
Ambisi membunuh akal sehat mereka


__ADS_3

Setelah kejadian tadi, malam hari keluarga besar 3R berkumpul untuk merayakan pernikahan Abrian dan Kerya.


"Rian, apakah kedua adikmu belum juga tiba?" tanya Cila yang menunggu kedatangan Abrilla dan Abrico.


Abrian menggeleng, "Belum bu, mungkin masih dalam perjalanan. Sebentar lagi pasti mereka akn tiba."


Tadi setelah makan siang Abrilla dan Abrico bergegas menuju markas. Mereka tidak sabar memberikan penyiksaan pada Ed serta antek-anteknya.


"Halo selamat malam semuanya, maaf kami datang terlambat." Sapa Abrilla berjalan dengan menggandeng lengan Abrico.


"Akhirnya kalian tiba, Ibu khawatir terjadi sesuatu dengan kalian berdua. Ayo duduk nak." Cila tersenyum melihat kedua anaknya baik-baik saja.


Abrilla duduk disebelah Cila dan Abrico, pria itu memilih duduk disebelah Bella.


"Oh ya bu, dimana opa dan oma-oma? Kenapa tidak ikut bergabung dengan kita?" tanya Abrilla tidak menemukan keberadaan mereka.


"Mereka sedang beristirahat karena besok akan kembali ke Cina dan Paris." Kata Alfi menjawab pertanyaan putrinya. "Oh ya, besok Bella juga akan langsung ikut ke Cina. Ayah sudah mengurus semua berkas milik mu nak." Ucap Alfi menyerahkan sebuah map coklat pada Bella.


Bella menerima berkas itu dan langsung membuka. Dia terkejut saat membaca isi berkasnya.


"Kenapa? Ada yang salah?" tanya Abrico ikut membaca berkas tersebut.

__ADS_1


"Apa aku harus menggunakan nama Senafa Gu? Dan ini surat kepemilikan seluruh asset Keluarga Gu menjadi milikku semua?" Gadis itu tidak menyangka jika kekayaan peninggalan opa dan omanya sebanyak ini.


"Kami rasa sudah saatnya publik tahu jika kamu pewaris tunggal dari Keluarga Gu. Tidak perlu takut menghadapi kejamnya kehidupan, kamu tidak sendiri nak. Ada kami yang akan selalu mendukung dan melindungi mu." Cila tahu anak angkatnya itu belum terlalu kuat mentalnya menghadapi semuanya sendiri. Tumbuh dalam lingkungan yang tak pernah mendukungnya membuat keberanian gadis itu naik turun. Sama seperti dirinya yang dulu.


"Terimakasih banyak sudah membantuku. Te-terima kasih. Mulai saat ini aku bersedia kembali menggunakan nama Senafa Gu. Ini demi opa dan oma, demi ibuku dan demi kalian." Ucap gadis itu menangis. Dia tidak menyangka Tuhan memberikan orang-orang baik yang mau menolongnya.


Mereka tersenyum melihat gadis berwajah chubby itu menangis bahagia. Melewati jalan berliku dan terjal, nyatanya bisa sampai ke titik nyaman seperti saat ini.


"Oh ya bagaimana dengan Kinan dan Fang Yu?" tanya Azkio pada Abrilla dan Abrico. Pasalnya semua yang berurusan dengan pengacau dibereskan oleh mereka berdua.


"Fang Yu, pria itu memilih menghabisi nyawanya sendiri karena terlalu takut dengan penyiksaan yang kami berikan. Padahal kami belum ada niatan melenyapkan nyawanya. Sedangkan Kinan, wanita medusa itu sepertinya mulai tidak waras. Dia berbicara sendiri bahkan menyakiti dirinya sendiri. Karena memikirkan bayi yang ada di perutnya maka dia kami ikat jika tidak dia bisa keguguran akibat ulahnya sendiri." Jelas Abrico menceritakan kejadian tadi di markas saat melihat keadaan Kinan dan Fang Yu.


"Aku tidak menyangka jika Fang Yu berpikir dangkal seperti itu." ujar Alfi diangguki oleh yang lain.


"Keadaannya masih tidak ada kemajuan, sepertinya Kinan sudah sering memberikan pria itu racun yang mematikan sel dalam organ tubuhnya. Dokter berkata alat media yang membuatnya bertahan sejauh ini." jelas Abrian yang baru menceritakan keadaan Tuan Jonathan yang sebenarnya.


Keyra terlihat sedih mendengar kabar pria yang sangat menyayanginya dalam keadaan buruk. Berbeda dengan Senafa yang terlihat biasa saja. Hanya terlihat rautnya wajahnya sedikit berubah saat Abrian memberitahu keadaan sang ayah.


"Kita do'akan saja yang terbaik untuk Tuan Jonathan selebihnya Tuhan yang menentukan." ujar Azkio dengan bijak.


"Benar sekali, untuk perusahaan milik Senafa siapa yang akan mengelola sementara waktu? Mengingat Senafa besok sudah berangkat ke Cina." tanya Alfi pada anak-anaknya.

__ADS_1


"Keyra yang akan mengelola Ayah. Walaupun dia dokter bedah tapi dia juga memiliki background pendidikan jurusan bisnis saat di Amerika." jawab Abrian yang sudah tahu semua tentang istrinya.


"Benar itu Keyra? Ayah tidak akan memaksa jika kamu tidak mau. Atau kamu ingin bekerja kembali sebagai dokter di rumah sakit keluarga kita?" Alfi ingin memastikan menantunya tidak merasa terbebani dengan keputusan ini. Dia membesarkan Keyra memilih apa yang wanita itu inginkan selama Abrian setuju.


"Iya ayah, Keyra yang akan mengelola sementara Perusahaan Gu sesuai kesepakatan kami bersama Senafa." jawab Keyra dengan yakin.


"Keyra memang berniat kembali bekerja sebagai Dokter bedah kembali, tapi itu nanti jika Senafa sudah selesai pendidikan dan kami sudah memiliki anak." tambah Abrian membuat wajah Keyra bersemu merah.


"Bilang saja kakak takut istrinya di goda oleh dokter muda yang tampan. Jadi di buat berekor dulu baru diberikan izin bekerja." Ledek Abrilla yang tahu tujuan sang kakak.


"Wah ibu senang jika kalian tidak menunda memiliki momongan. Kami sudah siap menimang cucu, benar tidak?" Lirik Cila pada suami dan kakaknya.


Alfi dan Azkio tersenyum mengangguk.


"Oh yaa bagaimana dengan Ed dan antek-anteknya?" tanya Azkio yang dari tadi penasaran dengan keadaan mereka.


Abrilla dan Abrico tersenyum mendengar pertanyaan itu membuat yang lain tambah penasaran.


"Atas persetujuan keluarga mereka, Ed kami jadikan bahan percobaan di Laboratorium AcO. Lay sendiri sudah kami berikan suntikan pelemah fungsi organ tubuh dan kami serahkan ke Paman Azkio. Bukankah paman yang lebih tau seharusnya orang itu di apakan?" Kata Abrico dengan santai.


"Tentu saja, dia akan paman serahkan ke Angkatan Laut Afrika untuk di adili oleh mereka. Itu akibat berani bekerjasama dengan salah satu anggota mereka." jawab Azkio yang tadi sudah menghubungi pihak dari Angkatan Laut Afrika.

__ADS_1


"Sungguh malang nasib mereka, tapi itu sangat pantas mereka dapatkan. Ambisi membunuh akal sehat sehingga setan menguasai ego mereka.


__ADS_2