
Satu minggu telah berlalu dan hari ini Alfi, Zay serta Anjar pergi ke JV Group. Sampai di JV Group mereka langsung menuju ke ruang rapat karena hari ini ada rapat pemegang saham.
Sampai ruang rapat sudah ada beberapa orang pemegang saham yang hadir. Jeremy juga sudah berada diruangan itu karena dia pemimpin JV Group. Jeremy menatap ketiga orang itu dengan tajam.
Zay, Alfi dan Anjar mengabaikan tatapan Jeremy yang menatap mereka dengan tajam. Alfi dan Anjar sendiri memilih duduk dikursi yang masih kosong tanpa canggung sedikitpun.
"Selamat siang semuanya." Zay menyapa mereka yang ada diruangan tersebut berdiri tegap.
Para pemegang saham dan Jeremy menatap Alfi, Zay dan Anjar.
Zay yang mengerti apa yang ada dipikiran mereka semua kembali berkata.
"Mungkin kalian semua heran mengapa kami bisa berada diruangan ini padahal sebentar lagi akan diadakan rapat. Benar bukan?" tanya Zay tersenyum menatap mereka.
Mereka semua menganggukan kepala lalu salah satu dari mereka memberanikan diri untuk menjawab.
"Benar Tuan Zay. Bisa anda jelaskan tujuan anda datang kesini bersama Tuan Alfi dan Tuan Anjar?" pinta pria payuh baya itu.
"Tentu saja bisa. Tapi apakah Tuan Jeremy yang terhormat memberikan izin kepada saya untuk menjelaskan tujuan kami datang kesini?" Zay menatap Jeremy dengan tersenyum sinis.
"Untuk apa anda meminta izin kepada saya? Bukankah anda masuk ke ruangan ini juga tanpa izin terlebih dahulu." Jeremy menjawab dengan tenang tanpa rasa takut sedikitpun.
Zay tersenyum melihat keberanian pria didepannya itu.
"Oh benar juga. Baiklah langsung saja, tujuan kami datang kesini untuk memberi tahu kepada para pemegang saham jika JV Group sudah dibawah naungan Anggara Group." kata Zay dengan tersenyum.
Terdengar kasak kusuk para pemegang saham yang mulai menggosip. Sedangkan Jeremy sendiri terlihat tidak mengerti dengan ucapan Zay.
"Apa maksudnya?" Jeremy bertanya kepada Zay.
"Bukankah saat ini JV Group sedang dalam masalah karena banyak proyek pembangunan yang terbengkalai akibat kekurangan dana dan banyak perusahaan lain membatalkan kontrak kerjasama secara sepihak? Dan rapat ini juga membahas bagaimana keberlanjutan JV Group kedepan jika masalah ini tidak diselesaikan dengan cepat. Bukan begitu?" kata Zay dengan tenang.
"Ya benar, tapi Tuan Alfi tidak ada urusannya dengan JV Group karena dia bukan salah satu pemegang saham disini dan JV Group tidak berada dibawah naungan Anggara Group." jawab Jeremy.
"Kata siapa Tuan Alfi bukan salah satu pemegang saham di JV Group? Asal kalian tahu, Tuan Alfi sekarang adalah pemilik saham terbesar di JV Group. Oleh karena itu Tuan Alfi memiliki hak untuk mengatur segala urusan yang berkaitan dengan JV Group." kata Zay memberi tahu.
"Anda jangan mengada-ngada Tuan Zay. Saham tertinggi di JV Group adalah milik saya sendiri senilai 25%. Selebihnya para pemegang saham hanya memiliki 5 sampai 20 persen." ucap Jeremy dengan tersenyum.
__ADS_1
Para pemegang saham yang lain mengangguki ucapan Jeremy.
"Apanya yang mengada-ngada Tuan Zay. Ini bukti kepemilikan saham Tuan Alfi di JV Group." Zay menyodorkan berkas yang di bawa ke pada Jeremy.
Jeremy membuka berkas tersebut dan membacanya. Senyum yang tadi dia tampilkan perlahan pudar digantikan ruat wajah tegang. Dia menatap Zay dan Alfi bergantian.
"Bagaimana bisa anda memiliki saham senilai 45% di JV Group?" Jeremy terlihat bingung bercampur kesal setelah membaca berkas tersebut.
Para pemegang saham yang lain terkejut mendengar perkataan Jeremy dimana Tuan Alfi memiliki saham senilai 45% dan itu nilai saham tertinggal bagi pemegang saham.
"Apakah kalian tidak menyadari beberapa pemegang saham tidak hadir di ruang rapat ini? Pasti kalian berpikir mereka ada urusan lain bukan? Kalian salah jika berpikir seperti itu. Asal kalian tahu bberapa pemegang saham yang tidak hadir disini sudah menjual saham mereka kepada Tuan Alfi beberapa hari yang lalu. Oleh karena itu Tuan Alfi mendapatkan 45% saham di JV Group." Zay tersenyum senang melihat raut wajah Jeremy yang sudah memerah menahan amarah.
Alfi yang dari tadi hanya mengamati mereka semua akhirnya berdiri yang mulai membuka suara.
"Kalian sekarang sudah tahu jadi mulai saat ini JV Group berada dibawah naungan Anggara Group. Untuk permasalahan yang menimpa JV Group akan secepatnya saya selesai. Apakah dari kalian ada yang ingin ditanyakan?"
Para pemegang saham saling menatap dan menggelengkan kepala.
"Baiklah saya anggap tidak ada yang perlu ditanyakan. Oh sebelum rapat ini ditutup saya ingin memberi tahu sesuatu yang mungkin belum tuan sekalian ketahui." Alfi memberi Anjar kode.
Di layar terdapat sebuah foto dan video Jeremy bersama Vely yang sedang berada di sebuah kamar hotel. Setelah itu terdapat bukti pendapatan dana perusahaan yang diperoleh dari hasil korupsi Vely saat bekerja di Perusahaan Andara. Ternyata JV Group dibangun menggunakan dana kotor. Selama ini Jeremy menipu mereka dengan mengatakan dia tidak pernah melakukan hal kotor untuk membangun JV Group, itu murni dari hasil kerjanya sendiri. Ya memang hasil kerja sendiri dengan cara yang kotor.
Setelah video itu berakhir salah satu pemegang saham bertanya.
"Tuan Alfi jika JV Group dibangun dengan cara kotor dengan hasil penyelewengan dana Perusahaan Andara apakah JV Group akan dituntut ganti rugi dan dibawa ke jalur hukum?"
Alfi tersenyum mendengar pertanyaan orang itu berbeda dengan Jeremy yang merasa sudah tidak ada muka diruangan itu, Jeremy terlihat menahan emosi dan malu.
"Tentu saja akan dituntut tapi tenang saja yang akan dituntut adalah pemimpin sbelumnya JV Group bersama si penyeleweng dana Perusahaan Andara. Untuk ganti rugi sudah saya urus jadi kalian semua tidak perlu khawatir. Tapi untuk biang perusuh tentu saya tidak urus karena yang akan mengurus bukan saya. Melaikan pihak lain." Alfi menjawab dengan sinis melihat Jeremy.
Jeremy terkejut dengan jawaban Alfi dia memutuskan untuk keluar ruangan rapat karena dia merasa akan terjadi sesuatu. Dan benar saja belum sempat dia membuka pintu, dari luar pintu terbuka dan menampilkan polisi datang bersama Tuan Reza.
Tidak hanya Jeremy yang terkejut, para pemegang saham lain juga ikut terkejut. Mereka tidak menyangka kedatangan Tuan Alfi tidak hanya mengambil alih JV Group tapi juga membongkar asal mula JV Group bisa berdiri dan sekarang penangkapan Tuan Jeremy.
"Selamat siang Tuan Jeremy, anda ditangkap dengan tuduhan penyelewengan dana perusahaan yang melibatkan Nona Vely Naraya." kata salah seorang polisi.
"Tidak, aku tidak terlibat sama sekali." Jeremy memberontak saat polisi lain memborgol kedua tangannya.
__ADS_1
"Tidak terlibat katamu. Kamu dan Vely sudah mengambil uang perusahaan ku dengan jumlah yang sangat banyak tapi tidak mau mengakuinya." Tuan Reza terlihat emosi mendengar perkataan Jeremy.
"Tuan Jeremy anda bisa memberi keterangan saat dikantor polisi nanti. Bawa dia sekarang." perintah polisi tersebut.
"Pak polisi saya ingin memberi hadiah sebentar kepada orang itu." Anjar mendekati Jeremy dan memukul wajah Jeremy dengan keras.
Bugh..
"Ini untukmu yang mendekati kakak ku."
Bugh..
"Ini untukmu yang memanfaatkan kakak ku."
Bugh..
"Ini untukmu yang membuat kakak ku bersedih dulu"
Polisi terkejut melihat Anjar memukul Jeremy brutal. Tapi tidak berani menghentikan.
Jeremy menahan sakit diwajahnya saat Anjar memukul dengan keras sampai sudut bibirnya berdarah. Dia bingung sebut dengan kakak.
"Kenapa kau tidak tahu siapa yang aku maksud? Yang aku maksud dengan sebutan kakak adalah Dinda. Kakak perempuan ku yang telah kamu dekati. Itu balasan karena kamu telah menyakitkan kakakku." ucap Anjar sinis.
Jeremy mematung mendengar ucapan Anjar. Ternyata Anjar adalah adik Dinda, mantan kekasihnya. Anjar baru mengetahui jika Dinda bukan wanita sembarangan dan ternyata memiliki dukungan kuat. Andai saja dia tahu dari awal tentang keluarga Dinda pasti dia akan menikahi Dinda secepat mungkin supaya bisa menguasi harta keluarga Dinda.
"Sudah pak bawa pergi dia." kata Zay kepada polisi.
Jeremy tetap memberontak saat polisi membawanya keluar ruang rapat.
Setelah Jeremy dibawa oleh polisi Zay membubarkan para pemegang saham karena sudah selesai. Mereka keluar dari ruangan itu dan menyisakan Tuan Reza, Alfi, Zay dan Anjar.
"Saya rasa urusan kita sudah selesai Tuan Reza. Jadi tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi." Alfi menatap tidak suka orang didepannya itu.
"Saya hanya ingin mengucapkan terimakasih kepada anda Tuan Alfi, saya juga mohon pertemukan saya dengan istri dan anak saya." ucap Tuan Reza memohon.
"Jangan harap Tuan Reza. Selama ada saya, anda tidak akan pernah bertemu dengan Mama Rena dan Cila. Karena Mama Rena bukan istri anda lagi dan Cila memang bukan anak anda."
__ADS_1