Pembalasan Putri Yang Diusir

Pembalasan Putri Yang Diusir
Bocah ini hanya tahu cara menghamburkan uang


__ADS_3

Pukul 8 pagi Keyra berangkat ke Perusahaan Gu atas perintah ibunya semalam. Hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit ia sampai di gedung megah itu.


Kedatangan Keyra ternyata sudah diketahui Fanghiu, pria itu sudah menunggunya di lobby.


"Pagi Paman Fanghiu." Sapa Keyra dengan ramah.


"Pagi Keyra, ingat saat di kantor kamu akan di panggil Senafa Gu. Paham?" Fanghiu berbicara pelan supaya tidak didengar oleh siapa pun.


"Aku paham paman."


"Ayo masuk, mereka sudah menunggu mu." Ajak Fanghiu berjalan di samping Keyra.


Fanghiu mengajak Keyra ke ruang pertemuan dan saat masuk sudah ada beberapa orang yang menunggu kedatangannya.


"Selamat pagi semua, perkenalkan ini Nona Senafa Gu, putri Tuan Jonathan Gu. Usianya memang belum genap 20 tahun akan tetapi penandatanganan surat peralihan nama dari Tuan Gu terdahulu sudah bisa ditanda tangani. Oleh karena itu silahkan Tuan sekalian memberikan tanda tangan disini sebagai saksi." Ucap Fanghiu menyodorkan sebuh berkas.


"Apa bisa Nona Senafa menunjukkan bukti identitas kepada kami karena ini pertama kalinya anda datang ke kantor setelah kembali dari luar negeri." Pinta salah seorang pria.


Selama ini orang mengetahui Senafa Gu tinggal diluar negeri untuk menempuh pendidikan. Padahal yang sebenarnya tidak sama sekali.


Keyra mengeluarkan kartu Identitas yang sudah ibunya siapkan beserta beberapa foto yang mendukung rencana ibunya.


Setelah mereka yakin itu Senafa Gu, mereka langsung menandatangani berkas yang disodorkan oleh Fanghiu tadi.


"Baiklah jika ini sudah selesai aku permisi dulu karena ada urusan lain. Terimakasih atas kerjasamanya." Keyra pamit pergi dan meninggalkan ruangan itu bersama Fanghiu.


"Keyra ini tanda tangani dulu sebelum pergi." Fanghiu menghentikan langkah Keyra yang terburu-buru.


"Aduh nanti saja paman, calon suamiku sudah menunggu. Dia terus menelpon ku. Lihat lah ini." Keyra menunjukkan ponselnya yang berdering dan. menampilkan nama Abrian.


"Oh jika begitu bawa saja berkas ini, toh nanti bisa langsung kamu serahkan pada ibumu." Kata Fanghiu menyerahkan berkas tadi pada Keyra.

__ADS_1


"Oke baiklah, nanti paman juga kabari ibu jika berkasnya bersamaku. Aku harus pergi paman. Sampai jumpa." Keyra memegang berkas itu dengan erat lalu sedikit berlari keluar kantor.


Sampai di luar sebuah mobil putih mengklaksonnya.


"Hai calon istri naiklah."


"Abri... "


Ternyata itu Abrian menjemputnya. Abrian turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Keyra.


"Ayo masuk... Mobil mu biar dibawa anak buahku."


Dengan senang hati Keyra masuk.


"Bagaimana tidur mu semalam?" tanya Abrian menjalankan mobil. meninggalkan kantor.


"Sangat nyenyak." Jawab Keyra tersenyum.


"Syukurlah, bagaimana dengan rencana kita? Apa kamu berhasil mendapatkan berkasnya?"


"Rupanya calon istri ku bisa diandalkan."


"Abri, apakah ayah dan ibumu mau menerima ku lagi?" tanya Keyra lirih.


Abrian menghentikan laju kendaraannya dipinggir jalan. Dia menatap Keyra dan menggenggam tangannya.


"Tatap aku Key, dengar ayah dan ibu sudah tahu semuanya jadi kau tidak perlu takut. Aku sudah setia menunggu mu dan aku tidak akan melepaskan mu lagi." Abrian mengecup tangan Keyra.


"Abri, aku takut rencana kita gagal dan ibu akan marah kepadaku lalu aku tidak bisa bertemu orang tuaku. Bahkan dirimu juga pasti akan mendapat masalah."


"Jangan takutkan apapun, aku memilki kekuatan cukup besar untuk melawan ibumu. Percayalah padaku."

__ADS_1


Mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju rumah utama Kediaman Anggara. Sampai disana, Keyra memberikan berkas yang ia bawa pada Abrico. Setelah itu dia memilih gaun untuk pernikahannya ditemani Rilla. Sedangkan Bella masih kuliah.


Sedangkan di kampus Bella semakin dikenal banyak mahasiswa setelah kejadian awal dia masuk kampus tersebar luas. Ditambah dirinya diketahui sebagai putri dari Keluarga Andara, banyak sekali yang langsung mendekatinya.


Seperti saat ini ada seorang pria yang dikenal sebagai pria idaman di kampus mencoba mendekati Bella.


"Ayolah Bel, beri aku nomor telepon mu! " Pinta pria itu memaksa.


"Sudah aku katakan aku tidak suka memberikan nomor telepon ku pada orang yang baru aku kenal Leo. Jadi tolong mengerti." Tolak Bella secara halus.


"Memang kenapa? Kita sama-sama dari keluarga kaya. Papaku seorang pengusaha dan ibuku seorang dokter. Tentu kita layak berteman bukan?" Pria bernama Leo itu menyombongkan diri dihadapkan Bella.


"Pertemanan itu tidak bisa dinyatakan layak jika memandang kekayaan. Dengan sikapmu yang seperti ini membuat ku semakin enggan memberikan nomor ponsel mu padamu. Jika kau tidak mau pergi maka aku yang pergi." Bella beranjak pergi dari kantin karena moodnya sudah buruk.


"Aku jamin secepatnya kau yang akan bertekuk lutut dihadapanku Bella. Akan aku minta pada papa unt membatalkan kerjasama dengan perusahaan milik keluarga mu." Teriak Leo yang ditinggalkan oleh Bella.


"Cih lakukan saja semau mu, Leo. Perusahaan Andara tidak ada urusannya denganku, aku itu hanya menumpang nama saja. Jika pun kau meminta papa mu membatalkan kerjasama itu tidak akan berpengaruh apa-apa karena pasti Kak Rico dengan mudah menghadapinya." Ujar Bella dalam hati.


Abrico yang sekarang mendapat tugas dari Abrian untuk mengawasi Arbella tertawa melihat Leo yang dengan percaya diri berkata seperti itu.


"Ada apa kak?" tanya Rilla mendekati Rico.


"Lihatlah kau pasti juga tertawa setelah melihatnya."


Rilla melihat ponsel Rico yang menampilkan rekaman CCTV. Tidak lama dia tertawa.


"Sombong sekali bocah itu. Bukankah dia putra Tuan Luis, pemilik Perusahaan LS. Dia tidak tahu saja jika Bella pemilik Perusahaan Gu yang besarnya 3 kali lipat dari perusahaan milik papanya." Kata Rilla terkekeh.


"Walaupun tahu aku yakin dia akan tetap sombong. Karena bocah ini hanya tau cara menghamburkan uang. Lihat saja penampilannya seperti apa? Barang kw saja dia beli." Ejek Rico menambahi.


"Aku yakin orangtua bocah ini sangat memanjakannya." ujar Rilla menggelengkan kepala.

__ADS_1


"Ehh dimana Kak Rian dan Keyra?" tanya Rico.


"Sedang berpacaran jangan diganggu. Oleh karena itu aku kesini karena tidak mau menjadi obat nyamuk." ucap Rilla acuh.


__ADS_2