Pembalasan Putri Yang Diusir

Pembalasan Putri Yang Diusir
Anak Durhaka


__ADS_3

"Hai calon ayah dan ibu mertua. Maaf calon menantu mu ini bersikap tidak sopan datang ke pernikahan calon kakak ipar." Ed tanpa rasa malu menyapa Alfi dan Cila. Dia dengan di dampingi Lay tersenyum angkuh menatap sekelilingnya.


"Aku tidak suka basa basi Ed, katakan apa tujuan mu datang kesini?" Alfi yang dalam mode dingin tidak ingin membuang waktu menghadapi pria yang sudah menyakiti perasaan putrinya.


"Ah rupanya calon ayah mertua ku sangat tegas dan berwibawa serta tidak suka membuang waktu. Baiklah tujuan ku datang kesini untuk melamar Abrilla, gadis yang sudah mencuri hatiku. Oh ya dimana keberadaan gadis itu?" tanya Ed mengabaikan tatapan tajam dari banyak orang.


"Atas dasar apa kau berani melamar putriku? Sedangkan rasa cinta pun tidak ada. Bahkan putri ku sangat tidak menyukaimu." Cila sebagai ibu yang sudah melahirkan putrinya dengan bertaruh nyawa sangat membenci pria yang tanpa ada rasa bersalah datang melamar Abrilla. Ingin rasanya dia menggores wajah Ed dengan pisau lipat miliknya yang sudah di olesi racun.


"Calon ibu mertua, aku ini sangat mencintai putrimu yang cantik itu. Dan aku yakin Abrilla juga mencintaiku karena sejak dulu gadis itu selalu mengejar-ngejar diriku.Tidak salah bukan jika aku berniat melamarnya?"


"Tutup mulut kotor mu Edran. Mungkin aku dulu mengalami gangguan jiwa karena bisa menyukai pria seperti mu tapi sekarang aku sudah waras dan tidak ada lagi rasa cinta untuk mu. Jangan kan cinta, melihat wajahmu saja aku muak." Rilla yang dari tadi berada di kelompok tamu undangan kini berjalan mendekati Ed. Tidak ada lagi wajah ceria dan bersahabat dalam diri gadis itu.


"Sayang, kenapa kau berkata seperti itu? Maaf jika dulu aku tidak memperhatikan mu dan selalu mengabaikan mu. Tapi sekarang aku sadar jika hanya kau yang ada di hatiku."


"Huekkkk... " Abrilla pura-pura mual saat Ed berkata seperti itu. "Ya ampun aku mual sekali mendengar pria ini berkata manis."


"Maaf Tuan Ed, aku tidak bisa dan tidak akan mau menjadi teman, sahabat, kekasih atau bahkan istri mu. Kau itu hanya seorang pria yang penuh dengan ambisi. Kau itu pria serakah dan berhati iblis. Entah kenapa aku kasihan dengan Papa, Mama dan juga adikmu yang memiliki anak serta kakak bermuka dua."


Wajah Ed merah padam mendengar Abrilla mengatai dirinya seperti itu. "Cukup Brill, jika kau tidak mau menjadi gadis ku maka jangan salah kan aku menyakiti orang-orang terdekatmu." Ancam Ed terpaksa menggunakan kekerasan.


"Kau terlalu meremehkan aku Ed, walaupun pasukan mu banyak tapi bukan berarti aku takut."


Srekkkk


Ahhhhh

__ADS_1


Ya dengan gerakan cepat Rilla menggores lengan Ed menggunakan pisau lipat yang sudah dilumuri racun. Ed mengerang sakit karena tidak siap dengan serangan Rilla.


"Kau berani sekali melukaiku. Serang merekaaa.. " teriak Ed memberi komando pada Lay dan anak buahnya.


Lay yang dari tadi sudah bersiap langsung menyerang Alfi. Dia sengaja menargetkan Ayah Abrilla dengan harapan gadis itu menyerahkan diri tanpa paksaan.


Alfi walaupun sudah tidak muda lagi pria itu bisa mengimbangi serangan dari lawan. Sedangkan Cila, wanita itu ikut membantu suaminya dengan menghadapi anak buah Lay yang berniat menyerang Alfi saat dia lengah.


"Heh pria botak kurang ajar sekali kalian berniat menyerang suamiku." teriak Cila menghadang 3 pria berkepala pelontos. "Rasakan ini, hiyaaaaa... "


Brukkk Brukk Brukk


Dengan 3 kali tendangan Cila berhasil memukul mundur pria-pria botak itu. Dirinya tersenyum puas karena tenaganya ternyata masih kuat walaupun usianya tidak muda lagi.


"Jumlah anak buah mu boleh banyak tapi kualitas anak buah ku bukan kaleng-kaleng." ucap Abrilla mengejek Ed. Pasalnya anak buah pria itu sudah banyak tumbang menghadapi anak buah miliknya dan saudara kembarnya. Belum lagi anak buah milih Azkio Sharga yang ahli dalam tembakan jarak jauh.


"Jangan senang dulu Bril, ini baru permulaan. Aku yakin kau akan kalah dan pada akhirnya kau menjadi milikku." Ed melayangkan pukulan pada Bril tapi lagi-lagi Abrilla berhasil menghindar.


"Ed, aku sarankan padamu jika ingin melawan ku maka berlatihlah dengan benar. Lihat aku tidak ada luka sedikitpun berbeda denganmu yang sudah tergores pisau milikku."


Sejak tadi memang Ed yang banyak mendapatkan luka baik di tangan maupun punggung dan semakin lama lukanya menjadi gatal dan nyeri. Tentu saja seperti itu karena Abrilla sudah mengolesi pisau kecil itu dengan racun buatan anak buah Abrico.


Dilain sisi Abrian menghadapi anak buah Lay yang berniat menyakiti istrinya. "Kalian mata keranjang berani sekali menatap istriku lebih dari 3 detik."


Dor dor dor dor

__ADS_1


Dengan 4 buah peluru. Abrian berhasil melenyapkan nyawa anak buah Lay. Dia memeluk Keyra posesif karena tidak suka anak buah Lay menatap istrinya dengan penuh *****.


"*Aku saja belum menatapnya dengan puas kalian malah berani menatap istriku seperti anj*ng kelaparan."


Sedangkan di ujung sana Abrico dan Bella malah bersantai menikmati dessert serta sate kambing. Mereka hanya menjadi penonton karena tidak seorang pun dari anak buah Ed dan Lay menyerang mereka.


"Kak Rico memang tidak apa jika kita tidak membantu mereka?" tanya Bella memakan puding dengan lahap.


"Tenang saja, kita pasukan cadangan. Jadi majunya saat pasukan inti sudah terdesak. Lebih baik kita menikmati makanan dan minuman ini saja. Daripada mubazir lebih baik masuk dalam perut kita." jawab Abrico dengan mulut penuh lontong dan sate.


"Kalian berdua asik sekali ya bung seperti orang yang sedang menonton drama kolosal. Awas Rico sate kambing itu tadi sudah aku taburi racun yang bisa membuat diare." Abrico tersedak saat suara Abrian mengejutkan telinganya. Pria itu langsung memuntahkan makanannya dan meminum pil dari saku jasnya.


Dari jauh Abrian tertawa terbahak-bahak melihat Abrico percaya perkataan dirinya padahal itu bohong.


"Tega sekali kau kak mengerjaiku." ujar Abrico tahu jika sang kakak berbohong.


"Salahmu sendiri tidak membantu kami."


"Heh kak, kau saja hanya menghadapi 4 orang dan sekarang malah bersantai duduk di pelaminan bersama istrimu. Toh aku yakin jika Rilla, ayah dan ibu bisa mengalahkan mereka semua. Tapi aku takut ayah dan ibu setelah ini mengalami pegal linu karena tulang mereka keropos."


"Dasar kalian anak durhaka. Cepat bantu ayah menghabisi bajingan ini. Perut ayah sudah lapar jadi gantian makan." Ternyata dari tadi Alfi mendengar pembicaraan Abrian dan Abrico melalui alat pendengar yang ada di telinganya.


"Baik ayah aku segera meluncur. Ayo Bella kita sudah dibutuhkan." Abrico meletakkan makanannya dan menarik Bella menuju tengah dimana sang ayah memerlukan bantuannya.


Entah kenapa tim Abrilla tidak ada yang serius dalam pertempuran ini. Terlebih Abrico, pria itu malah dengan santai menikmati hidangan seperti tamu undangan saja. Padahal awalnya mereka pikir akan terjadi pertempuran sengit rupanya hanya seperti ini. Biasa saja.

__ADS_1


__ADS_2